Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014

Pilpres 2014 sebagai Momen Kemesraan Dua Kutub (NU dan Muhammadiyah)

Pilpres 2014 sebagai Momen Kemesraan Dua Kutub Prolog Momen kemesraan bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dan pada siapa saja. Salah satu syarat utama agar timbul kemesraan itu adalah harus ada persamaan tujuan dan kepentingan. Siapapun mereka yang awalnya cuek, gengsi, dan tidak bertegur sapa bahkan saling bermusuhan sekalipun suatu saat akan bisa saling berpelukan. Terlebih bila tidak ada alternatif lain yang bisa dijadikan solusi atau pilihan untuk dijadikan pijakan dalam berpihak. Dua Kutub itu adalah Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Diistilahkan dengan kata “kutub” karena memang keduanya memiliki perbedaan tajam dan tidak mungkin untuk disatukan, yaitu dalam bidang platform ideologi keagamaan. Di mana ideologi itu tidak hanya digejawantahkan pada bentuk tata cara mereka dalam beribadah, tapi juga “gaya” mereka dalam berorganinasi. Namun, hal itu bukan menjadi halangan bagi mereka untuk saling bermesraan yang tentu demi suatu tujuan, tidak l

Menelusuri Jejak Korupsi

Baca juga: KPK Milik Siapa Komunis di Indonesia seperti Kentut Transparansi Dana Pendidikan Banyak politikus, terutama saat kampanye mengumbar janji akan memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya. Yakni, memeriksa dengan teliti dan merata kepada seluruh pejabat, pengusaha, dan siapapun yang diindikasikan terlibat dalam pusaran korupsi. Kemudian setelah terbukti bersalah, pelaku korupsi akan ditindak tegas dan dihukum seberat-beratnya. Tentu saja bila janji itu secara kuantitas terealiasi 85% saja dan secara kualitas terealisasi 100%, maka dipastikan akan menjadi peristiwa fenomenal. Terlebih bagi mata rakyat Indonesia yang haus dan butuh “rasa keadilan.” Dari itu, selanjutnya pemberantasan korupsi bisa menjadi komoditas “pencitraan” elite politik. Yakni, agar rakyat mencitrakan pemimpin tersebut bersih dan anti korupsi. Bila semuanya tadi benar-benar direalisasikan, sangat mungkin rakyat akan merasa puas atas kinerja pemimpinnya. Mereka merasa dihargai