Alasan "Diputus" Sahabat Rasa Sakitnya Melebihi Kehilangan Mantan Pacar

Banjirembun.com - Pernah kehilangan alias "diputus" oleh seorang sahabat yang merupakan lawan jenis? Bagaimana rasanya? Terkadang rasa sakitnya malah melebihi kehilangan mantan pacar. Di mana, pernyataan tersebut bukannya tanpa dasar. Melainkan ada alasan kuat di baliknya.


Konflik dalam persahabatan, baik itu berjenis kelamin sama maupun beda, rasa sakitnya enggak kalah meresehkan saat kehilangan mantan. Justru, masalah dalam hubungan bersahabat jauh berisiko terhadap gangguan kesehatan fisik maupun mental ketimbang berseteru dengan pasangan pacar. 


Sebab, sesungguhnya persahabatan jauh lebih berharga dibanding hubungan pacaran. Nah, akibat kehilangan sesuatu yang bernilai tersebut berdampak pada ketidakstabilan emosi. Bahkan, dalam kondisi tertentu ketika berlarut-larut dapat berujung gangguan kesehatan tubuh.


Baca juga Sahabat Akhirat Dijamin Lebih Membahagiakan Ketimbang Teman di Dunia


Hubungan pacaran mayoritas niatnya main-main belaka. Bahasa lebih "keras" yaitu ingin uji coba dan mencari-cari pengalaman saja. Kalau dirasa cocok, kemungkinan besar dilanjutkan ke jenjang serius berupa pernikahan. Kebalikannya, saat ditemui keganjilan bakal diputus di tengah jalan.


Sedangkan, hubungan persahabatan kebanyakan terbangun dengan fondasi yang kuat. Yakni, ingin menjalin ikatan batin tanpa ada niatan atau "diprediksi" terjadi putus di tengah jalan. Hubungan yang terjadi juga sangat seimbang. Tak ada yang mendominasi, protektif, maupun ikut campur urusan pribadi.


Lebih lanjut, sosok sahabat umumnya enggak akan mengatur-atur. Alhasil, siapapun begitu gampang untuk menjadi diri sendiri tanpa perlu berpura-pura. Tidak seperti pacar yang biasanya mengekang kehidupan sosial. Di sisi beda, seorang sahabat justru mampu membangun dan mengembangkan kematangan individu.


Melihat hal-hal di atas, tidak mengherankan putus hubungan dengan sahabat malah bikin patah hati. Terutama bagi pihak laki-laki. Sebab, bagi mereka pertengkaran dengan sahabat jauh lebih mudah diatasi dan diselesaikan daripada konflik dengan pacarnya. Namun ketika terlanjur putus, mau "balikan" lagi dengan sahabat teramat sulit.


Perlu ditambahi pula bahwa berganti pacar barangkali jauh lebih ringan dan cepat, dibandingkan mencari pengganti sahabat. Parahnya kalaupun menemukan pengganti sahabat, nyatanya tak menemukan seorang yang lebih baik dari sebelumnya. Di mana, semakin menua makin sulit bersahabat dengan orang baru.


Kerap ditemui hubungan sahabat bisa terputus kadang penyebabnya tak jelas. Diperparah kerenggangan itu terjadi begitu saja tanpa ucapan yang mengindikasikan ingin pisah. Akibatnya, bagi individu yang tak sensitif seolah tiada tahu mengapa sebuah jalinan persahabatan harus berhenti tiba-tiba.


Detailnya, saat seseorang sudah "putus" dengan sahabatnya belum tentu pacar akan peduli. Bukannya ikut simpati dan empati sehingga prihatin, malah terkesan menggampangkan. Sebaliknya, di waktu sahabat tahu baru saja putus dengan pacar tentu akan menghibur dan menemani supaya tetap kuat bertahan.


Lebih jauh, sensasi rasa bahagia dari hubungan persahabatan tampak begitu tulus dan berkesan di hati. Sabaliknya, kebahagiaan "semu" didapat tatkala dengan pasangan pacar. Asumsinya, sering dijumpai dalam pacaran penyebab rekatnya ialah karena imbal balik (transaksional) dan nafsu birahi. Tanpa memperoleh itu, hampir dipastikan pacaran menjadi putus.


Ujungnya, rasa hampa akibat diputus sahabat jauh lebih menyakitkan ketimbang kehilangan mantan pacar. Diimbuhi, mungkin hubungan persahabatan itu lengketnya melebihi hubungan dengan kerabat dekat sendiri. Tentu, andai kata amit-amit sahabat meninggal dunia berakibat air mata menetes deras.

Ilustrasi patah hati setelah diputus sahabat (sumber gambar Pixabay)

Kandungan moral dari pemaparan di atas yaitu ada lima penyebab putusnya suatu hubungan. Yakni, pertama putus atau hilangnya sebuah hubungan diakibatkan oleh kegagalan diri dalam menjaga serta mempertahankan keharmonisan. Kedua, salah satu atau semuanya memang menghendaki penuh yakin tanpa ragu untuk pergi atau meninggalkan.


Baca juga 5 Ciri Teman yang Ingin Menjalin Hubungan Serius Pernikahan


Ketiga, kesalahan dalam memilih seorang pasangan sebagai sahabat maupun pacar. Keempat, tidak mengetahui secara pasti atau tegas apa tujuan dan manfaat menjalin hubungan dengan seseorang. Kelima, enggak tahan terhadap ujian atau godaan baik itu dari orang lain maupun dari masing-masing mereka.


Komentar