3 Contoh Taktik Licik Mafia Jual-beli Tanah dalam Mendekte Harga Pasar Properti

Banjirembun.com - Mahal dan murah merupakan hal yang relatif. Tergantung siapa yang menilai, seperti apa kondisi barang, di mana lokasi berada, serta kapan harga tersebut dibanderol. Beda orang, barang, tempat, dan waktu bakal membikin perbedaan pula dalam penilaian mahal atau murahnya.


Mau disebut murah atau mahal tidak menjadi persoalan bagi mafia jual-beli tanah. Target mereka yaitu saat membeli bayarnya harus serendah-rendahnya lantas dijual dengan harga setinggi-tingginya. Sayangnya, yang namanya mafia seringkali menggunakan cara licik untuk mengatur harga pasar agar sesuai kehendak.


Sebelum dilanjutkan pembahasannya, perlu ditegaskan tentang definisi "mafia" lebih dulu. Dalam artikel ini mafia diartikan sebagai persekongkolan orang-orang "pintar" dan "kuat" yang ingin memperoleh keuntungan dengan menggunakan segala cara. Baik yang cukup dengan melanggar moralitas dan norma agama maupun yang berani melawan hukum negara.


Barangkali diakui, cara licik pebisnis tanah kerap terjadi di daerah perkotaan atau paling enggak daerah pinggirannya. Serta bisa juga di daerah wisata maupun tempat-tempat yang sering jadi jujukan berkumpulnya orang-orang kaya raya. Alasannya, angka penghasilan uang yang didapat bisa besar serta lebih mudah laku. 


Contohnya, ada kasus di daerah sepi yang tiba-tiba banyak sekali pendatang baru. Mereka orang kaya yang membeli tanah luas, lalu masing-masing orang membangun rumah mewah di kawasan itu. Bukan berbentuk perumahan. Akan tetapi rumah di pemukiman terbuka yang jaraknya cukup jauh dari perkampungan.


Sontak, seketika harga jual tanah di sekitar ikut terkantrol tinggi. Harga yang terangkat tersebut dinilai amat wajar dan pantas. Sudah sesuai dengan hukum ekonomi. Setelah ditelusuri, ternyata tanah-tanah di sekitar jauh sebelumnya telah banyak dibeli konglomerat kroni mereka. Meski masih ada yang dimiliki warga lokal, nyatanya ukurannya tak sebanding.


Ada pula kasus mafia jual beli tanah yang cara mainnya tak kalah "halus". Mereka membeli tanah di pinggiran kota tepat di tepi jalan kecil sebagai jalur alternatif dan penghubung antara dua pusat keramaian. Lantas membangun ruko ukuran besar cuma satu unit. Sedangkan, sisa tanah lainnya yang juga dibeli di sekitaran ruko dibiarkan.


Di ruko yang baru berdiri dibuka toko penjualan handphone. Harganya super murah. Satu perangkat ponsel yang ongkos kulakannya 1 juta perbuah seharusnya dijual 1,05 jutaan malah dijual 950 ribu. Tentu mafia tersebut rugi 50 ribu perunit. Belum lagi untuk biaya operasional (seperti gaji karyawan) serta beli berbagai perabot kebutuhan toko.


Dalam waktu tiga bulan saja tiga ribu buah ponsel "murah" laku terbeli. Artinya, rugi 150 juta rupiah. Ditambah untuk gaji karyawan dan beli keperluan toko didapati total kerugian kisaran 220 juta. Strategi bakar uang seperti itu bukan hanya demi menjamin bisnis jual-beli ponsel mampu terus berkelanjutan. Melainkan pula agar ruko yang dimiliki bisa ramai.


Baca juga: 5 Tahapan Manipulasi Pikiran Konsumen dari Praktik Bisnis "Bakar Uang"


Tujuan bikin ramai yaitu supaya suasana di sekitar beberapa aset properti di kiri-kanan yang mereka miliki muncul kesan hidup. Mendapatkan sorotan banyak orang sehingga  berubah status menjadi lokasi strategis untuk bisnis. Alhasil, harga jual tanah di sekitar juga berimbas terdorong ke atas menjadi mahal. Berkali-kali lipat dari harga pembelian.


Jalan di sana yang awalnya sepi berubah jadi ramai gara-gara tiap hari diserbu pembeli ponsel beserta aksesori maupun suku cadangnya. Tukang parkir panen besar karena banyak pengunjung. Upaya bakar duit itu dilakukan cukup lama hingga 6 bulanan. Di tiga bulan pertama rugi 50 ribu perunit lalu di tiga bulan berikutnya dijual 1 juta (sesuai harga kulak).


Cuma modal bakar uang 260-an juta bisa untung bersih miliaran dari jualan tanah saja. Belum lagi, potensi bisnis toko ponsel yang mampu berkembang ke depannya. Serta harga jual ruko yang meroket. Sekali "bakar duit" dua bisnis terdongkrak laris. Di mana, mafia di atas mengeluarkan uang 2,4 miliar untuk beli beberapa bidang tanah kaveling. Kemudian, seluruhnya sanggup terjual melampaui 4,3 miliar.

Ilustrasi anggota mafia tanah (sumber gambar)


Contoh selanjutnya ialah memanipulasi harga jual-beli tanah melalui pembangunan opini "harga jual" tanah sekitar. Lantaran, umumnya seseorang menentukan harga beli tanah maupun harga jualnya didasarkan pada "fakta lapangan" harga tanah yang pernah terjual sebelumnya. Hal itu sangat lumrah dijadikan patokan.


Nah, mafia yang sudah memiliki aset tanah cukup luas di lokasi sasaran akan memborong sejumlah petak tanah dengan harga sesuai permintaan penjual tanpa banyak menawar. Kemudian, muncullah kegaduhan. Setelah informasi pembelian tanah tersebar, banyak warga sekitar ikutan menaikkan harga. Walau tak menjual tanah tetapi mereka yakin dan optimis harga tanah miliknya naik pesat.


Di sinilah mafia tanah mulai melancarkan aksi. Tanah "terdiam" lama milik mereka yang lokasinya berdekatan dengan tanah-tanah yang barusan dibeli akhirnya dijual. Harganya mungkin sedikit di bawah harga "pasaran". Berhubung sudah terlalu lama menganggur, alhasil keuntungan yang diraih mafia tetaplah besar. Berkali-kali lipat dibandingkan beli.


Ilustrasi kasarnya seperti di bawah:


Fulan membeli tanah Fulanah seluas 3000 m² pada akhir tahun 2020 seharga 1 juta permeter di Kelurahan Seroja. Lantas menjelang pertengahan tahun 2022 Fulan mengumumkan mencari lahan di dekat tanah miliknya itu. Dia membeli tanah pada orang yang menjual maupun yang tidak ingin jual. Berapapun angka yang disodorkan pemilik tanah mayoritas dia beli.


Baca juga: 4 Fungsi Penggunaan Nama "Fulan", Ternyata Juga Disebutkan dalam al Quran


Pertama-tama Fulan membeli lahan seluas 500 m² permeternya seharga 1,5 juta. Kemudian, di sebelahnya ada yang tertarik ikut menjual. Lantas ada lagi pemilik tanah  yang awalnya memang tidak berniat jual. Namun, berhubung dibujuk supaya ikut menjual akhirnya terpancing juga. Harga yang dipatok lebih tinggi yaitu 2,5 juta permeter. Dia menyetujui dan sepakat jual beli.


Singkat cerita, pada titik tertinggi harga jual-beli tanah yang "digoreng" Fulan mencapai 3 juta permeter. Di mana, sejumlah tanah yang dibeli si mafia tersebut ukurannya kecil-kecil. Barulah, tiba masanya tanah "pertama" ukuran 3.000 m² dijual dengan harga "murah" 2,5 juta permeternya. Selisihnya 1,5 juta dikalikan 3 ribu meter  persegi sama dengan laba bersih 4,5 miliar.


Dalam melancarkan aksinya Fulan mempunyai kaki tangan warga lokal, makelar, dan pebisnis properti "abal-abal" untuk mendukung misinya. Sangat sulit baginya bermain sendiri. Butuh kerja sama dengan pihak-pihak lain yang tentu bayarannya jauh lebih kecil ketimbang perolehan duit yang diterima Fulan. Pantaskah dia disebut jenius?


Mafia tanah tidak membeli tanah di lokasi strategis. Lebih canggih dari itu, mereka membeli tanah di tempat yang "dijahui" dan tanpa terpikirkan oleh investor properti kelas teri. Kemudian, menciptakan dan merubah suasana di sana sehingga seolah-olah lokasi tersebut menjadi strategis untuk bisnis properti. Ibaratnya, bukan menghampiri magnet tetapi menciptakan magnet.


Itulah beberapa cara menaikkan harga tanah dalam tempo singkat. Tidak perlu menunggu terlalu lama untuk memperoleh selisih yang besar antara angka beli dengan jualnya. Sayangnya, sangat sulit dilakukan sendirian. Mesti melibatkan komplotan yang kompak biar lebih mudah dalam memanipulasi pikiran masyarakat.

 

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece

Pernah Dengar Istilah "Kotak Pandora"? Inilah Kisah di Baliknya

Cara Memecah Sertifikat Tanah Hasil Hibah, Turun Waris, dan Bertujuan untuk Bisnis Tanah Kaveling Perorangan

Visi dan Misi dalam Bekerja