Aku khawatir kisah perpisahan dengan orang tercinta yang sekarang masih diusahakan untuk tetap dijalani bakal menyisakan bara di bawah sekam hitam. Seperti kisah cinta pertama aku dulu di masa SMA. Kelihatannya dulu aku mampu simpan sendirian. Ternyata, setelah lulus sekolah pada tahun 2005 hingga waktu pertengahan nikah, tepatnya September 2022, akhirnya tak tertahan sehingga meletup begitu saja.
Aku sebenarnya gengsi mau mengatakan atau mengakui telah menyesal atas sikap bodohku kepada mantan first love aku di atas. Akhirnya aku ingin mengganti istilah "penyesalan" itu dengan "penasaran." Yakni, aku penasaran dengan bertanya "Bagaimana ketika aku dulu mengungkapkan cinta padanya lalu berusaha menjalani hubungan?" Ya, dia adalah mantan gebetan bukan mantan pacar.
Bagiku, dia adalah cinta pertama dalam hidup. Aku belum pernah merasakan cinta sedalam, berdurasi lama, dan setulus seperti halnya pada gadis bermata sipit serta berkulit putih tersebut. Dia terlalu indah untuk dilupakan atau tak dipedulikan. Bahkan, setelah katarsis dan self-disclosure yang aku terapkan tetap saja benar-benar belum hilang total.
Aku pun sadar, melakukan closure dengan cara menemui mantanku untuk bertatap muka juga bukan solusi cerdas. Itu justru bakal makin membuat suasana tambah tak nyaman. Lagian, waktu itu aku juga masih belum cerai. Bersyukur, sesudah perceraian berhasil terjadi nyatanya dorongan ingin bertemu dengan mantan cinta pertama sudah sirna. Artinya, sebenarnya katarsis dan self-disclosure yang aku terapkan tak sepenuhnya gagal.
Dari kejadian dengan mantan di atas, aku tak ingin mengulangi pola penelantaran tersebut. Pada kisah cintaku dengan cewek Chindo yang sekarang aku alami terdapat tekat untuk memperjuangkan dia secara mati-matian. Aku enggak ingin menelantarkan perasaan di hatiku. Aku pun tak mau membiarkan dia memikirkan sendirian meski itu dengan dalih "Aku ingin membebaskan dia agar dia bahagia."
Aku baru sadar bahwa membebaskan cewek untuk memilih dan memutuskan sendirian bakal dipahami olehnya sebagai bentuk penelantaran. Aku harus segera mengikat dan memberi kepastian padanya supaya dia merasakan bahwa aku peduli dia. Bagaimanapun, rasa cinta harus ditindaklanjuti dengan kepedulian.
Cinta tanpa ada rasa peduli sama artinya dengan air tanpa unsur oksigen. Sebab, lawan kata cinta bukan benci, tetapi ketidakpedulian. Dan menelantarkan begitu saja dengan alasan "Aku membiarkan dia demi kebaikan dia" merupakan cara pengecut untuk menyembunyikan ketidakpedulian pada orang yang disukai.
(*)
 |
| Ilustrasi cewek bermata sipit (sumber gambar x.com) |
Tulisan milik *Banjir Embun* lainnya:
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Kamu Terlalu Indah untuk Dilewatkan, Izinkan Aku Memperjuangkan Hubungan Kita Mati-matian"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*