Tanpa berucap "Yuk kita jadian" atau "Aku cinta kamu" sudah bikin dia tahu bahwa aku mencintainya. Sebaliknya, tanpa dia genit dan minta kepastian-kejelasan dariku pun telah bikin aku yakin bahwa dia juga menyambut rasa cintaku tersebut. Kami berhubungan dengan mekanisme jalur interaksi hati dan ritme. Bukan dengan umbar kata-kata.
Lalu apa topik yang kita bicarakan? Tujuan utama obrolan kami adalah pemahaman mendalam satu sama lain, koneksi batin, dan menjaga kenyamanan. Lalu, apakah obrolan menghindari konflik? Bagi kami sebuah konflik merupakan cara untuk menemukan solusi. Tanpa perlu membesar-besarkan serta tak boleh terus berlarut-larut tanpa titik temu.Sayangnya, dalam konflik yang sedang kami hadapi kali ini tidak semudah sebelumnya. Pertarungan ego antara aku dengan dia bukan lagi tentang urusan teknis. Ini sudah menyentuh inti terdalam fondasi kehidupan. Begitu hancur pijakan itu bisa menyebabkan aku ataupun dia bakal pindah agama. Itu bukanlah disebut bentuk pengorbanan dan perjuangan wajar.
Terkait tujuan hidup terkait duniawi aku dan dia sudah ada persambungangan logika, perasaan, dan moralitas. Tak ada ganjalan yang berarti sehingga bukan dikategorikan sebagai masalah. Adapun, tentang tujuan hidup sesudah mati antara kami tak ada kesepakatan. Aku tetap pada agamaku dan dia kokoh pada agamanya.
Entah, bagaimana cara aku mengakhiri hubungan menggantung ini? Apakah aku ghosting? Apakah aku lakukan penutupan secara kesatria? Ataukah aku terus berjuang dapetin hatinya luluh agar mau pindah agama sampai benar-benar akhirnya dialah yang mengakhiri sendiri hubungan menggantung kita?
Mungkin dia tak membaca tulisanku ini. Aku tak peduli itu. Terpenting hatiku bisa lega telah bercerita di sini. Mungkin dia juga sedang menulis tentang suara hatinya. Entah begitu atau tidak? Nyatanya dia orang sibuk. Dia menjadi salah satu pengelola gurita bisnis keluarganya. Artinya, ketika aku ghosting pun sepertinya dia masih bisa menjalani hidup dengan normal.
Sedangkan, aku di sini masih galau. Bingung mau melakukan apa untuk menghadapi kerumitan hubungan kami. Sebuah hubungan kedekatan batin yang terlanjur mengakar dalam. Bukan lagi dekat karena sudah saling memahami serta saling terkoneksi batin, tetapi di tahap kita sudah sama-sama saling nyaman.
Di sisi lain, aku enggak mau mengalami kejadian lagi seperti pada masa SMA dulu. Aku sekarang lebih pilih ingin memperjuangkan cintaku mati-matian sampai benar-benar dia yang berucap sendiri "Hubungan kita cukup sampai di sini." Meski sakit di awal, tentunya itu bakal berefek positif dalam jangka panjang.
(*)
 |
| Ilustrasi menulis isi hati di sebuah buku (sumber foto Pixabay.com) |
Tulisan milik *Banjir Embun* lainnya:
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Cerita Kita Sulit Dicerna, tak lagi Sama Tujuan Hidupnya"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*