Kita memang sama-sama ndablek alias keras kepala. Orang tuaku melarang berhubungan dengan cewek Chindo seperti kamu dan orang tuamu menyuruhmu fokus mengembangkan bisnis. Alih-alih mematuhi, justru kita tetap tegas bersepakat selalu bernyaman-nyaman ria. Cukup dengan langkah naik sepeda motor boncengan ratusan kilometer di pagi buta hingga siang bolong sudah bikin kita bahagia.
Itu mungkin cara terakhir kita untuk saling merekat sebelum akhirnya harus terpaksa melepas dan berpisah. Itu mungkin bahasa cinta kita di tengah tekanan hebat serta rasa tak karuan akibat menjalani hubungan tanpa kepastian. Namun, sungguh itu bukanlah bentuk perlawanan terhadap mereka yang menekan. Bukan pula faktor ego yang impulsif ajak membangkang. Itu murni panggilan jiwa. Sebab, kita melakukan dengan penuh sadar.
Kamu pegang erat pingganggku, meski tak selalu memegang, itu adalah salah satu ritual saat berjalan di atas sepeda motor. Kamu begitu penuh percaya pada gaya berkendaraku. Mau aku menyalip dari kiri, mengerem agak mendadak, ngeblong, atau aksi apapun enggak bikin kamu protes. Sebaliknya, kamu juga tak sungkan saat memintaku berhenti dulu untuk sekadar ingin menikmati suasana di tempat tertentu maupun minta dipelankan sepeda motorku agar suara lisanmu terdengar kupingku.
Kita berhenti di manapun yang kita mau. Tak hanya berhenti di minimarket untuk sekadar beli air kemasan botol 1500 ml lantas diminum berdua sambil duduk di kursi dan meja. Melainkan pula berhenti di pinggir danau, di tepi jurang, di area persawahan indah, atau berhenti kapan saja hanya karena kita memang ingin cukup berdiam tanpa perlu alasan semisal karena tempatnya cocok. Ritmemu dan ritmeku saling mengunci.
Kita banyak kemiripan. Satu di antaranya bahwa aku dan kamu punya selera sama yaitu suka air putih. Kamu enggak rewel dan tak merasa canggung saat minum air putih di tempat nongkrong depan minimarket. Bahkan, saat aku beli pisang rebus dan talas kukus di penjual yang jaraknya beberapa meter sebelah minimarket pun kamu tak keberatan. Malah penasaran ikut cobain cemilan polo pendem tersebut.
Nyaman banget bisa berkendara jarak jauh denganmu. Tak ada aturan dan tak ada tuntutan. Semua bisa dikompromikan secara dewasa. Kamu bisa diajak kerjasama baik dalam urusan teknis tentang bagaimana road trip yang nyaman secara raga maupun terkait persoalan emosional alias menata suasana hati atau jiwa di perjalanan.
Saat kamu gagal baca maps enggak bikin aku marah. Sebab, kamu sudah berusaha. Selain itu, orientasi kita bukan hasil atau tujuan perjalanan. Melainkan, yang kita nikmati ialah proses perjalanan itu sendiri. Justru, aku ajari kamu penuh telaten bagaimana cara memahami maps digital. Nah, diproses belajar itulah yang malah menjadi momen berharga bagi kita. Kamu menatapku dan aku menatapmu.
Sebelum itu terjadi, awalnya aku ragu bahwa kamu akan mau aku ajak jalan-jalan jauh lintas provinsi menggunakan sepeda motor. Tak disangka, ternyata kamu menunggu aku berani untuk menawari hal itu. Pucuk dicinta ulam tiba. Aku langsung mengajakmu jalan bareng di esok paginya tepat usai subuh. Ternyata kamu pun langsung menyanggupi.
Mungkin kamu mau menerima ajakanku dengan sigap disebabkan takut kesempatan kita untuk dekat berlama tak ada lagi. Daripada menyesal di kemudian hari akibat menolak ajakan dariku, alhasil barangkali kamu pilih untuk menggunakan kesempatan itu sesegera yang dibisa. Sejujurnya, akupun juga tak ingin menunggu kesempatan kedua. Aku tak mau menunda-nunda. Sebab, kamu terlalu berharga untuk aku tak pedulikan.
(*)
 |
| Ilustrasi tujuan lokasi road trip (sumber foto Pixabay.com) |
Tulisan milik *Banjir Embun* lainnya:
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Terima Kasih Cinta, Kamu Mau Aku Ajak Jalan Bersepeda Motor Lintas Provinsi"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*