Meski kamu tak memaksa, bahkan enggak pernah berkata langsung meminta aku agar potong jenggot, tetap saja diri ini terdorong membersihkan rambut bawah dagu. Itu bukan demi menunjukkan cintaku padamu lalu aku berharap kamu juga buktikan balik cintamu padaku. Sebab, cinta bukanlah transaksi. Aku memotong jenggot murni ingin membahagiakanmu secara tulus.
Cukup dengan memahami gerakan tanganmu yang terasa tak nyaman saat pegang jenggotku serta tatapan mata darimu yang tampak sayu, hal tersebut mampu bikin aku memutuskan memotong jenggot. Itu aku lakukan tepat di pagi buta di hari Ahad sebelum kita memutuskan bertemu di Kota Malang.
Sebetulnya, aku sudah kepikiran untuk potong rambut hari Sabtu sore. Berhubung aku sibuk akhirnya terlupakan. Nah, di hari Ahad seusai Subuh aku putuskan untuk cukur jenggot. Itu aku lakukan juga di waktu sebelum menuju lokasi CFD di Jalan Besar Ijen Kota Malang. Dan aku berharap bisa bertemu kamu lalu jalan kaki bareng di CFD.
Dengan cukur jenggot tentu aku berharap kamu bakal nyaman ketika kita olahraga berduaan di sepanjang jalan terindah di Kota Malang tersebut. Sayangnya, ternyata kamu enggak bisa hadir sesuai harapan. Alhasil, seperti biasanya di CFD itu aku tetap berjalan kaki sendirian. Semua skenario obrolan dan langkah kaki kita di kepalaku tak berguna.
Pun, sesudah itu aku masih menunggu kedatanganmu dengan durasi satu jam lebih. Sembari duduk di atas trotoar untuk menunggu balasan chat darimu ternyata kamu tidak tampak juga. Padahal, biasanya ketika kamu tak balas chat dariku hal itu bukan serta merta tanda kita tak jadi bertemu. Justru, itu menjadi kejutan kecil bagiku yang kaget melihat wajahmu tiba-tiba.
Setelah jam menunjukkan pukul 09.30 WIB akhirnya kamu balas chat "Aku sekarang di kafe, aku tunggu yaaa." Mengetahui itu aku langsung menuju parkiran. Buru-buru mengendarai sepeda motorku demi segera bertemu kamu. Aku berkendara penuh senyum. Membayangkan bagaimana ekspresi wajahmu saat melihat daguku yang sudah gundul.
Bersyukur. Ternyata firasatku memang benar. Kamu lebih nyaman, senang, dan antusias ketika aku mencukur jenggot. Kamu tersenyum sumringah. Tanpa perlu kamu berkomentar terkait penampilan aku yang beda, hal itu sudah mampu aku baca bahwa kamu sedang membatin "Nah, begini dong aku suka tampilan barumu." Ditambah, kamu juga begitu antusias berinisiatif penuh semangat bayar di kasir saat kita pulang.
(*)
 |
| Ilustrasi cowok berdagu gundul (sumber foto koleksi pribadi) |
Tulisan milik *Banjir Embun* lainnya:
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Cintaku, Aku Rela Potong Jenggot Demi Kamu"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*