Baru saja aku menonton video short YouTube isinya tentang ucapan "Lebih baik terjebak macet karena masih ada tujuan daripada terjebak rasa nyaman tanpa kepastian." Kalimat panjang tersebut mampu bikin aku merasa perlu berpikir sejenak tentang bagaimana semestinya hubungan aku dengan dia yang sedang menggantung seperti sekarang.
Sederhana saja, aku di masa datang enggak ingin menyesal maupun ada rasa penasaran akibat aku terus-menerus mempertahankan hubungan tanpa kepastian. Apalagi, ketika perpisahan dilakukan tanpa kejelasan alias tak ada penutupan (closure). Itu bakal lebih menyakitkan bagi dia. Oleh sebab itu, aku harus segera bersikap tegas dan kesatria.
Perlu diketahui, hampir semua perpisahan yang aku lakukan dengan cewek yang kucintai berakhir dengan sedikit ganjalan. Entah itu ada rasa bersalah karena aku tak berani ungkapkan cinta maupun sikap aku yang bingung tatkala dihadapkan pada konflik antar cewek yang caper ke aku. Intinya, hampir seluruhnya berujung tanpa penutupan sehat.
Satu-satunya perpisahan yang paling aku ingat tanpa menimbulkan ganjalan sedikit pun malah membuat aku menjadi bahagia adalah perceraian. Meski harus diakui, awalnya ketika menjalani proses persidangan cerai di pengadilan aku butuh menyesuaikan diri. Namun, setelah akta cerai keluar membuat hatiku lega dan lambat laun makin bikin tambah bahagia.
Salah satu alasan kenapa sesudah cerai dapat berefek positif bagiku yaitu perpisahan dilakukan secara kuat di mata hukum. Enggak ada tarik ulur atau putus nyambung. Narasi enggak bisa ditarik atau dipelintir ke mana-mana. Tentu, aku ogah balikan lagi dengan mantan istri. Bukan kecewa, tetapi aku sudah enggak peduli total padanya.
Jangankan untuk hubungan resmi, hubungan yang menggantung tanpa status pun kalau sudah pisah akan aku tutup bukunya. Dalam artian, aku enggak akan ajak balikan maupun mencoba memperbaiki hubungan sebelumnya dengan langkah menemui dia bertatap muka. Semboyan aku sederhana "Masa lalu adalah milik diriku yang lalu dan masa sekarang adalah milikku yang sebenarnya."
Nah, dalam konteks terjebak rasa nyaman tanpa kepastian yang aku alami sekarang merupakan kisah hubungan aku dengan cewek Chindo manis. Kami punya hubungan dekat tanpa status pacaran. Sama-sama merasa sefrekuensi dan punya arah hidup serasi. Sayangnya, satu-satunya alasan yang bikin hubungan menjadi mandek yaitu kami beda agama.
Dari segi ritme serta orientasi hidup sesungguhnya tak ada masalah. Barulah saat ngomongin agama terjadi "Aku di sini kamu di seberang sana." Alhasil, hampir pasti kami enggak pernah ngobrol tentang agama. Pun, enggak bawa ataupun pakai simbol fashion maupun ritual agama ketika bertemu.
Mirip seperti pertemuan orang yang sama-sama baru saja mengalami bencana alam. Fokus hubungan bukan tentang adu ego, tetapi terkait bagaimana agar di kondisi yang darurat tetap tercipta suasana nyaman dan aman. Topik percakapan tentang bertahan hidup dan bagaimana kehidupan setelah suasana atau vibes bencana telah sirna.
Sudah tertebak bakal muncul pertanyaan "Mana mungkin mampu terus berhubungan ketika di kemudian hari sama sekali tetap tak menyentuh agama?" Itulah yang aku pikirkan. Bagaimanapun, agama di masyarakat Indonesia merupakan kebutuhan pokok dalam aspek sosial. Bersosialisasi tanpa sama sekali menunjukkan identitas keagamaan sangat sulit diterapkan.
Bisa dibilang hubungan kami berada di persimpangan. Mundur salah, maju sangat sulit, dan berhenti tanpa batas durasi pun bukanlah solusi. Aku dan dia sedang berpikir keras untuk menemukan cara paling indah sehingga di masa depan nanti enggak berbuah penyesalan.
(*)
Tulisan milik *Banjir Embun* lainnya:
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Lebih Baik Terjebak Macet karena Masih ada Tujuan daripada Terjebak Rasa Nyaman tanpa Kepastian"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*