Kamu pernah berkata entah bercanda atau beneran "Bagaimana kalau aku hamil saja biar orang tua kita setuju?" Aku langsung diam nge-freeze. Bukan karena tak setuju dengan ide itu. Toh bisa ngaku hamil padahal enggak hamil. Bukan pula setuju secara membabi buta demi tetap berhubungan bersamanya sampai menua.
Aku merespon penuh beku di atas disebabkan "Kok kamu sampai kepikiran seperti itu demi mempertahankan hubungan kita." Padahal, selama berhubungan tanpa status jelas alias HTS, terbukti kita enggak pernah aneh-aneh. Paling banter kamu pegang pinggang aku. Itupun saat kita berboncengan di atas sepeda motorku.
Kamu begitu percaya banget padaku untuk menempatkan benihku di dalam perutmu. Kamu percaya banget untuk segera punya anak hasil dari kisah cinta kita. Kamu percaya banget bahwa aku mampu membahagiakan kamu dan anak-anak kita kelak. Itulah yang bikin aku terperangah penuh diam.
Selama ini ketika aku masuk kafe tidak pernah pake mode freeze. Apalagi, kafe yang ada musik yang genrenya cocok denganku. Dan saat pertama aku ajak kamu ke kafe di sanalah hal tak terduga terjadi. Beban di dadamu akhirnya membuncah keluar.
Di kafe itu merupakan tempat yang menjadi saksi kamu meneteskan air mata. Bukan tangisan manipulatif, tetapi air mata yang turun lantaran ketika kata-kata lembut dan sikap tulus kita sudah tak mampu lagi membuka hati orang tua. Bukan juga menangis putus asa, tetapi tetesan di pipi karena adanya rasa saling percaya.
Menangis adalah bahasa yang ingin kamu sampaikan padaku seolah berkata "Aku sudah berusaha, tapi papi dan mamiku tetap menolak." Itu bukanlah tangisan hina. Justru, bagiku getaran bibirmu tersebut merupakan bukti betapa kuatnya dirimu.
Kamu mampu menghadapi badai berat di usia masih cukup belia 23 tahun atau entah 24 tahun. Maaf, aku belum tahu ulang tahunmu. Meski baru lulus kuliah, nyatanya mental kuat sudah tampak nyata padamu. Beruntung, itu tak bikin aku minder. Malah aku makin yakin memperjuangkan dirimu.
Akupun yang berusia 38 tahun merasa perlu refleksi diri "Dia yang masih muda banget punya mental baja, tentu aku harus jadi kesatria penuh tanggung jawab di sampingnya demi memvalidasi dirinya." Tanpa penguatan dari orang yang dicintai bakal membuat cewek sekuat apapun jadi ragu.
Bahkan, setelah kopi hitam giling kasar di depan kita tanpa gula atau campuran apapun telah habis disesap tak menjadi alasan bagimu untuk segera beranjak dari kafe. Tanganmu memegang erat lenganku. Kepalamu sesekali ditaruh di pundakku. Tanpa banyak kata. Cukup diam sembari mencerna semua hal yang kita lewati.
Aku mencintaimu tanpa kata-kata. Pun, kamu mencintaku tak perlu menjual diri dulu di hadapanku. Kita sama-sama memberikan kepercayaan dan cinta tanpa memberi janji maupun tak lewat ancaman. Tak ada yang menyandera. Tanpa tarik ulur. Tiada saling uji. Nol drama. Nol umbar ke publik.
(*)
 |
| Ilustrasi kopi murni tanpa campuran apapun (sumber foto Pixabay.com) |
Tulisan milik *Banjir Embun* lainnya:
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Duhai Cinta, Ingatlah di Kafe itu tentang Kisah Aku dan Kamu Duduk Berlama"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*