Komponen Proses Pembelajaran


 Komponen Proses Pembelajaran
Tujuan pembelajaran merupakan komponen utama dan yang paling terpenting dalam system pembelajaran, karena ia akan membawa alam berfikir peserta didik dalam proses pembelajaran tersebut ke arah yang diinginkan. Mengenai kompenen pembelajaran Wina Sanjaya menyatakan “proses pembelajaran terdiri dari beberapa komponen yang satu sama lain saling berinteraksi dan berinterelasi (berhubungan). Komponen-komponen tersebut adalah tujuan, materi pelajaran, metode atau strategi pembelajaran, media dan evaluasi.”[1] Ada bebearapa komponen dalam proses pembelajaran yang harus dilakukan guru agar tujuan dari proses pembelajaran tercapai yaitu:
1.      Menentukan tujuan yang spesifik, tujuan pembelajaran harus dirumuskan secara spesifik dalam bentuk perilaku akhir peserta didik. Setiap pendidik harus menyadari bahwa penentuan tujuan dalam proses pembelajaran adalah penting. Perumusan tujuan itu harus jelas yaitu bagaimana seharusnya peserta didik berperilaku pada akhir pembelajaran.
2.      Pelaku pembelajaran secara langsung yaitu guru dan peserta didik.
3.      Materi pelajaran, teridiri dari materi formal yang di dapat dari buku-buku teks resmi (buku paket) sekolah dan materi informal yang di dapat dari lingkungan sekitar dengan maksud agar proses pembelajaran lebih relevan dan aktual.
4.      Metode pembelajaran.
5.      Media pembelajaran, keberhasilan program pembelajaran tidak tergantung dari canggih atau tidaknya media yang digunakan, tetapi dari ketepatan dan keefektifan media yang digunakan oleh pendidik.
6.      Faktor administrasi dan finansial, seperti jadwal pelajaran, kondisi gedung dan ruang belajar.[2]
7.      Mengadakan penilaian pendahuluan, pendidik memeriksa perilaku awal peserta didik, langkah ini didasarkan dalam perubahan. Hal ini untuk mengetahui ada atau tidaknya perubahan pada diri siswa dengan membandingkan antara kondisi awal dengan kondisi akhir setelah belajar. Dengan penilaian pendahuluan, pendidik dapat mengetahui apakah siswa sudah atau belum memiliki jenis perilaku yang hendak dikembangkan, karena mungkin kemampuan siswa jauh lebih besar dari pada yang diperkirakan guru, begitu pula sebalikanya. Selain itu dengan penilaian pendahuluan, guru dapat mengetahui keadaan setiap peserta didik yang mungkin memerlukan variasi tujuan dan prosedur pembelajaran. Dapat penulis simpulkan bahwa dengan tindakan penilaian pendahuluan guru dapat mengidentifikasi dan menganalisa kebutuhan peserta didik agar tidak  tejadi pemberian materi ajar yang tidak terbutuhkan.
8.      Merencanakan program pengajaran, pada langkah ini guru merencanakan program pembelajaran yang dapat mengantarnya untuk mencapai tujuan-tujuan yang dikehendaki. Tujuan yang telah dirumuskan dengan jelas sangat membantu guru dalam membuat program perencanaan.
9.      Evaluasi, untuk menetapkan apakah tujuan telah tercapai atau belum maka penilaian harus memainkan fungsi dan peranannya. Dengan kata lain, penilaian berperan sebagai barometer untuk mengukur tercapai atau tidaknya tujuan yang telah ditetapkan.[3] Kondisi komponen-kompenen yang digunakan pada setiap lembaga sekolah berbeda satu sama lain dan komponen tersebut senantiasa mengalami perubahan, terutama komponen peserta didik.




[1]Sanjaya, Strategi Pembelajaran,56.
[2] W. Gulo, Strategi Belajar-Mengajar (Jakarta: Grasindo, 2005), 8-9.
[3] Sabri, Strategi Belajar Mengajar,36.

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)