Gagasan Thomas S. Kuhn Tentang Revolusi Perkembangan Ilmu Pengetahuan





GAGASAN THOMAS S. KUHN TENTANG REVOLUSI PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN


Sebelum kalian melihat isi dari halaman ini. Alangkah lebih baik baca dulu pengumuman penting berikut ini:



ISI LENGKAP DUA BUKU "PENDIDIKAN ISLAM" TERBITAN TAHUN 2014 & 2015. GRATIS.


NO CLICKBAIT!


Bagi yang belum tahu apa itu clickbait silakan klik judul Clickbait: Arti, Cara Kerja, dan Contohnya



Menu lengkap buku SISTEM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA PERGURUAN TINGGI UMUM. Dalam format daftar isi. Tinggal diklik judul atau sub judul daftar isinya. Akan diteruskan ke bagian isi buku sesuai judul atau sub judul yang diminta. Selengkapnya klik judul buku tersebut.



Menu lengkap buku PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER. Dalam format daftar isi. Tinggal diklik judul atau sub judul daftar isinya. Akan diteruskan ke bagian isi buku sesuai judul atau sub judul yang diminta. Selengkapnya klik judul buku tersebut.





Tulisan ini telah direvisi (ditambahi dan dikurangi) untuk dijadikan ke dalam salah satu BAB dalam buku terbaru karya A. Rifqi Amin yang bertema Pendidikan Agama Islam berbasis Interdisipliner. Untuk mengetahui isi buku silakan klik >>> di sini <<<


BAB I
Pendahuluan

1.    Latar Belakang Masalah
Kajian filsafat ilmu, khususnya filsafat ilmu keagamaan Islam bagi Sekolah Pascasarjana S3 Program Studi Pendidikan Agama Islam Berbasis Studi Interdisipliner merupakan kebutuhan mendasar. Yakni, sebagai pisau bedah dalam menemukan kebenaran menurut “paradigma” manusia, sehingga kebenaran yang menjelma menjadi ilmu tersebut bisa bermanfaat bagi kehidupan. Oleh karena itu, sebagai sesuatu yang awal dari penguraian secara komperhensif terkait hubungan antara agama-filsafat-ilmu pengetahuan, maka mendalami “sejarah” perkembangan ilmu pengetahuan di makalah ini bisa menjadi dasar untuk mendalami tema-tema yang lainnya.
Lebih lanjut, tulisan ini difokuskan pada pembahasan mengenai “Gagasan Thomas S. Kuhn tentang Revolusi Perkembangan Ilmu Pengetahuan.” Di mana isinya menjelaskan peran Kuhn terkait gagasannya yang telah menjadi landasan sekaligus keberanian ilmuwan dalam pengintegrasian antara agama dengan ilmu pengetahuan. Lebih gamblangnya, teori Kuhn tentang revolusi ilmu pengetahuan menjadi jawaban atas keraguan dari beberapa kalangan atas keabsahan adannya integrasi tersebut. Misalnya, karena kegagalan ilmu pengetahuan sekuler menyelesaikan masalah kehidupan yang begitu kompleks dan rumit, menyebabkan timbulnya revolusi “gagasan” sebagai respon dari kegagalan ilmu pengetahuan sekuler. Dari itu selanjutnya muncul gagasan baru sebagai pemecah masalah terkini, yakni pengintegrasian antara agama dengan ilmu.



Bagaimanapun gagasan Kuhn tentang ilmu pengetahuan telah mendobrak presepsi manusia di abad modern ini yang terlalu mengagungkan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, sangat wajar bila banyak ilmuwan setelah Kuhn “terpengaruhi” oleh gagasannya. Utamanya para ilmuwan dan pemikir yang resah dengan kegagalan ilmu pengetahuan. Yakni, dalam mengatasi adanya bencana sosial dan bencana alam yang salah satunya ditimbulkan oleh “produk” ilmu pengetahuan itu sendiri. Dengan kata lain, Kuhn telah menjadi inspirasi bagi ilmuwan, terutama pada konsepnya tentang Revolusi Ilmu pengetahuan dan konsep adanya paradigma yang berperan dalam “penggerseran” ilmu pengetahuan.
Selama ini ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang bebas nilai, harus independen, dan empiris. Namun, menurut Kuhn bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa bebas dari yang namanya “paradigma.” Yakni, terdiri dari paradigma subjektif yang berisi pandangan (yang pasti terpengaruhi ideologi, belenggu otoritas, dan fanatisme) mendasar mengenai apa yang menjadi inti persoalan suatu ilmu. Dengan demikian, tidak ada satu ilmu pengetahuan pun yang hanya bisa dijelaskan dengan satu teori saja, terlebih hanya melalui pembuktian empiris. Bagaimanapun, gugatan atas keanehan (anomali) ilmu pengetahuan akan selalu ada, di mana kadang bukti empiris tak bisa menjawab keganjilan itu. Meskipun demikian setelah ditemukannya kebenaran baru, siapapun tidak bisa menyalahkan “kebenaran” lama yang digunakan pada masa lalu, karena itu adalah teori yang dianggap benar di masanya. Begitupun teori baru yang dianggap benar pada masa sekarang belum tentu akan dianggap benar di kemudian hari.
Sebagai penutup, makalah ini merupakan usaha penulis dalam mencoba menelusuri pokok-pokok persoalan terkait pemikiran Thomas S. Kuhn. Yakni, tentang pentingnya gagasan “revolusi ilmu pengetahuan” bagi kehidupan manusia. Dengan kata lain, makalah ini akan membahas sejauh mana peran konsep “revolusi ilmu pengetahuan” Kuhn bisa digunakan dalam masa kekinian. Termasuk di dalamnya akan dibahas tentang penggunaan konsesp Kuhn tersebut ke dalam duni Pendidikan Agama Islam yang selama ini masih mengalami banyak permasalahan-permasalaha.

2.    Batasan Masalah dan Topik Pembahasan
Agar pembahasan makalah ini konsisten pada fokus persoalannya maka diperlukan suatu batasan masalah. Hal tersebut dilakukan agar pemaparan makalah ini tidak terlalu menyentuh pada hal-hal yang terlalu melebar dan tidak fokus pada persoalan pokok. Dengan itu diharapkan tulisan ini memiliki nilai fungsi yang signifikan pada kehidupan nyata, teruatama diterapkan pada Pendidikan Agama Islam. Yakni, sebagai gagasan sekaligus pedoman baru bagi pembaca dalam beraktivitas dan “berparadigma” di lingkungan masyarakat ilmiah.
Adapun batasan topik pembahasan yang dikerucutkan oleh penulis adalah sebagai berikut:
a.       Konsep dasar Thomas S. Kuhn tentang Revolusi Perkembangan Ilmu Pengetahuan
b.      Penelusuran Alam Pikir Thomas S. Kuhn tentang:
1)      Puzzel-solving
2)      Posisi/sifat ilmu pengetahuan
3)      Tahap-tahap perkembangan ilmu pengetahuan.
c.       Penggunaan konsep Revolusi Perkembangan Ilmu Pengetahuan Thomas S. Kuhn dalam dunia Pendidikan Agama Islam
3.    Tujuan Pembahasan
Bertolak pada pembahasan di latar belakang serta adanya pembatasan masalah maka dapat dirumuskan tujuan penulisan makalah sebagai berikut:
a.       Menguraikan konsep dasar Thomas S. Kuhn tentang Revolusi Perkembangan Ilmu Pengetahuan
b.      Menguraikan Alam Pikir Thomas S. Kuhn tentang Puzzel­-solving, posisi/sifat ilmu pengetahuan, dan tahap-tahap perkembangan ilmu pengetahuan.
c.       Menguraikan penggunaan konsep revolusi perkembangan ilmu pengetahuan Thomas S. Kuhn dalam dunia Pendidikan Agama Islam




BAB II
Pandangan Thomas S. Kuhn
tentang Revolusi Perkembangan Ilmu Pengetahuan

A.      Konsep Dasar
1.      Nomenklatur Thomas S. Kuhn
Nomenklatur adalah pemberian nama/kode (tata nama) yang dipakai pada bidang ilmu tertentu. Biasanya pembentukan nama tersebut disusun sebagai “ciri khas” bagi objek studi pada cabang ilmu pengetahuan tertentu.[1] Pada setiap gagasan yang dibangun, biasanya Kuhn menggunakan nomenklatur yang butuh pemahaman tersendiri agar masyarakat awam sekalipun bisa memahami konsepnya. Oleh karena itu sebelum mebahas pada pokok persoalan, alangkah lebih baik bila didalami terlebih dahulu nomenklatur yang sering digunakan oleh Kuhn. Diantaranya sebagai berikut: 
a.       Paradigma
Paradigma adalah bagian dari “teori” lama yang pernah digunakan dan dipaparkan berdasarkan dari pengujian-pengujian dan interpretasi dari sikap dalam anggota masyarakat ilmiah yang sudah ditentukan (disepakati) sebelumnya. Selain itu pradigma dipakai sebagai kesuluruhan manifestasi keyakinan, nilai, teknik, dan lain-lain yang telah diakui serta dilakukan oleh anggota-anggota masyarakat.[2] Dengan demikian dalam paradigma ada serangkaian keyakinan yang diadopsi ilmuwan untuk praktik ilmiah, selain juga digunakan contoh riset terdahulu yang digunakan sebagai inspirasi dan pemandu riset mereka.[3] Dapat disimpulkan bahwa paradigma merupakan konsesus masyarakat ilmiah tentang suatu “pandangan dasar” mengenai pokok persoalan pada cabang-cabang ilmu tertentu.


Menurut Kuhn, apa yang benar pada menurut paradigma lama  belum tentu benar menurut paradigma baru (adanya relativisme).[4] Dengan demikian paradigma tidak selalu terikat pada nilai benar atau salah. Akan tetapi juga bisa terbimbing oleh sesuatu yang “baik” atau yang “terbaik” bagi perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya. Dengan kata lain penelitian yang akan dilakukan ilmuwan seharusnya tidak terpaku pada hanya untuk menemukan “kebenaran,” tapi juga bisa memberikan nilai manfaat bagi kehidupan manusia. Hal ini bukan berarti bahwa paradigma dalam menyelesaikan masalah keilmuan tidak benar-benar objektif, karena nilai objektifnya tersebut bisa didapat pada penggunaan metode tertentu yang disepakati masyarakat ilmiah. Dengan kata lain paradigma akan menentukan metode apa yang cocok lalu disepakati untuk dipakai dalam pemecahan suatu masalah.
“Kuhn juga mengatakan bahwa membandingkan paradigma satu dengan lainnya bukanlah hal yang mudah karena semua yang menyusun paradigma sangat berbeda dan tidak analog.” Lebih rinci, salah satu prasarat terjadinya percepatan pergantian paradigma adalah melalui dunia pendidikan (akademis). Hal ini karena hampir tidak mungkin illmuwan dapat bekerja secara cepat jika melalui jalur otodidak. Yakni, tanpa menggunakan konsep yang sudah mapan, tanpa latihan, dan dimulai dengan sesuatu yang benar-benar baru.[5] Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa paradigma merupakan konstelasi beberapa gagasan yang saling terhubung disertai dengan asumsi-asumsi yang dikemukakan oleh ilmuwan.
Fungsi paradigma adalah sebagai teka-teki bagi para ilmuwan untuk dipecahkan dan ditemukan alatnya sehingga hasilnya menjadi solusi keilmuan bagi mereka.[6] Untuk memecahkan “teka-teki” tersebut dibutuhkan dugaan dasar dan dugaan teoritis yang pada setiap “teka-teki” karakternya berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, paradigma bisa menentukan sifat dan karakter ilmu pengetahuan yang dibangun.

b.      Ilmu Pengetahuan Normal
Yang dimaksud dengan normal adalah didasarkan pada aturan atau pola yang umum,  dengan kata lain tidak ada penyimpangan dari suatu norma atau kaidah.[7] Dengan demikian bisa dikatakan bahwa ilmu pengetahuan normal merupakan kumpulan teori yang sudah mapan atau diakui oleh komunitas ilmiah. Sedang menurut Surjani yang dipahami dari Kuhn bahwa ilmu pengetahuan normal adalah kegiatan ilmiah dalam masyarakat ilmiah, mereka bekerja dalam strukturnya sendiri, bidang kajian tersendiri, dengan hukum serta teori yang mendasari kenyataan menurut topik bahasan mereka.[8] Dapat diartikan, bahwa ilmu pengetahuan normal merupakan ilmu pengetahuan yang “dasarnya” masih dikaji dan digunakan oleh ilmuwan karena metode dan isinya masih layak untuk dijabarkan serta dikembangkan secara mendalam.
Pada lingkup ilmu pengetahuan normal ini, ilmuwan tidak bersikap kritis terhadap paradigma yang membangun ilmu pengetahuan tersebut. Namun, lambat laun jika dikaji terus-menerus maka bisa saja ditemukan sebuah “keganjilan” pada ilmu pengetahuan normal ini. Di mana para ilmuwan tidak mampu menjelaskan dengan teori-teorinya. Selanjutnya, ilmu pengetahuan normal ini akan dipertanyakan eksitensinya. Layak untuk tetap digunakan atau bisa digantikan dengan teori lain yang bertentangan.


c.       Anomali
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia anomali berarti terjadinya penyimpangan dan keganjilan dari yang normal.[9] Dengan demikian dari kacamata ilmu pengetahuan normal menurut Kuhn, anomali adalah terjadinya ketidakselarasan antara kenyataan yang ada dengan paradigma-paradigma yang digunakan ilmuwan. Dengan kata lain, anomali adalah sebagai syarat awal terjadinya proses penemuan baru. Yakni, ketika ada kesesuaian atau keterjalinan antara fakta baru dengan teori yang baru.[10]
Dapat disimpulkan bahwa anomali adalah berkurangnya atau bahkan hilangnya kemampuan paradigma dalam memecahkan persoalan (teka-teki) yang ada pada ilmu normal. Dapat dikatakan proses adanya anomali terjadi karena para ilmuwan menemukan berbagai kejanggalan pada ilmu normal. Di mana kejanggalan tersebut tidak dapat dijelaskan dengan paradigma yang selama masa itu digunakan oleh masyarakat ilmiah sebagai pedoman mereka.
d.      Revolusi Ilmu Pengetahuan
Revolusi Ilmu pengetahuan (scientific revolution) adalah terjadinya lompatan-lompatan dan perubahan-perubahan secara drastis. Menurut Kuhn proses revolusi ilmu pengetahuan hampir sama dengan proses terbentuknya “sejarah ilmu pengetahuan” dan juga “sejarah masyarakat” yang bersifat diskontinu.[11] Dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan apapun, Kuhn telah membuka lebar peluang terjadinya revolusi. Di mana revolusi merupakan sesuatu yang sangat bernilai bagi terjadinya perkembangan tersebut. Dengan kata lain sesungguhnya perkembangan ilmu pengetahuan itu tidak lepas dari proses revolusi.[12]
Dapat disimpulkan, revolusi ilmu pengetahuan adalah manifestasi dari efek yang paling ujung atas ketidakselarasan antara paradigma lama dengan paradigma baru. Di mana apabila paradigma baru mampu eksis dan diterima oleh hampir seluruh atau bahkan seluruh kalangan ilmuwan. Dengan itu maka dikatakan revolusi itu telah terjadi. Namun apabila sebaliknya, maka paradigma lama tetap digunakan atau akan digantikan oleh paradigma baru yang lainnya. Dengan kata lain, dalam revolusi terjadi penjungkirbalikan paradigma yang ada (lama) dengan paradigma yang baru yang benar-benar berbeda dengan sebelumnya, baik itu isinya maupun pada metodenya.[13]
Selanjutnya akan terjadinya perpindahan komunitas ilmiah, dari komunitas paradigma lama menuju paradigma yang baru. Yakni, memungkinkan ilmuwan untuk mengekspolrasi hal-hal baru yang sangat berbeda hasilnya jika menggunakan paradigma lama. Mereka seakan-akan ditransformasikan ke wilayah lain, padahal tempatnya sama dengan yang lama. Namun karena paradigmanya (instrumen) berbeda dari yang lama maka wilayah tersebut “tampak” berbeda pula dengan sebelumnya. Bahkan dengan instrumen (paradigma) tersebut ilmuwan mampu menyentuh “benda” yang sebelumnya tidak pernah mereka sentuh.

2.      Pengertian Revolusi Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, revolusi berarti perubahan mendasar dalam suatu bidang tertentu. Sedangkan kata “perkembangan” terkait erat dengan kata “berkembang” yang salah satunya memiliki arti “menjadi bertambah sempurna” tentang pribadi, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya. Bisa juga diartikan “menjadi banyak (merata, meluas, dsb).” Sedangkan ilmu pengetahuan artinya kumpulan berbagai pengetahuan yang disusun secara logis dan tersistem dengan memperhitungkan sebab serta akibat.[14]
Dalam pembahasan makalah ini penulis tidak menggunakan kata sains sebagai pengganti kata “ilmu pengetahuan.” Alasannya sederhana, karena kata “sains” punya arti pertama ilmu pengetahuan pada umumnya, kedua pengetahuan sistematis tentang alam dan dunia fisik, temasuk ilmu tentang makhluk hidup dan benda mati secara detail (ilmu pengetahuan alam), ketiga pengetahuan sistematis yang diperoleh dari observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dipelajari dan sebagainya.[15]
Pernyataan tersebut menandakan bahwa kata “sains” lebih cenderung pada lingkup kajian ilmu pengetahuan alam bukan ilmu pengetahuan sosial. Adapun, kata “Scientific” dalam bukunya Kuhn yang paling terkenal berjudul “The Structure of Scientific Revoluions” memiliki arti “(secara) ilmiah, pendekatan secara ilmiah.”[16] Adapaun kata “ilmiah” itu sendiri berarti “bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan.”[17]
Pembahasan ini diawali dengan pernyataan Kuhn bahwa revolusi perkembangan ilmu pengetahuan itu tidak terjadi secara kumulatif, tapi terjadi secara non kumulatif.[18] Hal ini menunjukkan perkembangan ilmu pengetahuan bukan berasal dari gabungan beberapa ilmu pengetahuan yang telah ada. Lalu disimpulkan ilmu yang datangnya paling akhir itu adalah yang benar atau yang paling matang. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan terjadi secara revolusioner. Yakni, terjadi perubahan secara mendasar (terjadi pertentangan) antara paradigma lama dengan paradigma yang baru. [19]
Bagi Kuhn, penemuan teori tidak menjadi kekuatan pendorong ilmu pengetahuan ke arah kemajuan. Bagaimanapun, ilmu pengetahuan bukanlah kumpulan kesetabilan dan terus menerus ditambah dengan penemuan baru. Akan tetapi, ilmu pengetahuan merupakan serangkaian selingan yang dimulai dari revolusi intelektual para pemikir. Setelah ada revolusi, konsep baru akan menggantikan konsep ilmu pengetahuan lama,  sehingga terjadi pergantian konsep yang berbeda secara terus-menerus. Hal itu akan terus terjadi sepanjang kehidupan sejarah manusia.[20]
Perkembangan ilmu pengetahuan merupakan proses yang tak menantu, sulit untuk ditebak, dan terjadi tanpa keteraturan yang mana bisa terjadi sewaktu-waktu.[21] Agar tercipta pemahaman yang jelas tentang mekanisme revolusi perkembangan ilmu pengetahuan Kuhn maka penulis paparkan skema ciptaan penulis sebagai berikut ini:

       IS          PP                  IS1        PP    IS2       



































 



                                An  Kr                                Kr  AP2   An Kr
              IN                              IN             An
                       Rev                                                     Rev
                                                             PG
      P1                                                 
                                                              P2                                     P3
Keterangan:
P1        : Paradigma Pertama  
IN        : Ilmu Penetahuan Normal
IS        : Ilmu pengetahuan yang tak pernah matang/mapan (immature science)
An       : Keganjilan (Anomali) yang ditemukan pada IN
Kr       : Krisis, kegagalan P1 dalam menjelaskan secara tepat tentang Anomali
Rev     : Revolusi, meninggalkan paradigma lama menuju paradigma baru
PP       : Pertentangan antar Paradigma
P2        : Paradigma ke-2 (paradigma baru yang berhasil menggantikan P1)
PG      : Paradigma baru yang gagal menggantikan paradigma lama
AP2     : Afirmasi Paradigma lama (P2), Paradigma baru (PG) gagal merevolusi
P3        : Paradigma ke-3 (paradigma baru yang berhasil menggantikan P2)

Gambar 2.1: Skema Diskontinuitas Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Dari gambar di atas dapat disimpulkan, bahwa antar paradigma tidak saling berhubungan (berdiri sendiri). Di sinilah letak revolusionernya, karena paradigma bertugas membimbing jalannya perkembangan ilmu pengetahuan secara terut menerus. Dari hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa revolusi perkembangan ilmu pengetahuan adalah perubahan mendasar tentang kumpulan-kumpulan paradigma yang tersusun berdasarkan konteks masyarakat ilmiah (karena paradigma terbentuk dari konteks masyarakat).[22] Artinya, dalam revolusi perkembangan ilmu pengetahuan terdapat unsur-unsur perubahan secara mendasar bahkan saling bertolak belakang. Perubahan itu terjadi secara undetermination (tidak tentu arahnya) dan berjalan dengan mandiri. Hal itu disebabkan karena adanya kegagalan paradigma (isi dan metodenya) yang lama dalam mempertahankan diri dari paradigma baru.

3.      Arah Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Perkembangan ilmu pengetahuan bisa terjadi salah satunya disebabkan adanya ketidak percayaan komunitas masyarakat ilmuwan terhadap teori-teori tertentu. Asumsinya, ilmu pengetahuan bisa terbentuk karena senantiasa dibangun atau diisi atas kumpulan beberapa teori. Hal itu berimplikasi bahwa adanya proses pengembangan ilmu pengetahuan oleh ilmuwan terjadi karena terjadi proses pengembangan teori-teori yang sudah ada. Tentunya sebuah teori itu dibangun berdasarkan dari hasil proses tindakan (penelitian) ilmiah. Dengan demikian pengembangan ilmu pengetahuan harus dilakukan secara komperhensif. Tidak hanya didasarkan pada salah satu aspek ilmu-ilmu alam (sains) atau metode tertentu saja. Namun juga melihat “pengaruh” ilmu-ilmu sosial yang kemungkinan mendominasi suatu “teori” tersebut.
Selama ini produk ilmu pengetahuan yang seharusnya bermanfaat bagi manusia, ternyata dibagian lain juga merugikan manusia. Di mana idealnya manusia bisa menguasai ilmu pengetahuan beserta produk dan metodenya. Namun ternyata kehidupan manusia selalu terpengaruh dan merespon secara buta (hilang “kesadaran”) dari adanya hasil perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan adanya respon itulah, maka perkembangan ilmu pengetahuan akan senantiasa terus dilakukan hingga berada pada titik jenuh. Selanjutnya, adanya titik jenuh tersebut akan direspon oleh ilmuwan dengan melakukan pengembangan ilmu pengetahuan untuk menjawabnya.

B.       Penelusuran Alam Pikir Thomas S. Kuhn
1.      Konsep Pencarian Kebenaran Vs Puzzle-Solving Milik Thomas S. Kuhn
Menurut Kuhn yang namanya kebenaran tunggal (objektif) itu tidak pernah ada. Karena bagaimanapun konsep kebenaran yang ada sekarang ini dibangun terdiri atas “paradigma-paradigma” yang disepakati dan dijunjung oleh masyarakat ilmiah/akademis (ilmuwan). Dengan kata lain, menurut Kuhn kebenaran tunggal yang dianut Positivisme merupakan suatu paradigma ilmu pengetahuan yang tetap mapan karena mendapat dukungan dan dimapankan oleh kalangan komunitas ilmuwan. Oleh karena itu, “paradigma” merupakan alat sebagai kerangka konseptual dalam memahami “kebenaran” alam semesta. Artinya, ilmuwan atau masyarakat ilmiah dalam melakukan penelitian tidak bisa lepas dari paradigma. Secara otomatis kebanaran ilmu tidaklah mutlak-tunggal, akan tetapi relatif-plural, maka “kebenaran” yang ada akan terus-menerus diteliti atau dikritisi oleh komunitas ilmiah lain.[23]
Hal ini berarti dalam benak Kuhn, yang namanya pencarian kebenaran itu tidak ada. Namun, yang ada adalah pemecahan “teka-teki” (Puzzel-Solving).[24] Di mana, pada hakikatnya manusia mengembangkan ilmu pengetahuan bukan untuk menemukan kebenaran, lalu menyalahkan yang “tidak benar.” Akan tetapi penelitian atau pengembangan ilmu pengetahuan dilakukan untuk memecahkan masalah sosial. Dengan kata lain, seringkali ilmuwan ingin atau sedang “menemukan” sesuatu karena memang pada saat itu masyarakat membutuhkan temuan tersebut untuk kehidupan mereka yang lebih baik. Implikasinya, saat proses pemecahan “teka-teki” itu “kadang” metode ilmiah tidak penting. Yang terpenting adalah bagaimana ilmuwan mampu membangun konsep dari segala sudut. Termasuk di dalamnya “kontek” dan sejarah ilmu pengetahuan yang dapat memecahkan “teka-teki” tersebut, sehingga hasilnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
Dapat disimpulkan, karena “paradigma” masing-masing ilmuwan maupun paradigma yang disepakati (konsesus) dalam masyarakat ilmiah ikut andil dalam perumusan teori ilmiah (yang diyakini kebenaran), maka subjektivitas memiliki peranan. Nilai subjektivitas muncul bisa berupa pengaruh dari ideologi, psikologis, otoritas, dan fanatisme yang ada pada komunitas ilmiah tersebut. Nilai-nilai subjektivitas inilah yang penulis yakini sebagai salah satu penyebab perkembangan ilmu pengetahun terjadi secara revolusioner bukan secara evolusioner. Meskipun dalam dinamika tersebut diperlukan beberapa waktu yang berbeda dalam tahap-tahapannya, karena kemampuan dan kecepatan “perumus” paradigma baru berbeda-beda pada tiap zamannya. Dengan demikian “kebenaran” tidak ada yang abadi, karena yang abadi adalah dinamika ilmu pengatahuan itu sendiri beserta paradigma-paradigma ilmuwan yang disertai dengan interpretasinya.

2.      Posisi Ilmu Pengetahuan Menurut Thomas S. Kuhn
Salah satu ciri utama “konstruk” ilmu pengetahuan yang diciptakan Kuhn beserta aktivitas ilmiahnya adalah tidak mengabaikan peranan sejarah ilmu. Menurutnya, mempelajari sejarah ilmu pengetahuan tak akan bisa lepas dari memahami dua “istilah” penting. Yakni, pertama discovery yang artinya kebaruan fakta atau penemuan dan yang kedua invention, artinya kebaruan teori atau penciptaan. Di mana menurut Kuhn “penemuan-penemuan” (discovery) sebagai salah satu unsur pembangunan ilmu pengetahuan bukanlah persitiwa-peristiwa yang dapat diabaikan begitu saja.[25] Bagaimanapun sebagian besar penciptaan (invention) teknologi sekarang ini bisa ada karena berkat adanya sejarah ilmu pengetahuan terdahulu. Walaupun sebagian besar penemuan ilmuwan terdahulu sifatnya masih dasar. Dengan kata lain pencitpaan (invention) merupakan bagian dari tahap-tahap pengembangan atau lebih tepatnya “pergeseran” yang berasal dari penemuan sebelumnya. Dimana “struktur” pentahapannya selalu berulang dan berpola sama.
Selanjutnya, pernyataan tentang ilmu pengetahuan terikat pada “sejarah ilmu,” berimplikasi pada ilmu pengetahuan juga terikat dengan nilai, ideologi, sosilogis, otoritas, dan latar belakang kehidupan penemunya. Alasannya, mempelajari sejarah secara otomatis juga akan mempelajari sebanyak-banyaknya lingkup kehidupan yang menyertai tokohnya. Semakin banyak atau lengkap dan komperhensifnya data sejarah maka bisa dikatakan isi kajian sejarah tersebut otentik. Dengan kata lain ilmu pengetahuan tidak bisa bebas nilai, utamanya tidak bisa terbebas dari pengaruh “paradigma” penemu-penemunya yang mereka peroleh sejak kecil.
Implikasi lainnya adalah karena mempelajari sejarah pasti mempelajari ruang dan waktu tentang zaman sebelumnya, maka ilmu pengetahuan juga terikat oleh ruang dan waktu. Itu artinya, bisa saja paradigma sebagai pengkonstruk ilmu pengetahuan belum tentu dapat digunakan pada waktu yang lain. Konsekuensinya, bila ditemukan permasalahan yang berbeda dengan waktu yang berbeda pula, maka penggunaan paradigma lain merupakan kewajiban.
Akhirnya, melalui The Structure of Scientific Revolutions, sesungguhnya perkembangan ilmu pengetahuan menemui jalan terjal. Selama ini ilmuwan menyembah ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah yang seakan tak terbantah dan sudah mapan. Kini, dengan nomenklatur “paradigma” milik Kuhn ilmuwan bisa menghargai subjektifitas. Yakni, dimungkinkan bagi ilmuwan untuk mengungkapkan bias dan memodifikasi model.[26] Oleh karena itu, menurut kacamata Kuhnian bahwa klaim kebenaran pada satu teori yang diyakini “abadi” dan tak tergoyahkan tidaklah tepat. Bagaimanapun suatu saat pasti akan ada revolusi (penjungkirbalikan) ilmu pengetahuan
Dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan kapanpun berpeluang untuk direvolusi, yaitu ketika paradigma atau teori yang lama bisa menggantikan paradigma atau teori yang sama sekali baru (paradigma matang/dewasa yang lainnya). Oleh karena itu, dapat dikatakan akan selalu ada pertandingan paradigma. Kapan pun itu setiap paradigma pasti rentan terkena “keganjilan” atau penyimpangan (anomali) dari apa yang dinamakan kenormalan (ilmu normal). Di mana paradigma yang paling baik dan terbaru akan menggantikan paradigma yang lama. Sebaliknya, bila paradigma baru tidak cukup matang dan tidak lebih baik dari paradigma lama maka paradigma lama akan tetap digunakan oleh komunitas ilmuwan. Bila itu terjadi maka perkembangan ilmu pengetahuan tidak berjalan untuk sementara waktu hingga ditemukan paradigma baru.

3.      Tahap-tahap Perkembangan Ilmu Pengetahuan Menurut Kuhn
Dalam kajian sejarah ilmu pengetahuan, runtutan perkembangannya tidak berdiri sendiri atau terpisahkan satu satu sama lain. Kekuatan ilmu pengetahuan terletak pada sifat dan mekanisme revolusinya. Di mana perkembangan ilmiah bisa diperoleh bila teori yang ada bisa ditinggalkan dan sepenuhnya diganti oleh teori yang lebih sesuai. Menurut Kuhn unsur terpenting dalam sebuah perkembangan ilmu adalah adanya masyarakat illmiah. Baik itu dalam lingkungan formal seperti kampus dan lembaga penelitian maupun lingkungan nonformal seperti kehidupan masyarakat secara luas. Masyarakat ilmiah menjadi faktor terbentuknya struktur ilmiah baru dan dapat berkembang dalam kurun waktu tertentu. Semua itu tergantung pada kaidah ilmiah yang berlaku di masyarakat tersebut.[27]
Berdasarkan pandangan Kuhn, perkembangan ilmu pengetahuan secara revolusioner bisa terjadi bila ada peralihahan dari satu paradigma ilmu pengetahuan ke paradigma ilmu pengetahuan lainnya yang lebih mumpuni. Di mana di dalamnya juga diselingi oleh paradigma “Ilmu Normal” sebagai ilmu yang “sementara” mapan sebagai penjaga peradaban di zaman atau periodenya. Untuk lebih jelas dan detailnya pembahasan, maka penulis paparkan tahap-tahap perkembangan menurut Kuhn sebagai berikut:[28]
1.      Fase pra-paradigma, pada tahap ini perkembangan ilmu pengetahuan berada pada episode cukup lama. Di mana penelitian keilmuan dilakukan tanpa arah dan tujuan tertentu. Pada episode ini, muncul berbagai aliran pemikiran yang saling bertentangan konsepsinya tentang masalah-masalah dasar disiplin ilmu dan metode apa yang cocok digunakan untuk mengevaluasi teori-teori.
2.      Fase Ilmu normal, pada masa ini mulai muncul salah satu aliran pemikiran (teori) yang kemudian mendominasi disiplin ilmu lainnya. di mana “teori” ini menjajikan pemecahan masalah yang lebih handal dan bisa terciptanya masa depan ilmu yang lebih maju.
3.      Fase Anomali dan Krisis, pada periode ini baik secara praktik ilmiah maupun teoritis ilmu pengetahuan yang ada tidak mampu lagi untuk diandalkan dalam memecahkan masalah yang baru. Kemudian, tatkala masalah yang begitu sulit dan tidak dapat dipecahkan  membuat para ilmuwan menemui jalan buntu. Dari situ muncullah krisis dalam masyarakat ilmiah tersebut. Mereka mulai meragukan paradigma yang telah ada selama ini. Pada titik jenuh, muncullah ilmuwan yang saling bersaing satu sama lain untuk memecahkan masalah “krisis” yang mereka hadapi. Dari situ, ilmuwan yang mampu menemukan ilmu atau teori-teori yang digunakan dan diakui oleh komunitas ilmiahlah yang akan menjadi paradigma baru dalam ilmu pengetahuan.
4.      Fase munculnya paradigma baru, di sini ilmuwan sudah mampu memecahkan masalah “krisis” yang dihapadapi pada fase sebelumnya. Awalnya sebagian komunitas ilmiah tidak menerima (meragukan) paradigma baru ini. Akhirnya, karena bermanfaatnya paradigma baru itu maka perlahan-lahan paradigma baru tersebut diterima.
Agar lebih mudah dalam memahami tahap-tahap perkembangan ilmu pengetahuan menurut Khun, maka perlu diuraikan dalam gambar berikut ini:[29]




P1          IN          An          Kr          Rev          P2



































      Pr           Pr               Pr                 Pr                      Pr                       Pr  

Keterangan:
P1        : Paradigma awal yang diterima
IN        : Ilmu-ilmu normal
An       : Penyimpangan (anomali)
Kr        : Krisis (kegagalan P1 dalam menjelaskan secara tetap mengenai  penyimpangan (Anomali)
Rev      : Menyangsikan P1 sehingga menemukan gagasan baru
P2        : Paradigma baru, diharapkan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang tidak dapat dipecahkan oleh P1
Pr         : Periode (masa)

Gambar 2.2 Tahap-tahap Perkembangan Ilmu Pengetahuan Thomas. S. Kuhn
Dari gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk mengganti paradigma lama ke paradigma baru diperlukan beberapa tahapan-tahapan yang harus dilalui. Meskipun –seperti dalam pembahasan sebelumnya–dalam  setiap tahapan (periode) pada kasus paradigma tertentu masing-masing berbeda masa “prosesnya.” Inilah yang berarti bahwa ilmu pengetahuan terikat oleh waktu atau tahapan (waktu/periode). Artinya, proses “pergeseran” dari satu periode ke periode lain akan menentukan proses perkembangan ilmu pengetahuan.

C.      Paralesasi Revolusi Ilmu Pengetahuan Milik Kuhn dengan Reintrepretasi Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

a.      Aspek Proses Pembelajaran PAI
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran perlu adanya desain ulang. Di mana bila dikaitkan dengan konsep Kuhn, salah satu contohnya guru dapat merangsang muridnya dengan menunjukkan data-data “anomali.” Dari data tersebut diharapkan guru mampu mengubah paradigma (nilai kehidupan, mental, dan kognisi) peserta didik ke arah yang lebih baik. Asumsinya, selama peserta didik tidak mau merubah paradigmanya (merevolusi) ke arah yang lebih unggul, maka tingkat pengetahuannya akan tetap seperti semula, tidak terjadi perkembangan.[30]
Dengan demikian, “paradigma” lama peserta didik diguncang bukan dengan cara pendoktrinan secara langsung. Namun, dengan cara menggunggah peserta didik bisa menemukan sendiri solusi dari anomali yang diajukan. Khawatirnya, bila diguncang dengan cara pendoktrinan secara langsung bisa jadi perseta didik atau orang tuanya akan menentang “doktrin” tersebut. Kendati demikian, tidak serta merta peserta didik diberi kebebasan untuk menemukan “kebenaran” secara liberal. Bagaimanapun otoritas guru untuk mendoktrin harus tetap ada. Tergantung pada jenjang pendidikannya dan latar belakang kehidupan peserta didik.

b.      Aspek Reintrepretasi Ayat Kauliyah dalam Pembelajaran PAI
Agama Islam merupakan agama yang benar dan sempurna. Oleh sebab itu, tak seorangpun bisa mengadakan pembaruan terhadap ajaran (teks) Islam. Akan tetapi yang perlu diperbarui adalah “paradigma” manusia terhadap agama. Serta bukan dinamika al Quran yang harus digugat untuk menghadapi perkembangan zaman. Namun dinamika umat Islam dalam memahami teks al Quranlah yang harus dimulai dan terus-menerus dilakukan sepanjang zaman.[31]
Hal tersebut hampir sama maksudnya dengan pandangan Kuhn, bahwa “kunci utama perubahan revolusioner ini ada pada metodologi. Alam tidak terlalu berubah namun metode pencarian penjelasan akan gejala alam kadang-kadang revolutif.”[32] Dengan kata lain bukan teks al Qurannya yang dirubah. Namun metodologi dalam memahami teksnya yang harus dirubah (direvolusi).






Berdasarkan pemaparan di atas, ketika dalam proses pembelajaran ditemukan “anomali” (keganjilan) dari paradigma manusia tentang isi al Quran maka perlu diadakan reintrepretasi terhadap teksnya. Bagaimanapun, tafsir merupakan ilmu, sebagaimana dengan ilmu lainnya. Walaupun tak dapat dinafikkan bahwa  konteks dan kualitas “perumusnya” tentu berbeda. Proses tersebut dilakukan agar pembelajaran PAI bisa kontekstual dan memiliki nilai praktis bagi masyarakat. Serta tentunya agar PAI tidak dicap bertentangan dengan ilmu pengetahuan lain.[33]

c.       Aspek Penggunaan Ayat Kauniyah dalam Pembelajaran PAI
Ayat Kauniyah adalah ayat-ayat di luar teks al Quran sebagai tanda Kemaha Besaran Allah SWT sekaligus pembenar kandungan al Quran yang sebagiannya bersifat mungkin untuk dikembangkan. Bisa berbentuk benda (zat/materi), peristiwa, dan mekanisme. Manusia wajib bertafakur terhadap sebagiannya dengan akal.[34] Dengan demikian, materi pembelajaran PAI sebenarnya tidak hanya berhenti pada aspek normatif dan doktrin ajaran agamanya saja. Namun, bagaimana menjadikan peserta didik mampu memahami, menghayati, dan memanfaatkan alam ini menjadi lebih baik. Yakni, dengan cara pengembangan ilmu pengetahuan yang muaranya bisa terciptanya produk yang berguna bagi kehidupan manusia.
Sebagaimana menurut “paradigma” Kuhn seperti pembahasan sebelumnya bahwa perkembangan ilmu pengetahuan itu tidak pernah bisa lepas dari nilai. Termasuk di dalamnya nilai-nilai agama, sosial, dan kemanusiaan. Dengan kata lain ilmu pengetahuan tidak bisa berdiri sendiri. Nilai tersebut memiliki peran yang sangat signifikan dalam menentukan arah perkembangan ilmu pengetahuan. Bisa dikatakan, tanpa adanya unsur nilai maka kehadiran ilmu pengetahuan akan hampa tanpa makna. Adanya hanya kepuasaan, kesenangan, dan kehidupan yang semu. Bahkan bila terus-menerus dibiarkan akan berujung pada bencana kehidupan manusia.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh pemaparan Nurcholis Madjid bahwa penggunaan ayat-ayat Allah yang kauliyah beserta kauniyah perlu dipahami dan diberi intrepretasi sesuai dengan kenyataan terkini. Dengan intrepretasi beserta reintrpretasi tersebut menjadikan agama mampu dan sejajar atau bahkan posisinya lebih tinggi dan teratas dalam berdialog dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.[35]






BAB III
      Kesimpulan

Dari semua pembahasan sebelumnya dapat simpulkan bahwa gagasan “paradigma” juga “revolusi” ilmu pengetahuannya telah membuka jalan lebar bagi segala macam ilmu untuk ikut serta dalam pengembangan diri. Bagaimanapun, Allah SWT telah memberikan dan menunjukkan berbagai “fenomena” kehidupan, sehingga tugas ilmuwan adalah “membuat” teorinya. Termasuk di dalamnya “ilmu” Pendidikan Agama Islam yang selama ini dianggap sebagai ilmu dogmatis yang tidak dapat dianggap (tidak memenuhi syarat) sebagai ilmu pengetahuan.
Ilmu Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu “alat” agama Islam untuk mengembangkan ajarannya perlu diinovasi dan diperbarui. Yakni, dengan cara reintrepasi atau penafsiran ulang terhadap sebagian “paradigma” lama yang dipandang sudah tidak mampu lagi memecahkan masalah kekinian. Dengan kata lain, bila melihat konteks kehidupan masyarakat sekarang ini kebutuhan terhadap revolusi perkembangan ilmu pengetahuan Pendidikan Agama Islam merupakan kebutuhan.
Ide-ide Kuhn tersebut memang di satu sisi oleh kalangan positivistik tidak bisa dikatan ilmiah. Namun, berkat ide-ide yang cermelangnya tersebut, Khunian bisa menyentuh konteks masyarakat yang tidak bisa dijangkau oleh kaum positivistik. Misalnya, apakah kaum positivistik bisa menyentuh aspek sosiologis, psikologis, dan kepercayaan yang menancap kuat pada suatu fenomena secara tepat dan mendalam. Selain itu dari gagasan Khun tersebut, sebenarnya ilmuwan diajak untuk berfikir kritis. Di mana dengan sikap kritis itu kemungkinanan besar intesites perkembangan ilmu pengetahuan akan berjalan dinamis sesuai zamannya.






Untuk Mengetahui Footnote silakan beli buku "Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner"


Buku The Structure of Scientific Revolutions (sumber gambar risalah hikmah)

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)