PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS KECERDASAN BERAGAM (MULTIPLE INTELLIGENCES)

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BERBASIS KECERDASAN BERAGAM (MULTIPLE INTELLIGENCES)



oleh:
A. RIFQI AMIN

(Pendiri Banjir Embun)
Topik lain:

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBUDAYA NIR-KEKERASAN: PERSPEKTIF INTERDISIPLINER

GAGASAN THOMAS S. KUHN TENTANG REVOLUSI PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

Ilustrasi Multiple Intelligences (Sumber gambar identifor)




Sebelum kalian melihat isi dari halaman ini. Alangkah lebih baik baca dulu pengumuman penting berikut ini:


ISI LENGKAP DUA BUKU "PENDIDIKAN ISLAM" TERBITAN TAHUN 2014 & 2015. GRATIS.


NO CLICKBAIT!


Bagi yang belum tahu apa itu clickbait silakan klik judul Clickbait: Arti, Cara Kerja, dan Contohnya



Menu lengkap buku SISTEM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA PERGURUAN TINGGI UMUM. Dalam format daftar isi. Tinggal diklik judul atau sub judul daftar isinya. Akan diteruskan ke bagian isi buku sesuai judul atau sub judul yang diminta. Selengkapnya klik judul buku tersebut.



Menu lengkap buku PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPRETASI BERBASIS INTERDISIPLINER. Dalam format daftar isi. Tinggal diklik judul atau sub judul daftar isinya. Akan diteruskan ke bagian isi buku sesuai judul atau sub judul yang diminta. Selengkapnya klik judul buku tersebut.





Makalah ini telah diedit menjadi buku berjudul PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: REINTERPERTASI BERBASI INTERDISIPLINER. Diterbitkan oleh LKiS.

BAB I
Pendahuluan

1.    Latar Belakang Masalah
Kajian tentang “kecerdasan beragam”[1] atau yang sering disebut dengan multiple intelegences[2] tidak akan pernah lepas dari pencetusnya, yaitu Howard Earl Garnder.[3] Berkat teori tersebut paradigma baru pada bidang pendidikan dan psikologi tentang kecerdasan telah bersemi (mendapat pengakuan). Pada akhirnya revolusi paradigma tentang teori kecerdasan telah terjadi. Teori ini ciri utamanya adalah mendudukan semua peserta didik berdasarkan jenis kecerdasan yang dikuasainya adalah sama derajatnya satu sama lain. Asumsinya, setiap siswa punya bidang kecerdasan masing-masing dan guru tidak boleh mengarahkan siswa hanya pada satu bidang kecerdasan saja. Oleh karena itu, klasifikasi murid berdasarkan tes kecerdasan IQ sebagai satu-satunya tolok ukur tidaklah tepat.
Anggapan yang selama ini terjadi adalah manusia (peserta didik) dikatakan hanya memiliki satu jenis “kecerdasan” dan yang dapat diukur melalui tes standar saja. Namun, Howard memperkirakan pada manusia punya 7 hingga 10 kecerdasan utama yang berbeda antara satu individu satu dengan yang lain.[4] Ini artinya, tidak ada dalam lingkungan manapun bahwa peserta didik yang satu lebih cerdas dari peserta didik lainnya. Namun, yang ada adalah peserta didik mana yang sudah menemukan bidang kecerdasannya serta mana yang belum menemukan. Bahkan dimungkinkan ada peserta didik yang menemukan atau cenderung punya lebih dari satu bidang kecerdasan yang ia kuasai.





Masalahnya, sebagaimana yang telah umum diketahui dalam beberapa dekade para pakar “kecerdasan” utamanya dalam dunia pendidikan hanya menggunakan tes inteligence quotient (IQ) sebagai pijakan satu-satunya dalam “menilai” kemampuan (kecerdasan) anak. Bahkan juga digunakan sebagai bahan utama dan rujukan satu-satunya dalam memprediksi masa depan anak. Padahal, utamanya untuk zaman yang serba kompleks sekarang ini, faktor-faktor (kecerdesan) lain sebenarnya juga bisa menjadi andil bagi penentu dasar masa depan anak kelak. Dengan kata lain, di zaman yang serba butuh aspek “kompleksitas” ini, IQ saja tidak akan pernah bisa menjadi solusi masalah kehidupan bagi pribadi maupun kehidupan masyarakat.
Dunia sekarang ini utamanya pada negara miskin dan berkembang dilanda ledakan jumlah penduduk. Hal tersebut berakibat pada minimanya lapangan kerja, bertambahnya polusi udara, rawan penyakit menular, dan perkembangan IPTEK yang tak terkontrol menyebabkan masyarakat tidak hanya membutuhkan atau diharuskan mengembangkan satu jenis kecerdasan saja. Artinya, semakin beragamnya potensi kecerdasan yang dimiliki lingkungan masyarakat maka kemungkinan besar segala aspek kehidupan masyarakat tersebut akan terpenuhi. Asumsinya, apapun yang dibutuhkan oleh masyarakat maka generasi-generasi yang punya kecerdasan beragam mampu untuk memenuhi dan mengatasinya sesuai dengan bidang kecerdasan masing-masing. Misalkan, dengan kecerdasan naturalnya seseorang akan mampu mengatasi pencemaran undara dengan mengadakn program penghijauan dan bisa juga menciptakan vaksin bagi penyakit tertentu untuk mencega penularan.
Dapat dikatakan bahwa teori milik Gardner telah merangsang dunia pendidikan di berbagai negara untuk melakukan inovasi. Baik yang dilakukan secara utuh (totalitas) maupun diadakan filter dan pengembangan-pengembangan yang disesuikan dengan nilai di negera masing-masing (invention). Inovasi dilakukan biasanya untuk memenuhi “kerinduan” masyarakat untuk merasakan sesuatu yang baru sehingga bisa meninggalkan model (paradigma) lama. Namun demikian dalam setiap inovasi pasti akan mendapat respon berbeda-beda dari masyarakat. Ada yang menolak secara mutlak, ada yang mendukung secara mutlak, ada yang memfilter dengan ketat, dan ada yang menanggapinya secara biasa-biasa saja.
Dalam konteks PAI, selama ini pembelajarannya pada umumnya masih didasarkan pada satu jenis kecerdasan saja yaitu linguistik-verbal. Yakni, peserta didik diasumsikan “pasti” semuanya menguasai bidang kecerdasan linguistik-verbal. Walaupun sering kali –utamanya pada kelas yang jumlah peserta didiknya banyak– pada kenyataannya tidak demikian. Di dalam kelas terdapat kecerdasan beragam yang masing-masing dimiliki mereka. Akibatnya peserta didik yang tidak memiliki jenis kecerdasan tersebut akan merasa tertekan. Hal tersebut bisa jadi karena ia tidak mampu menghafal dan membaca al Qur’an, kurang tertarik dengan praktik ibadah, dan materi pembelajaran yang terlalu dogmatis.
Dari semua pemaparan di atas maka penulis mengasumsikan bahwa teori Gardner masih perlu dikritisi. Penulis mencermati bahwa sebagian dari gagasan teori multiple intelligence tidak sepenuhnya harus diserap oleh “teori” pembelajaran PAI. Ada sebagaian gagasan Gardner yang perlu digunakan dan ada yang tidak cocok untuk diterapkan karena tidak sesuai dengan karakter PAI. Oleh karena itu, penulis melakukan analisis kritis terhadap teori Gardner untuk mengetahui faktor-faktor apa yang membuat teori ini tidak sepenuhnya bisa diterapkan dalam pembelajaran PAI. Yakni, menganalisis ketepatakan teori tersebut untuk digunakan dalam pembelajaran PAI. Kemudian penulis memformulasikan sebuah gagasan yang merupakan kesimpulan dari beberapa gagasan yang ditemukan. Dapat dikatakan dalam inovasi pembelajaran PAI berbasis multiple intelligences ini penulis tidak membuat gagasan baru (discovery) tetapi melakukan pengembangan dari teori Gardner (invention).

2.    Batasan Masalah dan Topik Pembahasan
Agar pembahasan makalah ini konsisten pada fokus persoalannya, maka diperlukan suatu batasan masalah. Oleh karena itu penulis merumuskan batasan topik pembahasan yang dikerucutkan sebagai berikut:
a.       Konsep dasar tentang teori kecerdasan beragam (multiple intelligences)
b.      Paradigma baru pembelajaran Pendidikan Agama Islam
c.       Pembelajaran PAI berbasis kecerdasan beragam yang ideal.

3.    Tujuan Pembahasan
Bertolak pada pembahasan di latar belakang serta adanya pembatasan masalah maka dapat dirumuskan tujuan penulisan makalah sebagai berikut:
a.       Menguraikan konsep dasar tentang teori kecerdasan beragam (multiple intelligences)
b.      Menguraikan paradigma baru pembelajaran Pendidikan Agama Islam
c.       Menguraikan pembelajaran PAI berbasi kecerdasan beragam yang ideal

4.    Kata Kunci
Dari semua pemaparan di atas maka penulis dapat merumuskan kata kunci (keyword) dari makalah ini. Maanfaat kata kunci adalah sebagai dasar untuk pengembangan masalah yang diulas di bab selanjutnya. Oleh karena itu, kata kunci makalah ini adalah:

Perubahan Paradigma, Pendidikan Agama Islam, Howard Gardner, dan Kecerdasan Beragam.



d.       
BAB II
PEMBELAJARAN PAI BERBASIS KECERDASAN BERAGAM

A.      Konsep Dasar
1.      Pengertian Kecerdasan beragam
Kata ragam salah satu diantaranya memiliki arti pertama “tingkah; laku; ulah” kedua “macam; jenis” dan ketiga “warna; corak;.” Sedangkan kecerdasan berasal dari kata dasar “cerdas” yang artinya “sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dsb); tajam pikiran;” atau bisa juga berarti “sempurna pertumbungan tubuhnya (sehat, kuat).” Secara terpisah kecerdasan spiritual mempunyai arti tersendiri yaitu “kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar berdasarkan keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa.”[5]
Sebagai penggagas teori multiple intelligences, Garnder mendifinisikan kecerdasan dengan singkat dan fungsional, yaitu kemampuan untuk memecahkan atau menciptakan sesuatu yang bernilai bagi budaya tertentu.” Adapaun Alfred Binet dan Theodore Simon, membagi kecerdasan menjadi tiga komponen: pertama “kemampuan mengarahkan pikiran dan atau tindakan,” kedua “kemampuan mengubah arah tindakan jika tindakan tersebut telah dilakukan,” dan ketiga “kemampuan mengkriti diri sendiri.”[6]
Garder juga mengatakan bahwa kecerdasan yang “utama” itu berdasarkan faktor keturunan (gen) sehingga tidak dapat dilatih. Misalkan kecerdasan musikal, menurutnya ada pengaruh gen yang menyebabkan seseorang pintar memainkan musik. Bahkan, menurutnya perbedaan dalam lingkungan seseorang tidak memberikan kontribusi material terhadap perbedaan dalam kapasitas untuk membedakan irama maupun melodi.[7]
Lebih spesifik Widayati dan Widijati mengungkapkan bahwa kecerdasan itu tidak dapat diamati secara langsung. Diperlukan kesimpulan dari pengamatan berberapa perilaku nyata yang merupakan perwujudan dari proses berpikir rasional.[8] Dengan demikian, penilain terhadap kecerdasan tidak harus dilakukan dengan tes tulis. Hal ini utamanya untuk menilai kecerdasan anak kecil (balita) yang belum bisa baca tulis.
Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa arti kecerdasan beragam adalah beberapa jenis kemampuan dasar yang salah satunya atau beberapa diantaranya bisa menjadi ciri khas (dimiliki) masing-masing manusia untuk berbudaya dan menjalankan kehidupan bersama. Selain itu, Widayati dan Widijati mengklasifikasikan sifat-sifat dari kecerdasan sebagai berikut:
1.      Adaptif; adanya respon yang fleksibel bila ada stimulus dalam berbagai situasi dan masalah, sehingga tahu pemecahannya dan tidak merasa sulit setiap kali menghadapi permasalahan.
2.      Kemampuan belajar; kemampuan belajar pada sesuatu yang baru, tergantung pada setiap anak sejauh mana ia mampu menyerap dan menyimpan sesuatu yang baru itu.
3.      Belajar dari pengalaman luar dan dalam dirinya; menggunakan pengetahuan sebelumnya sebagai analisis dan pemahaman situasi yang baru, sehingga senantiasa menunjukkan kreativitas.[9]
Penggunaaan istilah “kecerdasan beragam”[10] dalam tulisan ini dimaksudkan oleh penulis sebagai pengganti istilah multiple intelligences. Alasannya, kata ragam secara arti (makna) lebih cocok digunakan dari pada kata lainnya. Misalkan, kata majemuk memiliki dua arti yang satupun tidak cocok sebagai pengganti istilah teori Gardner tersebut yaitu “terdiri atas beberapa bagian yang merupakan kesatuan” dan “mengenai penambahan bunga kepada pokok berdasarkan waktu dengan tujuan mendapatkan dasar baru untuk menghitung bunga berikutnya:.”[11] Padahal menurut teori Gardner, satu jenis kecerdasan itu bisa berdiri sendiri dan bukan terdiri atas beberapa bagian yang saling menyatukan, walaupun kadang kala antara jenis kecerdasan satu dengan yang lain saling mendukung (terkait).
Bilapun menggunakan istilah kecerdasan ganda, maka kata “ganda” memiliki tiga arti yaitu pertama “(tentang hitungan) kali; lipat,” kedua “berbayang (seakan-akan ada dua),” ketiga “berpasangan (terdiri atas dua); berpasangan dua-dua (dalam bulu tangkis, tenis, dsb).”[12] dari sudut pandang teori Gardner penggunaan istilah “ganda” kurang cocok karena jenis kecerdasan menurut garder itu tak terbatas (tidak terhitung).

2.      Perubahan Paradigma Kecerdasan
Selama ini dalam sistem pendidikan, pada praktek di lapangan kebanyakan masih memaknai kecerdasan peserta didik secara terbatas. Yakni, mereka yang dikatakan cerdas adalah memiliki ciri-ciri penurut, hafalannya kuat, nilai mata pelajaran matematikan serta IPA tinggi, hasil tes IQ-nya tinggi, ranking nilai kognitif teratas, dan pendiam. Ini artinya anak yang bisa membenahi kerusakan motor, mampu berdagang gorengan, mampu membuat celana dalam anti pemerkosaan, dan semacamnya tidak didevinisikan sebagai anak yang tergolong cerdas, tapi anak yang kreatif. Dengan menggunakan paradigma ini maka anak yang kreatif bukanlah anak yang cerdas, tapi hanya sekedera kreatif. Dampaknya, berbagai anak yang kreatif tadi (yang mempunyai kecerdasan di bidang masing-masing) merasa tidak mendapatkan penghargaan dibandingkan dengan anak yang mendapat ranking[13] (nilai kognitif) 10 besar.
Kenyataan tersebut sangat memprihatinkan bagi kondisi psikologis anak-anak. Bisa jadi anak akan berlomba-lomba belajar atau bahkan dileskan (lembaga les atau secara privat) agar mendapatkan nilai bagus pada bidang matematika, bahasa inggris, IPA, dsb. Padahal belum tentu “kecerdasan” anak itu di bidang tersebut. Akibatnya energi anak akan terkuras untuk hal-hal yang diluar bidang kecerdasannya. Meskipun hasilnya bagus (terjadi peningkatan), akan tetapi kemungkinan bisa menjadi lebih bagus dan lebih bermanfaat bila ia memperdalam kecerdasan yang keberadaannya dominan pada dirinya. Selain itu anak juga akan menikmati pendalaman materi (melalui les atau privat) yang sesuai dengan bidang kecerdasannya.
Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Gardner sebagaimana yang dikutip oleh Efendi bahwa konsep kecerdasan itu tidak hanya bersangkut paut pada the result of paper and pencil tests (hasil tes dengan kertas dan pensil), tapi juga terkait dengan pengetahuan tentang otak manusia dan kepekaannya terhadap ragam budaya (sensitivity to the diversity of human cultures).[14] Bagaimanapun tes IQ hasilnya hanya berupa angka untuk memetakan kemampuan berpikir seseorang. Dengan kata lain IQ bukanlah tes kinerja nyata, sehingga dimungkinkan antara prediksi hasil tes dengan pelaksanaan di lapangan akan berbeda. Misalkan anak yang ber-IQ tinggi belum tentu ia mempunyai kecerdasan emosional[15] dan kecerdasan spiritual[16] yang bagus dalam kehidupan.
Selain itu selama ini yang dinamakan kecerdasan adalah hal-hal yang terkait dengan keseriusan, tidak boleh ada kesalahan, dan harus belajar dengan teks bukan konteks. Hal ini menurut Agus Efendi tidak benar, karena kecerdasan merupakan kemampuan untuk belajar dari pengalaman dan kemampuan beradapatasi dengan kebudayaan sekitar. Oleh karena itu, orang cerdas itu bukan berarti tidak boleh (tidak pernah) berbuat salah. Kenyataannya, orang cerdas adalah mereka yang pernah berbuat salah, akan tetapi mereka bisa belajar dari kesalahan dan tidak melakukan lagi.[17]
Sedangkan dari segi asal-asul terbentuk dan perkembangannya, tingkat kecerdasan itu tidak hanya ditentukan oleh faktor gentetis tapi juga faktor lingkungan. Sebagaiman menurut Zohar dan Marshall mengatakan bahwa:

Kecerdasan manusia terekam di dalam kode genetis dan seluruh sejarah evolusi kehidupan di bumi. Di samping itu, kecerdasan manusia juga dipengaruhi oleh pengalaman sehari-hari, kesehatan fisik dan mental, porsi latihan yang diterima, ragam hubungan yang dijalin, dan berbagai faktor lain. ditinjau dari ilmu saraf, semua sifat kecerdasan itu bekerja melalui, atau dikendalikan oleh, otak berserta jaringan sarafnya yang tersebar di seluruh tubuh.[18]
Secara terperinci menurut Thomas Amstrong, syarat khusus yang ditetapkan oleh Gardner agar sebuah kecerdasan bisa dimasukkan ke dalam teorinya, diantaranya:
1.      Setiap kecerdasan dapat dilambangkan;  misalnya lambang tulisan (huruf) pada kecerdasan linguistik, lambang angka pada kecerdasan matematis, lambang nada untuk kecerdasan musikal, dan lambang gerak-gerik atau mimik wajah sebagai lambang kinestetik.
2.      Setiap kecerdasan mempunyai riwayat perkembangan; kecerdasan itu dinamis (tidak menetap) dan setiap kecerdasan mempunyai pola perkembangan yang berbeda-beda
3.      Setiap kecerdasan rawan terhadap cacat akibat kerusakan atau cedera pada wilayah otak tertentu; menurut garder teori kecerdasan dapat berlaku bila didasarkan pada biologi (struktur otak). Kecerdasan linguistik berfungsi dibelahan otak kiri, kecerdasan musikal, spasila, dan antarpribadi cenderung pada belahan otak kanan. Kecerdasan kinestetik menyangkut korteks motor, ganglia basal, dan serebelum (otak kecil).
4.       Setiap kecerdasan mempunyai keadaan akhir berdasar nilai budaya; perilaku cerdas dapat dilhat dari prestasi tertinggi dalam peradaban, bukan dinilai dari hasil tes standar.[19]
Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa jenis kecerdasan itu tidak tunggal tapi beragam. Selain itu kecerdasan itu relatif, artinya makna atau bergunanya sebuah kecerdasan tergantung pada paradigma kecerdasan masyarakat tersebut. Misalnya dalam suatu masyarakat seseorang yang cerdas dalam musikal bisa saja dianggap “bodoh” oleh masyarakat yang tidak menyukai musik. Selain itu perkembangan kecerdasan tidak hanya ditentukan oleh gen saja atau oleh lingkungan saja, akan tetapi oleh kedua-duanya. Dengan adanya paradigma baru kecerdasan ini maka semua posisi kecerdasan peserta didik adalah sama. Semuanya adalah manusia cerdas, cerdas dalam bidang masing-masing yang mereka kuasai.
Lebih detail untuk menggambarkan adanya paradigma baru kecerdasan maka penulis dapat menggambarkan tentang kecerdasan sebagai berikut:

 









Gambar 2.1: Identifikasi paradigma baru kecerdasan
3.      Otak sebagai Kunci Utama Kecerdasan
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa otak merupakan organ terpenting utama dan pertama bagi tatanan biologis suatu organisme. Baru setelah itu organ jantung dan paru-paru menempati urutan berikutnya. Alasannya, otak telah menjadi pengontrol kinerja seluruh organ-organ tubuh tak terkecuali satupun. Baik organ yang bekerja secara tidak disadari seperti organ jantung, usus, lambung, paru-paru dll, maupun organ yang bekerja dengan sadar yaitu tangan, kaki, dan leher dll. Dengan demikian, manusia tanpa otak tidak memiliki arti apa-apa, karena seluruh organ dan panca indera tidak akan berfungsi, dan inilah yang disebut dengan kematian (meninggal dunia).
Sebagai organ milik manusia, otak merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. –Hal ini tentu akan berbeda dengan otak hewan[20]--. Bahkan otak manusia jauh lebih kompkes (canggih) dari pada komputer manapun di dunia  ini. Pernyataan tersebut sebagaimana menurut Zohar dan Marshall:

Otak bekerja dengan sistem pemikiran yang melintas. Artinya, otak tidak terdiri atas beberapa modul kecerdasan yang terpisah. Otak juga bukan sistem pemrosesan seri maupun sistem asosiatif yang terisolasi. Dua sistem ini berinteraksi dan saling menguatkan sehingga memberi manusia bentuk kecerdasan yang lebih tinggi daripada masing-masing kecerdasan tersebut jika berdiri sendiri. IQ dan EQ saling mendukung (sinergis).[21]

Bisa dikatakan bahwa keadaan otak memiliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan kecerdasan seseorang. Bahkan sampai sekarangpun rahasia dari kekuatan otak belum terpecahkan secara ilmiah. Sebagaimana penjelasan Agus Efendi, tentang rahasia otak beserta kecerdasaannya sampai sekarang masih belum terungkap secara memuaskan, bahkan dirasa masih sangat jauh dari jalan terang. Meskipun secara ilmiah di dalam otak terbukti ada tiga jenis utama yaitu otak rasional, otak emosional, dan otak spiritual.[22]
Selain itu ada beberapa teori tentang perkembangan kecerdasan otak, salah satunya teori faktor-faktor yang turut mempengaruhi perkembangannya, yaitu:
1.      Genetika, terkait dengan bentuk (struktur) otak yang diturunkan dari gen orang tua
2.      Makanan sehat, perkembangan otak pada masa keemasan seorang anak bahkan di dalam kandungan ditentukan suplai gizi.
3.      Perawatan, diperlukan latihan dan lingkungan yang mendukung untuk menemukan dan mengembangkan berbagai kecerdasan yang mungkin dimiliki anak.
4.      Lingkungan, peran orang tua sangat vital (sebagai pendidik) dalam mendidik anak agar perkembangan kecerdasannya terjadi secara benar, serta bagaiman lingkungan disekitarnya mendukung perkembangan tersebut.
5.      Mental, keadaan jiwa anak yang bahagia dengan yang murung dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak.[23]
Dapat disimpulkan bahwa otak memiliki peranan penting dalam perkembangan kecerdasan setiap manusia. Otak merupakan organ yang menunjukkan “jati diri” seseorang. Oleh karena itu, dalam pembelajara PAI guru dituntut memahami dan mempedulikan bagaimana peserta didik  “bekerja” dengan otaknya. Guru harus sadar bahwa kesulitan dan kegagalan pembelajaran harus dicari bagaimana cara kerja otak masing-masing anak dalam memahami sesuatu. Dengan demikian bila ditinjau dari konteks globalisasi, maka pendidikan Islam sudah waktunya menerapkan paradigma baru dalam pembelajaran yang didasarkan pada bagaimana cara otak bekerja.[24]
Akhirnya, dapat dikatakan otak sangatlah luar biasa kemampuan dan kekuatannya dalam melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan dari tinjauan biologis (bentuknya), otak dapat diwariskan secara turun temurun (foktor genetis). Namun, bila diadakan pelatihan secara terus menerus dan dengan cara yang tepat maka “fungsi” otak dapat dioptimalkan sesuai dengan keinginan manusia. Dengan kata lain, intervensi lingkungan juga memiliki peran penting dalam perkembangan kecerdasan[25] manusia. Implikasi dari pernyataan tersebut, manusia bisa “menuhankan” otak, bahwa otak adalah segala-galanya untuk kehidupan ini. Bila ditinjau dari segi pendidikan Islam maka pernyataan tersebut tentu tidak sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan[26] dan nilai Islam yang mengagungkan Allah SWT.
4.      Dasar Hukum pelaksanaan Pembelajaran berbasis ragam jenis kecerdasan peserta didik

Dalam Undang-undang 1945 Amandemen Pasal 28C ayat 1 mengamanatkan“Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.[27]
Dari pernyataan tersebut dalam konteks makalah ini, yang menjadi titik penting adalah pernyataan berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya  dan pernyataan demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Sesungguhnya yang dimaksud kebutuhan dasar siswa tidak hanya pendidikan secara umum saja namun juga kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan (penghargaan) dan juga pengembangan diri atas kecerdasan (kemampuan) yang sesuai dengan bidangnya. Diharapkan, dengan mengembangkan bidang kecerdasan yang dikuasainya, maka peserta didik tidak akan terbebani dengan “tugas-tugas” secara mendalam yang tidak sesuai dengan bidang kecerdasannya.
Dasar hukum lainnya adalah Undang-undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 1 nomer 1 bahwa yang dimaksud “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Serta kata berkembangnya potensi peserta didik juga terdapat pada tujuan pendidikan nasional di Pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003.[28]
 Hal tersebut secara detail lebih diperkuat pada pasal 5 ayat 4 menjelaskan “Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.[29] Dilanjutkan pada Pasal 12 ayat 1 poin b menyatakan “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:... b. mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.” Serta pasal 36 ayat 3 poin c bahwa “Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:... c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik...” Kemudian diakhiri dengan pasal 45 ayat 1 menyatakan “Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik.[30]
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa secara hukum pelaksanaan pembelajaran pendidikan berbasis kecerdasan beragam sudah diatur dalam undang-undang. Hal ini tentunya juga bisa menjadi dasar aturan bagi semua mata pelajaran maupun lembagai pendidikan yang ingin berinovasi melaksanakan pendidikan serta pembelajaran yang berbasis kecerdasan beragam. Oleh karena itu, siapapun tidak dibolehkan memaksa peserta didik untuk menekuni atau mendalami bidang kecerdasan tertentu yang tidak sesuai dengan bidang kemampuannya. Walaupun pada kenyataan dan pelaksanaannya ada beberapa kendala yang ditemui. Lebih detail mengenai hal ini akan penulis uraikan dalam pembahasan berikutnya. 

B.       Paradigma Baru Pembelajaran PAI
Paradigma yang diturunkan dari Cartesian (Descartes) dan Newtonian menjadi penyebab munculnya paradigma tunggal (tidak utuh) di dunia Barat. Dengan paradigma tunggal itu mereka terpuruk ke lembah krisis dan penuh kontradiksi, yang menurut Capra disebabkan oleh kekeliruan pemikiran. Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud kekeliruan pemikiran menurut Capra adalah tidak digunakannya paradigma yang tepat dalam penyusunan kebudayaan barat. Di mana menurutnya budaya barat hanya disusun berdasarkan satu paradigma, yaitu paradigma sains (scientific paradigm).  Padahal paradigma tersebut tidak sepenuhnya bisa melihat alam dan kehidupan ini secara utuh dan menyeluruh (wholeness), kecuali hanya melihat alam ini pada bagian yang empiris saja.[31]
Bila “kebudayaan” barat tersebut dikaitkan dalam dunia pendidikan, secara spesifik M. Zainuddin memaparkan perbedaannya dengan pendidikan Islam sebagaimana berikut:[32]

Katagori
Pendidikan Islam
Pendidikan Barat
Landasan Filosifis
Paradigmanya bertolak dari sumber atau landasan (doktrin) Islam yang bercorak teo-antroposentris.
Paradigmanya dilandaskan filsafat Yunani yang antroposentris-sekuler sehingga terlepas dari dimensi moral dan spiritual.
Struktur Konsep Pendidikan
Terjadinya perbedaan: tujuan, konsep tentang manusia (peserta didik), nilai, serta tanggung jawab yang diembannya.
Ontologi
Terjadi perbedaan dalam aspek cara memandang dan menempatkan para pserta didik dalam proses pembelajaran.
Sumber dan Metode Epistomologi
Berasal dari Allah SWT, yang diperoleh melalui panca indera, akal sehat, berita yang benar, dan intuisi.
Semua objek (benda/zat/materi) yang bisa diserap oleh panca indera.
Sistem Etika
Bercorak teo-antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pelaku sejarah sekaligus sebagai makhluk (khalifah dan hamba) Allah.
Menurut Syamsul Nizar: bercorak antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat dari segala-galanyanya, individu merdeka tanpa bata.

Tabel 2.1: Perbedaan Sistem Pendidikan Islam dengan Sistem Pendidikan Barat (Tabel diadaptasi dari pemaparan M. Zainuddin dalam bentuk paragaraf)
Dari tabel tersebut dengan jelas tergambar bahwa sistem pendidikan barat adakalanya tidak sepenuhnya cocok apabila diterapkan dalam sistem pendidkan Islam. Oleh karena itu setiap teori dari barat, utamanya teori pendidikan tidak serta merta harus diserap sepenuhnya untuk digunaan dalam sistem pendidikan Islam. Bagaimanapun paradigma yang diungakan oleh umat islam dengan paradigma orang barat berbeda, sehingga mempengaruhi dalam membuat konsep sistem pendidikan Islam.
Lebih lanjut, bila dikaitkan dengan pembelajaran secara langsung, maka paradigma lama mengajar tentang memberikan reward and punishment atau memberikan rangsangan lain[33] sudah tidak berlaku lagi. Ataupun paradigma pembelajaran yang hanya sebatas menyampaikan ilmu pengetahuan (sains) dianggap sudah tidak relevan dengan kekinian. Diperlukan paradigma baru, bahwa mengajar sebagai proses mengatur lingkungan (kebudayaan). Beberapa alasannya adalah:
1.         Siswa bukanlah orang dewasa dalam bentuk anak kecil atau remaja, tetapi individu yang sedang berkembang sehingga masih butuh proses pendidikan. Dengan demikian, guru (sebagai orang dewasa) bukanlah satu-satu sumber belajar. Asumsinya, kebutuhan orang dewasa dengan anak-anak berbeda, maka guru bertugas sebagai pengelola sumber belajar yang sesuai dengan tingkat usia siswanya.
2.         Adanya ledakan ilmu pengetahuan berakibat pada ketidak mungkinan bagi setiap orang mampu menguasai seluruh cabang keilmuan. Dengan demikian, belajar tidak sekedar menghafal informasi, menghafal rumus-rumus, tapi belajar adalah bagaimana siswa mampu menggunakan otaknya untuk mengasah kemampuan berfikir.
3.         Penemuan-penemuan baru dalam bidang psikologi (menurut penulis juga bidang biologi), berakibat pemahaman baru terhadap konsep (teori) perubahan perilaku manusia. Di mana manusia sebagai makluk biologis (organisme) memilik potensi bawaan yang menentukan perilaku manusia. Implikasinya, proses pendidikan bukan lagi memberikan stimulus untuk cerdas pada bidang tertentu, tetapi mengembangkan potensi (kecerdasan) yang telah ada dan telah dimiliki siswa.[34]
Penjelasan tersebut hampir sama dengan pendapat Thomas R. Hoerr, bahwa:

Teori kecerdasan majemuk (KM) memberikan pendekatan pragmatis pada bagaimana kita mendefinisikan kecerdasan dan mengajari kita memanfaatkan kelebihan siswa untuk membantu mereka belajar.... Menjadi cerdas tidak lagi ditentukan oleh nilai ulangan; menjadi cerdas ditentukan oleh seberapa baik murid belajar dengan cara yang beragam.”[35]

Lebih detail, Muhaimin, dkk. menjelaskan bahwa belajar pada hakikatnya terjadi secara individual, sehingga setiap individu dalam belajar memiliki karakteristik tersendiri. Dari situ, idealnya pendidikan agama Islam seharusnya diacukan pada peserta didik secara perseorangan. Dengan asumsi, tindakan (perilaku) belajar memang bisa ditata (dikelola) dan dipengaruhi (diintervensi), akan tetapi perilaku belajar individu akan tetap berjalan sesuai dengan karakteristik peserta didik secara perseorangan. Misalnya, peserta didik yang yang cara belajarnya lambat dalam bidang tertentu tidak dapat dipaksa untuk belajar cepat. Oleh karena itu, rancangan pembelajaran PAI harus diupayakan sesuai dengan karakteristik perseorangan peserta didik, sehingga terjadi perkembangan dalam pemahaman, pengalaman, dan pengamalan beragamanya sesuai dengan daya tampung dan kemampuannya (daya jangkau).[36]
Sedangkan apabila dikaitkan dengan peserta didik secara langsung, maka paradigma lama tentang peserta didik telah mengalami pergeseran. Di mana sekarang ini setiap peserta didik di pandang punya tingkat kemampuan yang berbeda dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.[37] Selain perbedaan tersebut, peserta didik juga berbeda pada kemampuan fitrah. Asumsinya ada anak yang memiliki kemampuan fitrah dalam bidang melukis akan tetapi lemah dalam kemampuan menari dan olah raga. Ada pula peserta didik yang punya kemampuan membaca al Quran yang sangat baik. Implikasinya, perbedaan pada aspek kejiwaan dan fitrah merupakan hal yang sangat mendasar untuk diketahui dan dipetakan secara pasti oleh guru. Di mana peta tersebut dijadikan modal awal dalam merancang kegiatan pembelajaran.[38]
Adapun apabila dilihat dari kepentingannya, pendidikan dibagi menjadi dua, pertama pendidikan dari segi kepentingan individual peserta didik. Menurut Hasan Langgulung yang dikutip oleh Abuddin Nata, selain memperhatikan peserta didik dari segi perbedaan bakat, kemampuan, kecenderungan, dan sebagainya, guru juga harus membantu individu dalam mengekspresikan dan mengaktualisasikan “kecerdasan” dirinya. Dari itu diharapkan peserta didik dapat mengatasi masalah di kehidupannya kelak.[39]
Kedua, dari segi kepentingan masyarakat. Pelaksaanan pendidik dilakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga setiap gagasan, pemikiran, nilai, budaya, agama, ilmu pengetahuan yang disalurkan ke peserta didik harus mendapat pengakuan masyarakat dan negara. Dengan kata lain masyarakat dan negara sangat berperan dalam mengintervensi kegiatan pendidikan. Yakni, untuk menciptakan generasi yang siap untuk mengisi ruang-ruang kosong bidang pengetahuan yang sangat dibutuhkan masyarakat.[40]
Konsep pendidikan yang memadukan antara kepentingan individual denga kepentingan masyarakat didasarkan pada asumsi bahwa individu selain memiliki kebebasan berkreativitas juga dibatasi oleh kebebasan sosial. Oleh karena itu setiap peserta didik selain bisa menentukan pilihan-pilihannya, mereka juga harus tunduk kepada pilihan yang diakui dan dibutuhkan bersama. Dengan kata lain Islam memandang bahwa kedua kepentingan tersebut harus berjalan berdampingan dan seimbang. Selain juga menggunakan nilai-nilia yang berasal dari Tuhan yang diyakini benar dibandingkan nilai-nilia yang diciptakan manusia. oleh karena itu, dalam menyikapai apa-apa yang berasal dari manusia adalah dimulia dengan sikap meragukan terlebih dahulu kemudian memecahkan keraguanya itu dengan bukti ilmiah. Sedangkan menyikapi yang berasal dari Tuhan dimulai dari menyakinnya, kemudian memperkuatnya dengan pemahaman manusia tentang  ayat-ayat kauniyah.[41]

C.      Pembelajaran PAI Berbasis Kecerdasan Beragam yang Ideal
Pembelajaran PAI merupakan kegiatan untuk mencerdaskan peserta didik. Oleh karena itu, dalam konteks makalah ini hal-hal penting yang perlu diperhatikan sebelum diadakan pembelajaran adalah seperti apa kondisi (latar belakang) peserta didik, sejauh mana kemampuan guru dalam mengakomodasi keberagaman peserta didik, dan bagaimana cara menanamkan nilai-nilai Islam kepada peserta didik sesuai dengan kondisi “keberagaman” peserta didik. Untuk lebih jelasnya maka penulis gambarkan skema di bawah ini:









Oval: PAI





 







    Mazhab              Kecerdasan           Ras/kulit                Ekonomi             Kultur        
(Organisasi)








 









Flowchart: Preparation: Pendidikan yang tidak diskriminatif dan tidak terjadi penyeragaman. Semuanya terbingkai pada nilai-nilai agama Islam.
 




Gambar 2.2: Posisi peserta didik dalam bingkai Pendidikan Agama Islam

Dari gambar tersebut dapat dipahami bahwa pembelajaran PAI bukanlah materi ceramah, materi latihan, dan materi diskusi saja. Namun, pembelajaran PAI adalah seni guru dalam mendoktrin peserta didik agar fanatik dan setia sampai akhir hayat terhadap agama Islam. Dengan kata lain, dalam pembelajaran PAI tidak ada upaya mencegah peserta didik dalam mengembangkan bakat, potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik untuk menjadi manusia yang ahli di bidang-bidang tertentu (senyampang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam).[42]
Lebih lanjut, menurut Thomas R. Hoerr bila direnungkan sesungguhnya teori pembelajaran berbasis kecerdasan beragam (multiple intelligences) bisa menjadikan dunia pendidikan menghargai keanekaragaman (kecerdasan) siswa. Bahkan dimungkinan bisa mengenali keunikan yang berbeda-beda pada setiap individu.[43] Walaupun pada kenyataannya penerapan teori kecerdasan beragam membutuhkan biaya yang tidak sedikit (perlu dana tambahan), diantaranya diperlukan untuk membeli kamera video (CCTV) di setiap ruang kelas dan mengundang seniman aneka bidang dan kebutuhan-kebutuhan penunjang lainnya.[44]
Masih menurut Thomas R. Hoerr, tidak ada cara tunggal dan yang benar (harus sama) untuk penerapan teori kecerdasan beragam (ini merupakan sisi unik, sekaligus kelemahannya) pada sekolah-sekolah. Setiap praktisi pendidikan dalam menggunakan teori tersebut harus dapat memperhatikan keunikan konteks dan kultur sekolah mereka masing-masing.[45] Berdasarkan analisis penulis hal tersebut dapat dicontohkan pada kasus di sekolah atau ruang kelas tertentu menyetel musik sambil belajar bisa menjadikan siswa berkembang kecerdasaan matematisnya. Namun disekolah lain itu akan bisa menyebabkan kekacauan luar biasa. Artinya, titik tekan teori kecerdasan beragam sesungguhnya harus didasakran pada keadaan masing-masing sekolah dan masyarakat sekitar, sehingga setiap sekolah mempunyai cara sendiri dalam menerapkannya.
Dapat dikatakan dalam penerapan teori kecerdasan beragam, sungguh bukanlah perkara mudah dan remeh temeh. Baik dari segi pemahaman teorinya maupun dari segi penerepannya. Hendaknya guru harus memperhatikan secara mendalam tentang hakikat dari teori tersebut. Oleh karena itu penulis akan memaparkan saran Howard Garner kepada para guru sebagai bahan kajian yang cukup penting. Hal tersebut sebagaimana yang dikutip oleh Valerie Strauss, ada tiga hal utama yang harus diperhatikan yaitu: 
1.      Mengadakan pembelajaran secara individual sebanyak mungkin. Dengan mempelajari sebanyak mungkin dan bila perlu secara detail terhadap setiap peserta didik. Mengajar setiap peserta didik dengan cara yang menurut mereka nyaman dan bisa belajar dengan efektif. Tentu hal ini akan lebih mudah bila dilakukan dengan kelas yang lebih kecil.
2.      Melakukan metode pengajaran yang beragam. Mengajarkan materi penting dalam berbagai cara dan menggunakan berbagai bahan misalnya melalui cerita, karya seni, diagram, role play dan sebagainya. Dengan cara itu diharapkan peserta didik dapat belajar dengan cara yang berbeda.
3.      Tinggalkan atau kesampingkan istilah “gaya belajar,” karena ini akan membingungkan orang lain dan tidak akan membantu guru ataupun peserta didik.[46]
Bila bagian terpenting (pokoknya) atau bahkan seluruh dari teori tersebut dapat dilakukan maka bisa dikatakan inovasi[47] terhadap pembelajaran PAI telah berhasil. Dengan itu maka diharapkan kekuatan intelektual Islam[48] bisa mendapat masukan yang berarti. Namun bila belum hendaknya perlu diadakan pembaharuan di bidang lain yang mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung agar penerapannya bisa optimal. Sebagaimana menurut Agus Efendi bahwa dalam dunia pendidikan untuk membangun tradisi dan budaya berfikir filosofis dan ilmiah tentu tidak mudah. Diperlukan sistem pendidikan dan pembelajaran yang demokratis, sistem kurikulum yang inovatif-kreatif serta transformatif-responsif terhadap perubahan masyarakat, sistem pelatihan berpikir yang sistematis, buku ajar yang komunikatif-presuasif serta efektif-inovatif, tradisi intelektual serta sistem sosial politik yang demokratis, dan sistem budaya yang mendukung keunggulan serta menghormati HAM-spritualistik-religius.[49]
Pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa, bila pembelajaran PAI secara mutlak (tanpa filter) menerapkan teori kecerdasan beragam maka dampaknya adalah harus ada perubahan (pengembangan) materi, metode pembelajaran, sarana-prasarana, adanya team teaching, dan perubahan lainnya yang relevan dengan teori tersebut. Perubahan tersebut tidak berlaku bagi tujuan khusus PAI, yaitu untuk menamkan nilai-nilai Islam kepada peserta didik. Namun demikian, dalam kondisi ini prakteknya masih sangat sulit untuk menanamkan nilai-nilai Islam pada materi, gaya belajar, dan bahan ajar pembelajaran PAI yang dipadukan dengan teori kecerdasan beragam.
Lebih konkrit bila ditinjau dari pembelajaran PAI, di dalam materi PAI terdapat beberapa bidang kecerdasan yang bisa diperdalami oleh masing-masing jenis kecerdasan peserta didik. Misalnya materi dakwah, hafalan, dan seni membaca al Quran ditekankan secara serius pada peserta didik yang hanya punya kecerdasan linguistik-verbal. Materi ilmu waris, ilmu zakat, dan ilmu falak diberikan secara khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan logis-matematis. Untuk lebih rincinya penulis membuat tabel sebagai berikut:

No.
Jenis Kecerdasan Peserta didik
Pembelajaran PAI
Materi
Metode
Bahan ajar
1.
Linguistik-verbal
Hafalan serta membaca Quran dan Hadith, pidato bahasa arab
Latihan dan hafalan
Teks al Quran, Hadith, dan bahasa arab
2.
Logis-matematis-numerikal
Ilmu waris, ilmu zakat, ilmu falak (hisab)
Latihan, menganalisis, menghitung, merumuskan
Soal-soal (pertanyaan) tentang zakat, ilmu falak, ilmu waris. pengadilan agama, lembaga zakat, dan laboratorium astronomi.
3.
Spasial-visual
Kaligrafi, menggambar peta sejarah perkembangan agama Islam di dunia, membuat grafik peningkatan jumlah muslim di dunia
Latihan, menggambar, membuat grafik, membuat peta
Data-data tentang perkembangan agama islam di dunia dari zaman dulu hingga sekarang dan pergi ke seniman kaligrafi
4.
Musikal
Barzanji, seni baca al Quran, sholawat, nasyid,
Latihan, praktek langsung di dunia nyata
Perlengkapan musik, sound,
5.
Kinestetik
Perawatan jenazah, materi sunnah nabi: berkuda, berenang, berlari
Latihan, ikut perlombaan
Perlengkapan jenazah, kuda, kolam renang, lapangan olah raga
6.
Interpersonal
Praktek dakwah, pemimpin, menari, drama,
Latihan, role play, ikut organisasi, praktek di dunia nyata
Organisasi, mushola
7.
Intrapersonal
Renungan malam (tahajud), cerita tentang kehidupan sufi, cerita tentang perjuangan masuk islam, cerita tentang
Pendekatan personal,
Buku cerita tentang sufi, buku muhasabah, cerita menyentuh hati
8.
Naturalistik
Merawat taman sekolah, menjaga keindahan
Penugasan: menjaga taman
Taman, hewan,

Tabel 2.2: Penerapan teori kecerdasan beragam dalam satu lingkup kurikulum PAI

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa siswa yang dikatagorikan cerdas menurut PAI tidak hanya yang bisa hafal al Quran-hadith, hafal sejarah Islam, yang memiliki nilai ulangan bagus. Namun semuai siswa dikatakan cerdas, utamanya “bila” sudah menemukan jenis kecerdasan apa yang ia miliki (kuasai). Kemudian diterapkan pada pembelajaran PAI untuk dipahami, dihayati, diamalkan, dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian kurikulum PAI bisa menjadi fungsional dan bermanfaat langung bagi kebutuhan hidup (jasmani dan rohani) pesrta didik. Serta bisa bermanfaat bagi masyarakat karena jenis kecerdasan yang beragam tersebut bisa mencetak generasi Islam yang berprofesi di bidang bermacam-macam (tidak homogen).
Hal tersebut tentu akan berbeda dengan penerapan teori KB (kecerdasan beragam) di lingkup materi (tema) pembelajaran. Misalkan materi tentang zakat. Dari materi tersebut bisa disimulasikan (metode bermain peran/role play), bentuk penugasan mengarang[50], atau dipraktekan secara nyata dengan pembentukan lembaga (organisasi) zakat yang berlokasi di sekolah. Lebih detailnya maka penulis membuat pembagian tugas di lembaga tersebut berdasarkan jenis kecerdasan masing-masing peserta didik sebagai berikut:

NO.
JENIS KECERDASAN UTAMA (DOMINAN)
JABATAN
TUGAS
ALAT
TEMPAT KERJA
1.
Linguistik-verbal
(dibutuhakn kecerdasan spasial untuk mendesain gambar iklan)
Tim manajer pemasaran
Membuat proposal, selebaran/pamflet (iklan) untuk masyarakat
Komputer
Ruangan
2.
Matematis-logis-numerikal
(dibutuhkan kecerdasan spasial untuk memetakan masyarakat berdasarkan tingkat ekonominya)
Tim manajer keuangan
Membuat daftar prioritas penerima zakat serta prioritas warga paling dermawan dan menghitung pengeluaran dan pemasukan)
Komputer
Ruangan
3.
Spasial-visual
(dibutuhkan kecerdasan interpersonal untuk mengadakan pendekatan dengan pejabat terkait)
Tim manajer perencanaan
Memetakan warga mana saja di sekitar sekolah yang berstatus mustahiq dan warga dermawan
Kertas gambar, pensil, dan spidol berwarna
Lapangan dan ruangan
4.
Kinestetik-jasmaniah
(dibutuhkan kecerdasan matematis-logis untuk menganalisis data stastitik)
Tim manajer pengelolaan barang atau perlengkapan
Mengambil zakat dari warga dermawan (muzakki) disetorkan ke “panitia zakat” lalu didistribusikan kemustahiq.
Kendaraan, timbangan,
Lapangan
5.
Musikal
(dibutuhkan kecerdasan interpersonal untuk mempengaruhi teman-temannya agar mau mengikuti komando lirik lagu yang dibuatnya)
Tim manajer kesegaran jiwa/mental (SDM)
Menggubah lirik lagu-lagu terkini dengan lirik lagu Islami tentang zakat, kemudian dia disuruh memimpin teman-temannya agar bersemangat dalam menjalankan misi panitia zakat.
Sound, kertas, kaset,
Ruangan
6.
Interpersonal
(dibutuhkan kecerdasan linguistik-verbal untuk mengenalkan zakat kepada calon muzakki)
Tim manajer humas
Menjadi pimpinan panitia zakat atau ditugaskan untuk mengadakan pendekatan dengan warga dermawan (muzakki) dan para mustahiq.
Kendaraan, data statistik, materi zakat,
Lapangan dan ruangan
7.
Intrapersonal
(butuh kecerdasan interpersonal untuk mempengaruhi teman-temannya)
Tim manajer kesegaran jiwa/mental (SDM)
Memotivator teman-temannya, meluruskan niat, dan menentukan (merumuskan) hukum dan jumlah zakat dari semua jenis zakat
Kertas
Ruangan dan lapangan
8.
Natural
(butuh kecerdasan spasial untuk menyeting ruangan)
Tim manajer kesegaran jiwa/mental (SDM)
Menata keindahan dan kenyamanan ruangan rapat/kelas untuk konsolidasi “panitia zakat” menggunakan tanaman.
Pot, tanaman, poster flora atau fauna,
Ruangan

Tabel 2.3: Penerapan teori kecerdasan beragam dalam lingkup satu tema (materi), yaitu materi zakat pada pembelajaran PAI.
Dari dua tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila guru hendak menerapkan pembelajaran PAI berbasis KB dalam arti gaya belajarnya, maka guru harus mempunyai kemampuan delapan jenis kecerdasan untuk mengajar peserta didik. Namun, bila hendak menerapkannya dalam arti esensinya, maka guru harus mengakomodasi perbedaan dan mengakui adanya kecerdasan beragam yang dimiliki masing-masing peserta didik. Konsekuensinya, guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengekspresikan muatan PAI sesuai dengan bidang kecerdasannya. Misalnya dalam satu tema/materi pelajaran PAI, satu siswa ditugaskan untuk memeragakan materi yang sesuai dengan bidang kecerdasannya (kinestetik). Sedangkan siswa lainnya ditugaskan untuk membuat gambar terkait materi sesui dengan bidang kecerdasannya (spasial-visual).
Dengan demikian, karena tersalurkannya[51] potensi masing-masing kecerdasan siswa secara layak serta semuanya didasarkan pada nilai-nilai Islam, maka diharapkan siswa akan benar-benar menjadi orang sukses. Yakni, kesuksesan yang hakiki bukan kesuksesan yang semu. Lebih detail Tufiq Pasiak menggambarkan kesuksesan sebagai berikut:




 










Gambar 2.3: Dua jenis kesuksesan
(Diadapatasi dari tabel Taufiq Pasiak)

Dari gambar tersebut berdasarkan penjelasan Taufiq Pasiak dapat digambarkan bahwa jenis kesuksesan kolom paling kanan lebih mementingkan nilai kehidupan. Misalnya kebersamaan, kejujuran, integritas, komitmen, hubungan sosial, kerja sama, dan keadilan. Lebih konkritnya, seseorang merasa sukses bila ia mampu memberikan orang lain sesuatu yang membuatnya dapat menikmati hidup secara bermakna.[52] Dengan kata lain, arti sukses sesungguhnya bukan sukses semata-mata untuk mementingkan diri sendiri. Namun, yang dapat merubah situasi menjadi lebih baik sehingga bisa memberikan makna dan nilai hidupan.
Lebih konkrit,  sebagai upaya filter terhadap proses dan hasil dari ilmu pengetahuan barat maka perlu adanya upaya kritis terhadap teori Gardner. Di mana, ternyata teori kecerdasannya tidak hanya mencakup manusia, tapi juga spesies lain. Dengan ini berarti ada anggapan bahwa hewan juga memiliki kecerdasan karena juga memiliki otak walupun tak secerdas manuisa. Menurut Gardner kecerdasan itu sudah dimiliki oleh manusia sejak zaman prasejarah, ketika peradaban manusia modern belum dimulai. Bahkan menurutnya kecerdasan juga dimiliki oleh spesies lain (hewan). Berikut adalah indikasi yang menentukan bagaimana sebuah kecerdasan antara manusia purba dengan hewan dapat saling terkait:[53]

No.
Jenis Kecerdasan
Manusia Purba
Spesies lain
1.
Linguistik-Verbal
Ditemukan lambang tertulis terbukti telah diapakai sejak 30.000 tahun
Kera besar punya kemampuan dasar untuk menamai benda
2.
Logis-matematis-numerikal
Sistem angka dan kalender telah ditemukan dalam lingkungan prasejarah
Lebah menghitung jarak melalui perilaku terbang mereka
3.
Spasial-visual
Lukisan gua yang terkenal di Prancis dan Spanyol
Naluri mempertahankan wilayah pada berbagai jenis mamalia
4.
Kinestetik-jasmani
Penggunaan alat pada zaman prasejarah (penemuan artifak)
Penggunaan alat sederhana telah ditemukan pada primata, binatang pemakan semut, dan spesies lain
5.
Interpersonal-antar pribadi
Petunjuk adanya kelompok kedupan komunal awal
Ikatan dengan induk pada primata dan psesies lain
6.
Intrapersonal-intra pribadi
Kesadaran diri yang dibuktikan dengan lukisan gua, keterampilan memburu (butuh perencanaan dan intuisi)
Simpanse dapat melihat pantulan diri dari cermin dengan mengungkapkan serta melambangkan perasaan dasar.
7.
Naturalis
Kemampuan membedakan fauna dan flora untuk kelangsunga hidup
Sistem rumit untuk memangsang tetangganya dan untuk tidak menjadi mangsa
8.
Eksistensial
Adanya upacara keagamaan prasejarah, sebelum berburu dan saat penguburan.
Gajah dan spesies lain menunjukkan ritual tertentu setelah kematian salah satu anggotanya.

Tabel 2.4: Kecerdasan pada manusia purbad dan spesies selain manusia
(Tabel dibuat oleh penulis, diadaptasi dari penjelasan Gardner)

Dari tabel tersebut dapat dipahami bahwa antara manusia purba dengan spesies lain (hewan) sama-sama memiliki kecerdasan yang beragam. Meskipun untuk manusia kecerdasan beragama bisa didominasi oleh spesies manusia saja pada masing-masing individunya. Namun untuk hewan tidak bisa didominasi oleh satu spesies saja, artinya tiap individu dalam satu spesies memiliki jenis kecerdasan yang sama. Misalnya kecerdasan satu ekor lebah satu dengan yang lain tidak bisa memiliki jenis kecerdasan berbeda. Dengan kata lain, jenis ecerdasan antara satu ekor lebah dengan yang lain adalah sama, yakni kecerdasan dalam menghitung jarak melalui perilaku terbang.















Hal tersebut tentu akan berbeda dengan pandangan Islam tentang hewan. Bagaimanapun, menurut Islam tujuan diciptakannya antara manusia dan hewan itu berbeda. Dengan demikian, fungsi otak sebagai penghasil kecerdasan antara manusia dan hewan juga berbeda. Kecerdasan hewan hanya digunakan untuk mematuhi perintah Allah yaitu “menghiasi” bumi dan hewan tidak dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Sedangkan fungsi kecerdasan (otak) pada manusia sebagai modalitas untuk menjalankan kehidupan, agar bisa memilih segala sesuatu sesuai dengan apa yang bisa mereka pilih.
Dari semua fenomena dan masalah di atas tersebut yang terjadi pada pendidikan Islam, Anshori telah memberikan rekomendasi sebagai jalan keluar, salah satu di antaranya yaitu:
1.      Lembaga pendidikan Islam pada setiap pelajarannya harus memiliki aktivitas yang terkait dengan multiple intelligences.
2.      Lembaga pendidikan tidak harus menerima siswa yang memiliki kebutuhan khusus kecuali diperlengkapi dengan kebutuhan-kebutuhan mereka.
3.      Mengambil gagasan inovatif yang sesuai denga ajaran Islam.[54]
Mengacu pada rekomendasi tersebut serta didasarkan pada pembahasan sebelumnya. Satu perihal lagi yang menjadi alasan mengapa paradigma ilmu Islam dengan Ilmu barat semakin merenggang. Di mana adanya perkembangan “teori” otak membuat posisi antara manusia dengan hewan “hampir” sama. Yakni, sama-sama memiliki otak dan sama-sama memiliki kecerdasan meskipun berdasarkan penelitian tingkat kecerdasan hewan sangat jauh dibandingkan manusia. Implikasinya bila diruntut ke zaman masa prasejarah bahkan hingga ke zaman “penciptaan” semua makhluk hidup menghasilkan gagasan bahwa hewan dan manusia diciptakan dari “hal” yang sama. Sedang yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah kemampuan evolusi manusia yang amat pesat sehingga mampu meninggalkan tingkat kecerdasan “hewan” lainnya.
Lebih detail Muhaimin menjelaskan tentang tipologi pemikiran (filsafat) pendidikan Islam, yang menurut pandangan penulis bisa menjadi dasar filosofis Pendidikan Islam pada zaman sekarang ini. Konsep tersebut secara lengkap dapat dilihat dalam bentuk tabel sebagai berikut:[55]
Corak Pemikiran Pendidikan Islam
Tolok ukur
Ciri-ciri
Fungsi Pendidikan Islam
Rekonstruksi sosial berlandaskan Tauhid
1.     Sumber al Quran dan Hadith
2.     Progresif dan dinamis
3.     Rekonstruksi sosial berkelanjutan yang dibangun secara bottom up, dari grass toot, dan berdasarkan pluralistis
4.     Pendidikan islam yang proaktif, berorientasi masa depan, dan antisipatif dalam mengatasi suatu masalah karena disebabkan perubahan yang tak terduga (adanya teori baru dll) dan perkembangan IPTEK.
1.     Bukan konstruk yang closes-ended, tapi yang dikembangkan secara konsultatif antara kenyataan (fenomena) dengan teori (konsep)
2.     Rekonstruksi sosialnya berdasarkan pada pengembangan paradigma secara terus menerus
3.     Komitmen terhadap pengembangan kreativitas secara terus-menerus
4.     Menghargai keragaman budaya, dengan tetap menjunjung tata nilai
1.      menumbuhkan kreativitas peserta didik secara terus-menerus
2.      memberikan kekayaan wawasan budaya, nilai-nilia insani, dan ilahiah
3.      mendidik manusia agar siap tampil (bekerja dll) untuk menghadapi kehidupan
4.      mengembangkan manusia menjadi cakap atau kreatif untuk selanjutnya mampu bertanggung jawab terhadap pengembangan masyarakatnya.


Tabel 2.5: Tipologi pemikiran pendidikan Islam dengan bentuk tabel
(Diadaptasi dari tabel Muhaimin)

Dari tabel tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam meberikan kebebasan peserta didik untuk menjadi politisi, akuntan, arsitek, pemain sepak bola, zoolog, pemimpin LSM, dan ahli apapun itu asal tetap bernilaikan agama islam. Dengan demikian PAI tidak hanya menekankan pada aspek kemampuan kognitif dan IQ-nya saja tapi juga menekankan pada aspek fungsional di masyarakat. PAI tidak hanya berorientasi pada dogma-dogma menjalankan ibadah untuk akhirat saja, tapi juga dogma-dogma tentang perintah mengembangkan kecerdasan di bidang masing-masing untuk kepentingan agama dan bangsa.
Dengan demikian tugas PAI tidak hanya mampu mengakomodasi keberagaman kecerdasan siswa, akan tetapi juga mampu memanfaatkan potensi tersebut untuk mencetak generasi-generasi islam yang mengisi seluruh sektor bidang kemasyarakatan. Asumsinya, outcome pembelajaran PAI tidak hanya menjadikan siswa beriman dan bertaqwa dalam arti ritual (ibadah). Namun dengan PAI siswa mampu menyadari, menemukan, dan mengembangkan kecerdasan-kecerdasan yang ada pada dirinya.
Bila hal tersebut dikaitkan dengan teori Gardner maka salah satu hal penting yang dapat diambil oleh pendidikan Islam adalah bahwa setiap pesrta didik punya jenis kecerdasan beragam antara satu sama lain. Dengan demikian guru tidak boleh menyamakan (menyeragamkan) posisi kecerdasan seluruh siswa. Namun, mengenai teori lain yang berasa dari barat misalnya mengenai kemampuan otak yang seakan “tak terbatas,” kecerdasan itu bersifat genetis atau tidak, hewan juga memiliki “kesetaraan” dengan manusia, dan teori lain sebagainya masih belum mengalami kematangan teori. Dengan demikian pendidikan islam tidak harus mengambil seluruh teori dari gardner apalagi teori yang masih belum matang.
Dari semua pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hakekat dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis kecerdasan beragam (multiple intelligences) adalah bisa meningkatkan atau mengembangkan kecerdasan yang paling dominan (nampak) yang dimiliki setiap individu siswa. Di sisi lain, guru PAI juga harus memberikan materi lain yang tentunya terkait langsung dengan dogma-dogma dan nilai-nilai ajaran Islam.Oleh karena itu, peran PAI adalah memberikan motivasi dan mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan kecerdasannya disertai dengan penanaman nilai-nilai islam dengan cara dan materi pokok yang disesuikan dengan kecerdasan mereka. Misalkan, anak yang memiliki kecerdasan spasial didorong untuk menekuni kecerdasannya sehingga bisa menjadi pelukis, pemahat, arsitek, ahli geografi, dan lain sebagainya. Namun disisi lain guru juga harus menanamkan nilai-nilai islam, yaitu agar menjadi pelukis, pemahat, arsitek, ahli geografi yang menjunjung nilai-nilai Islam. 
BAB III
Simpulan

Pada prinsipnya, Islam mengakui terdapatnya kecerdasan beragam pada setiap peserta didik (manusia). Dalam sejarahnya pun, turunnya wahyu tentang larangan minum khamr tidak serta merta langsung secara “mendadak.” Namun dilakukan secara berangsur-angsur. Ini artinya, Islam menghendaki perubahan manusia orientasinya bukan pada hasilnya saja, tetapi juga proses yang berkualitas. Di mana kondisi psikologis serta fisik para peminum khamr sangat diperhatikan.
Penjelasan tersebut bila dikaitkan dengan teori Multiple Intellegences, maka seorang pendidik tidak serta merta harus tertuju pada hasil apa yang diinginkan. Namun, juga memperhatikan cara atau proses apa yang paling bagus agar kondisi fisik dan psikologis siwa tidak mengalami salah orientasi, sehingga dalam jangka panjang bisa tercapai hasil/tujuan yang lebih bagus. Misalnya, guru PAI ingin menjalankan tujuan pendidikan PAI yaitu supaya peserta didiknya menjadi manusia yang beriman pada Allah. Guru tidak akan serta merta mendoktrin siswa supaya bisa beriman pada Allah, namun juga dilakukan pendekatan lain. Yakni, yang sesuai dengan kemampuan (kecerdasan) peserta didik dalam memahami “bagaimana cara beriman kepada Allah?.”
Selanjutnya, untuk lebih terarahnya makalah ini, maka penulis akan menyimpulkan bebarapa hal penting dari penjelasan sebelumnya, di antaranya adalah:
1.    Konsep dasar tentang teori kecerdasan beragam (multiple intelligences).
Telah terjadi perubahan paradigma kecerdasan, yang berimplikasi adanya perubahan “posisi” peserta didik di dunia pendidikan. Di mana awalnya peserta didik hanya sebagai objek untuk “proyek” peningkatan kecerdasan, menjadi subjek “proyek” pengembangan kecerdasan. Asumsinya, peserta didiklah yang harus aktif dalam mecari dan mengembangkan kecerdasan sesuai dengan bidangnya masing-masing.

2.    Paradigma baru pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran PAI dilakukan tidak hanya untuk memenuhi tuntutan moralitas dan ritualitas. Namun  lebih dari itu, pembelajaran PAI merupakan penanaman nilai-nilai PAI secara universal, sehingga tujuan PAI tidak hanya untuk mencerdaskan peserta didik secara IQ saja namun juga mencerdaskan peserta didik sesuai dengan bidang kecerdasan masing-masing. Implikasinya, pembelajaran PAI secara praktik juga mengalami perubahan-perubahan. Tidak hanya tertuju pada hasilnya saja tapi juga mementingkan proses yang tepat. Namun demikian, pada pembelajaran PAI dalam perubahan atau inovasi dari sudut manapun itu maka identitas dan nilai-nilai keislaman tidak boleh ditinggalkan.

3.    Pembelajaran PAI berbasis kecerdasan beragam yang ideal.
Pembelajaran berbasis multiple intelligences dalam lingkup satu lembaga (institusi) secara umum tidaklah mudah. Banyak kendala yang ditemui, misalnya butuh dana yang cukup banyak, butuh tenaga pendidik yang ahli (spesialis) di bidang-bidang tertentu, butuh waktu untuk pengidentifikasian jenis kecerdasan peserta didik serta adanya upaya penemuan jenis kecerdasan lain yang menjadi pendukung dari kecerdasan utama dalam satu individu, belum adanya kesatuan visi, potensi guru yang masih minim, dan sebagainya, Oleh karena itu, dalam idealya pembelajaran PAI tidak serta merta harus mempraktekan secara buta (mentah) teori apapun itu. Pembelajaran PAI harus tetap melihat konteks masyarakat sekitar, kondisi (latar belakang) pesert didik, dan tentunya kemampuan (potensi) lembaga pendidikan.
Bagaiamanapun selama ini Pendidikan Islam sebagai sebuah mata pelajaran maupun institusi memiliki kelebihan tersendiri. Yakni, kemampuan dan ketulusan untuk menampung peserta didik yang berasal dari masyarakat kelas bawah. Tentu ini tidaklah adil bila sebuah lembaga Pendidikan Islam atau mata pelajaran PAI dipaksa untuk menggunakan teori-teori tertentu yang modern tapi pendapatan (uang) dan kualitas lembaga Pendidikan Islam dan guru PAI tidak ikut “dimodernkan.”

Daftar Rujukan

“Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan (Luring),” KBBI Offline Versi 1.5,  http://kbbi-offline.googlecode.com/files/kbbi-offline-1.5.zip, didownload tanggal 21 April 2014.

Amstrong, Thomas. “Seven Kinds of Smart: Menemukan dan Meningkatkan Kecerdasan Anda Berdasarkan Teori Multiple Intelligence,” dalam Seven Kinds of Smart: Identifying anda Developing Your Multiple Intelligence, terj. T. Hermaya. Jakarta: Gramedia, 2005.

Efendi, Agus. Revolusi Kecerdasan Abad 21: Kritik MI, EI, SQ, AQ & Successful Intelligence Atas IQ. Bandung: Alfabeta, 2005.

Gardner, Howard. “Practice Does Not Make Perfect,” http://multipleintelligencesoasis.org/practice-does-not-make-perfect/, diakses tanggal 23 Oktober 2014.

Goleman, Daniel. “Kecerdasan Emosional,” dalam Emotional Intelligence, terj. T. Hermaya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999.

Hoerr, Thomas R. “Buku Kerja Multiple Intelligences: Pengalaman New City School di St. Louis, AS dalam Menghargai Aneka Kecerdasan Anak,” dalam Becoming a Multiple Intelligences School, terj. Ary Nilandari. Bandung: Kaifa, 2007.

Ma’arif, Syamsul. Revitalisasi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.

Muhaimin, dkk. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.

--------. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta: Rajawali Pers, 2009.

Nata, Abuddin. Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana, 2009.

Pasiak, Taufiq. Manajemen Kecerdasan: Memberdayakan IQ, EQ, dan SQ untuk Kesuksesan Hidup. Bandung: Mizan.

Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana, 2007.

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Amandemen ke-4.

Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 2003 Beserta Penjelasannya. Jakarta: Cemerlang, 2003.

Valeria Strauss, “Howard Gardner: ‘Multiple Intelligences’ are not ‘Learning Styles’,” http://www.washingtonpost.com/blogs/answer-sheet/wp/2013/10/16/howard-gardner-multiple-intelligences-are-not-learning-styles/?tid=auto_complete, 16 Oktober 2013, diakses 23 Oktober 2014.

Widayati, Sri dan Widijati, Utami. Mengoptimalkan 9 Zona Kecerdasan Majemuk Anak. Yogyakarta: Luna, 2008.

Zainuddin, M. Paradigma Pendidikan Terpadu: Menyiapkan Generasi Ulul Albab. Malang: Uin Malang, 2010.

Zohar, Danah dan Marshall, Ian. SQ: Kecerdasan Spiritual,” dalam SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence, terj. Rahmani dkk. Bandung: Mizan, 2007.




Untuk Mengetahui Footnote silakan beli buku "Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner"

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)