Gejala-gejala Umum dan Spesifik Autoimun

Banjirembun.com - Autoimun merupakan penyakit yang tergolong langka. Oleh sebab itu, wajar tatkala ilmu kesehatan belum memiliki rumus atau panduan pasti dalam menanganinya. Namun, syukurnya teknologi kesehatan sudah mampu mendeteksi suatu gejala termasuk autoimun atau tidak.


Kendati demikian, masih banyak tenaga medis mengabaikan keluhan pasien yang mengarah autoimun. Mereka lebih yakin dan percaya diri bahwa gejala yang dialami bukan termasuk bagian autoimun. Akhirnya penanganannya salah. Berakibat memperparah penyakit.


Begitu pula hal sama terjadi pada pasien. Mereka punya gangguan kesehatan tapi minim wawasan. Alhasil, setelah berobat tidak kunjung sembuh. Justru kadang makin parah sesudah konsumsi obat dari dokter. Di mana, gejala cuma mereda saat minum obat lalu muncul kembali.


Misalnya, terdapat kasus pasien autoimun memiliki gangguan saraf. Mengeluhkan nyeri di punggung bagian atas serta kaku di leher. Setelah ke dokter spesial saraf diberi obat anti nyeri dan anti kejang. Padahal kedua obat itu membuat autoimun makin parah.


Untuk mengetahui kepastian munculnya "keanehan" di tubuh termasuk gejala autoimun atau bukan, lebih baik ketahui dulu penyebab autoimun. Selanjutnya, hubungkan penyebab-penyebab tersebut dengan adanya gejala-gejala di bawah:


1. Gejala Bervariasi dan Kompleks

Gejala autoimun sangat mungkin berbeda-beda antara satu pasien dengan pasien lain. Tergantung pada jenis autoimun apa yang diderita, organ tubuh mana yang terserang, tingkat keparahan, hingga sudah berapa lama penyakit autoimun mulai bergejolak.


Terkadang gejala autoimun bersifat progresif. Terutama tatkala gejala awal yang ringan tidak segera disadari dan ditangani mengakibatkan risiko makin tinggi. Di mana, beberapa gejala tidak harus sama. Dalam kasus tertentu bisa muncul gejala baru dan beda dari sebelumnya.


Dalam artian pada individu sangat mungkin mengalami gejala kompleks. Bahkan, dalam waktu bersamaan maupun bertahap mengidap lebih dari satu jenis penyakit autoimun. Misalnya, selain mengalami gangguan tiroid juga terserang gejala multiple sclerosis. 


Organ dan jaringan tubuh yang bisa jadi sasaran penyakit autoimun meliputi ginjal, hati, paru-paru, jantung, darah, saraf, kulit, mata, kelenjar tiroid, sampai pada persendian. Tak ada salahnya ketika ada gejala aneh di tubuh langsung curiga autoimun. Dari pada telat dalam menanganinya.

Ilustrasi autoimun menyerang sendi tangan (sumber gambar)


2. Gejala Awal dan Ringan

Pada kasus autoimun jenis tertentu gejala umum yang menjadi tanda awal serta masih ringan di antaranya:


a. Ruam kulit. Bersisik, kering, berwarna orange kemerahan, dan kadang gatal.


b. Tubuh demam ringan. Terjadi peningkatan suhu tubuh tapi sering hilang sendiri lantas timbul kembali.


c. Kelelahan. Tubuh mudah lemas. Terjadi penurunan daya tahan tubuh.


d. Rambut rontok. Kerontokan rambut lebih parah dari biasanya. Terutama nampak saat keramas.


e. Persendian berbunyi saat digerakkan. Sendi bersuara hanya satu kali saat bergerak itu hal wajar. Akan tetapi jika dalam waktu berdekatan masih tetap bunyi maka itu pertanda ada masalah.


f. Kesulitan dalam berkonsentrasi. Aktivitas rutin yang sudah jadi kebiasaan akan nampak begitu beda. Terasa semakin sulit. Padahal apa yang dihadapi sama seperti sebelumnya.


3. Gejala Datang dan Pergi

Gejala autoimun muncul semakin kuat disebut flare. Sedangkan gejala mereda disebut remisi (pengurangan). Pengurangan gejala-gejala autoimun tersebut terjadi sehingga seakan-akan hilang bisa disebabkan faktor pengobatan, pola makan diet khusus autoimun, serta kondisi tubuh yang memadai.


Baca juga: Pengalaman Pribadi Menjinakkan Gejala Autoimun yang Terparah dalam Hidup


Flare dapat datang begitu saja karena pola makan salah, kelelahan, stres atau depresi, kekurangan vitamin D, maupun telat menyadari gejala awal autoimun. Kondisi flare terjadi lantaran penyandang autoimun menyepelekan serta lengah. Membuat mereka abai tentang protokol autoimun.


Disclaimer: Penyakit autoimun itu nyata. Akan tetapi untuk mengetahui seseorang terkena autoimun atau tidak harus melakukan tes darah di laboratorium. Dalam kasus tertentu diperlukan tes lanjutan guna mengetahui jenis autoimun apa yang diderita pasien. Hal itu supaya tepat dalam penanganan. Periksakan diri ke dokter Spesialis Penyakit Dalam atau lebih spesifik dokter ahli autoimun saat curiga terkena autoimun.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)