Arti Sentrap-sentrup dalam Bahasa Jawa dan Makna yang Terkandung Darinya

Banjirembun.com - Padanan istilah sentrap-sentrup dalam bahasa Jawa tidak ditemukan di bahasa Indonesia. Sebagaimana diketahui, bahwa bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang tergolong rumit. Bukan cuma lantaran ada hierarki alias strata yang makin bikin sulit untuk segera lancar dikuasai.

 


Di mana, ada penggunaan bahasa halus yang khusus diterapkan kepada orang yang lebih sepuh. Di sisi lain, terdapat pula bahasa jawa pasaran yang dipakai oleh sepantaran atau teman sejawat maupun kepada insan yang lebih muda. Bukan sekadar itu, dalam satu ungkapan jawa saja bisa memunculkan berjuta makna. Contohnya kata "anu".


Baca juga Arti Anu, Asal-usul, dan Alasan Penggunaannya


Nah, kata sentrap sentrup pada bahasa Jawa ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia juga agak begitu susah. Sebab istilah tersebut meski singkat dan padat, nyatanya telah mampu memberikan makna atau kandungan arti yang luas. Terutama terkait hidung orang yang sedang sentrap sentrup tapi tanpa disertai ingus.


Terdapat kalimat dalam bahasa jawa "Irungmu sentrap-sentrup". Di mana, kata irungmu berarti hidungmu. Pengucapan tersebut ingin menegaskan bahwa kondisi hidung sedang enggak baik-baik saja. Misalnya mampet (tersumbat), ingusan, atau dalam keadaan tertentu sebagai "kode" maupun "sindiran".

Ilustrasi sentrap-sentrup ingusan karena terserang flu

Penyebabnya bukan hanya terserang gangguan kesehatan tertentu seperti flu maupun alergi. Terkadang hidung sentrap sentrup disebabkan pula oleh kondisi kejiwaan. Misalnya sedang salah tingkah, grogi, ingin unjuk gigi (bangga diri), perilaku manja, cari perhatian, sampai kondisi yang lagi tak nyaman atas kehadiran seseorang.


Sentrap-sentrup dapat diartikan sebagai menghisap udara kuat-kuat secara singkat atau cepat ke dalam hidung yang dilakukan berkali-kali. Dalam hitungan beberapa detik saja sudah dilakukan beberapa kali. Barangkali sebagian orang mungkin menerapkannya berkelanjutan, sedang yang lain cukup 5 kali sentrupan dalam 1 menit.


Meski tak ada umbel (bahasa jawa) atau ingus yang mengalir keluar dari hidung, terkadang seseorang tetap sentrap sentrup. Apalagi kalau ada ingus, tentu sentrap sentrup jadi lebih mendalam sensasinya yang dirasakan oleh orang yang melihat. Dipastikan, umbel tesebut bakal naik turun dan keluar masuk yang nampak di lubang hidung.


Dari sini dapat dipahami bahwa sentrap-sentrup yang alami karena terserang sakit sehingga berhingus banyak, amat mungkin terlihat menjijikkan. Namun, sentrap sentrup yang diakibatkan oleh spontanitas dari lubuk hati (menjiwai) barangkali justru tampak bikin gemes. Bukannya timbul rasa risih ketika melihat orang sentrupan, malah bikin penasaran.


Komentar