Tuhan, hamba kangen kepada-Mu. Berkali-kali hamba ucap itu di kala sendiri. Di kamar, saat berkendara sepeda motor, dan olahraga jalan kaki. Entah, apakah itu hanya ilusi atau naif yang tersembunyi?
Kadang pula, rasa getar jantung hamba pada-Mu tertumpah dalam ungkapan tulisan kecil di saluran *Banjir Embun* ini. Mungkin, tanpa hamba sadar juga tersirat dalam beberapa konten video YouTube. Termasuk, tak hamba pungkiri ketika berdoa kepada-Mu.
Sungguh, rindu hamba begitu kuat. Sebuah rindu tanpa ego. Sebuah rindu tanpa nafsu. Sebuah rindu yang penuh keyakinan bahwa Engkau Maha Pengampunan, Maha Pemurah, dan Maha Penyayang.
Tuhan, tak ada yang mampu menundukkan ego hamba selain karena sifat Maha Kuasa Engkau. Tiada satupun yang mampu membuat hamba merasa kehilangan kecuali lantaran Engkau Yang Maha Membolak-balikan hati.
Hamba tak takut melepaskan apapun, siapapun, dan kapanpun. Dengan kehendak-Mu hamba hanya takut iman ini terhapus. Hamba takut sendirian tanpa-Mu. Hamba takut sakit, tersiksa, menderita, sedih, pilu, sunyi, serta lemah tanpa iman kepada-Mu.
Hamba takut kehilangan rahmat-Mu. Bukan sekadar rahmat tentang dunia, tetapi berupa keyakinan utuh bahwa Engkau tak pernah menzalimi. Termasuk sekalipun, keyakinan tentang Engkau tidak zalim pada hamba yang rapuh ini.
Harapan Berjumpa dan Melihat Wajah-Mu
Serah, cinta, dan ingin hamba bertemu dengan-Mu bukan karena bosan maupun kalah dengan kehidupan dunia. Hamba, betul-betul ingin memandang wajah-Mu yang Maha Mulia. Wajah yang Maha Baik pada hamba dan alasan lain yang sulit hamba jabarkan.
Semua keputusan hamba, termasuk bercerai atau siap pisah dengan mantan istri juga lantaran cinta ini pada-Mu begitu besar. Bukan karena hamba benci atau dendam padanya. Begitu pun hamba berbakti pada orang tua disebabkan mendamba kasih sayang-Mu. Bukan karena takut pada mereka, tetapi hamba takut pada-Mu.
Sekarang ini dan di detik ini, saat usai saja minum kopi hitam murni dosis tinggi tanpa campuran apapun, justru rasa kangen hamba makin menggebu. Entah gerangan apa yang bergetar di dada ini? Sungguh nikmat rasanya. Amat nikmat.
Tuhan, hamba cinta Engkau. Tak pernah hamba merasakan cinta yang begitu sunyi dan setenang ini. Bahkan, kenangan tentang kisah cinta pertama dengan mantan gebetan pun tiada sebanding dengan cinta hamba kepada-Mu. Bagaimanapun, kenangan hamba dengan-Mu tiada tandingan.
Tuhan, maafkan hamba karena masih lemah dan kurang serius dalam membuktikan bahwa cinta ini begitu menggebu pada-Mu. Ampuni hamba lantaran diri ini insan yang enggak tahu diri. Mengaku cinta mati kepada-Mu, tetapi jiwa ini terpontang-panting. Hamba mohon kuatkan hati ini.
Tuhan, tolong hamba agar mudah mencintai-Mu dengan benar-benar penuh iman, ihsan, takwa, dan tawakal. Hamba takut cinta ini tak terbalas oleh-Mu. Hamba akan terus berusaha memperoleh cinta-Mu. Sebab, itulah satu-satunya alasan kenapa hamba sampai sejauh ini memutuskan masih tetap hidup di tengah badai trauma.
(*)
 |
| Ilustrasi surat cinta (foto diedit seperlunya dari Pixabay.com) |
Tulisan milik *Banjir Embun* lainnya:
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Surat Cinta untuk Tuhan"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*