Manusia diberi penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perabaan sejatinya bukan hanya untuk menilai di luar diri. Justru, sejatinya sebelum memahami hal lain, demi objektivitas serta kejernihan berpikir, seseorang mesti memindai diri sendiri dahulu.
Bukan langsung terburu-buru menghakimi aksi dari individu lain yang sekonyong-konyong disebut pengganggu ketenangan batin. Artinya, hindari mencari-cari sebab eksternal atas kegagalan dalam meregulasi emosi. Fokuskan pantauan pada internal. Jangan terpancing membalas atau menyerang balik lantaran terlalu asyik mengagungkan ego pribadi.
Melainkan, observasi diri sendiri dulu dengan bertanya "Apa saja hal yang terjadi pada tubuhku beserta bagian-bagiannya dan organ-organ lain ketika ada perlakuan tertentu yang bikin tak nyaman dari individu lain?" Lalu bertanya "Mengapa aku bereaksi tegang, terganggu, dan emosional saat ada aksi dari individu itu?"
Renungan selanjutnya "Kenapa tubuhku kaku, jantung berdenyut kencang, bahu terasa berat, tangan mengepal, dan dada terasa penuh sesak tatkala ada perlakuan yang dianggap ganjil dari seseorang tersebut?"
Bukan bertanya "Mengapa aku diperlakukan seperti itu?," tetapi buat pertanyaan "Mengapa aku begitu sensitif, merasa terintimidasi, dan menganggap sudah dilecehkan tatkala orang lain membuat suara-suara aneh atau melakukan tatapan mata tajam?"
Lihatlah diri saat merasa terintimidasi atau terganggu. Bayangkan ruh keluar dari badan untuk melihat reaksi tubuh sendiri ketika berada dalam kondisi terganggu oleh keberadaan manusia lain. Percayalah, dengan itu reaksi takut (membeku), pergi (mengalah), ataupun perbuatan membalas (melawan) tak bakal diterapkan.
Individu yang telah berhasil mengobservasi diri sendiri ketika mendapat gangguan biasanya bakal tetap tenang, damai, atau stabil. Alih-alih menikmati reaksi orang lain yang diberi balasan, yang terjadi malah menikmati bagaimana respon tubuh sendiri saat mendapat gangguan.
Kok bisa terasa nikmat? Jawabannya yaitu dengan mengobservasi diri sendiri berarti juga memfokuskan untuk memahami diri sendiri. Bukan memahami orang lain. Sebab, kadang sungguh percuma memahami orang lain. Apalagi, orang itu tak butuh pemahaman apapun karena yang dia butuhkan cuma drama dan reaksi.
Dengan demikian, rasakan desir darah dan hormon yang mengalir dalam tubuh di kala memperoleh gangguan. Tak perlu paksa diri segera rileks. Cukup amati dan nilai bagaimana reaksi tubuh sendiri ketika terganggu. Dengan begitu, otak bakal merasa malu untuk bereaksi berupa apapun itu. Kecuali, reaksi yang menunjukkan ketenangan serta kestabilan diri.
Kesimpulannya, jangan terlalu asyik meneliti serta menjadikan insan lain sebagai eksperimen. Patutnya, lakukan penelitian serta terapkan eksperimen kepada diri sendiri. Sebab, tujuan utama meneliti serta bereksperimen adalah menemukan solusi. Lalu, kalau orang lain yang dianggap menganggu itu tak butuh solusi lantaran lebih asyik menjalani hidup penuh masalah tanpa ujung mengapa terus-menerus mengobservasinya?
Tetapkan batasan. Berhenti mengobservasi manusia yang tak mau mengakui ada permasalahan dalam dirinya. Saatnya, melakukan observasi pada diri sendiri supaya menemukan solusi praktis sehingga mampu menyikapi setiap gangguan yang datang secara bijak dan cerdas.
Semoga tulisan ini bermanfaat. Terima kasih sudah membaca.
(*)
 |
| Ilustrasi memindai diri (sumber gambar dibuat oleh AI Gemini dengan lebih dahulu dilakukan modifikasi atau pengeditan seperlunya) |
Tulisan milik *Banjir Embun* lainnya:
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Terlalu Asyik Observasi Manusia Lain, Lupa Memindai Diri Sendiri"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*