Makanan buatan ibu meninggalkan banyak jejak kenangan emosional maupun biologis. Tanpa kecuali ingatan seputar jerih payahnya ibu tatkala di dapur yang sedang memasak.
Makanan bikinan ibu bukan hanya terkait bumbu atau bahannya. Namun, di balik itu juga terdapat kisah ikatan dan hubungan yang terjadi melekat selama bertahun-tahun.
Singkat kata, kemunculan doktrin berupa "Makanan ibuku yang paling enak sedunia" diakibatkan adanya kombinasi antara racikan masakan bercita rasa khas ibu dengan adanya ikatan batin di baliknya.
Bayangkan, sebelum memasak terkadang ibu tanya dulu "Mau makan apa hari ini?" Setelah anak menanggapi tawaran itu, alih-alih menunggu sambil melakukan hal menggembirakan seperti nonton TV, justru pergi belanja bahan mentah untuk segera dimasak ibu.
Tentu ada cerita dan kesan lain yang sangat banyak jumlahnya tentang bagaimana makanan bikinan ibu bisa begitu terasa enak di lidah. Intinya, kadang kisah di balik sebuah proses memasak tersebut yang justru bikin masakan ibu tambah nikmat.
Dalam konteks kenangan aku dan makanan buatan ibuku, inilah 3 masakan bikinan ibu yang menurutku paling enak.
1. Trancam Timun
Ibuku bikin terancam timun hanya di bulan Ramadan. Itu menu yang sering disajikan untuk buka puasa. Rasanya sangat khas. Sebab, aku tak pernah menemukan racikan kuliner tersebut yang medok dan nendang sebagaimana halnya bikinan ibu di warung makan manapun.
Trancam timun buatan ibuku tidak pedas sengak sehingga tetap bisa bikin hidung tetap nyaman, tak bikin nyangkut di leher, serta berkuah melimpah yang menyegarkan. Dan yang palih hebat ialah rasanya sangat kemlawuh alias bisa dijadikan lauk.
Hanya nasi hangat dan trancam sudah cukup. Tanpa perlu lauk lain ataupun kerupuk. Tentu, ibuku tetap kasih lauk pauk lain karena bagi keluarga kami Ramadan adalah spesial. Berhubung lidahku tak manja, sebenarnya pakai terancam dan nasi saja sudah cukup.
2. Kikil Kambing
Kikil hasil kreasi ibuku kuahnya sangat kental serta berwarna cokelat pekat. Masalah rasa, jangankan kulit kaki kambing yang kenyal, cuma kuahnya sudah bisa dijadikan lauk. Dan kadang kalau ketiban rezeki, aku bisa mengunyah tulang rawan yang sungguh nikmat saat dikunyah.
Seperti halnya terancam timun di atas, makanan kikil kambing hanya dibuat oleh ibuku pada momen tertentu. Yakni, saat Idul Fitri. Unik memang, ketika Idul Adha yang mana stok daging melimpah justru daging dibuat olahan lain.
3. Sambal Terong
Wajar kalau trancam timun dan kikil kambing terasa lezat karena disajikan oleh ibuku hanya saat ada hari-hari khusus. Namun, untuk sambal terong ini, ibuku tak mematok harus ada peristiwa tertentu baru memasaknya. Namun, biasanya paling sering dibikin saat musim panas.
Ibuku saat musim kering justru lebih sering menghidangkan kuliner minim kuah. Di antaranya seperti sambel tempe goreng, tumis pepaya, tahu yang dicampur sambal kecap, dan nasi goreng.
Sebagai penutup, makanan bukan hanya untuk mengenyangkan perut. Ketika mampu didesain dengan bijak dan berkelanjutan, ia juga bisa memberikan makna serta kesan mendalam. Bahkan, makanan bisa dijadikan simbol adanya hubungan yang tak tergantikan.
(*)
Tulisan milik *Banjir Embun* lainnya:
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "3 Makanan yang Paling Aku Suka Hasil Bikinan Tangan Ibu Kandung"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*