Cerita Motivasi: "Bukan Jaminan"

CERITA MOTIVASI: “BUKAN JAMINAN”
Oleh: Tim Banjir Embun

Pada suatu zaman di sebuah desa yang jauh dari kota. Hiduplah seorang  pedagang yang kaya. Kabar kekayaannya diakui dan terkenal seantero desa. Ia adalah seorang single parent (orang tua tuggal) yang mempunyai dua orang anak. Seiring berjalannya waktu, di akhir usia dia menderita sakit. Sebelum meninggal ia berwasiat kepada kedua anaknya. Harus membagi harta warisan secara rata. Sejumlah nominal uang, barang dagangan, sejumlah petak tanah, dan satu rumah megah yang besar dibagi dua secara imbang.


Baca juga:
Cerita Nyata Aktivitas Kampus Terkena Racun Cinta

Berpergian ke Jakarta dengan Uang Pas-pasan

Cerita Inspirasi: Ganteng-ganteng Baik Hati


Setelah beberapa tahun kematiannya. Kedua saudara tersebut masih tinggal serumah. Mereka tetap tinggal serumah karena terjadi pasang surut usaha. Juga karena pesan dari orang tua. Mereka harus tetap tinggal serumah sebelum salah satu di antaranya menikah. Singkat cerita, mereka ditipu oleh seseorang. Akhirnya kedua saudara tersebut mengalami kebangkrutan. Tentu menghabiskan semua harta yang dimiliki keduanya. Harta yang tersisa hanya rumah besar yang dijadikan naungan. Itu pun isinya sudah terkuras habis tak tersisa. Untuk kehidupan sehari-hari mereka tidak memiliki biaya lagi. Tak pelak akhirya mereka mengalami kebingungan.



Di tengah kegalauan luar biasa, akhirnya Tuhan menjawab do’a mereka. Secara tidak sengaja pada suatu hari mereka menemukan sebuah peti yang tersimpan rapat di gudang.  Posisinya di dalam lemari reot nan tua. Ternyata almarhum ayahnya sengaja menyembunyikan barang berharga. Sang kakak membuka peti tersebut yang disaksikan adiknya. Peti itu berisi satu keping emas murni dan 1 keping perunggu. Mereka membaca tulisan yang berada di sisi bawah kedua keping logam itu. Di sisi bawah keping emas itu tertulis “SEMUA BUKAN JAMINAN”. Sedang di sisi bawah keping perunggu tersebut tertulis “SEMUA PASTI BERAKHIR”.


Tentu kedua nilai keping logam tersebut tidak sebanding. Sang adik seperti mendapat hidayah. Ia sadar bahwa kekayaan yang diwariskan orang tuanya juga pasti berakhir. Sesuai demgan apa yang tertulis pada keping perunggu tersebut. Harta tersebut juga bukan merupakan sebuah jaminan untuk kehidupan bahagia. Seperti  yang tertulis di sisi bawah keping emas. Semua bukan hanya ditentukan oleh uang, perunggu, maupun emas yang diterima. Namun ditentukan bagaimana seseorang dalam mengelola hati sehingga ia mampu mengendalikan diri.


Sang kakak lebih tergiur pada nilai uang dari logam emas. Lantas ia memutuskan untuk memiliki logam emas tersebut. Lalu memberikan keping perunggu pada adiknya. Tanpa ragu sang adik membolehkan kakaknya memiliki emas tersebut. Dia pikir kakaknya lebih membutuhkan. Sebab sebentar lagi kakaknya akan menikah. Selain itu, sang adik sebenarnya masih memiliki satu harta piutang yang dijanjikan oleh pihak yang berhutang akan dibayar beberapa saat lagi. Dengan penuh kemantapan, ketekatan, dan tanpa penyesalan sang adik memberikan emas tersebut.


Hasil uang dari penjualan batangan emas tersebut  digunakan sang kakak untuk membeli ruko. Serta untuk biaya pernikahan dirinya dengan seorang gadis desa pujaan hatinya. Sedang sang adik tetap tinggal di rumah besar warisan orang tuannya dan membeli sepetak sawah dari gabungan harta piutang dan hasil gadai logam perunggu yang ia terima. Lalu singkat cerita mereka mulai jarang bertemu satu sama lain. Masing-masing berusaha mencari penghidupan untuk menjalani hidup.


Selama kurun beberapa tahun. Bisnis dagang sang kakak berjalan secara pasang surut. Begitu pula usaha pertanian sang adik. Saat usaha dagangnya berada di posisi atas sang kakak gunakan uang tersebut untuk foya-foya. Sebaliknya saat berada posisi di bawah sang kakak prustasi, mabuk-mabukan, dan jiwanya tertekan. Istrinya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan sang istri turut ikut menghabiskan harta kekayaan yang didapat dari usaha suami. Akibatnya, besar pasak dari pada tiang serings terjadi dalam kehidupan keluarga mereka. Disebabkan kehidupan yang tak teratur tersebut pada akhir hayat ia mengalami banyak serangan penyakit dalam. Di antaranya seperti penyakit jantung, kencing manis, dan struk ringan.


Baca juga:
Temukan Bakatmu Agar Nikmat Hidupmu

Cerita Motivasi: Pilihan Hidup



Jauhi Medsos Bila Sedang dalam Kondisi Ini


Sedang sang adik saat berada di atas dia memberikan sebagian hartanya pada orang miskin, membangun sekolah, dan membangun tempat ibadah. Di saat mengalami paceklik dia tidak mengalami frustasi. Ia selalu mengingat pesan orang tua nya lewat kedua keping logam peninggalnya bahwa itu “SEMUA BUKAN JAMINAN” dan “SEMUA PASTI BERAKHIR”. Dengan cara pandang itu sang adik hidupnya jadi tenang. Tidak kemrungsung tatkala menginginkan sesuatu. Begitu pula saat menghadapi masalah. Semua diselesaikan penuh bijaksana.(BE/14/05/12)


Harta bukan Jaminan Keluarga Bahagia (gambar dimodifikasi dari sini gy)

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Contoh Visi dan Misi Pribadi