C. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Kecerdasan Beragam (multiple intelligences) yang Ideal


C.  Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Kecerdasan Beragam (multiple intelligences) yang Ideal
Pembelajaran PAI merupakan kegiatan untuk mencerdaskan peserta didik. Oleh karena itu, dalam konteks pembahasan ini hal-hal penting yang perlu diperhatikan sebelum diadakan pembelajaran adalah seperti apa kondisi (latar belakang) peserta didik. Persoalan lain adalah sejauh mana kemampuan pendidik dan institusi pendidikan dalam mengakomodasi keberagaman peserta didik. Serta, bagaimana cara menanamkan nilai-nilai Islam kepada peserta didik sesuai dengan kondisi “keberagaman” mereka. Identifikasi semacam ini menurut penulis dirasa sangat penting. Alasannya, bagaimana mungkin suatu proses pembelajaran membentuk manusia “cerdas” secara efektif dan efisien, bila tidak diketahui terlebih dahulu sejauh mana kemampuan, keterampilan, dan hal-hal (latar belakang) yang mempengaruhi kehidupan peserta didik. Untuk lebih jelasnya maka perlu digambarkan skema di bawah ini:
 


Gambar 3.2: Posisi Peserta Didik dalam Bingkai Pendidikan Agama Islam

Selain dari lima macam keberagaman tersebut, sebenarnya ada keberagaman lain yang cukup signifikan dalam mempengaruhi semangat belajar di lembaga pendidikan. Salah satunya adalah orientasi peserta didik (serta wali murid) dalam upaya menempuh pendidikan di lembaga tertentu yang dipilihnya. Dalam konteks pembelajaran, mengetahui orieantasi peserta didik di rasa sangat penting yaitu sebagai pisau analisa sekaligus upaya pemberian “pendalaman” secara benar terhadap mereka. Bagaimanapun, peserta didik datang ke madrasah atau sekolah tidaklah membawa status “botol kosong.” Namun, sesungguhnya mereka sudah membawa “isi” yang berupa tujuan-tujuan, fanatisme-fanatisme terhadap sesuatu, keterpaksaan, keterampilan-keterampilan (kemampuan fisik dan pikiran), traumatik-traumatik, kebanggaan-kebanggaan, doktrin-doktrin, dan sebagainya.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami pula bahwa pembelajaran PAI idealnya bukanlah materi ceramah, materi latihan, dan materi diskusi saja. Melainkan, seni dalam mendoktrin peserta didik agar fanatik dan setia sampai akhir hayat terhadap agama Islam. Dengan kata lain, kegiatan pembelajaran PAI tidak berindikasi “mencegah” atau menghambat “isi” positif peserta didik. Salah satunya dalam pengembangan bakat, potensi, kecerdasan, dan minat yang positif. Oleh karena itu, pendidik bertugas membekali dan memfasilitasi mereka supaya menjadi manusia yang ahli di bidang-bidang tertentu (senyampang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam). Di sinilah terjadi “peningkatan” posisi peserta didik pada proses pembelajaran di kelas.[1]
Lebih lanjut, menurut Thomas R. Hoerr bila direnungkan sesungguhnya teori pembelajaran berbasis kecerdasan beragam (multiple intelligences) bisa menjadikan dunia pendidikan menghargai keanekaragaman (kecerdasan) peserta didik. Bahkan, dimungkinan bisa mengenali keunikan yang berbeda-beda pada setiap individu.[2] Walaupun pada kenyataannya penerapan teori kecerdasan beragam membutuhkan biaya yang tidak sedikit (perlu dana tambahan). Diantaranya, diperlukan untuk membeli kamera video (CCTV) di setiap ruang kelas dan mengundang seniman aneka bidang dan kebutuhan-kebutuhan penunjang lainnya.[3]
Masih menurut Thomas R. Hoerr, tidak ada cara tunggal dan yang benar (harus sama) dalam penerapan teori kecerdasan beragam (ini merupakan sisi unik, sekaligus kelemahannya) pada sekolah-sekolah. Setiap praktisi pendidikan dalam menggunakan teori tersebut mesti memperhatikan keunikan konteks dan kultur sekolah mereka masing-masing.[4] Sebagai contoh, pada kasus di sekolah atau ruang kelas tertentu menyetel musik sambil belajar dapat menjadikan siswa bisa cepat memahami materi, bahkan bisa berkembang kecerdasaan matematisnya. Akan tetapi, di sekolah lain menyetel musik di dalam kelas menyebabkan kekacauan luar biasa. Artinya, titik tekan teori kecerdasan beragam sesungguhnya didasarkan pada keadaan masing-masing sekolah dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, setiap sekolah tidak boleh tidak mempunyai cara dan gaya tersendiri dalam menerapkannya.
Dapat dikatakan dalam penerapan teori kecerdasan beragam, sungguh bukanlah perkara mudah dan remeh-temeh. Baik dari segi pemahaman teorinya maupun dari segi penerapannya. Hendaknya pendidik memperhatikan secara mendalam tentang hakikat dari teori tersebut. Oleh karena itu, penulis akan memaparkan saran Gardner kepada para pendidik sebagai bahan kajian yang cukup penting. Masukan tersebut berisi tentang tiga hal utama yang patut diperhatikan, sebagaimana yang dikutip oleh Valerie Strauss dengan penjabaran berikut: 
1.    Mengadakan pembelajaran secara individual sebanyak mungkin. Dengan mempelajari sebanyak mungkin dan bila perlu secara detail terhadap setiap peserta didik. Mengajar setiap peserta didik dengan cara yang menurut mereka nyaman dan bisa belajar dengan efektif. Tentu hal ini akan lebih mudah bila dilakukan dengan kelas yang lebih kecil.
2.    Melakukan metode pengajaran yang beragam. Mengajarkan materi penting dalam berbagai cara dan menggunakan berbagai bahan misalnya melalui cerita, karya seni, diagram, role play, dan sebagainya. Dengan cara itu diharapkan peserta didik dapat belajar dengan cara yang berbeda.
3.    Tinggalkan atau kesampingkan istilah “gaya belajar,” karena ini akan membingungkan orang lain dan tidak akan membantu pendidik ataupun peserta didik.[5]
Bila bagian terpenting (pokok) atau bahkan seluruh dari teori tersebut dapat dilakukan maka bisa dikatakan inovasi[6] terhadap pembelajaran PAI telah berhasil. Dengan itu, diharapkan kekuatan intelektual Islam[7] bisa mendapat masukan yang berarti. Sebaliknnya, bila belum hendaknya perlu diadakan pembaharuan di bidang lain yang mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung agar penerapannya bisa optimal. Sebagaimana menurut Agus Efendi, bahwa dalam dunia pendidikan untuk membangun tradisi dan budaya berfikir filosofis dan ilmiah tentu tidak mudah. Diperlukan sistem pendidikan dan pembelajaran yang demokratis, sistem kurikulum yang inovatif-kreatif serta transformatif-responsif terhadap perubahan masyarakat, sistem pelatihan berpikir yang sistematis, buku ajar yang komunikatif-presuasif serta efektif-inovatif, tradisi intelektual serta sistem sosial politik yang demokratis, dan sistem budaya yang mendukung keunggulan serta menghormati HAM-spritualistik-religius.[8]
Pernyataan tersebut dapat dipahami, bila pembelajaran PAI secara optimal, konsisten, dan all out menerapkan teori kecerdasan beragam maka dampaknya adalah harus ada perubahan (pengembangan) materi, metode pembelajaran, sarana-prasarana, adanya team teaching, dan perubahan lainnya yang relevan dengan teori tersebut. Perubahan tersebut tidak berlaku bagi tujuan khusus PAI, yaitu untuk menanamkan nilai-nilai Islam kepada peserta didik. Namun demikian, dalam kondisi ini prakteknya masih sangat sulit untuk menanamkan nilai-nilai Islam pada materi, gaya belajar, dan bahan ajar pembelajaran PAI yang dipadukan dengan teori kecerdasan beragam.
Lebih nyata, bila ditinjau dari pembelajaran PAI, di dalam materi PAI terdapat beberapa bidang kecerdasan yang bisa diperdalami secara serius oleh masing-masing jenis kecerdasan peserta didik. Misalnya materi dakwah, hafalan, dan seni membaca al Quran ditekankan secara serius pada peserta didik yang hanya punya kecerdasan linguistik-verbal. Materi ilmu waris, ilmu zakat, dan ilmu falak diberikan secara khusus bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan logis-matematis. Untuk lebih rincinya penulis membuat tabel sebagai berikut:

Tabel 3.2: Penerapan Teori Kecerdasan Beragam dalam Pembelajaran PAI

No.
Jenis Kecerdasan
Pembelajaran PAI
Tujuan /Harapan Akhir
Materi
Metode
Bahan Ajar
1.
Linguistik-verbal
Hafalan serta membaca al Qur’an dan Hadith, pidato bahasa arab, dll
Memotivasi, latihan, dan hafalan
Teks al Quran, Hadith, dan bahasa arab
Menjadi Penghafal al Quran, menjadi ahli bahasa arab, menjadi penulis Islami, dll
2.
Logis-matematis-numerikal
Ilmu waris, ilmu zakat, ilmu falak (hisab), ilmu perbankan syari’ah, akuntan publik, dll
Memotivasi, latihan, menganalisis, menghitung, merumuskan
Soal-soal (pertanyaan) tentang zakat, ilmu falak, ilmu waris. pengadilan agama, lembaga zakat, dan laboratorium astronomi.
Menjadi ahli stastistik Islami, menjadi pengelola zakat yang amanah, menjadi pegawai pajak yang amanah, menjadi akuntan amanah, dll
3.
Spasial-visual
Kaligrafi, menggambar masjid, membuat peta tentang sejarah perkembangan agama Islam di dunia, menggambar grafik peningkatan jumlah muslim di dunia, dll
Memotivasi, latihan, menggambar, membuat grafik, membuat peta, mendesain Masjid, dan pergi ke seniman kaligrafi
Data-data tentang perkembangan agama Islam di dunia dari zaman dulu hingga sekaran
Menjadi pelukis Islami, menjadi pengukir atau pemahat yang Islami, menjadi arsitek Islami, dll
4.
Musikal
Barzanji, seni baca al Qur’an, selawat, nasyid, dan musik religius modern, dll
Memotivasi, latihan, praktek langsung di dunia nyata
Perlengkapan musik, panggung
Menjadi pemusik Islami, dll
5.
Kinestetik
Perawatan jenazah, materi sunnah nabi: berkuda, berenang, berlari.
Memotivasi, latihan, ikut perlombaan
Perlengkapan jenazah, kuda, kolam renang, lapangan olah raga
Menjadi olah ragawan Islami, menjadi tentara Islami, dll
6.
Interperso-nal
Praktek dakwah, pemimpin, menari, drama, dll
Memotivasi, latihan, role play, ikut organisasi, praktek di dunia nyata
Organisasi, mushola, panggung dakwah
Menjadi pengacara islami, menjadi politikus Islami, sutradara Islami dll
7.
Intraperso-nal
Renungan malam (tahajud), cerita tentang kehidupan sufi, cerita tentang perjuangan masuk Islam, cerita tentang Mualaf, dll
Memotivasi, pendekatan personal,
Buku cerita tentang sufi, buku muhasabah, cerita menyentuh hati
Menjadi motivator Islami, menjadi inspirator Islami, dll
8.
Naturalistik
Merawat taman sekolah, menjaga keindahan, memanajemen lingkungan sekolah, dll
Memotivasi, penugasan: menjaga taman
Taman, hewan, ekosistem sekitar
Menjadi aktivis peduli lingkungan yang Islami, dll

Dari tabel di atas dapat disimpulkan, bahwa siswa yang dikatagorikan cerdas menurut PAI tidak hanya yang bisa hafal al Qur’an-Hadith, pandai bahasa arab, pandai berlogika hukum Islam, hafal sejarah Islam, dan yang memiliki nilai ulangan bagus. Melainkan, semua siswa dikatakan cerdas, utamanya “bila” sudah menemukan jenis kecerdasan apa yang ia miliki (kuasai). Kemudian diterapkan pada pembelajaran PAI untuk dipahami, dihayati, diamalkan, dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kurikulum PAI bisa menjadi fungsional dan bermanfaat langsung bagi kebutuhan hidup (jasmani dan rohani) peserta didik. Serta bisa bermanfaat bagi masyarakat karena jenis kecerdasan yang beragam tersebut bisa mencetak generasi Islam yang berprofesi di bidang bermacam-macam (tidak homogen).
Pada ulasan selanjutnya, hal tersebut tentu akan berbeda dengan penerapan teori KB (kecerdasan beragam) di lingkup materi (tema) pembelajaran PAI. Misalnya materi tentang zakat. Dari materi tersebut bisa disimulasikan (metode bermain peran /role play), bentuk penugasan mengarang[9], atau dipraktekan secara nyata dengan pembentukan lembaga (organisasi) zakat yang berlokasi di sekolah. Lebih detailnya maka penulis membuat pembagian tugas di “lembaga zakat” tersebut berdasarkan jenis kecerdasan masing-masing peserta didik sebagai berikut: 

Tabel 3.3: Penerapan Teori Kecerdasan Beragam dalam Lingkup Satu Tema (Materi)

NO.
JENIS KECERDASAN UTAMA (DOMINAN)
JABATAN
TUGAS
ALAT
TEMPAT KERJA
1.
Linguistik-verbal
(dibutuhakn kecerdasan spasial untuk mendesain gambar iklan)
Tim manajer pemasaran
Membuat proposal, selebaran/pamflet (iklan) untuk masyarakat
Komputer, kertas
Ruangan
2.
Matematis-logis-numerikal
(dibutuhkan kecerdasan spasial untuk memetakan masyarakat berdasarkan tingkat ekonominya)
Tim manajer keuangan
Membuat (mengkalkulasikan) daftar prioritas penerima zakat serta prioritas warga paling dermawan dan menghitung pengeluaran dan pemasukan
Komputer, kertas
Ruangan
3.
Spasial-visual
(dibutuhkan kecerdasan interpersonal untuk mengadakan pendekatan dengan pejabat terkait)
Tim manajer perencanaan
Memetakan warga mana saja di sekitar sekolah yang berstatus mustahik zakat dan warga dermawan
Kertas gambar, pensil, dan spidol berwarna
Lapangan dan ruangan
4.
Kinestetik-jasmaniah
(dibutuhkan kecerdasan matematis-logis untuk menganalisis data stastitik)
Tim manajer pengelolaan barang atau perlengkapan
Mengambil zakat dari warga dermawan (muzaki) disetorkan ke “panitia zakat” untuk dikelola lalu didistribusikan ke mustahik zakat.
Kendaraan, timbangan,
Lapangan
5.
Musikal
(dibutuhkan kecerdasan interpersonal untuk mempengaruhi teman-temannya agar mau mengikuti komando lirik lagu yang dibuatnya)
Tim manajer kesegaran jiwa /mental (SDM)
Menggubah lirik lagu-lagu terkini dengan lirik lagu Islami tentang zakat, kemudian dia disuruh memimpin teman-temannya agar bersemangat dalam menjalankan misi panitia zakat.
Sound, kertas, kaset,
Ruangan
6.
Interpersonal
(dibutuhkan kecerdasan linguistik-verbal untuk mempopulerkan zakat kepada calon muzaki)
Tim manajer humas
Menjadi pimpinan panitia zakat atau ditugaskan untuk mengadakan pendekatan dengan warga dermawan (muzaki) dan para mustahik.
Kendaraan, data statistik, materi zakat,
Lapangan dan ruangan
7.
Intrapersonal
(butuh kecerdasan interpersonal untuk mempengaruhi teman-temannya)
Tim manajer kesegaran jiwa /mental (SDM)
Memotivator teman-temannya, meluruskan niat, dan menentukan (merumuskan) hukum dan jumlah zakat dari semua jenis /macam zakat
Kertas
Ruangan dan lapangan
8.
Natural
(butuh kecerdasan spasial untuk menyeting ruangan)
Tim manajer kesegaran jiwa /mental (SDM)
Menata keindahan dan kenyamanan ruangan rapat/kelas untuk konsolidasi “panitia zakat” menggunakan tanaman dan mengelola zakat binatang ternak
Pot, tanaman, poster flora atau fauna,
Ruangan dan peternakan

Dari dua tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa apabila pendidik hendak menerapkan pembelajaran PAI berbasis KB (kecerdasan beragam) dalam arti gaya belajarnya, maka pendidik dituntut punya kemampuan delapan jenis kecerdasan untuk mengajar peserta didik. Namun, bila hendak menerapkannya dalam arti esensinya, maka pendidik harus mengakomodasi perbedaan. Serta tentunya mengakui adanya kecerdasan beragam yang dimiliki masing-masing peserta didik. Konsekuensinya, pendidik memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengekspresikan muatan yang ada di PAI sesuai dengan bidang kecerdasannya. Misalnya, dalam satu tema /materi pelajaran PAI, peserta didik ditugaskan untuk memeragakan materi yang sesuai dengan bidang kecerdasannya yaitu kinestestik. Sedangkan peserta didik lainnya ditugaskan untuk membuat gambar terkait materi sesuai dengan bidang kecerdasannya yaitu spasial-visual.
Dalam beberapa kasus, ada kalanya anak tidak merasa bangga dengan jenis kecerdasan yang sebenarnya ia kuasai dan secara asali merupakan bidangnya. Akan tetapi ia cenderung tertarik dengan bentuk kecerdasan lain. Keinginan atau keterpikatan tersebut biasanya disebabkan karena:
1.    Meniru idola; peserta didik akan merasa bangga bila ia bisa mempunyai kemampuan seperti seseorang yang ia idolakan.  Meski secara bakat belum tentu ia memiliki kecerdasan di bidang itu. Dengan meniru idola salah satu tujuannya ialah akan memiliki “penggemar” seperti halnya yang terjadi pada idolanya.
2.    Terpengaruh oleh teman; dalam posisi ini peserta didik belum memiliki “kesadaran” tentang kemampuan atau kecerdasan yang ia miliki. Ia cenderung merasa aman dan nyaman bila mengikuti “kecerdasan” yang sedang digandrungi oleh kelompoknya. Selain itu, boleh jadi peserta didik sudah mengetahui (merasakan) bidang kecerdasan yang ia miliki tapi tidak punya keberanian untuk menunjukkan jati diri kecerdasannya karena takut tidak mendapat apresiasi dari teman-temannya.
3.    Kuatnya paradigma kecerdasan tunggal, peserta didik dihadapkan  pada sistem pendidikan dan sistem masyarakat yang hanya mengakui satu jenis kecerdasan. Misalnya mengakui kecerdasan matematis-logis (numerikal) saja atau hanya mengakui kecerdasan linguistik-verbal. Adapun status kecerdasan lainnya diabaikan begitu saja. Keadaan seperti ini memaksa peserta didik untuk mendalami sesuatu yang bukan bidang kecerdasannya.
Kenyataan tersebut mempengaruhi psikologi, cara pandang, dan pemahaman peserta didik tentang kecerdasan. Oleh karena itu, pendidik bertanggung jawab dalam mengarahkan mereka ke jalur semestinya. Namun demikian, pendidik tetap memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengaktualisasikan minat atau hasratnya tersebut. Boleh jadi, keinginan yang sedang ia senangi itu adalah jenis kecerdasan dominan “kedua” yang ia miliki. Setelah itu, saat waktu tepat pendidik mengoptimalkan kecerdasan utama yang ada pada diri peserta didik. Tentu pendekatan yang digunakan untuk melakukan pembimbingan akan berbeda antara peserta didik pada jenjang PAUD, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Dengan demikian, karena tersalurkannya[10] potensi masing-masing kecerdasan peserta didik secara layak –serta semuanya didasarkan pada nilai-nilai Islam— maka diharapkan peserta didik akan benar-benar menjadi orang sukses. Yakni, kesuksesan yang hakiki bukan kesuksesan yang semu. Di mana, Tufiq Pasiak menggambarkan makna kesuksesan sebagai berikut:
 




Gambar 3.3: Dua Jenis “Makna” Kesuksesan
(Diadapatasi dari tabel Taufiq Pasiak)

Dari gambar tersebut berdasarkan penjelasan Taufiq Pasiak dapat digambarkan bahwa jenis kesuksesan pada bagan paling kanan lebih mementingkan nilai kehidupan. Di antaranya kebersamaan, kejujuran, integritas, komitmen, hubungan sosial, kerja sama, dan keadilan. Lebih jelasnya, seseorang merasa sukses bila ia mampu memberi orang lain sesuatu, sehingga membuatnya dapat menikmati hidup dan semakin bermakna.[11] Dengan kata lain, arti sukses sesungguhnya bukan sukses semata-mata untuk mementingkan diri sendiri. Namun, yang dapat merubah situasi menjadi lebih baik sehingga bisa memberikan makna dan nilai kehidupan.
Selanjutnya, sebagai upaya filter terhadap proses dan hasil dari ilmu pengetahuan barat maka perlu adanya upaya kritis terhadap teori Gardner. Di mana, ternyata teori kecerdasannya tidak hanya mencakup manusia, tapi juga spesies lain (binatang). Dengan ini, berarti ada anggapan bahwa hewan juga memiliki kecerdasan karena juga memiliki batang otak, walaupun tak secerdas manusia. Menurut Gardner sebuah era “kecerdasan” sudah dimiliki oleh manusia sejak zaman prasejarah, ketika peradaban manusia modern belum dimulai. Bahkan, menurutnya kecerdasan juga dimiliki oleh spesies lain (hewan). Berikut adalah indikasi yang menentukan bagaimana sebuah kecerdasan antara manusia purba dengan hewan dapat saling terkait:[12]
Tabel 3.4: Kecerdasan Pada Manusia Purba dan Spesies Selain Manusia
(Tabel dibuat oleh penulis, diadaptasi dari penjelasan Gardner)

No.
Jenis Kecerdasan
Manusia Purba
Spesies lain
1.
Linguistik-Verbal
Ditemukan lambang tertulis terbukti telah dipakai sejak 30.000 tahun
Kera besar punya kemampuan dasar untuk menamai benda
2.
Logis-matematis-numerikal
Sistem angka dan kalender telah ditemukan dalam lingkungan prasejarah
Lebah menghitung jarak melalui perilaku terbang mereka
3.
Spasial-visual
Lukisan gua yang terkenal di Prancis dan Spanyol
Naluri mempertahankan wilayah pada berbagai jenis mamalia
4.
Kinestetik-jasmani
Penggunaan alat pada zaman prasejarah (penemuan artifak)
Penggunaan alat sederhana telah ditemukan pada primata, binatang pemakan semut, dan spesies lain
5.
Interpersonal-antar pribadi
Petunjuk adanya kelompok kedupan komunal awal
Ikatan dengan induk pada primata dan psesies lain
6.
Intrapersonal-intra pribadi
Kesadaran diri yang dibuktikan dengan lukisan gua, keterampilan memburu (butuh perencanaan dan intuisi)
Simpanse dapat melihat pantulan diri dari cermin dengan mengungkapkan serta melambangkan perasaan dasar.
7.
Naturalis
Kemampuan membedakan fauna dan flora untuk kelangsunga hidup
Sistem rumit untuk memangsang tetangganya dan untuk tidak menjadi mangsa
8.
Eksistensial
Adanya upacara keagamaan prasejarah, yaitu sebelum berburu dan saat penguburan.
Gajah dan spesies lain menunjukkan ritual tertentu setelah kematian salah satu anggotanya.

Dari tabel tersebut dapat dipahami bahwa antara manusia purba dengan spesies lain (hewan) sama-sama memiliki kecerdasan yang beragam. Meskipun, untuk manusia kecerdasan beragam bisa didominasi oleh spesies manusia saja pada masing-masing individunya. Adapun untuk hewan tidak bisa didominasi oleh satu spesies saja. Artinya tiap individu dalam satu spesies memiliki satu jenis kecerdasan yang sama. Misalnya, kecerdasan satu ekor lebah dengan lebah yang lain tidak bisa memiliki jenis kecerdasan berbeda. Dengan kata lain, jenis kecerdasan pada lebah antara satu sama lain adalah sama, yakni kecerdasan dalam menghitung jarak melalui perilaku terbang. Mereka seakan mempunyai “peluang” dan gaya yang sama dengan manusia dalam menghadapi kehidupan di bumi.
Hal tersebut tentu akan berbeda dengan pandangan Islam tentang hewan. Bagaimanapun, menurut Islam tujuan diciptakannya antara manusia dengan hewan itu berbeda. Dengan demikian, fungsi otak sebagai penghasil kecerdasan antara manusia dan hewan juga berbeda. Kecerdasan hewan hanya digunakan untuk mematuhi perintah Allah, yaitu “menghiasi” bumi. Terlebih lagi, hewan tidak dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Sedangkan, fungsi kecerdasan (otak) pada manusia sebagai modalitas (bekal) untuk menjalankan kehidupan di dunia. Di mana, salah satu tujuannya agar bisa memilih segala sesuatu sesuai dengan apa yang bisa mereka pilih. Memilih kehidupan dunia atau akhirat, bisa juga manusia memilih keduanya.
Dari semua fenomena dan masalah di atas tersebut, Anshori telah memberikan rekomendasi sebagai jalan keluar, salah satu di antaranya yaitu:
1.    Lembaga pendidikan Islam pada setiap pelajarannya harus memiliki aktivitas yang terkait dengan multiple intelligences.
2.    Lembaga pendidikan tidak perlu menerima peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus kecuali lembaga pendidikan Islam telah diperlengkapi dengan kebutuhan-kebutuhan mereka.
3.    Mengambil gagasan inovatif yang sesuai denga ajaran Islam.[13]

Mengacu pada rekomendasi tersebut serta didasarkan pada pembahasan sebelumnya. Satu perihal lagi yang menjadi alasan mengapa paradigma ilmu Islam dengan Ilmu barat semakin merenggang adalah pengkultusan terhadap otak. Di mana, adanya perkembangan “teori” tentang otak membuat posisi antara manusia dengan hewan “hampir” sama. Yakni, sama-sama memiliki otak dan sama-sama memiliki kecerdasan meskipun berdasarkan penelitian tingkat kecerdasan hewan sangat jauh dibandingkan manusia. Implikasinya, bila diruntut ke zaman masa prasejarah bahkan hingga ke zaman “penciptaan” semua makhluk hidup, maka menghasilkan gagasan bahwa hewan dan manusia diciptakan dari “hal” yang sama. Adapun, letak perbedaannya adalah kemampuan evolusi manusia yang amat pesat sehingga mampu meninggalkan tingkat kecerdasan “hewan” lainnya.
Untuk menghadapi dilema tersebut, Muhaimin menjelaskan tentang tipologi pemikiran (filsafat) pendidikan Islam. Di mana, menurut pandangan penulis bisa menjadi dasar filosofis Pendidikan Islam pada zaman sekarang ini. Konsep tersebut secara lengkap dapat dilihat dalam bentuk tabel sebagai berikut:[14]
Tabel 3.5: Tipologi Pemikiran Pendidikan Islam dengan Bentuk Tabel
(Diadaptasi dari tabel Muhaimin)
Corak Pemikiran Pendidikan Islam
Tolok ukur
Ciri-ciri
Fungsi Pendidikan Islam
Rekonstruksi sosial berlandaskan Tauhid
1.     Sumber al Qur’an dan Hadith
2.     Progresif dan dinamis
3.     Rekonstruksi sosial berkelanjutan yang dibangun secara bottom up, dari grass toot, dan berdasarkan pluralistis
4.     Pendidikan Islam yang proaktif, berorientasi masa depan, dan antisipatif dalam mengatasi suatu masalah karena disebabkan perubahan yang tak terduga (adanya teori baru dll) dan perkembangan IPTEK.
1.     Bukan konstruk yang closes-ended, tapi yang dikembangkan secara konsultatif antara kenyataan (fenomena) dengan teori (konsep)
2.     Rekonstruksi sosialnya berdasarkan pada pengembangan paradigma secara terus menerus
3.     Komitmen terhadap pengembangan kreativitas secara terus-menerus
4.     Menghargai keragaman budaya, dengan tetap menjunjung tata nilai.
1.      Menumbuhkan kreativitas peserta didik secara terus-menerus
2.      Memberikan kekayaan wawasan budaya, nilai-nilia insani, dan ilahiah
3.      Mendidik manusia agar siap tampil (bekerja dll) untuk menghadapi kehidupan
4.      Mengembangkan manusia menjadi cakap atau kreatif untuk selanjutnya mampu bertanggung jawab terhadap pengembangan masyarakatnya.


Dari tabel tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam meberikan kebebasan peserta didik untuk menjadi politisi, akuntan, arsitek, pemain sepak bola, zoolog, pemimpin LSM, dan ahli dalam bidang apapun itu. Akan tetapi dengan salah satu syarat, semuanya tadi tetap bernilaikan agama Islam. Dengan demikian, PAI tidak hanya menekankan pada aspek kemampuan kognitif dan IQ-nya. Melainkan, juga menekankan pada aspek fungsional di masyarakat. PAI tidak hanya berorientasi pada dogma-dogma menjalankan ibadah untuk akhirat. Akan tetapi juga “dogma-dogma” tentang perintah mengembangkan kecerdasan di bidang masing-masing untuk kepentingan agama dan bangsa.
Dengan demikian, tugas PAI mesti mampu mengakomodasi keberagaman kecerdasan peserta didik. Serta  mampu memanfaatkan potensi tersebut untuk mencetak generasi-generasi Islam yang mengisi seluruh sektor bidang kemasyarakatan. Asumsinya, outcome pembelajaran PAI tidak hanya menjadikan peserta didik beriman dan bertaqwa dalam arti ritual (ibadah). Lebih dari itu, PAI juga menjangkau hal-hal yang bersifat materiil  (nyata). Meski dalam pengembangan yang bersifat riil tersebut tetap harus berlandaskan pada hal-hal yang imaterial (gaib).  Selain itu, dengan mengkaji PAI diharapkan peserta didik mampu menyadari, menemukan, dan mengembangkan kecerdasan-kecerdasan yang ada pada dirinya.
Bila hal tersebut dikaitkan dengan teori Gardner maka salah satu hal penting yang dapat diambil oleh pendidikan Islam adalah setiap peserta didik punya jenis kecerdasan beragam antara satu dengan yang lain. Dengan demikian, pendidik tidak boleh menyamakan (menyeragamkan) posisi kecerdasan seluruh peserta didik. Di sisi lain, mengenai teori lain yang berasal dari Barat seperti tentang kemampuan otak yang seakan “tak terbatas,” kecerdasan itu bersifat genetis atau tidak, hewan juga memiliki “kesetaraan” dengan manusia, dan teori lainnya yang masih belum mengalami kematangan oleh umat Islam wajib difilter. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak sepantasnya mengambil seluruh teori dari Gardner apalagi bagian-bagian teori yang masih belum matang (terdapat pertentangan kuat).
Dari semua pembahasan di atas dapat disimpulkan, bahwa hakekat dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis kecerdasan beragam (multiple intelligences) adalah bisa meningkatkan atau mengembangkan kecerdasan paling dominan (nampak) yang dimiliki setiap individu peserta didik. Di sisi lain, pendidik PAI mesti memberikan materi lain yang tentunya terkait langsung dengan dogma-dogma dan nilai-nilai ajaran Islam. Oleh karena itu, peran PAI adalah memberikan motivasi dan mengarahkan peserta didik dalam mengembangkan kecerdasannya. Tentunya, disertai dengan penanaman nilai-nilai Islam dengan cara dan materi pokok yang disesuaikan dengan kecerdasan mereka. Misalkan, peserta didik yang memiliki kecerdasan spasial didorong untuk menekuni kecerdasannya sehingga bisa menjadi pelukis, pemahat, arsitek, ahli geografi, dan lain sebagainya. Selanjutnya, pendidik diwajibkan menanamkan nilai-nilai Islam, yaitu agar menjadi pelukis, pemahat, arsitek, ahli geografi yang menjunjung nilai-nilai Islam.
 






[1]Teori Gardner bila tanpa difilter untuk diterapkan di Indonesia berimplikasi pada pemberian status yang leluasa dan sebebas-bebasnya kepada para peserta didik untuk mengembangkan diri. Padahal kebebasan seperti itu dalam konteks pendidikan di Indonesia pada saat ini sangat tidak mungkin diterapkan. Lebih dikawatirkan menurut Imam Bawani dalam penjelasan di perkuliahan S3 PAI-BSI Angkatan ke-2 (semester I) UIN Maliki Malang bahwa status guru sebagai pendidik akan mengalami penurunan nilai. Guru hanya dipandang sebagai pembantu (alat) bahkan lebih parah lagi menjadi “budak” bagi siswa untuk mencapai kesuksesan. Guru hanya dinilai sebatas fasilitator untuk “memuliakan” anak. Padahal, dalam Islam status guru sebagai pendidik memiliki peran yang sangat penting, salah satunya adalah sebagai suri tauladan. Guru yang ikhlas, yaitu semata-mata aktivitasnya mendidik untuk mencari rida Allah dalam Islam punya nilai tinggi. Sebaliknya, guru yang semata-mata mengajar untuk mencari uang (tunjangan sertifikasi, dll) tanpa ada muatan teologis maka posisinya bisa disamakan dengan “pembantu” kemanusiaan. Dapat disimpulkan, bila teori “kebebasan” ini dilaksanakan secara penuh (tanpa filter) di Indonesia maka pada lembaga-lembaga tertentu posisi guru secara nilai akan mengalami penurunan dari pada peserta didik. Adapun, sebagian negara Barat bisa menerapkan teori ini tanpa ada pergeseran nilai guru secara signifikan karena paradigma barat berbeda dengan di Indonesia.
[2]Pursuing MI seemed to make sense for us because it supports our beliefs and our deep commitment to valuing diversity in our student body. MI seemed to offer another way to recognize the uniqueness of each individual.” Lihat, Hoerr, “Becoming a Multiple,” hlm. 8.
[3]Ibid., hlm. 10.
[4]Hoerr, “Becoming a Multiple,” hlm. 5.
[5]StraussHoward Gardner: ‘Multiple,” diakses 23 Oktober 2014.
[6]“Negara yang kemampuan inovasinya rendah akan sangat bergantung kepada negara yang memiliki kemampuan inovasi tinggi, sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan hak kekayaan intelektual.” Lihat, Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad, hlm. 47.
[7]Kekuatan intelektual Islam adalah kekuatan yang berkaitan dengan kesadaran teologis (kepadatan ilahiah), kosmologis, epistemologis, dan ilmu. Kekuatan Islam juga terkait dengan masalah pendidikan, belajar, SDM, budaya ilmu, kesucian, tanggung jawab, dan turunannya. Lihat, Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad,  hlm. 38.
[8]Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad,  hlm. 4.
[9]Peserta didik disuruh untuk memilih tugas apa yang ia inginkan dalam menyukseskan misi pepembagian zakat di sekitar lingkungan sekolah. Kemudian disuruh menerangkan secara detail apa saja yang akan dilakukan untuk menyukseskan tugas tersebut dalam bentuk tugas menulis dengan kalimat deskriptif.
[10]Dilihat dari aspek pskilogis, setiap peserta didik punya potensi dasar (bakat, minat, dan kemampuan/kecerdasan) yang butuh diaktualisasikan dan ditumbuhkembangkan secara terus-menerus untuk dapat menerapkan fungsinya sebagai hamba Allah dan Khalifah-Nya di bumi. Oleh karena itu, setiap peserta didik idealnya membutuhkan treatment yang berbeda-beda pula. Lihat, Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 226.
[11]Taufiq Pasiak, Manajemen Kecerdasan: Memberdayakan IQ, EQ, dan SQ untuk Kesuksesan Hidup (Bandung: Mizan), hlm. 229.
[12]Armstrong, “Seven Kinds of Smart:,” hlm. 234.
[13]Anshori, Transformasi Pendidikan Islam (Jakarta: Gaung Persada, 2010), hlm. 50.
[14]Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan, hlm. 111-112.

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)