Gawat! Nyamuk Aedes Aegypti Penyebab DBD dan Chikungunya Kini Berovulasi Jadi Lebih Berbahaya




Nyamuk Demam Berdarah atau Aedes Aegypti adalah salah satu jenis hewan penghisap darah pembawa virus yang dapat menyebabkan penyakit DBD (Demam Berdarah Dengeu), demam kuning, chikungunya, dan zika. Jadi, ancaman nyamuk tersebut tidak hanya pada satu penyakit.

Banjirembun.com
Hal yang perlu diketahui, hanya nyamuk aedes aegypti berkelamin betina yang dapat menyebarkan virus chikungunya, zika, dan demam kuning. Serta hanya wilayah beriklim tropis yang paling rentan menjadi pusat penyebaran penularan penyakit yang dibawa nyamuk tersebut.




Jarang atau bahkan tidak ditemui sama sekali persebaran penyakit melalui nyamuk di negara sub tropis yang musim dinginnya bersalju. Bisa dikatakan demam berdarah merupakan salah satu jenis penyakit khas dari negara-negara tropis yang dilintasi garis katulistiwa.


Gigitan nyamuk aedes aegypti kerapkali tidak disadari manusia. Baru terasa setelah beberapa saat proses menghisap darah dilakukan hingga akhirnya muncul rasa gatal. Hal itu terjadi karena seringkali nyamuk "menyerang" dari belakang tubuh manusia. Serta gemar menggigit di daerah pergelangan kaki dan siku tangan.


Evolusi Nyamuk Aedes Aegypti Terus Berjalan

Perilaku dan cara perkembangbiakan nyamuk terus mengalami perkembangan seiring zaman. Itu merupakan hal wajar sebagai bentuk adaptasi dari perubahan lingkungan. Perubahan terjadi bisa disebabkan faktor alam (pemanasan global) dan pola hidup manusia.


Awalnya, nyamuk yang berasal dari Afrika itu menyebarkan penyakit hanya pada primata (seperti monyet dan simpanse) di daerah rimba. Kini, karena pergerakan manusia yang semakin luas menyebabkan nyamuk mampu berevolusi. Tak hanya lagi mampu "menyerang" primati tapi juga manusia.


Sampai sekarang proses evolusi terus berlanjut. Bahkan, akhir-akhir ini perubahan iklim ekstrim menyebabkan berubahnya nyamuk dalam cara bertahan hidup dan berkembang biak. Meningkatnya jumlah curah hujan yang tinggi menjadikan semakin tingginya risiko kematian.




Siklus hidup nyamuk aedes aegypti dipengaruhi oleh curah hujan, kelembaban, dan suhu. Perubahan iklim yang masih terjadi hingga kini membuat bumi semakin hangat. Akibatnya larva (bentuk dasar setelah menetas) lebih cepat menjadi pupa (kepompong) dan lahir prematur menjadi nyamuk dewasa.

Proses metamoforsis sempurna nyamuk aedes aegypti (sumber gambar)

Banjir Embun
Hal yang mengkhawatirkan ialah ukuran tubuh nyamuk aedes aegypti telah menyusut menjadi kecil. Konsekuensinya, frekuensi nyamuk betina dalam menghisap darah semakin tinggi. Bila sebelumnya cukup "makan darah" 5 hari sekali maka sekarang dilakukan 3 hari sekali.


Jangkauan wilayah terbang nyamuk aedes aegypti juga semakin jauh. Dengan tubuh rampingnya, ia mudah terbawa angin. Kini jangkauan terbangnya bisa melebihi 400 meter dari tempatnya bersarang. Adapun sekali terbang, ia dapat menempuh jarak 150 meter. Berbeda dengan masa lalu yang hanya sanggup mengudara disekitaran jarak 70 meter.

Nyamuk Aedes Aegypti (sumber gambar)


Dulu nyamuk butuh waktu 10-12 hari untuk tumbuh dewasa. Sekarang hanya dengan 8 hari proses dewasa sempurna sudah dapat dilampaui. Tak hanya itu, iklim yang berubah jadi hangat ini menjadi pemicu meningkatkan jumlah populasinya. Seakan alam mendukungnya untuk memperbanyak diri.


Kenyataan lain yang patut dicemaskan yaitu nyamuk aedes aygepti tidak hanya terbang dan mencari mangsa pada pagi dan sore hari. Akan tetapi sudah tak jarang ditemui bergerliya pada malam hari. Serta ia tidak lagi pilih-pilih jenis air untuk bertelur. Bahkan air kotor, comberan, dan limbah bisa jadi tempat bersarang.


Bisa dikatakan perubahan iklim mempunyai pengaruh signifikan dalam berevolusinya nyamuk menjadi lebih berbahaya. Menahan dan memperlambat perubahan iklim dapat menjadi salah satu upaya terjadinya penyebaran penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk.





Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)