Gara-gara Anggur Orang Tua, Dua Gadis Menyesal Tak Karuan




Anggur orang tua ini sungguh bikin "kualat". Terbukti dua gadis yang menghabiskan anggur orang tua itu menyesal tak terkira. Bukannya happy karena telah menikmatinya tapi justru hidupnya bakal berubah total.


Bagaimanapun, sudah tak terbantahkan bahwa orang tua adalah segalanya. Setelah Tuhan yang harus kita cari rida-Nya maka rida orang tua harus digapai. Senyampang itu baik menurut hukum agama dan negara wajib kita taati.




Tanpa adanya orang tua, seseorang tak akan lahir di dunia. Belum lagi saat bayi hingga remaja akhir, tak sedikit manusia yang diasuh mereka. Oleh sebab itu, membantah atau tidak menaati "aturan" baik dari mereka jadi pantangan.


Sebagaimana kisah dua gadis ini. Gara-gara mengabaikan pesan orang tua dia menyesal tak karuan. Kurang lebih ceritanya seperti ini.


Ada seorang kontraktor kaya raya. Ia sudah terbiasa mengerjakan proyek besar. Membangun gedung-gedung untuk hiburan, pemerintahan, hingga pemukiman. Meski demikian, dia orang yang rajin salat ke Masjid. 


Sesekali bapak paruh baya itu mengikuti kajian oleh Ustadz. Bila tak sempat hadir, ia menyaksikannya lewat YouTube. Yakni, saat larut malam menjelang tidur. Maklum saja, ia memiliki mobilitas tinggi. Baginya waktu sangat berharga.

Banjirembun.com
Saking sibuknya, ia lupa menyisihkan uang dan kemampuannya untuk membangun madrasah, Masjid, maupun gedung sosial. Pun, luput untuk mendidik dua anaknya dengan benar. Agar jadi anak berbakti padanya.


Suatu hari menjelang Salat Duhur ia pulang menyusuri pinggir jalan. Mata seakan mencari sesuatu. Sambil melihat-lihat pinggir jalan. Pandangannya tertuju pada penjual buah anggur yang baru saja dipetik dari kebunnya. Tertata rapi dan bersih.


Ia berhenti mendekati kios jualan itu. Memutuskan membeli 1 Kg anggur berkualitas super. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan pulang. Setiba di rumah ia berpesan dengan penuh harapan dan ketulusan pada keluarganya.


"Ayah pulang, ini ada buah anggur. Letakkan dulu di meja makan. Ayah mau ke Masjid dulu salat. Nanti setelah usai salat kita makan bersama-sama anggur itu, saat makan siang. Cuci dulu ya anggurnya."


Bersegera dengan langkah cepat tapi tidak lari maupun terburu-buru ia menuju Masjid. Lokasinya tak begitu dekat dan juga tak jauh-jauh amat. Dalam hati pria itu terus terpikir betapa enaknya anggur itu saat di makan bersama-sama.

Banjir Embun
Singkat cerita si bapak tiba di rumah kembali dengan jalan agak lebih pelan. Sungguh kaget tidak alang kepalang tanggung. Buah anggur yang diidam-idamkannya lenyap begitu saja. Hatinya berkecamuk. Di antara marah dan kecewa.


"Di mana anggurnya? Bukannya ayah tadi telah berpesan pada kalian semua?"


Istrinya menjawab "Setelah anggur itu habis mereka menuju kamar. Kata mereka anggurnya enak."


Menujulah lelaki itu ke kamar masing-masing anaknya. "Kenapa anggurnya habis?" 


Sungguh jawaban mereka bikin kaget dan kecewa. Jawaban dua anaknya itu sungguh enteng dan terkesan meremehkan orang tuanya. Hati orang tua mana tak hancur mendapati buah hatinya seperti itu.


Tak berselang lama. Pria tajir itu menuju kantor tempat kerja, yang sekaligus miliknya. Ia memanggil para pegawai terbaiknya. Dikumpulkan untuk membuat proyek besar-besaran dan dalam kualitas paling baik selama yang pernah dibuat.


Dibangunglah Masjid, Madrasah, Pondok Pesantren, Rumah Yatim Islami, Rumah Tahfid, dan bangunan sosial islami lainnya. Ia memutuskan menghabiskan semua aset miliknya untuk di jalan Allah, kecuali hanya menyisakan secukupnya.


Banyak orang heran atau takjub atas sikap pria tersebut yang berubah. Sebab dia bisanya kalau sedekah sekedarnya saja. Jangankan ikut urun membangun Masjid. Sedekah tiap salat Jumat saja satu lembar uang kertas.


Salah satu dari orang yang heran itu bertanya padanya "Kenapa tiba-tiba membangun kebutuhan umat Islam dengan nilai yang tak kecil?"




Pria itu menjawab pertanyaan pamannya yang juga seorang tokoh agama di Masjid "Saya ingin mengamankan sesegera mungkin harta saya di jalan Allah. Supaya bisa jadi bekal saya di akhirat kelak. Saya takut anak saya tidak peduli dengan akhirat saya kelak".


"Maksudnya bagaimana? Ada apa dengan dua anakmu?" Tanya lagi sang paman.


"Bagaimana mereka peduli dengan akhirat saya, satu kilogram anggur saja yang jadi amanah dari saya tidak bisa mereka jaga. Saya takut mereka akan melupakan saya saat sudah mati."


Dua gadis itu akhirnya gigit jari. Mereka berdua tidak mendapat warisan dari orang tuanya, tak sebanyak yang mereka kira. Keserakahan dan lalai akan amanat membuat mereka celaka. Itulah akibat durhaka pada orang tua.

(sumber gambar)

Jadi, anggur orang tua di sini bukanlah merek minuman anggur. Tidak seperti yang nampak pada gambar dua gelas anggur di atas. Anggur orang tua di tulisan ini maksudnya ialah buah anggur pemberian dari orang tua untuk dimakan bersama.




TAMAT

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)