ORGANISASI SOSIAL KEAGAMAAN DAN PENDIDIKAN ISLAM ; KASUS AL-JAM’IYATUL WASHLIYAH

Buku A. Rifqi Amin (pendiri Banjir Embun) berjudul:


ORGANISASI SOSIAL KEAGAMAAN DAN PENDIDIKAN ISLAM ;
KASUS AL-JAM’IYATUL WASHLIYAH

Oleh: ADY ALFAN MAHMUDINATA

Foto Ady Alfan Mahmudinata (sumber foto: facebook)


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Berakhirnya perang Dunia I pada tahun 1918 tidak sedikit membawa perubahan keseluruh dunia, termasuk dunia Islam yang sebagian besar dalam keadaan dijajah oleh Eropa. Indonesia yang sebagian besar penduduknya beragama islam tidak luput dari jajahan bangsa Eropa yang kala itu Indonesia merupakan daerah jajahan dari negara Belanda. Masyrakat  indonesia  juga berupaya mengobarkan gejolak untuk merdeka dari penjajahan atas tanah air mereka . Mereka berupaya meneruskan perjuangan yang telah dirintis oleh para pendahulu mereka seperti: Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar, dan lain-lainya, sehingga tidak mengherankan kalau pada saat itu bermunculan gerakan-gerakan kemerdekaan yang pertama kali dipelopori oleh umat Islam kala itu.
Lahirnya beberapa organisasi Islam di Indonesia lebih banyak karena adanya dorongan oleh tumbuhnya sikap patriotisme dan rasa nasionalisme serta sebagai respon terhadap kepincangan-kepincangan yang ada di kalangan masyarakat Indonesia pada awal abad ke 19 yang mengalami kemunduran total sebagai akibat eksploitasi politik pemerintah kolonial Belanda. Langkah pertama diwujudkan dalam bentuk kesadaran berorganisasi. Disamping sebagai gerakan kemerdekaan, organisasi- organisasi Islam juga bergerak di bidang sosial keagamaan dan pendidikan Islam. Salah satunya adalah mengantisipasi kebijakan politik pendidikan Hindia Belanda yaitu upaya untuk menutup peluang pengembangan institusi dan sistem pendidikan Islam di Indonesia karena lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren dianggap sebagai sarang pembrontak.  





Kesadaran berorganisasi dengan usaha yang sangat tinggi serta dijiwai perasaan nasionalisme dan keagamaan, menimbulkan perkembangan dan era baru di lapangan pendidikan dan pengajaran. Dengan kesadaran penuh, para pemimpin pergerakan berusaha mengubah keterbelakangan rakyat Indonesia melalui penyelenggaraan pendidikan yang bersifat nasional. Usaha mereka diwujudkan dengan mendirikan sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah dengan sistem modern  dengan mengadopsi sitem pendidikan Barat yang mengajarkan pelajaran umum disamping materi pelajaran agama. Bukti dari perkembangan itu adalah hingga lahirnya perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia.
Adapun orgnisasi yang berdasarkan sosial keagamaan yang melakukan aktivitas pendidikan Islam adalah Al-Jªmi’atul Washliyah (selanjutnya disebut Al-Washliyah). Dibandingkan organisasi sosial keagamaan yang lain, semacam Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyah, atau Syarikat Islam, Al-Washliyah belum mendapatkan perhatian yang semestinya dalam kajian-kajian sejarah Islam modern di Indonesia. Secara sederhana hal tersebut bisa dilihat dari keterbatasan publikasi tentang organisasi ini, khususnya bila dibandingkan dengan publikasi mengenai organisasi lainnya. Padahal setidaknya dari segi kwantitas, Al-Washliyah cukup signifikan, sehingga oleh Karel A. Steenbrink organisasi ini ditempatkan pada posisi ke tiga setelah Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama. [1]
Dari keterangan tersebut, dapat dipahami bahwa kajian mengenai Al-Washliyah sebagai organisasi sosial keagamaan dan pendidikan Islam menjadi suatu kajian yang teramat  penting bagi semua kalangan terutama para`intelektual muslim dan para tokoh pendidikan Islam. Melalui kajian pada makalah ini diharapkan pembaca dapat mengambil pengalaman berharga dalam mengembangkan masyarakat Islam dan pendidikan Islam dengan segala Intrik dinamikanya.
B.     Rumusan masalah
1.      Bagaimanakah sejarah berdirinya organisasi Al-Washliyah?
2.      Bagaimanakah peranan organisasi Al-Washliyah dalam bidang sosial keagamaan?
3.      Bagaimanakah peranan organisasi Al-Washliyah dalam bidang pendidikan Islam?


BAB II
PEMBAHASAN


A.    Sejarah Berdirinya Al-Washliyah
Berdirinya Al-Washliyah di latar belakangi oleh kesadaran beberapa pelajar dan guru yang tergabung dalam perguruan Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT), dimana pada saat itu mereka berkeinginan untuk membuat wadah organisasi yang lebih besar dari organisasi sebelumnya “Debating Club” yang tampaknya cukup berhasil dalam program-programnya dan dipandang sangat bermanfaat. Debating Club merupakan sebuah wadah organisasi kecil untuk mendiskusikan pelajaran maupun persoalan-persoalan sosial keagamaan yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Pendirian  Debating Club pada tahun 1928 ini mulanya sebagai sikap kritis para alumni dan murid senior MIT tentang diskusi-diskusi mengenai Nasionalisme dan paham keagamaan yang terutama didorong oleh kaum pembaharu.[2]
Organisasi Al-Washliyah didirikan di Sumatra Utara tepatnya di kota Medan pada tanggal 30 November 1930 bertepatan dengan tanggal 9 Rajab 1349 H, diberi nama Al-Washliyah yang bermakna organisasi yang ingin menghubungkan dan mempertalikan. Hal ini berkaitan dengan keinginan memelihara hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama baik antarsuku, antarbangsa, dan lain-lain. [3]Nama organisasi ini diambil dari ayat Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 21:

(ayat al quran tidak dapat ditampilkan di blog ini)
“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.”
Demikianlah nama dari Al-Washliyah yang memancarkan cita-cita yang tinggi dan diharapkan dapat menjadi roh bagi para anggotanya.
Setelah didirikan secara resmi, maka ditetapkanlah susunan kepengurusan organisasi Al-Washliyah yang berkedudukan di kota Medan dengan susunan sebagai berikut:
1)      Isma’il Banda                                (Ketua I )
2)      A. Rahman Sjihab                         (Ketua II)
3)      M. Arsjad Thalib Lubis                 (Penulis I)
4)      Adnan Nur                                                (Penulis II)
5)      H. M. Ya’kub                                (Bendahara)
6)      Sjech H. Muhammad Junus          (Penasihat)
7)      H.Sjamsuddin, H. Jusuf A. Lubis, H. A. Malik,
dan A. Azis Effendi                      (Sebagai pembantu-pembantu)[4]
Berdirinya organisasi Al-Washliyah tidak tergantung pada seorang tokoh sentral karismatik sebagaimana halnya Muhammadiyah ataupun NU, pendirian dan pertumbuhan organisasi ini merupakan hasil upaya bersama beberapa tokoh dengan peran dan keistimewaannya masing-masing. Syekh Muhammad Yunus adalah tokoh yang dituakan dan biasanya dianggap sebagai pendiri Al-Washliyah bukanlah yang berperan penuh atas pendirian Al-Washliyah melainkan adanya tokoh-tokoh lain diantaranya Abdurrahman Syihab yang mempunyai kemampuan tinggi dalam rekrutmen anggota, Arsyad Thalib Lubis dengan ilmu pengetahuan Islam yang sangat tinggi, Udin Syamsuddin dengan keahlian administrasi dan manajemen yang mana kesemuanya dipersepsi sebagai orang-orang yang berperan penting dalam pendirian dan pengembangan organisasi ini sehingga dikalangan pengikutnya tidak dijumpai kecenderungan untuk menganggap salah satu pimpinannya sebagai tokoh sentral.
Secara organisatoris, Al-Washliyah merupakan organisasi sosial kemasyarakatan yang berakidah Islam dan bermadzhab Syafi’i serta beriktikad ahlussunnah wal jamª’ah. Dengan misi berusaha memperjuangkan kemerdekaan negara dari jajahan penjajah dan berorientasi pada kemajuan pendidikan Islam dengan pembaharuan pada sistem pendidikan.[5]
Adapun fase perkembangan A1-Washliyah dapat kelompokkan sebagai berikut:
 Pertama, fase berdirinya sampai menjelang kemerdekaan (1930-1942). Dalam fase ini kagiatan terpusat kepada pembinaan kader ulama dan pendidik. Kader-kader fase inilah yang melanjutkan usaha AI-Washliyah sekarang ini.
Kedua, fase facum yaitu sewaktu masuknya penjajahan Jepang sampai kemerdekaan RI (1942-1947). Dalam fase ini kegiatan terarah kepada melawan atau menumpas penjajahan. Kegiatan pendidikan berhenti dan beralih kepada kegiatan pembentukan Laskar Allah yang tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Hizbullah, Sabilillah, Tentara Pelajar, dan Dapur Umum. Kegiatan pena ulamanya menulis “Tuntunan Perang Sabil’ oleh alm. H.M. Arsyad Thalib Lubis, dan “Do’a ke Medan Perang” disusun oleh Pemuda Al-Washliyah.
Ketiga, fase perjuangan politik (1947-1955), yaitu di mana Indonesia sedang menyusun negaranva dengan undang-undang dan kabinetnya. kegiatan tertuju kepada mensukseskan pemilu I dan turut menyiapkan konsep bernegara dengan undang-undang  konstituante.
Keempat, kembali fase pembinaan (1955-1965). Pembinaan organisasi dan pendidikan meluas keseluruh tanah air Indonesia, , pulau Jawa dan Kalimantan.
Kelima, fase perluasan Misi Zending dan Penyiaran Islam (1965-1972). Pada fase ini, pelajar dan mahasiswa serta putra-putri dan pemuda Al-Washiliah, giat mengislamkan suku terasing di pegunungan Tanah Karo, Kabupaten Dairi, Kepulauan Mentawai, dan Irian Jaya.
Keenam, fase agak suram (1972-1983) dimana  keterlibatan anggota Al-Washliyah dalam partai politik mempengaruhi akan kesegaran jalanya organisasi dan pendidikan Al-Washliyah. Hal ini disebabkan karena mereka lebih mengutamakan partainya dari pada pembinaan umat dan ukhuwah Islamiyah.
Ketujuh, fase penataan kembali dan perluasan yaitu (1983 sampai mukhtamar ke XVII). Diterbitkan kembali organisasi seperti telah dilaksanakan kunjungan-kunjungan ke madrasah-madrasah di Sumatera Utara, konferansi wilayah Kalimantan Selatan, Banjarmasin, pemberian mandat untuk pembentukan wilayah Daerah Istimewa  Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Irian Jaya, pendataan sekolah-sekolah dan perguruan Al-Washliyah. [6]
Selain itu, dalam opersionalnya Al-Washliyah didukung oleh Badan Otonom Organisasi yang meliputi: muslimat AI-Washliyah (Organisasi Wanita), Gerakan Pemuda A1-Washliyah (Organsasi Pemuda), Angkatan Putri Al-Washliyah (Organisasi Putri), Ikatan Putra-Putri A1-Washliyah (Organsasi Remaja), dan Himpunan Mahasiswa A1-Washliyah (Organisasi Mahasiswa). Inilah gambaran sekilas tentang A1-Washliyah sebagai salah satu organisasi sosial keagamaan dan pendidikan Islam di Indonesia dari waktu ke waktu yang mengalami pasang surut dalam perkembangannya. Tetapi hal yang terpenting untuk diungkap kali ini adalah bagaimana peranan dan kiprahnya dalam bidang sosial keagamaan dan pendidikan Islam.[7]

B.     Peranan Organisasi Al-Washliyah Dalam Bidang Sosial Keagamaan
Organisasi Al-Washliyah yang  dalam pendiriannya diprakarsai oleh para tokoh ‘ulama mendapatkan sambutan hangat oleh para masyarakat Islam di tanah Medan. Hal ini menjadikan organisai ini dapat menjalankan aktivitas keorganisasian dengan baik, hingga pada aktivitas dalam ranah sosial keagamaan pun mampu dimaksimalkannya.[8] Dapat dibutikan dengan sepak terjang yang dilakukan orgnisasi ini dalam mensyiarkan ajaran Islam di seluruh kawasan di Sumatra Utara.
Al-Washliyah dipandang sebagai organisasi sosial keagamaan bersifat tradisional dalam paham keagamaan (ciri khas Syafi’iyyah), tetapi modernis dalam pendidikan Islam (bentuk lembaga pendidikan yang didirikan seperti madrasah dan sekolah serta sistem dan kurikum yang digunakan). Namun dalam sepak terjangnya ternyata  Al-Washliyah tidaklah berkecimpung saja pada dunia pendidikan. Hal ini bisa dilihat dari majlis-majlis yang didirikan oleh Al-Washliyah, seperti: Majelis Hazanatul Islamiyah sedianya dibentuk untuk melaksanakan kegiatan pemeliharaan anak yatim, membantu penyiaran Islam, dan orang- orang yang baru masuk Islam, utamanya di daerah Toba, Tapanuli Utara dan Tanah Karo. Kendala finansial tampaknya membuat program majelis ini tidak membuahkan hasil yang memadai. Sistem keuangan Al-Washliyah yang terlalu sentralistis kurang memungkinkan dilakukannya inovasi-inovasi di bidang upaya pengumpulan dana.[9]
Strategi Al-Washliyah dalam penyiaran Islam di daerah Batak Toba dengan melakukan tabligh dan mendirikan sekolah serta madrasah adalah satu aspek yang khas mengenai organisasi ini. Tanah Batak Toba adalah titik awal penyebaran agama Kristen di Sumatera Timur yang sudah berjalan relatif berhasil sejak abad ke-l9. Pada awal ke-20, mayoritas penduduk daerah ini beragama Kristen, sebagian lain menganut agama tradisional, Parbegu, dan hanya sebagian kecil yang memeluk Islam ini kegiatan Al-Washliyah di daerah ini adalah pegislaman dan pembinaan mereka yang sudah masuk Islam.[10]
Program-program Al-Washliyah yang secara spesifik ditujukan untuk Islamisasi daerah ini menempatkannya berhadapan langsung dengan missi Kristen. Laporan-laporan tentang persaingan ini yang sering kali mengambil bentuk pertentangan di tengah masyarakat  banyak muncul dalam terbitan-terbitan di Sumatera Timur saat itu. Bukan rahasia lagi bahwa misi Kristen di Tanah Toba dan tempat lainnya mendapat dukungan khusus dan pemerintah Belanda maupun Gereja Kristen dan Eropa. Dukungan ini bisa mengambil bentuk keberpihakan ataupun kebijakan pemerintah Belanda yang menguntungkan umat Kristen, sebagaimana sering terlihat dalam keluhan dan protes umat Islam via Al-Washliyah tentang perlakuan pejabat pemerintah lokal yang tidak adil. Dukungan lain yang tidak kalah signifikan adalah dalam bentuk dana. Meskipun pada level formal pemerintah kolonial mengaku netral terhadap agama-agama, perbandingan dana yang diberikan kepada umat Islam dan kepada umat Kristen adalah sekitar 1:4 dan sama sekali tidak mencerminkan kebijakan ini.
Keberhasilan dan kegagalan yang dialami Al-Washliyah dalam penyiaran Islam di Toba merupakan ilustrasi menarik tentang persaingan penyiaran agama Islam dan Kristen, Dibanding dengan organisasi-organisasi lain yang juga mencoba berdakwah di Tanah Batak, Al-Washliyah “dipandang sebagai organisai yang mampu bersaing dengan kalangan misionaris Kristen di daerah tersebut, sehingga pada konggres  MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia) yang ke III memutuskan bahwa organisasi Al-washliyah sebagai pemimpin pengelolaan zending Islam pada waktu itu yang didukung sepenuhnya oleh organisasi-organisasi Islam lain.
Dalam pergaulan antar organisasi Islam Al-Washliyah sangatlah menjunjung tinggi kerukunan dan memiliki rasa saling peduli serta toleransi terhadap organisasi lain. Hal tersebut tergambar jelas dalam program-program dan prioritas-prioritasnya, serta dalam sikap yang diambilnya terhadap klompok lain. Meski secara formal mengikat diri dengan madzhab Syafi’i sebagai aliran peamahaman agama, ciri keterbukaan organisasi ini juga sangat menonjol, tidak ragu belajar dan bekerja sama dengan Muhammadiyah dan pada saat yang lain juga tidak pula canggung mengambil posisi bertentangan dengan tarekat Naqsabandiyah.[11]    

C.     Peranan Organisasi Al-Washliyah Dalam Bidang Pendidikan Islam
Al-Washliyah dalam bidang pengembangan pendidikan Islam sangatlah besar perananya pada  saat itu, terutama di daerah Sumatra Utara. [12]Hal ini dapat dilihat dari sumbangsih-sumbangsih pemikiran organisasi ini sembagai upaya memajukan dan mengembangkan pendidikan Islam dengan modernitas sistem namun juga masih tetap memegang teguh tradisonalitas, yaitu dengan memadukan antara pendidikan agama dan pendidikan umum secara komprehensif dengan tujuan agar  umat Islam nantinya mampu menghadapi perkembangan zaman.
Dalam upayanya memajukan pendidikan, Al-Washliyah kelihatannya bersikap terbuka dan mengambil dari mana saja yang dianggap lebih berpengalaman dan berhasil dalam pengelolaan pendidikan. Pada tahun 1934, Al-Washliyah mengirim tiga orang pengurusnya M. Arsyad Thalib Lubis, Udin Syamsnddin dan Nukman Sulaeman untuk mengadakan studi banding ke Sekolah Adabiyah, Noormal School dan Diniyah di Sumatena Barat dalam rangka reformasi pengelolaan pendidikan Al-Washilyah sendiri. Meskipun mendapat reaksi negatif dari sebagian anggota, kunjungan tersebut dianggap sangat penting dan hasil-hasilnya kemudian menjadi bahan diskusi dalam konfenensi guru-guru Madrasah Al-Washliyah sendiri masih pada tahun yang sama. Diantara langkah yang diambil setelah konferensi tersebut adalah: pendirian sekolah-sekolah umum berbasiskan agama, pengajaran bahasa Belanda, penataan kalender pengajaran, pembentukan lembaga Inspektur dan Penilik pendidikan Melihat kemajuan penerbitan buku-buku agama Islam di Sumatena Barat, seorang utusan dikirim ke Bukittinggi khusus untuk membeli buku-buku keperluan sekolah Al-Washliyah.





Disektor pendidikan umum dibuka pula HIS berbahasa Belanda di Porsea dan Medan dengan menambahkan pelajaran agama Islam pada kurikulumnya. Pada kongres III tahun 1941, A1-Washliyah dilaporkan mengelola 242 sekolah dengan jumlah siswa lebih dan 12.000 orang. Sekolah-sekolah ini terdiri atas berbagai jenis: Tajhiziyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Qismul ‘Ali (Aliyah), Muallimin, Muallimat, Volkschool, Vervolgschool, HIS, dan Schakelschool. Berdasarkan Peraturan atau Pedoman Umum Pelaksanaan Pendidikan majelis Pendidikan & Kebudayan Pengurus Besar Al-Washliyah Pasal 9 dijelaskan bahwa jenis madrasah/perguruan Al-Washliyah meliputi:
(1) Madrasah Ibtidaiyah/Tsanawiyah, Al-Qismul ‘Ali dan yang sederajat;
(2) Pesantren Ibtidaiyah/Tsanawiyah, Al-Qismul ‘Ali dan yang sederajat;
(3) Sekolah TK, SD, SMTP, SMTA; dan
(4) SMTP, SMTA yang diasramakan.[13]
Hal ini mengindikasikan bahwa sistem pendidikan yang dianut oleh Al-Washliyah bersifat variatif dan tidak banyak lembaga pendidikan yang bersifat keagamaan saja seperti madrasah, tetapi juga sekolah yang identik dengan lembaga pendidikan umum.
Adapun tingkatan madrasah-madrasah Al-Washliyah, lama belajar dan Persentase kurikulumnya adalah sebagai berikut:
1.      Tingkatan Tajhiziyah dengan lama belajar 2 tahun, diperuntukkan bagi anak-anak yang belum pandai membaca dan menulis Al-Qur’an. Materi pelajarannva adalah membaca menulis Al-Qur’an (tulisan Arab yang berbaris), serta ibadah sembahvang dan praktik ibadah lainnya.
2.      Tingkatan   ibtidaiyah yang merupakan lanjutan dari  tajhiziyah  dengan lama belajar 4 tahun bagian pagi dan 6 tahun bagian sore. Materi pelajarannya berkisar 70 % ilmu agama dan 30 %  ilmu umum. Di antara kitab-kitab yang digunakan antara lain Durusul Lughah al-Arabiyah (Mahmud Yunus), Al-jurumiyah, Matan Bina’, Hidayatul Mustafid, dan lain –lain
3.      Tingkatan Tsanawiyah yang murupakan lanjutan dari Ibtidaiyyah dengan lama belajar  3 tahun. Materi peajarannya berkisar 70% ilmu agama dan 30% ilmu umum. Di antara kitab-kitab yang dignnakan antara lain Tafiiru al-Jalaalain, Al-Luma’, Jawaahirul Balaaghah, ‘Ilmu al-Mantiq, dan lain- lain.
4.      Tingkatan Qismul ‘Ali yang merupakan lanjutan dari Tsanawiyah dengan lama belajar 3 tahun. Materi pelajarannya berkisar 70% ilmu agama dan 30% ilmu umum. Di antara kitab-kitab yang digunakan antara lain Tafiiru Al-Baidhawi, Al-Mahalli, Jam‘ul Jawaami’, Asybah wan Nadhaair, dan lain-lain.
5.      Tingkatan Takhassus yang merupakan lanjutan dan Qismul ‘Ali dengan lama belajar 2 tahun. Materi pelajarannya adalah khusus memperdalam ilmu agama dan keahlian tertentu.
6.      Di beberapa tempat didirikan Sekolah Guru Islam (SGI) untuk mempersiapkan guru-guru yang cakap mengajar pada tingkatan Ibtidaiyah dan sekolah-sekolah S.R. umum. Yang diterirna menjadi murid adalah tamatan ibtidaiyah. Materi pelajarannya herkisar 50% ilmu agama dan 50% ilmu umum.[14]

Selain mendirikan madrasah, AI-Washliyah juga mendirikan sekolah umum antara lain:
1.      Sekolah Rakyat (SR) Al-Washliyah dengan lama belajar 6 tahan. materi peajarannya 70% ilmu umum dan 30 % ilmu  agama. Pelajaran umumnya setingkat dengan SR Negeri.
2.      SMP Al-Washliyah dengan lama belajar 3 tahun . matri pelajaranya 70% ilmu umum dan 30% ilmu agama. Pelajaran umumnya setingkat dengan SMP Negeri.
3.      SMA Al-Washliyah dengan lama belajr 3 tahun. Materi pelajaranya 70 % ilmu umum dan 30 % ilmu agama. Pelajaran umunya setingkat  SMA Negeri.
Kemudian Al-Washiliyah telah mampu mendirikan perguruan Tinggi Agama Islam di Medan dan Jakarta. [15]
  


BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Lahirnya organisasi Al-Washliyah  sebenarya adalah bentuk pegerakan anti penjajah oleh kalangan umat Islam di daerah Sumatra utara, dimana saat itu bangsa Indonesia  mengalami keterpurukan disemua lini, baik pendidikan, ekonomi bahkan pertahanan keamanan akibat penindasan dari penjajahan Belanda. Organisasi ini muncul dengan wajah  organisasi pendidikan  Islam pembaharu yang bercorak moderat, artinya tetap memegang prinsip tradisional yang masih relevan dan mengambil sistem pembaharuan yang bersifat baik (tidak bertentangan dengan syara’)
Peranan Al-Washliyah dalam bidang sosial keagamaan adalah kesuksean syiar Al-Washliyah kepada masyarakat tentang ajaran Islam, bahkan pada saat itu Al-Washliyah mampu mengalahkan zending Kristen di tanah Toba pada masa-masa awal perkembangannya. Selain itu Al-Washliyah sangat menjaga kerukunan terhadap sesama pemeluk agama Islam bahkan terhadap pengikut klompok lain semisal kepada Muhammadiyah yang nota benenya berbeda pemahaman dan aliran mazdhab Al-Washliyah tetap menjalankan hubungan baik, terbukti dengan adanya ketidak canggungan pengikut Al-Washliyah belajar dan bekerjasanma dengan Muhammadiyah. Al-Washliyah pun tidak canggung dalam mengambil posisi yang bertentangan dengan tarekat Naqsyabandiyah.
Dalam bidang memajukan dan mengmbangkan pendidikan Islam besarnya Peranan Al-Washliyah tidak dapat  dipungkiri lagi. Hal ini dapat terlihat dari berdirinya madrasah atau sekolah Al-Washliyah dengan memadukan dua sistem: sistem tradisional dan modern menjadi sebuah sistem pendidikan yang dinamai dengan sistem pendidikan tradisional-modern, yaitu dengan memadukan antara pendidikan agama dan pendidikan umum  secara komprehensif. Serta yang paling menonjol adalah keikut sertaannya dalam dunia pers dan penerbitan menunjukkan bahwa organisasi ini maju  dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.



DAFTAR PUSTAKA



Daulay, Haidar Putra, Sejarah pertumbuhan Islam di Indonesia,Jakarta: Kencana 2006.

_________________, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia,Jakarta: Kencana 2007

Hasbullah, Sejarah pendidikan Islam di Indonesia: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan,Jakarta: LSIK 1996.

Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Islam Era Rasulullah Sampai Indonesia,Jakarta: Kencana, 2007.

Suhartini, Andewi ,Sejarah pendidikan Islam,Bandung: Pustaka Setia 2006.

Zuhri, Saifuddin K.A.,Sejarah Kebangkitan Islam dan Perlembanganya di Indonesia,Bandung: Al Ma’arif, 1988.


[1] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Islam Era Rasulullah Sampai Indonesia. (Jakarta: Kencana, 2007), 321.
[2] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam..... 323
[3] Haidar Putra Daulay, Sejarah pertumbuhan Pendidikan Islam di Indonesia.(Jakarta: Kencana 2006), 76
[4] Dr. Andewi Suhartini M.Ag. Sejarah pendidikan Islam. (Bandung: Pustaka Setia ), 156
[5] Hasbullah. Sejarah pendidikan Islam di Indonesia: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan. (Jakarta: LSIK 1996), 135.
[6] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam..... 326-327
[7] Ibid, 328.
[8] Saifuddin Zuhri, K.A.,Sejarah Kebangkitan Islam dan Perlembanganya di Indonesia, (Bandung: Al Ma’arif, 1988) ,124.
[9] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam..... 330
[10] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam..... 330
[11] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam..... 334
[12] Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia.(Jakarta: Kencana 2007), 98
[13] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam.....335
[14] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam..... 336-337
[15] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam..... 337

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Contoh Visi dan Misi Pribadi