PONDOK PESANTREN


PONDOK PESANTREN
Oleh: ALVIN MASKUR
(Mahasiswa S2 Pascasarjana STAIN Kediri dan Mantan Presiden Mahasiswa STAIN Kediri)
Pintu masuk Pondok Pesantren (sumber gambar ceramah motivasi)

a.      Pengertian Sistem Pendidikan Pondok Pesantren
Untuk memberi definisi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren, seyogyanya melihat makna perkataannya. Kata sistem[1] berasal dari bahasa Yunani “sustema” dan bahasa Latin “systema” yang memiliki arti kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran energi.[2] William A. Shorde dan Voich jr. memberikan pengertian bahwa sistem adalah seperangkat bagian (part) yang saling berhubungan, bekerja sedikit bebas, dalam mengejar keseluruhan tujuan dengan kesatuan lingkungan.[3] Lebih jauh lagi mengenai Sistem Pendidikan dapat dijumpai dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003, yaitu: “Keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional”[4]

Sementara itu, kata pondok berasal dari kata funduk yang berarti hotel atau asrama. Pesantren berasal dari kata santri yang dengan awalan ”pe” dan akhiran ”an” yang berarti tempat tinggal santri.[5] Maka Pondok Pesantren adalah asrama atau tempat tinggal para santri. Dalam buku yang berjudul Reorentsi Pendidikan Islam, Yusuf Emir Faisal menjelaskan bahwa
Pesantren atau Pondok Pesantren berasal dari akar kata cantrik yang merupakan kata benda konkret, kemudian berkembang menjadi kata abstrak yang diimbuhi awalan ”pe” dan akhiran ”an” pergeseran tertentu kata cantrik berubah menjadi santri dan an berubah menjadi kata en sehingga lahirlah kata Pesantren. Sedangkan Pondok merupakan penyesuaian ucapan kata funduk dalam bahasa arab yang berarti tempat menginap.[6]


Dari pengertian di atas dapat dipahami secara bahasa bahwa pondok pesantren merupakan tempat menginap bagi seorang santri. Sedangkan menurut Abd A’la, Pondok Pesantren bukanlah museum purba, tempat benda-benda unik dan kuno disimpan dan dilestarikan ia juga bukan penjara dimana setiap pikiran dan tindakan dikontrol habis-habisan. Akan tetapi Pondok Pesantren adalah ”bentuk ruang laboratoriuam dimana setiap pemikiran dikaji dan diuji ulang”.[7] M. Dawam Rahardjo berpandangan bahwa Pondok Pesantren adalah ”lembaga yang dapat mewujudkan proses perkembangan sistem pendidikan Nasional”[8].
Sementara A. Halim mengatakan bahwa
Pesantren ialah lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman, dipimpin oleh kiyai sebagai pemangku/pemiliki ponpes dan dibantu oleh ustadz/guru yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman kepada santri, melalui metode dan teknik yang khas. Pesantren juga bisa dikatakan sebagai lembaga pendidikan yang disajikan sebagai wadah untuk memperdalam agama dan sekaligus sebagai pusat penyebaran agama. Karena di pesantrenlah agama diajarkan dengan semangat dan di pesantren pulalah ajaran agama disebarkan. [9]


Setyorini berpendapat bahwa ”Pesantren merupakan suatu institusi yang sangat penting bagi umat islam yang memiliki potensi yang besar sebagai lembaga pendidikan dan pengkaderan bagi generasi muda islam sekaligus membina masyarakata di sekitarnya”.[10]
Dari berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Pondok Pesantren adalah suatu lembaga pendidikan yang independen, bercorak keislaman, memiliki ciri khas yang lain dari pada lembaga pendidikan lain, didampingi oleh ulama yang kharismatik, didalamnya diajarkan ilmu-ilmu agama kepada seluruh santrinya, dan mendapat pengakuan dari masyarakat luas.
b.      Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren
Pondok Pesantren, menurut Setyorini berdasarkan sejarah akar berdirinya di Indonesia ditemukan dua versi pendapat. Pertama pendapat yang menyebutkan bahwa Pondok Pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi tarekat. Pondok Pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi.[11] Selanjutnya Setyorini juga menguatkan bahwa
Pendapat tersebut berdasarkan fakta bahwa penyiaran islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dengan bentuk kegiatan tarekat. Hal ini ditandai dengan terbentuknya kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amala-amalan dzikir dan wirid tertentu. Pemimpin tarekat itu disebut kiyai, yang mewajibkan pengikutnya melaksanakan suluk selama 40 hari selama satu tahun dengan cara tinggal bersama sesama anggota tarekat dalam sebuah masjid untuk melakukan ibadah-ibadah dalam satu masjid. Untuk keperluan suluk ini para kyai menyediakan ruangan khusus untuk penginapan dan tempat memasak yang terdapat di kiri kanan masjid. Di samping mengajarkan amalan tarekat para pengikut itu juga diajarkan kitab agama dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan agama islam. Dalam perkembangan selanjutnya lembaga pengajian ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga Pondok Pesantren.[12]

Dari versi yang pertama dapat diketahui akar mula adanya pondok pesantren berawal dari ajaran tarekat yang ada dalam Islam sendiri. Sedangkan pendapat versi ke dua menurut Setyorini bahwa pondok pesantren berawal dari ajaran Hindu dan merupakan tempat bermukim para cantrik. Selengkapnya Setyorini mengatakan:
Pendapat versi ke dua sejarah awal mula pondok pesantren adalah Pondok Pesantren yang kita kenal ini pada mulanya merupakan pengambil alihan dari sistem Pondok Pesantren yang diadakan orang-orang Hindu di nusantara. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa jauh sebelum datangnya Islam ke Indonesia lembaga Pondok Pesantren sudah ada di negeri ini.[13]


c.       Fungsi dan Tujuan Pondok Pesantren
Sejak berdirinya pada abad yang sama dengan masuknya agama Islam di Indonesia, Pondok Pesantren telah berinteraksi dengan masyarakat luas. Pesantren telah memiliki pengalaman yang banyak dalam menghadapi berbagai corak masyarakat dalam rentang waktu itu. Sulthon Masyhudi mengutip pendapat Azumardi Azra, mengatakan bahwa ada tiga fungsi Pondok Pesantren yaitu: sebagai transmisi dan transfer ilmu-ilmu islam, pemeliharaan tradisi Islam dan, reproduksi ulama.[14]
Selain memiliki fungsi, Mujammil Qomar mengungkapkan bahwa Pondok Pesantren juga memiliki tujuan. Adapun tujuan umum pesantren adalah membina warga agar berkepribadian muslim sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam dan menanamkan rasa keagamaan tersebut pada semua segi kehidupannya, serta menjadikannya orang yang berguna bagi agama, masyarakat dan negara.[15]
Adapun tujuan khusus pesantren adalah sebagai berikut:
1. Mendidik santri untuk manjadi seorang muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berakhla mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan dan sehat lahir batin sebagai warganegara yang berpancasila.
2. Mendidik santri untuk menjadi ulama dan muballligh yang berjiwa ikhlas, tabah, tangguh, atau profesi lain yang mengamalkan ajaran Islam secara utuh.
3. Mendidik siswa/santri yang mampu mengembangkan dirinya dan bertanggung jawab kepada pembangunan bangsa dan negara.
4. Mendidik tenaga penyuluh pembangunan mikro (keluarga) dan regional (pedesaan/masyarakat sekitarnya)
5. Mendidik santri untuk menjadi orang yang cakap dalam segala pembangunan khususnya pembagunan spritual.
6 Mendidik santri untuk mambantu meningkatkan masyarakat sekitar guna membangun masyarakat bangsa.[16]

Dari fungsi dan tujuan pesantren di atas dapat di katakan bahwa pesantren sangat memiliki peran yang vital dalam pembentukan generasi bangsa selanjutnya. Pesantren juga dapat dikatakan telah mengambil peran yang sangat signifikan dalam menentukan arah bangsa ke depan.



[1] Sistem dalam Kamus Ilmiah Populer diartikan sebagai cara, metode atau susunan cara yang teratur (untuk melakukan sesuatu). Pius Partanto dan M Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola, 2001), 712.
[2] Ali Assegaf: “Pengertian sistem”, http://www.google.co.id/search?q=”Pengertian+sistem, diakses pada 15 Mei 2011
[3] Sardiman, Sistem Hukum Indonesia Terpadu (Jakarta: Citra Aditya Bakti, 2003), 19.
[4] Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003. Bandung: Fokus Media, 2009, 2.
[5] Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada),  40.
[6] Jusuf Amir Feisal, Reorentasi Pendidikan Islam (Jakarta: GIP, 1995), 194
[7] Abd A’la, Pembaruan Pesantren (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006),  9
[8] Sukron Abdullah, Pesantren, Http//Rororn.Word Press. Com/2007/10/28. 28 September 2007, diakses pada 13 Maret 2011.
[9] A. Halim, dkk. Manajemen Pesantren (Yogyakrta: Pustaka Pesantren. 2005). 247.
[10] Setyorini Pradiyati.dkk, Pola Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pondok Pesantren (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, 2003), 3.
[11] Ibid.,8.
[12] Ibid., 9.
[13] Ibid.,10-12.
[14] Sulthon Masyhudi, dkk, Manajemen Pondok Pesantren (Jakarta: Diva Pustaka, 2003), 90.
[15] Qamar, Pesantren Dari, 6-7.
[16] Ibid.

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)