ṢAḤIḤ MUSLIM Biografi Imam Muslim, Metode dan Sistematika Serta Pandangan Dan Kritik Terhadap Ṣaḥiḥ Muslim




ṢAḤIḤ MUSLIM
Biografi Imam Muslim, Metode dan Sistematika
 Serta Pandangan Dan Kritik Terhadap Ṣaḥiḥ Muslim
Oleh: Mualimul Huda

(foto Mualimul Huda, sumber foto: Facebook)
(Mahasiswa Program Pascasarjana S2 STAIN Kediri dan Guru MTs. AL Muttaqin Kec. Kayen Kidul Kab. Kediri)



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Hadith, oleh umat Islam diyakini sebagai sumber pokok ajaran Islam sesudah Al-Qur’an. Dalam tataran aplikasinya, hadis dapat dijadikan ḥujjah keagamaan dalam kehidupan dan menempati posisi yang sangat penting dalam kajian Keislaman. Secara struktural hadith merupakan sumber ajaran Islam setelah Al-Qur’an yang bersifat global. Artinya, jika kita tidak menemukan penjelasan tentang berbagai problematika kehidupan di dalam Al-Qur’an, maka kita harus dan wajib merujuk pada Ḥadith. Oleh karena itu, Ḥadith merupakan hal terpenting dan memiliki kewenangan dalam menetapkan suatu hukum yang tidak termaktub dalam Al-Qur’an.

Ditinjau dari segi kualitasnya, Ḥadith terbagi menjadi dua yaitu, Ḥadith Maqbul (Ḥadith yang dapat diterima sebagai dalil) dan Ḥadith Mardud (ḥadith yang tertolak sebagai dalil). Ḥadith Maqbul terbagi menjadi dua yaitu Ḥadith Shaḥiḥ dan Ḥasan, sedangkan yang termasuk dalam Ḥadith Mardud salah satunya adalah Ḥadith ẓa’if. Semuanya memiliki ciri dan kriteria yang berbeda.



Kualitas keshaḥiḥan suatu Ḥadith merupakan hal yang sangat penting, karena hal tersebut sangat menentukan apakah  Ḥadith tersebut dapat dijadikan Ḥujjah yang kuat atau tidak. Bersama Shaḥiḥ Bukhori, Shaḥiḥ  Muslim merupakan kitab hadith paling Shaḥiḥ dari kitab hadits yang lain. Kitab Ṣaḥiḥ muslim banyak menjadi rujukan para ulama’ dalam mencari dasar hukum yang berkenaan. Oleh kerena itu penulis akan memaparkan tentang biografi imam muslim, metode dan sistematika pengumpulan hadith serta pandang dan kritik terhadap Ṣaḥiḥ muslim.

B.     Rumusan Masalah
1.       Bagaimana biogarafi Imam Muslim?
2.      Bagaimana metode dan sistematika dalam Ṣaḥiḥ muslim?
3.      Bagaimana pandangan dan kritik para ulama’ Ḥadith tentang Ṣaḥiḥ muslim?

BAB II
PEMBAHASAN

1.      Biografi Imam Muslim
Nama lengkap beliau adalah Abu Al-Ḥusain Muslim ibn Al-Hajjaj Al- Qushairi Al-Nishaburi. Ia dinisbatkan kepada nisyabur karena dilahirkan dikota nisyabur iran pada tahun 204 H/ 820 M, ia juga dinisbatkan pada nenek moyangnya Qushairi ibn kan'an ibn rabi'ah ibn sha'sha'ah suatu keluarga bangsawan besar di naisabur.[1] Imam Muslim tumbuh sebagai remaja yang giat belajar agama. Bahkan saat usianya masih sangat muda beliau sudah menekuni ilmu ḥadith. Dalam kitab Siyar ‘Alamin Nubala pakar ḥadith dan sejarah, Adz Dzahabi, menuturkan bahwa Imam Muslim mulai belajar ḥadith sejak tahun 218 H. Berarti usia beliau ketika itu adalah 12 tahun. Beliau melanglang buana ke beberapa Negara dalam rangka menuntut ilmu ḥadith dari mulai Irak, kemudian ke Hijaz, Syam, Mesir dan negara lainnya.[2] Imam muslim wafat pada hari sabtu ahir bulan rajãb 261 H dalam usia 57 tahun.[3] Ia meninggal diduga karena terlalu banyak berfikir, dan di makamkan di Nashar Abad( nishapur).[4]
Dalam Tahzibut Tahdzib diceritakan bahwa Imam Muslim paling banyak mendapatkan ilmu tentang Ḥadith dari 10 orang guru yaitu:
1.    Abu Bakar bin Abi Syaibah, beliau belajar 1540 ḥadith.
2.    Abu Khaitsamah Zuhair bin Harab, beliau belajar 1281 ḥadith.
3.    Muhammad Ibnul Mutsanna yang dijuluki Az Zaman, beliau belajar 772 ḥadith.
4.    Qutaibah bin Sa’id, beliau belajar 668 ḥadith.
5.    Muhammad bin Abdillah bin Numair, beliau belajar 573 ḥadith.
6.    Abu Kuraib Muhammad Ibnul ‘Ila, beliau belajar 556 ḥadith.
7.    Muhammad bin Basyar Al Muqallab yang dijuluki Bundaar, beliau belajar 460 ḥadith.
8.    Muhammad bin Raafi’ An Naisaburi, beliau belajar 362 ḥadith.
9.    Muhammad bin Hatim Al Muqallab yang dijuluki As Samin, beliau belajar 300 ḥadith.
10.     ‘Ali bin Hajar As Sa’di, beliau belajar 188 ḥadith. [5]
Sembilan dari sepuluh nama guru Imam Muslim tersebut, juga merupakan guru Imam Al- Bukhari dalam mengambil ḥadith, karena Muhammad bin Hatim tidak termasuk. Perlu diketahui, Imam Muslim pun sempat berguru ilmu ḥadith kepada Imam Al Bukhari. Ibnu Shalah dalam kitab Ulũmul Ḥadith berkata: “Imam Muslim memang belajar pada Imam Bukhari dan banyak mendapatkan faedah ilmu darinya. Namun banyak guru dari Imam Muslim yang juga merupakan guru dari Imam Bukhari”. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab Imam Muslim tidak meriwayatkan ḥadith dari Imam Al - Bukhari.
Imam muslim mengadakan perlawatan ke berbagai negeri untuk mencari ḥadith. Ia pergi ke hijaz irak, syam mesir, dan negara-negara lainya untuk mencari ḥadith dan memperdalam ilmunya. Dalam lawatanya imam muslim banyak berguru pada yahya ibn yahya dan ishaq ibn rawahaih. Di irak ia belajar ḥadith kepada ahmad ibn hambal dan abdullaoh ibn maslamah. Di hijaz ia belajar kepada sa'id ibn mansur dan abu mas'ud. Di mesiria berguru kepada awaribn sawad dan harmalah ibn yahya dan juga kepada ulama' ḥadith lainya.[6]
Selain disebutkan diatas imam muslim masih bayak memiliki guru diantaranya usman dan abu bakar keduanya putra abu shaibah. Shaibah ibn farwakh, abu kamil al juri, zuhair ibn harb, amr al naqid, muhammad ibn musanna, muhammad ibn yassar harun ibn sa'id al- ijli,  dan qutaibah ibn sa'id. Disamping itu banyak ulama' hadith masa itu berguru pada iamam muslim dan menerima haith darinya,  diantaranya adalah abu isa al- tirmidhi, yahya ibn sa'id muhammad ibn sufyan, muhammad ibn ishaq ibn khuzaimah, abu awanah ya'qub. Imam muslim bayak menghasilakan karya kitab hadithyang terkenal dan bermanfaat. Serta masih tetap beredar hingga kini. Diantaranya Al-Jãmi’ Al- Ṣaḥiḥ yang terkenal dengan Ṣaḥiḥ muslim. Para ulama' hadith menyebut kitab ini kitab yang belum pernah dijumpai sebelum dan sesudahnya dalam tertib susunanya, tidak bertukar-tukar, tidak berlebih dan tidak berkurang sanadnya. [7]
Imam An Nawawi menceritakan dalam Tahdzibul Asma Wal Lughat bahwa Imam Muslim memiliki banyak karya tulis, diantaranya:
1.    Kitab Ṣaḥiḥ muslim (sudah dicetak)
2.    Kitab Al Musnad Al Kabir ‘Ala Asma Ar Rijal
3.    Kitab Jami’ Al Kabir ‘Ala Al Abwab
4.    Kitab Al ‘Ilal
5.    Kitab Auhamul Muhadditsin
6.    Kitab At Tamyiz (sudah dicetak)
7.    Kitab Man Laisa Lahu Illa Rawin Wahidin
8.    Kitab Thabaqat At Tabi’in (sudah dicetak)
9.    Kitab Al Muhadramain
Kemudian Adz Dzahabi pun menambahkan dalam Tahdzibut Tahdzib bahwa Imam Muslim juga memiliki karya tulis lain yaitu:
1.    Kitab Al Asma Wal Kuna (sudah dicetak)
2.    Kitab Al Afrad
3.    Kitab Al Aqran
4.    Kitab Sualaat Ahmad bin Hambal
5.    Kitab Ḥadith ‘Amr bin Syu’aib
6.    Kitab Al Intifa’ bi Uhubis Siba’
7.    Kitab Masyaikh Malik
8.    Kitab Masyaikh Ats Tsauri
9.    Kitab Masyaikh Syu’bah
10.     Kitab Aulad Ash Shahabah
11.     Kitab Afrad Asy Syamiyyin [8]


2.      Metode Dan Sistematika Ṣaḥiḥ muslim
Penulis kitab Ṣaḥiḥ muslim adalah Abu Al Husain Muslim Ibn Hajaj Al Qusyairi. Kitab ini disusun denagn sistematia yang baik, sehingga isi ḥadith - ḥadith nya tidak bertukar tukar dan tidak berlebihan dan berkurang sanadnya. Secara global kitab ini tidak ada bandinganya didalam ketelitian menggunakan isnad. Ṣaḥiḥ muslim telah disarah oleh lama'-ulama' ḥadith sebanyak 15 buah, seperti al-Mu'lim bil fawaidi muslim oleh Mazary, Al Ikmal leh al Qadi 'iyad, Minhaj Al Muhaddithin Oleh Al-Nawawi, Ikmal Al -Iklmal Oleh Al-Zawawi, dan  Ikmal Al -Iklmal Li Mu'lim Oleh Abu Abdullah Muhammad Abi Al -Maliki. Diantara yang mengihtisarkanya adalah al-qurtubi yang disyarahkan kembali dalam kitabnya al mufhim, zawaidnya telah disarah oleh ibn al-mulaqqin.[9]
Berdasarkan  jalan yang ditempuh imam  muslim dalam mentakhrijkan ḥadith nya, para ulama'  memandang bahwa muslim meriwayatkan ḥadith yang sempurna,  yang memiliki syarat-syarat keṣaḥiḥan dan memiliki sanad  muttasil dengan syarat adil dan kuat hafalan dari awal  hingga  ahir tanpa shad dan ‘ilat. Hal itulah yang menjadikan ḥadith dalam kumpulan Ṣaḥiḥ muslim memilki keunggulan dari kitab hadith yang lain. Disamping itu muslim sangat teliti, sehingga ia bedakan antara kata ḥaddathanã dengan kata akhbarona. Yang pertama mengandung pengertian bahwa hadith tersebut langsung didengar melalui ucapan guru, sedangkan yang kedua hadith itu dabacakan atas nama guru. Hadith hadith tersebut ditulis dengan matan yang sempurna tanpa pengulangan.[10]
Imam muslim telah menjadikan prinsip ‘an’anah (transfer secara langsung antara periwayat hadith dengan nara sumber hadith) sebagai azaz dalam pola seleksi mutu transmisi hadith. Karena asas itulah imam muslim selalu memelihara bukti kepastian bahwa antar pendukung riwayat itu benar-benar hidup semasa ( mu’asarah) yang mungkin pila dapat dibuktikan segi kecukupan waktu bagi proses berlangsungnya kintak pribadi( subutu al-liqa’i) antar mereka.[11]
Syarat kepribadian rijalul ḥadith mengutamakan mereka yang hafidz dan mutqin(profesionala dalam ilmiah hadith),adil lagi pula ḍabit( terpercaya hafalanya). Jujur serta terjamin stabil cara berfikirnya. Koleksi sahih muslim menampung pula ḥadith - ḥadith eks perawi yang tingkat hafalan dan keahlianya ḥadith nya kaliber menengah. Perawi setingkat mereka lazim disejajarkan dengan peringkat ( ṭobaqah) kedua. Yang jelas imam muslim sama sekali tidak memberi tempat pada perawi ḥadith yang disepakati kelemahan pribadinya atau perawi ḥadith yang disepakati kelemahan pribadinya atau perawi ḥadith yang sekalian ulama’ muhaddisthin menolak periwayatanya. Koleksi ḥadith pada Ṣahih Muslim mengkhususkan pada ḥadith - ḥadith musnad, muttasil, nyata bersandar(marfu’) kepada nabi/ rasulullah SAW, sejalan dengan spesifikasi tersebut maka sulit dijumpai Qoul ( ucapan sahabat) apalagi qoul tabi’in.[12]  
Tata letak dalam menyajikan ḥadith senantiasa diawali dengan ḥadith yang berkualitas tersahih disusul kemudian dengan hadis sahih dan urutan terahir untuk ḥadith yang diunggulkan sebagai sahih. Ḥadith- ḥadith dengan aliokasi terahir itulah yang menurut analisa Alqadi’iyadh setara dengan ḥadith ḥasan seperti pola koleksi yang dilakukan oleh ibnu huzaimah dan ibnu hibban.[13]
Pengantar sanad maupun redaksi matan sepenuh hadis-hadis koleksi sahih muslim menjunjung tinggi tehnik riwayah billafdzi, yakni cara pengungkapan seluruh batang tubuh hadis dengan mempertahankan keaslian redaksinya. Pemuatan hadis dalam sahih muslim selalu diwarnai oleh penyajian inormasi matan selengakapnya tntas dan utuh.  Pola penyajian semacam itu telah menjadi redaksi suatu hadis dalam sahih muslim demikian panjang, mirip laporan pandangan mata yang sempurna.[14]
Periode penapisan dan penyusunan sahih muslim berlangsung selama masa hidup guru-guru imam muslim dan seluruhnya dikerjakan dirumah kediaman tetap beliau. Proses tersebut amat menunjang segi kerapian tex dan menjadi kecil kemungkinan salah tulis dalam mencantumkan nama pera pendukung/rijal hadisnya. Pada tahap ahir proses pengujian mutu validitas hadis imam muslim memanfaatkan konsultasi rutin dengan ulama’ hadis di naisabur bernama abu zu’rah arrazi  (w.264H ). Setioap kali abu zurah arrazi mengisyaratkan indikasi illat segera saja imam muslim membatalkan pemuatan hadis berilat itu kedalam koleksi sahihnya. Apabila abu zur’ah tidak mencurugainya maka ḥadith tersebut akan dimuatnya.[15]

3.      Pandangan dan Kritik Terhadap Sahih Muslim
Apabila Imam Bukhari sebagai ahli ḥadith nomor satu, ahli tentang ilat--ilat (cacat) ḥadith dan seluk beluk ḥadith, dan daya kritiknya sangat tajam, maka Muslim adalah orang kedua setelah Bukhari, baik dalam ilmu, keistimewaan dan kedudukannya. Hal ini tidak mengherankan, karena Muslim adalah salah satu dari muridnya. Al-Khatib al-Bagdadi berkata: "Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, mengembangkan ilmunya dan mengikuti jalannya." Pernyataan ini bukanlah menunjukkan bahwa Muslim hanya seorang pengikut saja. Sebab ia mempunyai ciri khas tersendiri dalam menyusun kitab, serta memperkenalkan metode baru yang belum ada sebelumnya.[16]


                 Imam Muslim mendapat pujian dari ulama hadis dan ulama lainnya. Al--Khatib al-Bagdadi meriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, katanya "Saya me-lihat Abu Zur'ah dan Abu Hatim selalu mengutamakan Muslim bin al-Hajjaj dari pada guru- guru ḥadith lainnya. Ishak bin Mansur al-Kausaj berkata kepada Muslim: "Kami tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah menetapkan engkau bagi kaum muslimin." Ishak bin Rahawaih pernah mengatakan: "Adakah orang lain seperti Muslim?". Ibnu Abi Hatim mengatakan: "Muslim adalah penghafal ḥadith. Saya menulis ḥadith dari dia di Ray." Abu Quraisy berkata: "Di dunia ini, orang yang benar- benar ahli ḥadith hanya empat orang. Di antaranya adalah Muslim." Mak-sudnya, ahli ḥadith terkemuka di masa Abu Quraisy. Sebab ahli ḥadith itu cukup banyak jumlahnya.[17]
Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi, menyaring ḥadith-ḥadith yang diriwayatkan, membandingkan riwayat riwayat itu satu sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafaz-lafaz, dan selalu memberikan isyarat akan adanya perbedaan antara lafaz-lafaz itu. Dengan usaha yang sedeemikian rupa, maka lahirlah kitab Sahihnya. Bukti kongkrit mengenai keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan, di mana Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarnya. [18]
Diceritakan, bahwa ia pernah berkata: "Aku susun kitab Sahih ini yang disaring dari 300.000 ḥadith." Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, yang berkata : "Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab Sahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah ḥadith. Dalam pada itu, Ibn Salah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz, bahwa jumlah ḥadith Sahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah ḥadith. Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan, yaitu bahwa perhitungan pertama memasukkan ḥadith-ḥadith yang berulang-ulang penyebutannya, sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung ḥadith-ḥadith yang tidak disebutkan berulang. Imam Muslim berkata di dalam Sahihnya: "Tidak setiap ḥadith yang sahih menurutku, aku cantumkan di sini, yakni dalam Sahihnya. Aku hanya mencantumkan ḥadith-ḥadith yang telah disepakati oleh para ulama ḥadith."
Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya: "Apabila penduduk bumi ini menulis ḥadith selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini."[19] Ketelitian dan kehati-hatian Muslim terhadap ḥadith yang diriwayatkan dalam Sahihnya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut : "Tidaklah aku mencantumkan sesuatu ḥadith dalam kitabku ini, melainkan dengan alasan; juga tiada aku menggugurkan sesuatu ḥadith daripadanya melainkan dengan alasan pula."
Imam Muslim di dalam penulisan Sahihnya tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun judul-judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebagian naskah Sahih Muslim yang sudah dicetak, sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang kemudian. Di antara pengulas yang paling baik membuatkan judul-judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya.
Imam Muslim memiliki jumlah karya yang cukup penting dan banyak. Namun yang paling utama adalah karyanya Ṣaḥiḥ Muslim. Dibanding kitab-kitab ḥadith sahih lainnya, kitab Ṣaḥiḥ Muslim memiliki karakteristik tersendiri, dimana Imam Muslim banyak memberikan perhatian pada ekstraksi yang resmi. Beliau bahkan tidak mencantumkan judul-judul setiap akhir dari satu pokok bahasan. Disamping itu, perhatiannya lebih diarahkan pada mutaba’at dan syawahid.
Walaupun dia memiliki nilai beda dalam metode penyusunan kitab ḥadith, Imam Muslim sekali-kali tidak bermaksud mengungkap fiqih ḥadith, namun mengemukakan ilmu-ilmu yang bersanad. Karena beliau meriwayatkan setiap ḥadith di tempat yang paling layak dengan menghimpun jalur-jalur sanadnya di tempat tersebut. Sementara al-Bukhari memotong-motong suatu ḥadith di beberapa tempat dan pada setiap tempat beliau sebutkan lagi sanadnya. Sebagai murid yang shalih, beliau sangat menghormati gurunya itu, sehingga beliau menghindari orang-orang yang berselisih pendapat dengan al-Bukhari.
Kitab Ṣ̣haḥiḥ Muslim memang dinilai kalangan muḥadithun berada setingkat di bawah al-Bukhari. Namun ada sejumlah ulama yang menilai bahwa kitab Imam Muslim lebih unggul ketimbang kitabnya al-Bukhari. Sebenarnya kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu Zur’ah, salah seorang kritikus ḥadith terbesar, yang biasanya memberikan sejumlah catatan mengenai cacatnya ḥadith. Lantas, Imam Muslim kemudian mengoreksi cacat tersebut dengan membuangnya tanpa argumentasi. Karena Imam Muslim tidak pernah mau membukukan ḥadith-ḥadith yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, dan hanya meriwayatkan ḥadith yang diterima oleh kalangan ulama. Sehingga ḥadith-ḥadith Muslim terasa sangat populis. [20]
Bila dikaji ulang dengan cermat pengakuan mayoritas muḥadithin cenderung obyektif dan benar, terbukuti oleh data penguat kelebihan Al-Jami’ Al-Bukhori sebagai berikut:
1.      Imam Bukhori membatasi ḥadith- ḥadith, koleksinya dalam Al-Jami’ Al- Ṣ̣haḥiḥ khususu yang tersruktur personalia sanasnya terdiri atas jajaran perawi pada Ṭabaqah (peringkat) pertama. Imam muslim tampak demikian longgar dalam nominasi seleksi perawi bahkan lebih banyak dipadati oleh jajaran  perawi Ṭabaqah  kedua. Apabila Al Bukhori mensyaratkan unsur Subut Alliqa’i( kepastian cukup lama dalam keilmuan ḥadith- ) disamping unsur mu’asarah / semasa juga berupa unsur penunjang berupa jarak domisili perawi dengan syaikh ḥadith nara sumbernya, maka imam muslim cukup mengandalakan segi mu’asarah saja.
2.        Rijãlul Ḥadith pendukung ḥadith- ḥadith koleksi Al Jami’ Al- Bukhori yang disorot oleh ahli  jarh wa ta’dil  relatif jumlahnya kecil, yakni sekitar 80 orang, dan jumlah ḥadith-mereka sangat minim dalam koleksi  Al-Bukhori. Adapun Rijãlul Ḥadith yang ḥadith -nya termuat dalam Ṣ̣haḥiḥ Muslim mencapai 160 orang yang disoroti kepribadianya oleh ahli jarh wa ta’dil, lagi pula riwayat mereka relatif banyak dalam  Ṣ̣haḥiḥ Muslim
3.      Tuduhan adanya Ḥadith shadz dan berilat dalam Al-Jami’ Al-Bukhori melibatkan 78 Ḥadit, sedangkan hadis dengan tuduhan serupa dalam Ṣ̣haḥiḥ Muslim mencapai 130-132 Ḥadith, termasuk didalamnya informasi israilliyat dari ka’bu al-akhbar yang sebenarnya mauquf pada abu hurairah. Wajar bila Qadhi Iyadh mengasumsikan banyaknya Ḥadith  hasan dalam koleksi sahih muslim setara dengan koleksi sahih ibnu khuzaimah dan ibn hibban.
4.      Imam Al-Bukhori menonjol dalam menguasai Fiqih Al Hadis, terbukti dengan ketajaman persepsi hukumnya yang terbaca pada rumusan sub-sub judul setiap bab. Imam muslim ditengarai terjenak pada kesalahan seperti pemuatan hadis tenatang salat gerhana matahari dwngan 3 kali ruku’ untuk setiap rakaatnya dan riwayat perkawinan nabi SAW, dengan ummu habibah binti sufyan. untuk kasus terahir ini imam muslim kurang jeli terhadap sejarah .
5.      Secara umum kadar  ilmiah imam  Al-Bukhori tentang ilat hadis dan ilmu penunjang spesialisasi hadis jauh lebih unggul. Imam muslim lebih dikenal sebagai  murid  imam bukhori dan diketahui banyak mengambil oper teori hadis dari sang guru.
Apabila kriteria utama dalam menguji kesahihan Ḥadith difokouskan pada 3 komponen, yakni sifat thiqoh  perawi, persambungan  sanad, dan jaminan sejahtera dari unsur  illatul hadis, maka hadis-hadis yang termuat dalam koleksi Al-Jami’ Al-Bukhori jelas lebih unggul pada 3 komponen tersebut.[21]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Nama lengkap Imam Muslim adalah Abu al-husain Muslim ibn al-Hajjaj al- Qusyairi Al-Nisyaburi. Ia dinisbatkan kepada nidyabur karena dilahirkan dikota nisyabur iran pada tahun 204 H/ 820 M, ia juga dinisbatkan pada nenek moyangnya qushairi ibn kan'an ibn rabi'ah ibn sha'sha'ah suatu keluarga bangsawan besar di naisabur.[22] Imam Muslim tumbuh sebagai remaja yang giat belajar agama. Bahkan saat usianya masih sangat muda beliau sudah menekuni ilmu ḥadith. Dalam kitab Siyar ‘Alamin Nubala pakar ḥadith dan sejarah, Adz Dzahabi, menuturkan bahwa Imam Muslim mulai belajar ḥadith sejak tahun 218 H. Berarti usia beliau ketika itu adalah 12 tahun. Beliau melanglang buana ke beberapa Negara dalam rangka menuntut ilmu ḥadith dari mulai Irak, kemudian ke Hijaz, Syam, Mesir dan negara lainnya. Imam muslim wafat pada hari sabtu ahir bulan rajab 261 H dalam usia 57 tahun.

Berdasarkan jalan yang ditempuh imam muslim dalam mentakhrijkan hadith-hadith nya, para ulama' memandang bahwa muslim meriwayatkan hadith yang sempurna yang memiliki syarat-syarat kesahihan memiliki sanad muttasil dengan syarat adil dan kuat hafalan dari awal hingga  ahir tanpa shadh dan ilat. Disamping itu muslim sangat teliti, sehingga ia bedakan antara kata haddasana dengan kata akhbarona. Yang pertama mengandung pengertian bahwa hadith tersebut langsung didengar melalui ucapan guru, sedangkan yang kedua hadith itu dabacakan atas nama guru. Hadith hadith tersebut ditulis dengan matan yang sempurna tanpa pengulangan.



Apabila Imam Bukhari sebagai ahli ḥadith nomor satu, ahli tentang ilat--ilat (cacat) ḥadith dan seluk beluk ḥadith, dan daya kritiknya sangat tajam, maka Muslim adalah orang kedua setelah Bukhari, baik dalam ilmu, keistimewaan dan kedudukannya. Hal ini tidak mengherankan, karena Muslim adalah salah satu dari muridnya. Al-Khatib al-Bagdadi berkata: "Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, mengembangkan ilmunya dan mengikuti jalannya." Pernyataan ini bukanlah menunjukkan bahwa Muslim hanya seorang pengikut saja. Sebab ia mempunyai ciri khas tersendiri dalam menyusun kitab, serta memperkenalkan metode baru yang belum ada sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainul, Studi Kitab Hadith. Surabaya : Al-Muna,2010

Zuhri , Muhammad, kelengkapan Ḥadist Qudsi . Semarang : Toha Putra

Abbas,Hasjim Kodifikasi Hadis Dalam Kitab Mu’tabar. Surabaya: Bagian Penerbitan Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2003.

Bahresi, Husein.Hinpunan Hadis Sohih Muslim .Surabaya: Al-Iklas, 1987.

Subhi Ash-Shalih. Membahas Ilmu-Ilmu Hadis. Jakatrta: Pustaka Firdaus,2002.




http://syafii.wordpress.com/2007/04/02/riwayat-hidup-imam-muslim/(si akses 30 oktober 2011)


[1] Prof. Zainul Arifin MA, Studi Kitab Ḥadis (Surabaya : Almuna,2010).,106.
[3] Muhammad zuhri, Kelengkapan Ḥadith Qudsi (Semarang : Toha Putra, tt).,13.
[4] Husein Bahresi.Hinpunan Hadis Sohih Muslim (surabaya: Al-Iklas, 1987).,9
[6] Prof. Zainul Arifin MA, Studi Kitab Hadith(Surabaya : Almuna,2010).,107.
[7] Ibid.,108
[9] Prof. Zainul Arifin MA, Studi Kitab Hadith.,108
[10] Prof. Zainul Arifin MA, Studi Kitab Hadith.,109
[11] Hasjim abbas, Kodifikasi Hadis Dalam Kitab Mu’tabar( Surabaya: Bagian Penerbitan Fakultas Ushuludin IAIN sunan ampel surabaya, 2003).,55
[12] ibid
[13] ibid
[14] Hasjim Abbas, Kodifikasi Hadis Dalam Kitab Mu’tabar( Surabaya: Bagian Penerbitan Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2003).,56
[15] ibid
[18] http://syafii.wordpress.com/2007/04/02/riwayat-hidup-imam-muslim/(si akses 30 oktober 2011)

[19] Subhi Ash-Shalih. Membahas Ilmu-Ilmu Hadis. (Jakatrta: Pustaka Firdaus,2002).,367
[21] Hasjim Abbas, Kodifikasi Hadis Dalam Kitab Mu’tabar( Surabaya: Bagian Penerbitan Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2003).,57

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)