Film Kera Sakti Diambil dari Kisah Nyata pada 629 M, Sezaman dengan Rasulullah



Film kera sakti yang pernah populer di Indonesia sejatinya diambil dari novel fiktif (rekaan) yang diciptakan oleh Wu Cheng-en (1500-1582 M). Ia merupakan sastrawan pencipta novel dan puisi yang legendaris pada abad 16 di zaman dinasti Ming (1368-1644 M). Judul asli cerita yang dibuat pada zaman renaissance itu berjudul asli Hsi Yu Chi. Zaman di mana terjadi peralihan menuju zaman modern.



Hsi Yu Schi punya arti kurang lebih "catatan perjalanan ke barat". Itu diterbitkan pertama kali secara massal setelah 10 tahun kematian Wu Cheng'en. Di mana cerita rekaan tersebut terdiri dari 100 bab dan terdapat tiga bagian utama. Novel tersebut telah beberapa kali dikaji dan diteliti oleh ilmuwan di perguruan tinggi negara barat. Salah satunya Universitas Cambridge.



Sebagaimana kebanyakan novel fiktif populer lainnya, Hsi Yu Chi dibuat tidak bisa 100 persen lepas dari mencuplik kisah nyata. Entah itu mencuplik sebagian plot saja atau bahkan hingga mencuplik alur cerita secara menyeluruh. Lalu selanjutnya sang penulis akan mengadakan dramatisasi hingga menambahi unsur khayalan yang berlebihan. 


Saking banyaknya penambahan dan pengurangan pada cerita asli, tak jarang suatu novel fiktif justru lebih terkenal daripada cerita aslinya. Sebab memang masyarakat kebanyakan lebih suka membaca atau menonton sesuatu yang berunsur fiktif dan khayal. Hal tersebut karena dengan membacanya tidak menyebabkan bosan. Cerita jauh lebih menarik dan lebih menimbulkan efek dramatis. 


Terkait apa yang melatarbelakangi dan apa yang mempengaruhi Wu Cheng-en dalam menulis novel "kera sakti" ada beberapa versi jawaban. Sebagian ada yang mengaitkan novel buatannya meniru dari sebuah kisah nyata tepat 1000 tahun sebelumnya. Yakni, pada masa awal mula berdirinya kekaisaran dinasti Tang di China. 


Ada pula yang menyatakan bahwa cerita kera sakti juga terilhami oleh kisah hanoman di cerita ramayana. Lalu setelah itu meruntut sampai abad 20 M muncullah Son Go Ku dalam serial anime Dragon Ball. Setelah itu disusul oleh tokoh Monkey D Luff pada serial anime One Piece. Entah rangkaian semua itu ada kaitan atau hanya sebuah kebetulan, perlu diadakan penelitian lebih dalam.


Tom Sam Cong dalam Kehidupan Nyata

Tom Sam Cong atau dalam logat lain disebut Tang San Zang (602/603-664 M) hidup di zaman Dinasti Tang (618-907 M). Ia diutus oleh kaisar Taizong (598-649 M) kaisar kedua dinasti Tang menjadi duta (delegator) untuk mengambil kitab suci ke barat. Dalam menjalankan misi itu dibutuhkan waktu selama 17 tahun (629-646 M) hingga kembali lagi ke tempat semula.


Tom Sam Cong diutus kaisar Taizong tepat tiga tahun setelah kaisar berkuasa. Perlu diketahui kaisar Taizong berkuasa selama 23 tahun. Yakni, sejak tahun 626 hingga 649 M. Itu berarti baik Tom Sam Cong maupun kaisar Taizong hidupnya sezaman dengan Rasulullah. Walau untuk proses perjalanan ke baratnya tidak sepenuhnya sezaman. Hanya sekitar 3 tahun. Sebab Rasulullah pada tahun 632 M sudah wafat.



Kaisar Taizong mengantarkan Dinasti Tang pada masa masa keemasan. Bahkan dalam kategori sejarah Tiongkok sekalipun juga tercatat sebagai sejarah manis. Ia dijadikan tolok ukur kesuksesan dalam memimpin bagi raja-raja berikutnya. Namun sayangnya, dibalik itu ia juga punya sisi gelap. Ia menjadi raja tidak dengan cara bersih. 


Kaisar Taizong yang merupakan kaisar kedua Dinasti Tang naik tahta dengan cara mengkudeta. Ia membunuh kakak sebagai putra mahkota penerus tahta kekaisaran. Pun ada juga yang mengatakan menggulingkan ayahnya untuk merebut kursi kekuasaan. Padahal ia bersama ayahnyalah yang berperan besar dalam pendirian Dinasti Tang. 


Bisa dikatakan Taizong saat suksesi dipenuhi dengan lumuran darah. Akibat aksi perbuatannya itu ia sering merasa bersalah hingga bermimpi buruk dalam tidur. Dalam mimpinya itu wilayah tempat ia bertahta terjadi bencana banjir besar. Namun, di serial film Kera Sakti mimpi tersebut itu diubah menjadi kaisar bermimpi diinjak kera raksasa. 


Kaisar Taizong sering dibayangi rasa bersalah dan ketakutan ketika tetap tinggal di kota lama. Ia ingin pindah dan membuat kota baru di lokasi lain.  Untuk itu, ia lalu memerintah satu arsitektur yang mahir dan terpilih untuk memimpin aristektur lainnya, tukang, dan kuli bangunan. Jumlahnya 1000 orang lebih. Hingga sampai kini peninggalan kota tersebut masih ada.


Tak cukup dengan pindah kota. Ia juga butuh pencerahan baru agar hidup menjadi damai. Untuk itu ia mengutus Tom sam Cong pergi ke Barat untuk mengambil kita suci. Tidak seperti di film Kera Sakti, Tom Sam Cong menjalankan misi mencari kita suci itu sendirian. Tanpa ditemani oleh beberapa murid seperti yang ada pada tayangan film.


Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa misi itu murni dilakukan atas inisiatif Tom Sam Cong sendiri. Tanpa dipengaruhi atau bahkan tanpa seizin kaisar Taizong. Itu dilakukan murni panggilan hati sebagai orang yang paham agama. Lebih-lebih terdapat fenomena perdebatan yang tak berujung di kalangan umat beragama.


Perpecahan itu disebabkan karena perbedaan dalam memahami terjemahan kitab agama Budha yang beredar. Sebagai orang yang paham terhadap agama ia terpanggil untuk mencari solusinya. Ia berpikir perlu untuk mendatangkan salinan asli kitab Budha. Oleh sebab itu ia berangkat ke Barat. Kata barat dalam pendapat tersebut merujuk pada daerah India. Sebab India menjadi tempat agama Budha lahir.


Dalam perjalanan itu terdapat banyak halangan dan rintangan. Namun, itu tidak seperti gambaran di film yang begitu "gaib" dan penuh khayal. Halangan yang dihadapi Tom Sam Cong adalah kondisi alam, perampokan, dan ancaman tindak pidana karena dianggap melakukan perjalanan tak berizin dari negara yang disinggahinya.



Tom Sam Cong Beragama Islam

Versi lain yang akhir-akhir merebak di kalangan umat Islam adalah pemaknaan beda terkait peristiwa "Pergi ke Barat". Di mana kata Barat yang dalam istilah inggris disebut Journey to the West dimaknai merujuk pada Jazirah Arab. Arah tersebut memang tepat lurus ke barat. Adapun arah ke India dari Chang'an sebagai ibukota Dinasti Tang cenderung menuju ke selatan. 


Sebagaimana diketahui sekitar dua tahun sebelum wafatnya Rasulullah, beliau gencar menyebarkan ajaran Islam ke penjuru dunia secara resmi. Sebagai kepala negara, Nabi mengutus delegasi membawa surat yang berisi ajakan untuk masuk Islam ke Mesir, Ethiopia, Romawi, hingga Persia. Ada yang menolak dengan kasar penuh keangkuhan serta ada pula yang menyambut dengan tangan terbuka.



Tom Sam Cong dikatakan beragama Islam (sumber gambar)


Di sisi lain, ada beberapa pendapat bahwa kaisar Taizong sangat terbuka dan membebaskan rakyatnya untuk menganut agama apapun. Bahkan tempat-tempat ibadah sekaligus sekolah berdiri dengan bebas pada zaman itu. Umat Islam pun diberikan ruang untuk mengembangkan ajarannya. Pada saat itu kehidupan beragama bukan suatu barang mahal.


Ada yang mengatakan bahwa sebenarnya kaisar Taizong mengutus Tom Sam Cong ke barat yang dimaksud bukan India. Namun, kata barat yang dimaksud merujuk pada semenanjung atau jazirah Arab. Barangkali Kaisar Taizong ingin menyambut ajakan Nabi yang sudah disampaikan di atas tadi. Lalu ia mengutus Tom Sam Cong untuk mengambil salinan asli kitab suci al Quran. Wallahualam bissawab.

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece

Pernah Dengar Istilah "Kotak Pandora"? Inilah Kisah di Baliknya

Cara Memecah Sertifikat Tanah Hasil Hibah, Turun Waris, dan Bertujuan untuk Bisnis Tanah Kaveling Perorangan

Visi dan Misi dalam Bekerja