3 Penyebab Seseorang Termakan Rayuan dan Pancingan Omongan Manusia Busuk

Banjirembun.com - Sikap, muka, dan omongan yang manis dari seseorang tak boleh membuat kalian mudah merasa iba maupun tersanjung. Hal ini bukan bermaksud hendak mengajari gampang berburuk sangka. Melainkan, mengajak lebih waspada atau berhati-hati saja. Sebab, bisa jadi tampilan semuanya itu, sekadar "topeng" untuk menjebak kalian.


Tujuan manusia hina dalam merayu dan memancing lawan bicara bukan cuma ingin mengeruk uang. Misalnya, dalam sebuah transaksi agar tercapai kesepakatan yang menghasilkan keuntungan besar bikin individu rela merendahkan diri. Sangat sopan, murah senyum, serta kata-kata penuh simpati yang sejatinya palsu.


Baca juga 5 Bentuk Penipuan yang Sering Dilakukan Kontraktor Rumah dan Tukang Bangunan


Terkadang siapa pun bisa tiba-tiba menjadi ramah lantaran memiliki niat busuk, selain menyangkut keuangan. Contohnya ingin mengetahui keburukan kalian yang lantas akan dia sebarkan. Di mana, dia mau bersikap bagaikan "malaikat" demi mengambil hati kalian. Setelah berhasil, barulah dia melancarkan aksi.


Tentu, perilaku layaknya "babu" di atas hanya di awal saja. Setelah transaksi deal (sepakat) atau sesudah sukses memperoleh "perhatian" kalian, dia akan meninggalkan begitu saja. Kecuali, ketika dia masih memiliki tujuan selanjutnya. Artinya, dia ingin memanfaatkan kalian secara berkelanjutan.


Baca juga 5 Sikap Karyawan Toko ini Menunjukkan Mental Babu


Jika dia masih ingin terus-menerus menguras dompet dan mengambil "sesuatu" dari kalian maka "topeng" tetap dia pakai. Sebaliknya tatkala kalian berani bersikap tegas serta menyelesaikan transaksi, dijamin semua berubah. Dia akan terlihat "putus asa" dan marah karena "kehilangan" kalian.


Nah, supaya kalian tidak termakan rayuan dan pancingan omongan dari seseorang sebaiknya pahami 3 penyebabnya di bawah:


1. Terlalu Percaya pada Manusia

Jangankan percaya pada manusia, percaya sama binatang pun sekali-kali sebaiknya dihindari. Kapan saja sesuatu yang kalian percayai itu bisa berkhianat. Meski terkadang harus diakui bahwa anjing adakalanya lebih setia dan dapat dipercayai ketimbang teman, mitra, atau seseorang yang tengah terikat transaksi.


Bagi kalangan yang biasanya merasa punya uang banyak, memiliki prestasi, atau keunggulan-keunggulan lain umumnya bakal terperdaya. Bukan hanya melulu terlena oleh rayuan maupun pancingan pembicaraan orang lain, tetapi juga terhasut oleh sifat sombong diri sendiri. Akhirnya, merasa yakin bahwa orang lain tak berani macam-macam.


2. Terlalu Banyak Berharap pada Manusia

Berharap pada sesuatu boleh saja. Namun, terlalu punya harapan besar secara berlebihan pada sesama manusia merupakan hal yang konyol. Logikanya mudah, pada setiap manusia terdapat kelemahan. Baik itu menyangkut keahlian, ketrampilan, maupun akhlaknya. Enggak ada yang sempurna.


Ilustrasi wajah yang menunjukkan keraguan atas omongan orang lain karena menghindari terpancing (sumber gambar koleksi pribadi)


Buat apa punya otak cerdas, tapi nyatanya penipu dan berhati kotor. Sayangnya, tindakan culas tersebut bukan dilakukan lantaran ada kesempatan. Yakni, mereka merasa kalian mudah dibodohi dan dijadikan mangsa sehingga tiba-tiba muncul niat jahat. Akan tetapi, sejak awal memang berniat busuk.


3. Terburu-buru

Apapun alasannya, perilaku terburu-buru sangat buruk. Jangankan urusan duniawi, terburu-buru menyangkut masalah ibadah saja juga dilarang keras diterapkan. Termasuk pula buru-buru ingin tuntas, berhasil, dan masalah segera terselesaikan. Bagaimanapun kasus yang dihadapi, terburu nafsu harus dihindari.


Baca juga Terburu-buru itu Disebabkan Adanya Bisikan Setan, Kecuali pada 6 Hal ini


Terburu-buru teramat berisiko kehilangan akal sehat. Alhasil, di alam pikiran cuma ingin serba cepat, instan, dan kalau perlu memotong kompas. Padahal, apapun penyebab seseorang dituntut untuk cepat bersigap siaga hendaknya tetap waras. Lebih bijak, temukan serta pastikan dulu beberapa alternatif lainnya daripada "termakan" oleh satu pilihan.


Terburu-buru berakibat perencanaan tidak matang. Bahkan, parahnya rencana yang dibuat hanya satu tanpa ada "pembanding". Nyatanya ketika cara pandang diperluas, sehingga menyadari banyak sekali potensi atau peluang lainnya demi menemukan solusi atas masalah, bermanfaat positif terhadap jiwa yang bebas (tak tersandera).


Komentar