Sanggahan dulu, tulisan ini bukan bermaksud hendak melakukan kesimpulan utuh. Judul artikel ini dibuat bertujuan untuk memancing agar diklik oleh pengunjung *Banjir Embun*. Singkat kata, masih ada hal selain perceraian yang juga menjadi keputusan terbaik di hidupku.
Selanjutnya, menyangkut pernikahan sejatinya terdapat sebuah pertanyaan reflektif berupa "Buat apa tetap mempertahankan pernikahan tanpa dikarunai anak dan nyatanya alasan tetap ingin berstatus menikah hanya karena malu pada sesama insan kalau bercerai?"
Hal introspektif berikutnya berupa "Untuk apa mempertahankan pasangan hanya demi mendapatkan validasi manusia sehingga mengabaikan validasi dari diri sendiri alias validasi internal maupun tak peduli validasi dari Tuhan?"
Kalau pasangan sudah berani mempermainkan Tuhan lantas mengapa masih mau membersamainya? Artinya, jika niat menikah benar-benar murni ikhlas ingin mendapatkan validasi Tuhan maka untuk bercerai pun diniatkan memperoleh rida-Nya.
Aku Bercerai karena Butuh, bukan Disebabkan Egois
Salah satu ciri seseorang memang betul-betul butuh sesuatu ialah sesudah meraihnya tak menimbulkan penyesalan. Alih-alih menyesal, justru memperoleh hal-hal yang jauh lebih positif dibandingkan sebelum mencapainya.
Selain tak ada rasa sesal, sesudah perceraian terjadi justru bikin aku menemukan sesuatu yang besar yang belum pernah terjadi pada kehidupan. Boleh dikatakan bahwa pernikahanku sebelumnya hanyalah sebagian kecil dari proses perjalanan hidup yang sedang aku jalani.
Beberapa di antara perubahan drastis dariku setelah cerai ialah aku memahami konsep NPD, lebih tahu siapa diriku terutama terkait trauma-traumaku, makin berani dalam mengambil atau memilih berbagai keputusan penting, hingga mengerti tentang makna cinta.
Apakah aku masih ingin bertemu mantan istri? Jawabannya yaitu jangankan bertemu, sekedar melihatnya aku ogah. Tak perlu aku detailkan alasannya. Intinya, sebenarnya aku orang yang tahu balas budi. Ketika aku memutuskan untuk ogah bertemu seseorang, hal itu artinya ada sesuatu yang parah.
Entah, kenapa Tuhan baru menyadarkan aku sekarang bahwa memang pernikahan di atas amatlah tak sehat sehingga dapat dimaklumi oleh orang normal untuk cerai. Entah pula, kenapa aku dulu enggak berani menceraikan dia di hadapan Pengadilan Agama? Kok malah dia yang mengajukan cerai gugat?
Nah, ketika mendapatkan surat panggilan dari Pengadilan Agama tentu aku antusias datang. Di mana, pada panggilan pertama faktanya aku tak datang karena suratnya enggak aku terima sendiri sehingga aku enggak tahu kapan jadwal sidang pertama. Kemudian, barulah pada panggilan kedua aku hadir.
Alhasil, proses perceraian bisa berjalan lancar dengan durasinya tergolong singkat. Tepatnya, kurang lebih 3 bulan. Saat di hadapan Majelis Hakim aku menyatakan setuju atau mendukung perceraian tersebut tanpa berbelit. Sebab, perceraian itulah yang aku harapkan sejak lama.
Dengan maksud lain, aku selama pernikahan sesungguhnya ngempet (menahan diri). Ingin menceraikannya, tetapi takut dipelintir ke hal-hal negatif misalnya disebut aku sudah ada cewek lain. Tentu, aku tak menceraikan dia ke Pengadilan Agama juga sebagai wujud balas budi.
Sebagai penutup, aku tekankan lagi bahwa bercerai merupakan salah satu keputusan terindah dalam hidupku. Apalagi, itulah hal yang telah aku dambakan bulan semenjak terjadi pandemi. Masa di mana terjadi konflik berulang-ulang. Segala hal buruk mulai tersingkap.
(*)
Tulisan milik *Banjir Embun* lainnya:
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Ketika Bercerai Justru jadi Keputusan Terbaik dalam Hidupku"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*