Tuhan, dosa hamba sudah banyak. Kesalahan hamba bertubi-tubi. Kekurangan hamba berombak-ombak. Sedangkan, hamba mendamba surga firdaus-Mu. Sedang, hamba berharap dicintai-Mu. Lagi pula, hamba sudah tak percaya siapa-siapa lagi selain wajah-Mu.
Tuhan, hamba menulis di *Banjir Embun* ini bukan maksud pamer luka. Apalagi, hendak unjuk diri bahwa hamba paling cinta Engkau. Hamba juga tak bermaksud sok suci. Sebab, hamba sadar diri sesudah refleksi, ternyata hamba ini terlalu banyak maunya di hadapan keagungan-Mu. Hamba memang tak tahu diri.
Bersyukur hamba masih Engkau beri iman meski sedikit. Hamba merasa punya harapan lantaran Engkau berikan keteguhan beragama Islam walau sempat goyang akibat trauma-trauma yang hamba derita. Oleh sebab itu, hamba mohon berilah hamba iman dan islam yang lebih kokoh dari itu.
Bukankah Engkau tahu, hamba ini makhluk lemah dan rendah yang serakah atau tamak akan rahmat-Mu? Dengan itulah, hamba bertekat tidak berputus asa mendamba ampunan-Mu. Hamba akan terus berupaya mendekati-Mu dalam kondisi apapun. Sebab, hanya Engkau yang hamba percaya.
Di sisi lain, hati hamba ini rapuh. Mudah goyah, gampang tergelincir, dan rawan remuk. Selain itu, diri yang hina ini mudah berpaling dari-Mu. Tentu, itu juga jadi bukti hamba telah berkhianat pada prinsip dan doktrin hidup yang telah hamba tetapkan sendiri.
Hamba merasakan sendiri betapa sakitnya efek berbuat dosa tanpa segera disusul dengan hamba bertaubat. Hamba memahami sekali tentang sungguh perihnya dampak dari meremehkan segala aturan-Mu. Jika hamba Engkau biarkan tetap tersesat tanpa segera kembali pada-Mu maka kepada siapa hamba mendekat?
Kezaliman NPD maupun Kenaifan Kutu Narsisistik
Tuhan, hamba sangat memohon untuk jangan jadikan diri ini NPD maupun sekadar kutu narsisistik. Hamba tak ingin meniru pola NPD dalam menzalimi makhluk-Mu yang lain. Baik itu dalam mekanisme menirunya telah hamba sadari maupun tanpa disadari. Bahkan, hamba tak ingin berperilaku spontanitas dalam meniru kezaliman NPD tersebut.
Apapun dalihnya, hamba tak mau berbuat zalim pada siapapun. Termasuk pada diri hamba sendiri. Hal tersebut, bukan bermaksud hamba ingin menjadi manusia sempurna. Namun, hamba ingin memastikan mendapat validasi dari-Mu bahwa hamba layak Engkau cintai.
Jika hamba meniru pola NPD maka apa pantas hamba Engkau sayangi?
Hamba pinta mudahkan diri hamba menjadi pribadi yang menemukan jati diri. Individu yang pulih, selamat, dan berdaulat lahir maupun batin dari luka-luka batin di masa lalu maupun yang masih baru-baru ini.
Tuhan, buat apa hamba tetap hidup kalau ternyata cuma untuk mendapatkan murka-Mu di dunia dan akhirat? Tuhan, untuk apa hamba masih berada di bumi ini tatkala justru menjadi sebab hamba masuk neraka-Mu? Hamba amat kangen kepada-Mu.
Tuhan, hamba pilih memperoleh bahagia setelah kematian hamba daripada hidup lama yang justru memperdaya sampai hamba lupa. Hamba teguh diri tentang menomorsatukan akhirat daripada hal lainnya. Untuk itu, hamba mohon pertolongan-Mu agar tetap menjaga iman hamba dalam keadaan apapun itu.
Hamba cinta Engkau. Hamba takut Engkau. Hamba berharap mendapatkan validasi dari-Mu.
(*)
Tulisan milik *Banjir Embun* lainnya:
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Tuhan, Mohon jangan Jadikan Hamba NPD maupun Sekadar Kutu Narsistik (Narcissistic Fleas)"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*