5 Alasan Tikus dan Kelinci Jadi Objek Percobaan Medis di Laboratorium



Kalian pasti sering mendengar istilah "kelinci percobaan". Terutama di acara televisi seperti film, dunia hewan, hingga siaran berita. Ternyata ungkapan kelinci percobaan memiliki makna ganda. Yakni makna harfiah (apa adanya) dan makna kiasan. Di mana, makna kiasan lebih sering digunakan.



Arti pertama yaitu hewan kelinci yang dijadikan objek uji coba efektivitas bahan kimia, obat-obatan, hingga vaksin yang masih dalam proses penelitian. Makna kedua yaitu orang atau objek apapun yang pertama kali dijadikan objek uji coba bahan kimia, obat-obatan, vaksin, dan semacamnya.


Sebagaimana berita beberapa waktu lalu telah dibuka lowongan sukarelawan sebagai kelinci percobaan vaksin Covid-19. Tepatnya di Inggris membuka lowongan bagi orang sehat yang mau disuntik vaksin. Untuk mengetahui apakah obat itu berfungsi atau tidak. Imbalannya cukup banyak yaitu 63 juta perorang. 


Tak hanya kelinci sebagai objek percobaan. Ternyata ada beberapa hewan lain yang juga dimanfaatkan untuk eksperimen. Salah satunya adalah tikus. Faktanya, tikus lebih banyak "berdinas" di laboratorium daripada binatang lain. Tak kurang dari 90% hewan laboratorium merupakan tikus.


Ilustrasi kelinci percobaan (sumber gambar)


Bila kelinci bergelar "kelinci percobaan" maka tikus mendapat julukan "tikus laboratorium". Dengan beberapa alasan dan satu hal, frasa "tikus laboratorium" tidak begitu populer. Salah satunya barangkali tikus dianggap hewan menjijikkan sehingga kurang pas ketika diucapkan.


Nah, mengapa sih tikus dan kelinci itu dijadikan objek percobaan di laboratorium? Kok tidak hewan lain saja? Secara lengkap berikut alasannya:


1. Sulit terancam punah

Angka kelahiran kelinci dan tikus sangat tinggi. Sekali beranak jumlahnya bisa lebih dari tiga anak. Serta jarak antara kelahiran satu dengan sesudahnya cukup pendek. Mereka adalah hewan yang berkembang biak secara cepat. Oleh sebab itu peneliti tak perlu khawatir punah di tangan peneliti.


2. Mudah dipelihara di laboratorium

Ukuran tikus dan kelinci cukup kecil. Tidak terlalu memakan tempat. Selain itu mereka mudah beradaptasi dengan tempat baru. Serta tidak gampang jatuh sakit sehingga menulari yang lain. Sebab tatkala hewan percobaan sakit maupun stress maka akan mengganggu validitas hasil uji coba.


3. Hewan jinak

Tikus dan kelinci pada dasarnya adalah hewan jinak. Meskipun sama-sama memiliki gigi runcing tapi sangat jarang digunakan untuk menggigit manusia. Paling banyak digunakan untuk mengerat. Dengan begitu para peneliti akan nyaman dan mudah menanganinya untuk kebutuhan penelitian.


4. Struktur mikroskospis dalam tubuh sangat mirip manusia


Struktur dan susunan DNA serta sel tikus maupun kelinci memiliki kemiripan yang sangat identik dengan manusia. Semuanya sama-sama sebagai mamalia. Keduanya sangat memungkinkan untuk menderita penyakit yang sama dengan manusia. Nah uji coba tersebut berhasil dilakukan padanya maka besar juga akan berhasil pada manusia.


5. Sangat Efisien

Tikus dan kelinci merupakan hewan yang relatif murah. Serta mudah didapat dalam jumlah banyak di pasar hewan maupun para pembiak. Bilapun dalam kondisi tertentu ternyata langka atau sulit dibeli para peneliti atau pengelola laboratorium dapat dengan mudah mengembangbiakkan sendiri.




Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)