3 Penyesalan Terbaik Bagi Umat Islam

Banjirembun.com - Penyesalan membawa nikmat. Itulah suatu pernyataan singkat yang barangkali pantas dijadikan kesimpulan penting pada tulisan sekarang ini. Di mana, makna kata "nikmat" tersebut bukan cuma mengacu pada hal enak-enak. Lebih dari itu juga bisa terkait dengan keselamatan, ketentraman,  keamanan, kenyamanan, hingga kepuasan. Ujung-ujungnya mampu mendekatkan diri pada Allah SWT. 


Penyesalan terjadi hanya disebabkan oleh dua keadaan. Yakni, pertama karena telah memutuskan tidak akan melakukan sesuatu agar demi memperoleh "nikmat". Kedua, mengambil kesempatan dengan berupaya melakukan sesuatu supaya meraih hasil yang diinginkan. Nah, jika terjadi kekeliruan dalam mengambil salah satu dari pilihan tersebut terkadang berujung pada penyesalan.


Sejatinya, dalam melakukan perbuatan mulia yang diridhoi Allah SWT tak sepantasnya ada penyesalan. Dengan kata lain, dalam berbuat baik tak ada istilah "sesal" lantaran telah melakukan. Baru bolehlah untuk meratapi diri yaitu sesudah melakukan hal buruk. Serta, dapat pula punya niat baik tetapi tanpa alasan "fatal" justru membatalkan untuk mewujudkan. Keduanya pantas disebut sebagai penyesalan. 


Kendati demikian, bila pun penyesalan pada hal-hal kebaikan tersebut ada maka teramat pantas disebut dengan penyesalan terindah. Berikut ini 3 contoh penyesalan terbaik bagi umat Islam:


1. Menyesal Telah Bersedekah

Menyesal telah bersedekah lebih baik daripada gundah gulana penuh rasa bersalah karena tidak/batal bersedekah. Seburuk-buruk penyesalan dalam sedekah, jika di dalam hatinya masih ada "secuil" saja keyakinan dan penuh harapan mendapatkan balasan Allah SWT atas amalnya tersebut maka sungguh lebih mulia daripada tak bersedekah sama sekali.


Jangankan bicara penyesalan di akhirat maupun di alam kubur, masih di dunia saja suatu penyesalan tetap menyakitkan. Contohnya, ada anak yang sudah hidup mandiri punya keinginan mengunjungi orang tuanya sambil membawakan uang, barang, atau makanan kesukaan mereka. Namun, berhubung ditunda-tunda akhirnya salah satu orang tuanya sakit. Akhirnya, terjadilah penyesalan. Pemberian saat orang tua sehat tentu bakal lebih berkesan.


Mengeluarkan uang untuk bersenang-senang, hura-hura, foya-foya, atau semacamnya kadang tanpa disertai penyesalan sedikit pun walau sesudahnya terlilit hutang. Misalnya beli barang mewah, beli pulsa/kuota internet, berwisata, berkuliner, dan lain-lain. Oleh sebab itu, sungguh aneh tatkala membantu orang lain atau untuk keperluan publik berujung penyesalan disebabkan kerugian yang dialami setelah bersedekah.

Ilustrasi bersedekah


Untuk lebih tahu apa itu makna sedekah, cerita hikmah di balik sedekah, hingga kaidah-kaidah terkaitnya silakan buka atau copy-paste tautan berikut https://www.banjirembun.com/search?q=Sedekah&m=1.


2. Menyesal Telah Berprasangka Baik

Menyesal terlanjur berprasangka baik pada orang jahat itu jauh lebih "beruntung" ketimbang menyalahkan diri akibat berprasangka buruk pada orang baik. Begitu pula menyesal telah salah memilih teman yang nyatanya tega menikam dari belakang masih lebih bagus daripada kecewa pada diri sendiri karena telah menolak diajak berteman dengan seseorang yang ternyata ia punya niat mulia.


Sebagaimana banyak diketahui bahwa sebagian prasangka menjerumuskan pada dosa. Di mana, tentunya berprasangka baik bukan dari bagian yang berisiko menghantarkan pada kebinasaan tersebut. Bahkan, sebagian (tidak semua) prasangka buruk cukup di hati saja yang tanpa ditindaklanjuti dengan perbuatan, sudah bagian dari dosa. Apalagi kalau diimbuhi berbagai reaksi nyata.


Ingatlah, berprasangka baik bukan berarti harus berbuat baik pada orang-orang yang sudah nyata atau terbukti jahat. Sebab, berprasangka baik letaknya di hati. Jangan kotori jiwa dengan sesuatu yang tak pantas untuk dipikirkan. Bila memang orang tersebut "wajib" ditinggalkan karena sudah terbukti layak diabaikan maka apa boleh buat. Daripada cuma jadi beban serta dikhawatirkan selalu mengotori hati akibat kerap "mengajak" buruk sangka.


3. Menyesal Batal Menzalimi

Menyesal membatalkan untuk berbuat zalim pada orang lain lebih "berharga" dibandingkan kecewa pada diri sendiri karena sudah menzalimi manusia. Menghapus semua rencana jahat, salah satunya seperti balas dendam, mampu menghantarkan pada ketenangan. Buat apa membuat strategi untuk mencelakai dan melukai hati orang lain kalau cuma menambah kesibukan tiada guna.


Penyesalan atas perbuatan dosa yang ditujukan pada sesama insan terkadang jauh lebih menyakitkan. Malahan bakal terus terngiang sulit terlupakan hingga umur menua renta. Ambil contohnya, seseorang telah mengadu domba dua orang ustadz atau tokoh agama di masyarakat hingga menyebabkan persahabatan mereka putus. Alhasil, syiar dan dakwah Islam jadi melemah.


Apabila lebih memilih hidup kalah dan tenggelam disebabkan telah sadar diri maka itu jauh lebih bijak ketimbang menang dan mencolok dengan cara zalim. Oleh sebab itu, cepat sadari bahwa doa orang terzalimi pasti diijabahi. Cepat atau lambat segala kezaliman pasti berbuah kesengsaraan. Bila pun terlihat "senang-senang" tetapi ujungnya bakal menyakitkan. Kaidah "balasan sesuai dengan apa yang diperbuat" berlaku sepanjang masa.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece

Pernah Dengar Istilah "Kotak Pandora"? Inilah Kisah di Baliknya

Cara Memecah Sertifikat Tanah Hasil Hibah, Turun Waris, dan Bertujuan untuk Bisnis Tanah Kaveling Perorangan

Visi dan Misi dalam Bekerja