5 Tips Beli Properti untuk Pertama Kali Bagi Orang Kaya Baru (OKB)

Banjirembun.com - Orang Kaya Baru alias OKB adalah individu yang mendadak punya uang banyak baik secara tunai maupun berupa tabungan di bank yang didapat sesuai dugaan ataupun tanpa kesengajaan. Salah satu ciri OKB asli bukan abal-abal yaitu dalam membeli sesuatu tidak dilakukan secara hutang, mencicil, kredit, atau pembayaran tempo bertahap. Akan tetapi semua diterapkan dengan lunas keras.


Perolehan duit OKB bisa diraih dari hasil penjualan aset "dingin" bernilai fantastis seperti tanah, barang antik, emas, atau rumah warisan megah di kota besar. Dapat pula lantaran mengalami peningkatan gaji berlipat akibat kenaikan jabatan atau faktor tertentu. Ada juga yang sukses beralih profesi, yang awalnya bernasib nahas setelah pindah tempat kerja berbuah penghasilan berlipat-lipat.


Faktor lainnya yaitu mendapatkan popularitas di TV nasional maupun media sosial. Seseorang yang terkenal bakal mudah sekali dalam mencari nafkah. Sebab, banyak sekali media hiburan mengundangnya. Tak cuma televisi tapi juga pihak penyelenggara podcast di medsos. Tentu, semua undangan tersebut bukan sepenuhnya hampa tetapi pasti kerapkali disertai uang saku dari pihak pengundang.


Penyebab lain seseorang serta-merta berjuluk OKB karena bisnis yang dijalankan tiba-tiba keuntungannya "meroket" tajam. Baik itu usaha yang digeluti dari nol maupun yang meneruskan tradisi keluarga secara turun-menurun. Nah, dari semua pendapatan yang diraup itu ada kalanya ditabung dulu bertahun-tahun. Kemudian, ketika terkumpul lumayan besar baru dibelikan sesuatu yang bikin kaget tetangga dan teman.


Sayangnya, mayoritas OKB kondisi kejiwaannya mengalami labil atau mudah goyah. Alhasil, meski punya simpanan rupiah melimpah kenyataannya gagap dalam memanfaatkannya. Cuma pintar dalam mencari uang sebanyak-banyaknya tapi gagal dalam mengatur arus pengeluaran. Apalagi bagi OKB penikmat warisan, malah makin besar risiko kebangkrutannya.


Baca juga: Bahaya Menjadi Orang Kaya Baru atau OKB Gagap Finansial


Diakui atau tidak, idealnya memang uang OKB harus diubah bentuknya. Di antaranya dengan cara beli aset properti. Mekanisme pembayarannya kontan tanpa menunggak. Salah satu alasannya, ketimbang keliru dalam menyalurkan duit yang berakibat seakan menguap begitu saja lebih bijaknya dibelikan properti. Diutamakan berupa tanah. Bukan membeli rumah, kos-kosan, kios, ruko, terlebih lagi apartemen.


Supaya tidak mengalami kerugian saat beli properti pertama kali berikut ini saran-saran yang mesti diperhatikan:


1. Luruskan Niat 

Niat membeli properti pertama kali bukan untuk mencari keuntungan. Melainkan mencari pengalaman berharga bagaimana rasanya membeli dan mempunyai aset properti untuk pertama kalinya. Carilah wawasan dan pengetahuan tentang seluk-beluk properti. Salah satu manfaatnya untuk terhindar dari kerugian parah dan aksi penipuan. Ingat, jangan terpancing beli barang-barang mewah konsumtif.


Sadarlah, di luar sana banyak sekali manusia yang selama hidupnya berpeluang tak memiliki aset properti. Artinya, dia cuma menumpang pada keluarga (termasuk pasangan) serta menjadi tukang sewa/kontrak rumah. Itu diakibatkan oleh lebih mengutamakan gaya hidup. Memperbagus tampilan diri tapi ternyata kepalsuan belaka. Di mana, tempat tinggalnya tak sesuai dengan gaya hidupnya.


2. Seleksi Ketat

Permasalahan yang sering dihadapi oleh pembeli properti ialah tak punya alternatif pilihan objek properti yang diminati. Terlalu fanatik pada lokasi, model, atau brand developer tertentu. Padahal, tatkala mau mencari di dunia nyata berkeliling wilayah tertentu serta berselancar di internet sangat gampang ditemukan para penjual properti. Dengan begitu, pembeli dapat pilih-pilih tanpa perlu khawatir gagal transaksi di satu tempat.


Dalam upaya pembelian, cegah diri terburu nafsu kebelet segera mempunyai aset properti. Semakin sempit cara pandang seseorang dalam pencarian properti makin sulit mendapatkan yang istimewa. Kalaupun ketemu, harganya pasti mahal. Parahnya lagi risiko penipuan bertambah besar. Akibatnya buang-buang waktu, tenaga, pikiran, sampai uang untuk menyelesaikan kasus sengketa.


3. Beli Pada Orang yang Dikenal

Kejahatan terjadi bukan saja disebabkan niat tapi karena ada kesempatan. Maknanya, siapapun dapat berpeluang menipu tak terkecuali orang yang sudah dikenal. Bahkan, keluarga dekat pun mampu tega melakukan. Namun, bukan berarti gegabah memutuskan beli properti pada orang lain. Memprioritaskan membeli pada orang dikenal tetap disarankan. Begitu pula pada tetangga rumah.


Paling tidak, jadikan orang yang dikenal tersebut sebagai mediator atau makelar. Lantas, minta dicarikan kriteria dan jenis properti yang diidamkan. Kalau terjadi apa-apa tentunya broker juga ikut bertanggung jawab.  Sayangnya, bagaimanapun dalihnya membeli properti pertama kali disarankan dilakukan sendiri tanpa mengandalkan bantuan. Kecuali, hanya dijadikan pemandu atau penasehat.


4. Hitung Anggaran

Dana yang dimiliki jangan dipakai semua untuk membeli. Anggarkan pula untuk biaya-biaya setelah kesepakatan harga terwujud. Misalnya dipakai untuk hal-hal seperti pajak jual-beli, ongkos balik nama, renovasi, sampai keperluan anggaran rutin setelah aset properti dimiliki. Setidak-tidaknya sisihkan duit senilai 15%-30% dari harga beli properti agar tidak kelabakan sesudah deal terjadi.


Beli tanah kaveling sekalipun masih butuh biaya dalam mempertegas patok pembatas yang besar dan permanen. Lebih keren langsung membangun pagar atau membuat pondasi calon rumah. Membeli tanah sawah atau ladang juga perlu pupuk, bibit, sampai pengeboran sumur sebelum proses pertanian dilakukan.  Tentunya, masih ada keperluan lain-lain yang tak terduga sesuai bentuk propertinya.


5. Beli Ukuran Kecil

Sebagai bahan belajar, belilah properti yang ukurannya kecil. Baik itu rumah maupun tanah. Letaknya di desa lebih direkomendasikan. Penjualnya atas nama milik pribadi. Bukan dijual oleh devoper maupun pebisnis properti. Pembelian di pedesaan, selain harganya rendah juga potensi penipuan sangat kecil. Keuntungan berikutnya beli aset properti di desa yaitu tak sulit melakukan perluasan tanah di masa depan.

Ilustrasi tanah murah di pedesaan (sumber gambar dari Google Maps)

Jika bersikukuh ingin hidup di dekat perkotaan maka disarankan membeli tanah ukuran kecil saja. Alasannya, harganya terjangkau dompet serta tak perlu biaya perawatan. Kalau ingin punya rumah, cukup beli rumah kelas subsidi tipe 30/60. Harganya di kisaran 150-180-an juta. Memang area perumahan subsidi posisinya agak jauh dari kota. Namun, ada yang tak terlalu jauh-jauh amat. Tergantung ketelatenan dalam mencari.


Baca juga: Pengalaman Pribadi Beli Rumah Murah 150 Juta, Sangat Dekat Kota Malang


Hal penting selanjutnya, kendati uang di dompet berjumlah 500 juta tetaplah gunakan maksimal 200 juta untuk beli properti. Sedangkan sisanya 300 juta diendapkan dulu. Percayalah, ketika sudah merasakan nikmatnya beli properti tanpa kena penipuan dan proses balik nama sertipikat dilakukan lancar akan ketagihan beli lagi. Di situlah fungsi simpanan uang yang besar. Kelak dipakai berburu properti kembali.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Tanya Jawab Tentang Filsafat Pendidikan Islam dan Upaya Pembaruan Pendidikan Islam

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece