Hutangmu Menunjukkan Seberapa Besar Harga Dirimu

Banjirembun.com - Hutang kepada pihak manapun sebaiknya dihindari. Apalagi pada teman, tetangga, serta keluarga sendiri. Alasannya, banyak hubungan persaudaraan maupun kekerabatan retak gara-gara hutang. Mirisnya, bukan cuma bikin kesal di hati tapi lebih parahnya menciptakan musuh-musuh baru.


Apapun alasan dan dalih yang diajukan, namanya orang yang masih punya status "berhutang" sangat tak pantas disebut individu mandiri. Sebab, definisi hidup mandiri bukan cuma sudah punya pekerjaan dan lepas dari tanggungan orang tua. Lebih dari itu, kemandirian merupakan sebuah kemerdekaan finansial.


Baca juga: Jangan Mengaku Hidup Mandiri Kalau Masih Kepikiran 3 Hal Berikut


Saat ada orang berkata "Mustahil manusia bisa lepas dari utang!". Sesungguhnya dia telah terkena propaganda alias hasutan dari kaum kapitalis. Seakan-akan kalau tidak berhutang hidupnya monoton, tanpa motivasi, dan sulit berkembang lantaran tiada modal. Lebih baik, sebelum berhutang lihatlah orang-orang bangkrut dan "tersiksa" gara-gara hutang.


Sebut saja seperti tanah warisan dijual untuk menebus utang. Rumah dan tanah disita bank akibat gagal bayar. Kendaraan ditarik paksa leasing karena kredit macet. Dikejar-kejar oleh debt collector kaki tangan aplikasi pinjaman online. Serta masih banyak lagi kasus yang mengerikan. Salah satunya "mewarisi" hutang pada anak kandung dan pasangan setelah meninggal.


Perlu diketahui, sebagaimana berhak menerima warisan, para ahli waris (penerima warisan) juga punya kewajiban membayar seluruh hutang-hutang si pewaris. Nahasnya, sesudah dihitung ternyata jumlah hutang mendiang lebih besar dari harta peninggalan. Tentulah menjadi neraka dunia bagi para ahli waris.


Padahal, setelah ditelusuri teramat banyak tokoh-tokoh kaya raya yang memulai alias merintis debut karir usahanya dengan cara menghindari utang. Nah, baru melakukan pencarian modal ketika bisnis sudah benar-benar mapan anti goyang. Itupun sistemnya dengan model kerja sama. Setidaknya, mekanismenya buka bursa saham. Bukan hutang.


Siapapun sejatinya secara fitrah mampu meningkatkan penghasilan berlipat-lipat tanpa perlu diawali dengan berhutang. Begitu pula, bisa memenuhi gaya hidup yang selangit meski menghindari pinjaman. Sayangnya, rumus anti hutang tersebut cuma berlaku bagi orang yang kreatif dan memiliki pandangan luas.


Orang yang punya cara pandang sempit, lebih mengutamakan gengsi diri, sedang mencari pengakuan, dan ingin serba instan merupakan ciri-ciri yang paling potensial untuk berhutang. Jangan dikira tampilan gaya hidup dan wirausaha yang digeluti terlihat "wah" menggambarkan kesuksesan. Malah sebenarnya terkadang sangat rapuh.


Bayangkan saja, ketika kepala keluarga sebagai tulang punggung sedang memiliki beban hutang tiba-tiba meninggal dunia. Padahal, usaha yang digeluti sedang meroket. Sayangnya, anak-anaknya tak mampu mengelola sebagaimana dirinya. Akibatnya, usaha tersebut gulung tikar. Lantas, anaknya "kaget" ternyata orang tua punya utang menggunung.


Banyak orang lebih pilih menuhankan uang ketimbang "harga diri". Bahkan, rela "jual diri" dengan cara mengemis cari hutangan. Menangis-nangis di hadapan teman. Intinya, apapun dilakukan termasuk memanipulasi data demi cairnya anggaran. Semua itu dilakukan semata-mata memperoleh dana segar. Harapannya, hidup jadi lebih bergeliat.


Hidupnya orang suka hutang cuma sebagai alat "permainan" pebisnis. Rela menjadi "budak" bagi juragan, atasan, maupun investor demi bayar utang. Ambisinya yaitu jadi paling sukses dari insan lainnya. Bukan berarti, menjadi kaya raya dan terpandang adalah hal haram. Seyogyanya, cara yang ditempuh tidak segitunya. Rela berhutang dan jadi hamba apapun serta siapapun supaya naik tahta.


Ilustrasinya begini, seseorang berhutang pada orang-orang kaya. Hasil pinjam tersebut dipakai buka usaha. Pemasukan yang didapat dari bisnis lalu dibelikan mobil, sepeda motor mahal, belanja mewah, dan lain-lain. Ironis, uang perolehan dari usaha berkat pinjaman dari para konglomerat ternyata balik lagi pada bisnis-bisnis mereka. Kalau sudah begitu benarlah saat penghutang disebut sebagai budak dunia.


Baca juga: 5 Ciri Seseorang Menjadi Budak Dunia


Belum lagi, tatkala mengajukan permohonan hutang kerapkali sudah ada unsur menipu. Begitu pula tatkala ditagih, lebih banyak kata-kata dusta dilontarkan demi menunda pembayaran. Ditambah, sering mengutarakan janji-janji tetapi si penghutang sendiri yang mengingkari. Beruntunglah, tidak melakukan bunuh diri apalagi membunuh sesama demi terbebas jeratan hutang.


Kasus perceraian terjadi salah satunya disebabkan oleh hutang. Yakni, seorang istri yang serta merta berhutang tanpa izin pada suami. Sebaliknya, sang suami yang punya hutang "gawat" yang berisiko sulit pulih dalam tempo cepat. Hal tersebut bukan cuma terkait persoalan ekonomi. Lebih dari itu, juga ada rasa malu ketika tetap mempertahankan hubungan.


Umum sekali ditemukan kasus pencurian, penipuan, hingga perampokan ditengarai punya hutang. Oleh sebab itu, tak berlebihan saat dikatakan hutang merupakan awal dari segala kejahatan. Termasuk "menjahati" teman kerja dan keluarga supaya utang-utang lekas tuntas. Baru setelah itu, tiada ragu mengulang kembali "tega" berutang.


Hutang bikin ketagihan. Membuat individu terus-menerus melakukan hutang. Belum juga hutang di satu pihak lunas, malah melakukan hutang berikutnya. Serta, bisnis yang dijalankan baru saja merangkak naik langsung memutuskan hutang lagi. Inilah bukti bahwa kubangan hutang pantas disebut lingkaran setan. Sekali terjebur sulit keluar.


Seseorang yang gemar berhutang barangkali menganggap uang sebagai juru selamat. Yakni, dapat diandalkan sebagai langkah satu-satunya mengatasi masalah. Walaupun, memang diakui duit penting sekali bagi kehidupan. Namun, bukan berarti semua permasalahan sanggup diselesaikan dengan uang.


Memulai berhutang adalah awal segala bencana. Tiap bulan hidupnya tak tenang. Senantiasa terngiang tagihan bulanan dari bank. Kerja capek-capek tapi sebagian buat bayar cicilan. Diperparah beban bunga mencekik. Kalau sudah begitu, profesi yang digeluti susah payah sejatinya memperkaya para pemodal atau bandar.


Solusi Bagi yang Sudah Terlanjur Berhutang

Hindari menyesali atau menyalahkan diri lantaran jeratan bunga pinjaman. Bila berhutang pada teman atau keluarga maka segera temui mereka secara kesatria. Sebagaimana, begitu semangat tanpa malu-malu di kala mengucapkan hutang pada mereka begitu pula berani bertanggung jawab di waktu belum sanggup bayar.

Tawaran pinjaman berbunga yang menggiurkan bagi tukang hutang


Fokuskan diri bekerja dan prioritaskan pada hal mendasar demi melunasi hutang. Hindari dulu makan "enak" dan porsi banyak sebelum beres semua. Jual seluruh barang-barang mahal. Jika itu menyangkut kebutuhan vital sehingga tak tergantikan maka turunkan tingkat kemewahannya. Misalnya, ganti ponsel mahal dengan harga murah. Tukar kendaraan mewah dengan yang sederhana.


Tak perlu buru-buru renovasi rumah maupun memikirkan pengeluaran tak mendesak lainnya sebelum semua hutang lunas. Terima dulu kenyataan pedih sepenuhnya totalitas bahwa kondisinya belum memungkinkan untuk normal. Dengan seperti itu, barulah tata hati agar mantap dalam melaksanakan misi pelunasan. Yang sudah terjadi biarlah terjadi jangan disesali.


Disiplinkan diri mengurangi porsi kebutuhan hidup. Terlebih lagi semestinya menghilangkan semua keinginan beli sesuatu yang kategorinya tak pokok. Hal itu salah satunya bermanfaat dalam "menghukum" diri. Saat merasakan sendiri perihnya dampak berhutang, di kemudian hari sudah tak ada lagi niatan meminjam pada pihak manapun.


Kalau jalan ekstrim memang diperlukan. Juallah rumah dan tanah. Kemudian sewa atau kontrak rumah yang terjangkau. Bukanlah hal tabu dan hina orang yang kos atau mengontrak. Justru orang yang punya hutang tapi mengelak membayarlah yang paling hina. Mulailah hidup dengan lembaran baru. Tinggalkan masa lalu kelam yang menyengsarakan jiwa dan raga.


Baca juga: 3 Sebab Kegagalan dalam Mengatur Uang Pribadi


Hidup ini terlalu indah kalau cuma untuk menyenangkan, memuaskan, serta "membungkam" omongan yang meremehkan dari orang lain. Biarlah mereka berkata apapun sebab mereka punya mulut. Tak perlu membungkamnya dengan cara membuktikan kesuksesan diri. Cukup tutup telinga, sehingga suara mulut-mulut kotor gagal memprovokasi.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Tanya Jawab Tentang Filsafat Pendidikan Islam dan Upaya Pembaruan Pendidikan Islam

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece