Bahaya Menjadi Orang Kaya Baru atau OKB Gagap Finansial

Banjirembun.com - Takdir orang siapa yang tahu kepastiannya bagaimana. Hari ini barangkali penghasilan perbulan cuma 1 jutaan. Namun, tak ada yang tahu di beberapa tahun ke depan pendapatan uang minimal 5 juta setiap bulannya. Nah, meragukan terwujudnya gambaran tersebut bukan cuma mengingkari adanya kehendak menakjubkan Allah Yang Maha Kuasa. Lebih mirisnya, telah merandahkan diri sendiri. Pilih menyerah sebelum berjuang.


Selama ini generasi muda lebih sering diajarkan menyiapkan mental diri dengan meningkatkan ketabahan dan kesabaran menghadapi kemiskinan. Akan tetapi, mereka jarang sekali diarahkan tentang pengelolaan atau pengaturan uang pribadi secara cerdas. Seakan-akan, sedari awal tugas hidup mereka sudah ditentukan bakal terus miskin. Tak pantas menjadi kaya. Sebab, kekayaan justru dianggap bencana. Bahkan, sebuah hal tabu punya uang banyak.


Baca juga: 3 Sebab Kegagalan dalam Mengatur Uang Pribadi


Akibatnya sungguh fatal. Tatkala tiba-tiba rezeki mengalir deras, entah sumbernya dari mana "pokoknya" menerima durian runtuh sehingga banjir duit dalam jangka pendek, terjadi kegagalan dalam memanfaatkannya. Misalnya, dihambur-hamburkan beli mobil mewah. Contoh nyatanya yaitu para "korban penggusuran" tanah di Tuban oleh perusahaan minyak dari Rusia yang bekerja sama dengan pertamina. Mereka jadi miliarder dadakan. Faktanya, sebagian mengalami "bangkrut".

Ilustrasi kelakuan Orang Kaya Baru alias OKB (sumber gambar)


Itu memang hak mereka. Toh, uang mereka sendiri. Mau mereka gunakan untuk apa urusan pribadinya. Asal bukan dipakai kejahatan. Itulah pernyataan yang dilontarkan orang bersikap masa bodoh. Orang seperti itu, berpeluang bernasib sama nahasnya ketika tiba-tiba menjadi Orang Kaya Baru (OKB). Disebabkan, tak mampu mengendalikan diri yang berbuah cepat kembali miskin seperti kehidupan sebelumnya. Cepat kaya tetapi cepat pula miskinnya.


Bahaya OKB Gagap Finansial

OKB gagap adalah orang kaya baru yang mendadak punya banyak tabungan uang yang mengendap atau menganggur sehingga tak tahu semestinya mau dipakai apa. Di mana, OKB dibedakan menjadi dua kategori. Pertama, OKB aktif yaitu yang meraih kepemilikan harta dari hasil jerih payah sendiri. Kedua, OKB pasif yaitu memperoleh duit tanpa kesusahan. Keduanya, mempunyai kemiripan yaitu mendapatkan uang yang jumlahnya diluar dugaan sehingga bikin tergagap (gugup).


OKB aktif umumnya hanya mahir menangani persoalan tentang mencari uang sebesar-besarnya tapi kebingungan dalam mengelola. Sebab, fokus mereka hanya pada menumpuk dan mengumpulkan uang sebanyaknya. Mereka ketagihan terus-menerus bekerja demi menambah pundi-pundi rupiah di kantong. Padahal, nominalnya sudah gede tapi tetap saja bekerja mati-matian agar levelnya jauh di puncak ketinggian meninggalkan orang-orang di sekitarnya.


Beberapa kasus OKB aktif di antaranya meliputi berprofesi sebagai TKI/TKW di luar negeri, YouTuber viral, bisnis di bidang properti yang jumlah penjualan atau persewaannya meledak, profesi desain secara digital (lewat dunia maya), pedagang online di marketplace yang laris manis, artis yang naik daun, orang populer di media sosial yang dengan itu mampu dijadikan ladang mengeruk uang, pengusaha kuliner yang tiba-tiba terkenal lalu pengunjung membludak, serta masih banyak lagi yang kadang tak terpikirkan.


Tiba waktunya di titik klimak. Sekonyong-konyong merasa jenuh atau tanpa ada angin dan hujan penghasilan menurun. Pada akhirnya hati pun capek. Tatkala istirahat dan mengambil jeda, mereka terkaget melihat angka duit di rekening. Alhasil, tangan pun gatal ingin menggunakannya. Sayangnya, pikiran dan jiwanya tak mampu mengarahkan untuk disalurkan pada hal tepat. Parahnya, pemborosan pun terjadi. Bukannya investasi tanah atau aset properti lain, malah investasi penuh risiko.


Baca juga: 5 Pihak yang Kerap Jadi Sasaran Empuk Penipu Spesialis Aset Properti


Adapun OKB pasif mereka hanya mengandalkan keberuntungan. Oleh sebab itu, wajar saat ambisi yang diidamkan tersebut telah tercapai tak memiliki persiapan dalam menghadapinya. Sebab, mereka berfikir bila mendapatkannya saja begitu gampang maka bolehlah pula mudah dalam menghabiskannya. Padahal, itu mungkin saja kesempatan satu-satunya dalam hidup. Tak akan ada lagi peluang kelimpahan yang sama.


OKB pasif memiliki harta banyak lantaran mendapatkan limpahan warisan berupa uang, menjual harta warisan, pemenang lotere, menang judi, korban penggusuran, sebagai "pion tumbal" investasi bodong, pelaku penipuan, "tumbal" pencucian uang, hasil korupsi, atau faktor lainnya. Intinya, kekayaan yang mereka kuasai hampir seluruhnya merupakan uang panas. Maksudnya, sangat rawan membakar pemiliknya sendiri.


Risiko yang berbahaya menjadi OKB gagap finansial ialah kehidupannya bagaikan roller coaster alias kereta luncur super cepat di wahana wisata. Bergerak naik turun secara mengagetkan sehingga  begitu dramatis. Tidak seperti roda berputar yang naik turunnya pelan-pelan bertahap yang terjadi pada lumrahnya manusia. Hal itu disebabkan oleh ketidakberhasilan dalam mengatur dan menahan pengeluaran.


Efek negatif berikutnya ialah kepribadiannya berubah menjadi angkuh, sombong, ujub, atau lupa diri. Bagaikan peribahasa kacang lupa kulit. Mengabaikan orang-orang yang pernah mengajari serta membesarkan namanya. Menghardik teman di masa lalunya yang memeluk dan menemani di kala duka. Lalu, menjaga jarak pada kalangan yang sejatinya tulus dan ikhlas menjadi sahabat baginya.


Dampak buruk selanjutnya, mengalami tekanan jiwa atau depresi karena "tidak kuat" menerima kenyataan ditakdirkan jadi orang kaya. Menerima banyak duit bukannya senang, malah yang terjadi merasa bersalah. Belum lagi tatkala banyak keluarga, tetangga, sahabat, teman kerja, dan "pengemis" sok akrab/kenal yang mengerubutinya. Tentunya bikin canggung, risih, terbebani, hingga perasaan campur aduk lainnya.


Dulu dia terbuang, serta-merta langsung beramai-ramai manusia mendatanginya. Kalau sudah begitu, salah satu solusi yang dapat ditempuh dengan menerapkan jurus "menyelamatkan diri". Perlu disadari, lari dan mundur tak selamanya dilakukan oleh pecundang. Banyak orang-orang sukses dan pemenang pernah melakukan metode menarik diri dari keramaian. Tujuan utamanya, ingin memenangkan diri supaya otak lekas stabil lagi.


Ingatlah, para benalu yang ikut "menumpang" tenar maupun ingin menjadi lintah penghisap, hanya mau enaknya semata. Saat OKB kembali jatuh miskin mereka bakal menjauh seperti sedia kala. Lebih beringasnya, sebagian mereka bertepuk tangan dan tertawa puas bahagia. Jangan lupakan juga,  ulah dari musuh-musuh dalam selimut. Saat ada kesempatan, mereka segera cekatan menikam dari belakang.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Tanya Jawab Tentang Filsafat Pendidikan Islam dan Upaya Pembaruan Pendidikan Islam

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece