5 Kategori Orang yang Cocok Bisnis Properti

Banjirembun.com - Bisnis adalah kegiatan jual-beli barang atau jasa untuk mendapatkan laba dari setiap transaksinya. Istilah bisnis memiliki padanan kata dengan niaga. Keduanya memberikan pengertian bahwa bukan saat menjual saja disebut bisnis. Melainkan orang yang membeli maupun memakai jasa dari pihak lain dengan tujuan memperoleh keuntungan finansial juga merupakan bisnis.


Setiap individu sejatinya punya jiwa bisnis. Bedanya, bakat tersebut hanya dipakai untuk mempertahankan anggaran pribadi atau arus keuangan rumah tangga. Sebisa mungkin, dengan tindakan "bisnis" itu targetnya mampu beli sesuatu yang diidamkan. Jadi, hakikatnya bisnis yang dijalankan bukan difokuskan pada mencari untung sebesar-besarnya dan berkelanjutan. 


Salah satu contoh termudah sebagai ilustrasi yaitu ada ibu-ibu bernama Fulanah. Dia sedang beli sayur di pasar. Fulanah dibekali uang suami 20 ribu. Setiba di depan pedagang dia menawar kangkung satu ikat 2 ribu "diminta" jadi 1,5 ribu. Begitu pula kebutuhan pangan lain juga dia tawar. Dengan perolehan bahan mentah sama, saat tanpa menawar Fulanah butuh uang 25 ribu. Namun, nyatanya dia cuma keluarkan 15,5 ribu.


Kegiatan seperti di atas hakikatnya juga termasuk bisnis. Alasannya, Fulanah punya "laba" 4,5 ribu dari pemberian suami. Nominal tersebut dapat disisihkan sebagai tabungan. Dia mampu menghemat kas rumah tangga di keluarganya. Dengan begitu, "keuntungan" hasil "bisnis" Fulanah yang menumpuk berbulan-bulan bisa dipakai untuk keperluan lain. Salah satunya membeli kosmetik ataupun baju baru.


Nah, bakat bawaan bidang bisnis di atas sebenarnya tatkala dikembangkan serta diperluas cakupannya bakal sangat potensial. Tak terkecuali dalam bisnis properti. Setiap orang sebenarnya mampu menerapkannnya. Meski barangkali metode dan hasil yang dicapai berbeda-beda. Paling tidak sesungguhnya tiap manusia mampu melakukan. Artinya, untuk meraih untung besar butuh keterampilan tersendiri.


Berikut ini 5 orang yang cocok menekuni bisnis properti:


1. Pernah Beli Sendiri Aset Properti

Seorang yang mengaku bergelut di bisnis properti semestinya sudah pernah membeli aset properti. Tentunya yang bukan dipakai atau ditinggali sendiri untuk kebutuhan sehari-hari keluarga. Melainkan disengaja sebagai media berbisnis. Bila belum pernah sama sekali berpengalaman mempunyai properti maka profesi di bidang properti itu disebut makelar (mediator), sales, atau agen properti.


Sebelum beranjak bisnis properti kelas berat dan kakap, dianjurkan pertama kali beli properti berupa lahan kaveling di daerah pinggiran. Harganya murah 1 jutaan permeter dengan ukuran ideal minimal 60 m². Ketika takut tertipu tatkala beli tanah kaveling, karena memang rawan penipuan, sebaiknya aset properti pertama kali berupa rumah seharga 150-200 juta. Biasanya, angka segitu mudah ditemui pada kelas rumah subsidi.


Dapatkan pengalaman sendiri dalam membeli kaveling atau rumah murah berkualitas. Di mana, wajar tatkala memperolehnya sulit. Butuh survei atau menuju lokasi ke sejumlah perumahan maupun "developer" khusus jual-beli kaveling agar menemukan aset properti "emas". Itu semua memerlukan kejelian, kesabaran, waktu, dan hitung-hitungan yang tepat.


2. Jago Bicara Layaknya Sales atau Marketing Properti

Mulutnya oknum sales marketing maupun agen properti yang bersifat licik sangatlah beracun. Mereka pandai dalam menata kata-kata terlebih lagi memanipulasi mimik muka. Misalnya mereka pernah berkata "Nanti di taman ini akan dibangun patung megah berupa dua lingkaran yang indah". Beberapa tahun setelah ditagih "Mana janjinya? Katanya bikin patung di taman depan". Jawab mereka "Kami tidak pernah berjanji, kami hanya mengatakan atau menginformasikan".


Menjadi pembeli properti memang harus hati-hati. Begitu pula saat menjualnya. Dalam ranah hukum pidana, kasus di atas sulit atau malah mustahil dapat "dikasuskan". Sebab, tidak ada hitam di atas putih. Hal-hal perkataan dari developer maupun salesnya yang dapat dituntut ialah yang sudah tertera dalam Perjanjian Pengikat Jual Beli (PPJB). Di poin-poin itulah pembeli dapat menuntut janji-janji yang tertulis. Konsekuensinya, sebelum tandatangan PPJB, baca dulu!


Baca juga: Perilaku Pihak Penjual, Sales, dan Broker Jual Beli Properti yang Patut Diwaspadai


Kecerdasan komunikasi sangat diperlukan dalam jual-beli properti.  Hindari karena telah merasa punya uang untuk kulakan atau pengadaan aset properti, kemudian gaya bicaranya tak menghormati pemilik properti yang tengah menjual. Dialog yang santun ditambahi interaksi yang memanusiakan orang, merupakan kepribadian yang harus dimiliki pebisnis properti. Bagaimanapun, bisnis properti bersifat jangka panjang dan berkelanjutan. 


3. Menyukai Bacaan dan Tontonan Seputar Properti

Mendengar video tentang dunia properti sebentar saja mudah bosan. Apalagi membaca artikel terkait dengannya. Seseorang yang cocok bergelut di bidang properti tak akan pernah jenuh menimba ilmu properti. Bahkan, yang terjadi justru ketagihan terus-menerus ingin menggali tema atau bahasan tak jauh dari bidang properti. Terkadang langsung fokus pada jenis investasi properti tertentu.


Bisnis properti selalu berkembang. Ilmu properti pada tahun 2000-2010-an sangat sulit diterapkan di tahun sekarang. Alhasil, strategi yang dipilih juga wajib diperbarui. Disesuaikan dengan kondisi terbaru. Contohnya, dulu bisnis beli apartemen lalu disewakan sangat menjanjikan. Berhubung faktanya banyak gedung apartemen berdiri membuat jual-beli unit apartemen jadi lesu. Terlebih lagi persewaannya.


4. Suka Terjun Lapangan

Karakter pebisnis properti jauh berbeda sekali dengan bandar atau pemodal properti. Seorang "juragan" properti tidak perlu turun langsung ke lapangan. Cukup mengerahkan anak buahnya atau menyuruh makelar serta sales marketing bekerja di lapangan untuk jadi mesin penghasil uang. Tanpa perlu berpanas-panasan maupun aksi ngotot-ngotan menghadapi "preman".


Berbisnis properti wajib siap bertemu dengan makelar, kuli, tukang, masyarakat sekitar objek properti, PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah), dan lain-lain. Jangan pula sungkan saat kerap berkunjung ke kantor BPN (Badan Pertanahan Nasional), survei lapangan, atau mendatangi kantor pemerintah menyangkut perizinan maupun perpajakan. Beberapa hal yang disebutkan itu menjadi aktivitas rutin bagi pebisnis properti.

Meninjau hasil kerja tukang bangunan 

5. Menguasai Ilmu-ilmu Pendukung

Maksud "menguasai" di sini bukan menjadi mahir layaknya ahli. Di mana, untuk memahami struktur dan material bangunan tak perlu menjadi arsitek. Cukup menguasai ilmu dasarnya. Begitu pula dalam memahami legalitas lahan, tak dituntut menjadi ahli hukum atau pakar kenotariatan. Apalagi mengetahui seluk-beluk rencana tata ruang wilayah (RTRW), tidak usah terlebih dulu kuliah di jurusan perencanaan wilayah & kota.


Baca juga: 3 Contoh Taktik Licik Mafia Jual-beli Tanah dalam Mendekte Harga Pasar Properti


Ilmu-ilmu pendukung dalam bisnis properti amat diperlukan. Beberapa fungsinya demi mencegah diri menjadi korban tindak penipuan, mengalami kerugian finansial terutama dalam jangka pendek, hingga sebagai bahan antisipasi atau prediksi sebelum memutuskan investasi properti. Oleh sebab itu, jangan sekali-kali meremehkan sejumlah wawasan dan pengalaman orang lain tentang dunia properti.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Tanya Jawab Tentang Filsafat Pendidikan Islam dan Upaya Pembaruan Pendidikan Islam

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece