Bedanya Salah Beneran dengan Mencari Kesalahan

Kesalahan apa adanya dengan mencari-cari salah bedanya tipis. Bisa jadi itu memang salah tapi kesalahannya dicari-cari dulu. Bahkan sebenarnya tidak salah tapi diolah sedemikian rupa sehingga nampak salah. Sedang yang lain meski sama-sama salahnya karena satu kepentingan kesalahannya disembunyikan.


Pada dasarnya manusia memang punya naluri untuk membela diri. Itu sesuatu yang alamiah. Bahkan manusia yang salah sekalipun juga melakukannya. Perbuatan tersebut dilakukan tidak lain untuk mengamankan diri dari ancaman.  Supaya hidupnya tak ada ganjalan.


Tentu manusia tidak mau repot-repot punya urusan yang baginya hal sia-sia. Membuang waktu, fikiran, tenaga, hingga uang dengan kemubaziran. Oleh sebab itu, ia harus berjuang membela diri dari rasa kezaliman. Yakni, dari perbuatan kaum yang mencari-cari kesalahan.






Masalah mencari-cari kesalahan memang pelik. Siapa sih manusia yang tak pernah salah? Berbeda halnya bila memang benar-benar ada salah. Ketika salah itu ada tanpa dicari-cari maka cara, waktu, dan tempat menanganinya pun sewajarnya. 


Sebaliknya, bila ingin mencari-cari kesalahan maka cara, waktu, dan tempat menangani turut ikut dicarikan (disiapkan). Merancang sedemikian rupa hingga bekerja sama dengan pihak satu kepentingan. Semuanya dilakukan secara rapi sehingga kesan alami lebih menggejala.


Memang repot menghadapi tipe manusia seperti ini. Bila ada pihak yang berpotensi merugikan kepentingannya maka akan dicari kesalahannya. Dicari kesalahan yang dimiliki hingga pada hal-hal yang detail. Bahkan pada hal yang orang lain pun sebenarnya juga pernah melakukannya.


Siapapun bisa cari-cari kesalahan. Hanya butuh momen yang tepat untuk mengganjal orang tak disuka. Tinggal cari cara apa yang cocok digunakan untuk memainkan drama. Tidak hanya itu. Supaya sandiwara cari-cari kesalahan tidak mencolok segala alibi dipersiapkan. Alasan ini itu digunakan.


Jangan sampai kesan pelenyapan terlihat terang benderang. Kesalahan kecil harus dieksploetasi sedimikian rupa. Lalu dipoles dengan cerdiknya. Supaya terlihat menjadi sesuatu yang patut dipermasalahkan. Kemudian untuk antisipasi hal tak terduga disiapkan pionnya. Berguna sebagai pengalih isu dan berita.


Dengan begitu, tujuannya bisa tercapai. Yakni, supaya kesan suci tak bersalah tetap melekat padanya. Logika yang digunakan sederhana. Dengan menyalahkan orang lain berarti secara tidak langsung ingin menunjukkan dirinya paling benar. Tunjuk orang untuk menyembunyikan kebusukan badan.


Luar biasa. Hanya dengan satu lemparan dua burung terkapar. Tidak hanya bisa menggulingan korban tapi juga bisa untuk membangun citra diri. Satu tindakan dua keuntungan diperoleh. Hal ini sama seperti falsafah "belah bambu". Yakni, menginjak orang lain untuk mengangkat diri (mengangkat orang yang kepentingannya sama).


Sayangnya, membela diri dari kesalahan kadang biayanya lebih mahal. Ini yang memaksa rela meregang. Akibatnya, harus pasrah menerima konsekuensi temuan dari hasil kaum pencari kesalahan. Kalau sudah begitu mau membela diri jadi ragu. Bila pun diam tetap beresiko terus tertindas. 


Ada juga pilihan untuk melawan. Namun, itu belum tentu menang. Semuanya belum pasti. Selain yang pasti semua sumber daya bisa berkurang sebagai amunisi melawan. Jadi serba salah. Melawan ibu mati tak melawan istri tinggal nama. Mau berdamai sudah terlambat. Tetap akan ditindas.



Semoga kita bisa kuat menghadapi fitnah dunia sehingga menjadi asbab masuk surga dengan cepat. Terima telah membaca. Mohon maaf atas segala kekurangan tulisan ini.



Kesalahan (sumber gambar)



Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)