Pembangun Peradaban dan Sampah Peradaban: Diskursus antara Manusia Mulia Vs Manusia Durjana




Siapa sih yang tidak ingin menjadi manusia bermanfaat? Siapa yang tidak ingin menjadi manusia yang baik? Siapa yang tidak ingin menjadi manusia yang unggul? Semua pertanyaan itu memang menggelitik. Pertanyaan yang dianggap tidak penting serta penuh keyakinan bahwa jawabannya ialah semua orang mau atau ingin menjadi semua yang disebutkan itu. Memang harus diakui hampir semua orang awalnya mau dan ingin menjadi sosok seperti itu. Terutama di masa kecil dulu. Mereka ingin menjadi sosok "pahlawan" seperti di film fiksi yang merupakan sosok bermanfaat, baik, dan unggul. Tentu dengan mendapat gelar pahlawan itu mereka juga ingin menjadi sosok yang terkenal dan diakui oleh sekitarnya.


Seiring berjalan waktu keinginan tersebut ternyata menjadi khayalan belaka. Semuanya seakan sulit untuk mencapainya, hingga akhirnya keputusasaan menghampiri. Ujungnya ia memilih menjadi manusia yang biasa-biasa saja, yang normal (wajar) seperti pada umumnya. Sebaliknya, ada pula yang melakukan titik balik. Alih-alih menjadi manusia yang bermanfaat, baik, dan unggul malah menjadi manusia yang membawa mudarat (kerugian), keburukan, dan hina. Itu semua diakibatkan karena mereka tidak bisa atau tidak tahu caranya mencapai kemuliaan diri. Selanjutnya, jalan pintas yang menjadi klaim jalan satu-satunya yang harus diambil sebagai ekspresi atau bentuk protes dan keputusasaan. Tidak akan peduli itu akan merugikan hingga menyebabkan keburukan bagi orang lain.


Manusia yang membawa kemudaratan, keburukan, dan kehinaan bisa disebut sebagai manusia durjana. Sedang manusia yang membawa kebermanfaatkan, kebaikan, dan keunggulan bisa disebut manusia mulia. Manusia tinggal pilih mau menjadi apa. Bisa juga memilih jalan tengah. Tidak ingin menjadi pahlawan yang berhati mulia pun tidak berharap menjadi manusia durjana. Manusia seperti ini sangat banyak jumlahnya. Memang pada beberapa kasus, umumnya yang berada di tengah-tengah seperti ini banyak jumlahnya. Resikonya, tentu ia tidak akan menjadi manusia yang terkenal dan diakui terutama untuk skala besar. Paling mentok hanya menjadi manusia yang terkenal dan diakui di lingkungan sekitarnya saja. Bagi mereka itu sudah lebih cukup dan patut untuk disyukuri bahkan untuk dibanggakan.


Menjadi orang yang terkenal dan diakui memang tidak mudah. Butuh perjuangan dan kerja keras yang luar biasa. Tidak sembarang orang bisa mencapai pada tahap ini. Namun, keterkenalan dan diakui belum tentu otomatis akan menyebabkan ia menjadi manusia mulia. Sebab ada beberapa kejadian ditemukan orang yang terkenal dan diakui reputasinya tapi bukan karena kebaikan yang ia lakukan tapi karena keburukannya. Manusia seperti ini pantas disebut sebagai bagian sampah peradaban. Di mana, mereka akan tercatat sebagai pengotor sejarah peradaban manusia. Pada kemudian hari, saat sejarah hidupnya dibaca maka akan ditertawakan oleh generasi berikutnya. Betapa sakit rasanya bila di dalam kubur ia tahu sedang "ditertawakan" oleh keturunannya sendiri maupun keturunan saudara-saudara hingga keturunan teman-temannya.


Manusia durjana cenderung menjadi perusuh. Tidak suka melihat orang lain berusaha mencapai prestasi gemilang, bahkan cenderung menghalanginya. Hendak menyaingi tapi tidak mampu karena bakatnya tidak mendukung atau tidak cocok untuk mencapainya. Sedang bakatnya sendiri di bidang lain tidak ia optimalkan untuk mencapai presatasi di bidang lain. Ia kurang mensyukuri terhadap bakat yang melekat padanya. Akibatnya ia hanya menjadi batu rintangan bagi pembangunan peradaban. Ia menyiksa diri, karena seharusnya energinya digunakan untuk mengekspresikan diri dengan bakatnya malah dikuras untuk mengganggu orang lain. Ia tidak rela bila peradaban ini dibangun oleh orang yang tidak disukainya. Bahkan berpandangan, biarlah peradaban jalan ditempat asal orang yang dimusuhinya tidak bisa membangun peradaban. Sungguh mengerikan.
 

Sedang manusia umumnya yang mengambil jalan tengah (tidak ingin menjadi pahlawan juga tidak ingin menjadi manusia durjana) cenderung berprinsip "Bila tidak bisa membangun peradaban maka pantang untuk merusak peradaban yang sudah maupun sedang dibangun." Tidak akan menganggu jalannya pembangungan peradaban tapi juga tidak berperan aktif dalam membangun peradaban. Bila dibutuhkan akan membantu semampunya itupun harus diajak terlebih dahulu. Sebagian dari mereka berpandangan bahwa hanya orang-orang yang terpilih yang berhak dan mampu menjalankan tugas mulia itu. Sebagian yang lain berprinsip hidup untuk urusan diri sendiri tidak usah ikut campur kehidupan dan urusan orang lain. Biarkan orang yang lain yang mampu dan yang berwenang yang mengurusinya. Itulah kenyataan yang harus kita akui.


Adapun orang yang ingin membangun peradaban tentu jumlahnya sangat sedikit. Terlebih mereka yang membangun penuh ketulusan dan rasa empati yang tinggi. Di dalam hati mereka hanya terbesit untuk membangun sebuah tatanan luas yang bisa berakibat baik bagi umat manusia. Mereka ingin kehidupan manusia lebih baik. Tidak ada lagi kelaparan, kekerasan, peperangan, pembantaian, ketidakadilan, dan hal-hal semacamnya. Entah dengan cara apa yang penting tidak melanggar etika maka akan ditempuhnya. Bisa melalui jalur pendidikan, politik, teknologi, ekonomi, dan apapun itu asal bisa bermanfaat dan membawa kebaikan bagi manusia. Itulah manusia mulia yang mendedikasikan waktu, uang, pikiran, dan bakatnya bukan untuk diri sendiri semata. Semoga kita bisa menjadi manusia mulia yang mampu membangun peradaban sehingga nama kita tercatat harum dalam sejarah kehidupan manusia.


Demikian tulisan ini saya buat. Terima kasih telah membaca. Semoga bermanfaat.





Peradaban (sumber gambar)

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)