Mengapa Lembaga Sekolah Tidak Bisa Berkembang? Ternyata Mental Guru Salah Satu Faktornya



Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang orientasi awalnya berbasis sosial. Artinya bukan organisasi atau perusahaan yang tujuan utamanya untuk meraih profit alias laba material. Pun, bukan untuk memakmurkan para pegawai yang biasa disebut Guru dengan memberinya gaji pantas. Sebab Guru pada dasarnya ialah profesi pengabdian bukan profesi mencari uang.


Pernyataan-pernyataan di atas di zaman sekarang ini masihkah relevan? Berjuta alasan tentu akan muncul untuk menyanggah semua itu. Salah satunya "Kalau Guru gajinya minim bagaimana menghidupi keluarganya dengan cara layak?" Belum lagi sebuah pernyataan yang kelihatannya mulia tapi ada maksud dibalik itu.  Yakni, "Zaman sekarang menjadi Guru itu bukanlah pengabdian tapi sebuah profesi mencari uang untuk menafkahi keluarga dengan pantas".


Bila anak orang lain saja mesti dipintarkan oleh Guru seharusnya anak sendiri juga patut dipintarkan. Di mana, untuk memintarkan anak sendiri itu butuh biaya. Dari mana lagi biaya itu didapat kalau tidak dari hasil profesi mengajar. Bisa dikatakan motivasi mengajar antara Guru zaman dulu dengan zaman sekarang terdapat pergeseran. Hal yang paling kentara adalah terkait "gaji" atau bayaran yang didapat.


Permasalahan di atas merupakan masalah mental Guru yang menjadi bagian satu saja alasan mengapa sekolah tidak bisa berkembang. Itu pun yang disebutkan di atas bukan masalah mental Guru secara keseluruhan. Masih ada beberapa hal. Salah satunya pernah dibahas secara detail dalam website *Banjir Embun* berjudul Guru ini Rela Melakukan Perbuatan Hina Demi Uang dan Guru dan Kepala Sekolah Pemalsu Dokumen.  


Secara umum berikut ini beberapa faktor mengapa lembaga sekolah tidak bisa berkembang:


1. Mental Guru

Memang seorang Guru yang mencari "uang" dengan halal di sekolah bukanlah perbuatan salah. Itu adalah perbuatan baik dan patut. Namun, bila Guru nyatanya lebih fokus mencari uang di sekolah daripada mengurus anak didik maka itu adalah kesalahan. Terlebih Guru yang serakah yaitu mengeksploitasi lembaga pendidikan untuk pengerukan uang. Mental guru yang seperti itu merupakan perbuat salah kaprah alias perbuatan hina yang paling hina.


Guru yang datang ke sekolah tapi tak peduli keadaan sekolah yang sedang memprihatinkan. Baik memprihatinkan secara fisik maupun moral manusia terutama para muridnya. Guru yang tak punya kesungguhan untuk mengembangkan lembaga sekolah. Mereka hanya menjadi parasit bagi sekolah. Jangankan membentuk karakter siswa untuk kesiapan masa depannya, melihat siswa yang bermental rusak pun dibiarkan. Cuek begitu saja seolah tak tahu.


2. Memandang Sekolah sebagai Perusahaan atau Lembaga Bimbingan Belajar



Lembaga sekolah bukanlah lembaga bimbingan belajar. Di mana pembagian tugas jelas. Orang yang mendapat tugas A maka harus fokus masalah A. Hal itu seharusnya tidak berlaku bagi lembaga sekolah. Bila seorang guru menjadi Wali Kelas maka bukan berarti dia akan mengabaikan siswa di kelas lain. Secara tugas mungkin itu tugas Wali Kelas lain. Namun secara moral semua siswa adalah tanggung jawab semua guru termasuk kepala sekolah. Dengan begitu guru tidak hanya datang-mengajar-pulang.


Barangkali Wali Kelas lain itu sedang repot atau alasan lain. Oleh sebab itu tidaklah salah bila anak didik kelas lain itu ikut dibimbing bila kenyataannya harus dibimbing dan diayomi. Bukan berarti itu menyerobot tugas orang lain. Itu cara pandang yang salah besar. Dalam dunia pendidikan seorang Guru memang seharusnya saling tolong-menolong. Bukan seperti umumnya perusahaan yang pegawainya satu sama lain saling berkompetisi.


3. Tak Punya Inisiatif untuk Memperbanyak Siswa

Keberadaan siswa adalah inti dari sekolah. Tanpa siswa sekolah tak punya arti apa-apa. Siswa adalah nyawa bagi sekolah. Semakin sedikit jumlah siswa maka semakin "sekarat" pula lembaga sekolah. Semakin banyak siswa akan semakin "cerah" pula nasib sekolah ke depannya. Tentu itu harus dibarengi dengan fasilitas atau sarana prasarana dan layanan sekolah yang berkualitas. Agar siswa yang banyak itu bisa terdidik dengan baik.

Ilustrasi sekolahan (sumber gambar)


Bila sekolah tak punya inisiatif untuk memperbanyak siswa dengan cara "promosi" agresif entah bagaimanapun caranya maka secara tidak langsung "bom waktu" telah diputar. Lama kelamaan lembaga tersebut akan mati. Walaupun tetap berdiri tapi setidaknya dalam keadaan "hidup tidak sehat, matipun segan". Secara gampangnya, sekolah dibagi menjadi dua tim. Tim pertama mencari atau mendatangkan siswa baru sebanyak-banyaknya sedang tim yang lain ialah "mengkader" dan melakukan bimbingan yang berkualitas pada siswa.



Itulah beberapa alasan mengapa lembaga sekolah tidak bisa berkembang. Sebenarnya masih ada banyak alasan lainnya. Namun masalah pokok untuk saat ini adalah tiga faktor di atas. Bila salah satu faktor di atas terjadi maka patut diwaspadai. Bila ketiga hal di atas ada semua apalagi sudah terjadi lebih dari dua tahun maka lembaga sekolah itu diambang kehancuran. Tinggal menunggu waktu untuk ditutup karena akan kekurangan murid.



Komentar

Baca juga postingan berikut:

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja