Review Film Star Wars: The Rise of Skywalker, Ada Adegan Lesbi

Film Star Wars: The Rise of Skywalker rilis perdana serentak tanggal 18 Desember 2019. Film ini menjadi penutup saga Star Wars yang rilis pertama tahun 1977. Itu berarti babak pamungkas dalam trilogi Star Wars sudah keluar. Bertanda produksinya juga telah berakhir.


Saya pribadi setelah melihat sendiri film ini tidak terlalu heboh. Sebab saya memang bukan penyuka semua seri film di bawah naungan Star Wars sejak dahulu. Entah kenapa. Star Wars merupakan film aksi dan film fiksi ilmiah yang paling tidak saya sukai.


Namun, sejelek dan semembosankan film aksi dan film fiksi ilmiah tetap akan saya tonton. Daripada menonton film horor atau film komedi yang mengeksploetasi tubuh, pornografi, dan minim nilai moral. Masih mending Star Wars yang menyajikan tampilan gambar yang futuristik.




Awalnya saya sudah menduga alur cerita ini membosankan. Hingga sampai pertengahan film saya masih belum mendapatkan apa-apa. Hingga beberapa saat kemudian saya mulai tertarik dengan alur ceritanya. Lalu susul-menyusul cerita yang penuh kejutan yang membuat saya batal kehilangan selera.


Bagi orang yang jarang atau bahkan belum pernah menonton bioskop menyaksikan film ini pasti sangat takjub. Tak perlu memahami cerita cukup melihat sajian gambar yang dibuat dari hasil teknologi CGI sudah bikin merinding. Akan tetapi buat saya yang sudah terlalu sering nonton film bioskop, perasaan semacam itu sudah hilang.


Syukurlah ternyata film ini tidak hanya menjual tampilan gambar. Banyak hal yang saya peroleh dari film ini. Sebut saja seperti nilai perjuangan, kebersamaan, persahabatan, kepercayaan, kekeluargaan, hingga pengorbanan. Bagi kalian yang punya kadar empati tingkat tinggi dijamin bakal terenyuh melihat beberapa adegan tokoh di film ini.


Sayangnya, film ini endingnya tidak benar-benar happy. Meski musuh telah berhasil dimusnahkan total nyatanya di pihak protagonis juga mengalami banyak kehilangan nyawa. Bisa dikatakan Star Wars: the Rise of Skywalker adalah kisah tentang bagaimana sebuah kemenangan kadang harus ada yang berkorban.


Tak hanya itu, saat perayaan kemenangan dilakukan (diakhir cerita) ada adegan lesbi di dalamnya. Yakni, adegan ciuman antara sesama perempuan. Meski sekitar dua detik saja, tapi bagi para agamawan fanatik adegan ini sungguh tidak terpuji. Mungkinkah adegan ini akan tetap dipertahankan di Indonesia? Atau akan diedit dengan cara menghilangkannya.


Film ini seakan ingin menunjukkan bahwa suatu tirani bisa dikalahkan tidak hanya dilakukan oleh kaum "normal". Golongan minoritas dan tersingkir pun bisa ikut berperan bersama-sama dalam perjuangan kebebasan. Misalnya seperti golongan LGBT. Apa menurut pendapat kalian tentang adegan tersebut?








Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)