Bukan Agama, 5 Hal Berikut Dapat Menyatukan Perbedaan Sekaligus Memecah Belah Internal

Banjirembun.com - Persatuan, kebersamaan, dan kerja sama antar manusia tak akan pernah terwujud tatakla tanpa disertai penyebab. Harus ada faktor pendorong, pencetus, alasan, atau tujuan yang diusung bersama agar kesatuan tercipta.


Banyak orang beranggapan bahwa agama jadi penyebab fanatisme buta dan kecanduan sehingga manusia menjadi terkotak-kotak. Agama dituding menjadi biangkerok peperangan, kerusuhan, hingga konflik batin masyarakat.

Ilustrasi sinisme dan kecurigaan pada agama (sumber gambar)


Selama ini agama dijadikan kambing hitam. Tanpa disertai penilaian berimbang betapa agama memiliki peran penting dalam menjaga, mendidik, membangun peradaban, dan menenangkan manusia dari kegelisahan. Entah apa jadinya dunia tanpa agama.


Baca juga: Dampak Ketika Semua Manusia Tak Beragama dan Tidak Percaya Ada Kehidupan Abadi Setelah Mati


Dalam hal "kecil", agama menjadi pelabuhan hati bagi insan ketika keluarga dan negara sudah tak peduli. Ke mana lagi seseorang yang sedang mengalami jalan buntu, tertekan, serta masalah berat yang siapapun sudah tak sanggup lagi membantu.


Inilah 3 penyebab terjadinya persatuan meski berbeda, sekaligus mampu menimbulkan perpecahan dalam kalangan internal yang punya kesamaan.


1. Politik

Perbedaan suku, agama, ras, dan asal-usul daerah bukanlah suatu tembok penghalang tatkala punya kepentingan politik sama. Misalnya, dukungan presiden dan partai politik yang sama. Justru, perbedaan itu dapat memperkuat jargon "kebhinekaan" yang dibanggakan.


Sebaliknya, meski agama sama kalau ideologi politik berbeda begitu mudah membuat internal pemeluk agama terpecah belah. Malahan, lebih respek pada beda agama daripada sesama umat seagama yang dipandang beda aliran politik.


Tindak tanduk terkait hubungan kerukunan pemeluk agama dengan pemerintah maupun kerukunan antar umat beragama sangat fasih diterapkan. Namun, soal kerukunan intern umat beragama sungguh amburadul. Agama tergadai gara-gara jabatan dan ego golongan.


Penerapan Tri Kerukunan Umat Beragama yang tak selaras di atas merupakan cermin dari gagalnya pendidikan politik. Lebih mengerikan lagi, jadi bukti bahwa agama cuma sebagai alat untuk menuju kekuasaan. Tak lebih sebagai komunitas politik.


Baca juga: Tujuan Tri Kerukunan Umat Beragama


Peran politik dalam menyatukan manusia cenderung singkat. Setelah agenda tujuan berhasil dan dapat jabatan, hubungan mereka jadi renggang. Sebab sudah dapat jatah masing-masing. Apalagi saat terjadi kegagalan dan muncul pengkhianatan, bakal lebih semrawut.


2. Uang

Uang merupakan salah satu ujian terberat bagi manusia. Siapapun saja terutama kaum yang lemah iman, punya potensi sakit jiwa, dan raja tega mampu berbuat apapun demi uang. Misalnya mencuri, korupsi, merampok, menipu, suap, dan lain-lain.


Uang juga yang membuat pribumi atau masyarakat lokal berkhianat membela kaum penjajah. Menjadi manusia munafik yang punya ciri seakan cinta negara tapi nyatanya menusuk bangsa dari dalam. Salah satunya dengan taktik adu domba.


Uang juga telah mampu membuat komunitas agama tertentu terbungkam. Lebih membela agama lain sekaligus rela menjaga tempat ibadahya. Coba andai tanpa diberi uang apa mau berbuat seperti itu. Ironisnya, justru saudara seiman diperlukan hina dan dibenci.


Uang mampu membeli segalanya. Termasuk prinsip hidup. Bahkan mungkin mempersilakan merusak alam, kearifan lokal, dan kedamaian warga. Akan tetapi berhubung ada dana alias uang kompensasi suara publik dibungkam. Begitu pula tatanan mapan dapat digadaikan.


Dalam kasus lain, kemiskinan dan perut lapar sanggup membuat penduduk terpencil pindah agama walau cuma dikasih mi instan. Tak kalah miris, rela menjual anak gadisnya ke "pengepul" alias agen pekerja malam di perkotaan dan luar negeri. Itulah bukti uang mampu menghilangkan sisi manusiawi.


3. Olah Raga

Pernah ada cerita lama tentang warga kota A mengalami kerusakan sepeda motor di kota B. Di plat nomor itu tertempel stiker klub sepakbola "milik" masyarakat kota B. Di mana pada kejadian itu nasib baiknya diketahui suporter fanatik sepakbola tersebut.


Mengetahui di sepeda motor warga kota A terdapat stiker klub kebanggaannya, dia langsung begitu semangat. Mengerahkan teman-temannya ikut serta membantu. Akhirnya, tanpa pikir panjang motor dinaikkan pick up. Diantarkan sampai rumah dengan jarak puluhan kilometer.


Kejadian lain yang tak kalah "heroik" yaitu suporter kafir di klub eropa yaitu liverpol sangat mengelu-elukan Muhammad Salah. Agama Islam yang dipeluk Salah tak jadi halangan bagi pendukung liverpol untuk menyanjung pemain emas tersebut. 


Dalam urusan politik, olahraga juga kerap dieksploitasi pejabat guna meraih simpati para pemilih. Tak kalah bikin heran ialah orang yang beda haluan politik bisa kumpul bersama dalam satu stadion, sirkuit, atau lapangan olah raga.


Tak cuma menyatukan, olah raga juga dapat memecah belah rakyat. Di sebuah kota yang klub sepakbolanya terpisah jadi dua membuat akar rumput juga ikut-ikutan bermusuhan. Sebagaimana para petinggi klub yang telah bersitegang rebutan hak.


4. Komunitas

Komunitas ada banyak ragamnya. Dari yang resmi hingga terorganisasi secara kelembagaan. Sebuah Komunitas dapat menyatukan maupun memecah belah. Fenomena tersebut mudah ditemukan di kehidupan sehari-hari.


5. Ideologi

Agama bukanlah ideologi. Namun, harus diakui bahwa organisasi dan lembaga keagamaan merupakan produk ideologi. Lebih tepatnya sebuah gerakan yang mengatasnamakan agama tapi sejatinya cuma "meneruskan" ideologi pendiri serta para petingginya.

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Tanya Jawab Tentang Filsafat Pendidikan Islam dan Upaya Pembaruan Pendidikan Islam

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece