Kisah GISELA OKTAVIANI: Hari ini Gisel Menangis di Malang


Entah mengapa air mati Gisel di pagi ini Ahad 10 Maret 2019 harus tumpah. Gisel rindu dan kangen orang tua di kampung. Tempat nan jauh di sana. Tepatnya di Tegal.


Air mata Gisel menetes begitu saja saat melihat sepasang orang tua dan dua anaknya bercengkrama. Mereka tampak rukun, bahagia, dan harmonis.


Bapaknya kira-kira usia 44 tahun. Sedang sang ibu sepertinya tak jauh beda. Adapun kedua anaknya, Gisel taksir usia 18 dan 20 tahun. Semuanya berjenis kelamin perempuan.

Baca juga:



Saat itu Gisel melihat kedua anak berjalan berjejer saling berdekatan. Mereka tampak kompak menelusuri kerumunan orang. Juga saling menimpali omongan satu sama lain.


Sementara kedua orang tuanya mengikuti dari belakang. Seperti halnya anaknya, sepasang kekasih itu juga tampak mesra. Berjalan berdekatan dan sejajar seperti orang pacaran.


Kejadian di atas Gisel temui saat di kegiatan Car Free Day Kota Malang. Lokasinya di jalan Ijen. Entah kenapa di liburan kerja ini Gisel memilih untuk ke sini.

Baca juga:



Gisel sengaja membuntuti  mereka. Sebab hati ini penasaran sekaligus cemburu. Sejauh manakah dan seberapa lamakah keharmonisan keempat insan itu berlangsung.


Terpaksa Gisel harus bangkit dari tempat duduk di taman. Menyudahi istirahat selepas jalan-jalan di sepanjang jalur Car Free Day. Lantas Gisel buntuti mereka bak agen intelijen.


Niat iseng Gisel berbuah tangisan. Di tengah-tengah misi menguntit Gisel menjatuhkan air mata. Langsung Gisel usap. Biar tak ketahuan orang-orang di sekitar yang juga lalu lalang.


Gisel melihat mereka berempat begitu asyik bercengkrama di tengah keramaian. Sesekali sang Ayah bercanda yang membuat kedua anaknya tertawa.


Momen paling berkesan adalah saat sang ayah menaruh uang ke kotak sumbangan pemilik pemusik jalanan. Di tengah anaknya melihat aksi sang Ayah mereka siap-siap memotret.


Sang ayah minta di foto dengan latar belakang pemusik jalanan itu. Kemudian entah ayahnya melakukan apa kedua anak dan ibu itu tertawa lepas. Sambil memfoto anaknya tersenyum.


Aksi pemusik jalanan real di Car Free Day Kota Malang (foto koleksi pribadi diambil setelah sang ayang berfoto)

Tampilan sang ayah sederhana tapi cukup modis. Sedang tampilan istri dan anaknya berjilbab panjang. Bukan jilbab ideologis tapi lebih cenderung jilbab panjang yang modis.


Dibalik jilbab itu ada gamis (terusan) berlengan panjang. Berbusana longgar tapi cukup longgar tapi tetap modis. Warna jilbabnya kalem tidak mencolok dan tanpa motif.


Melihat pemandangan seperti di atas itu Gisel merasa iri. Ternyata masih ada orang tua yang pintar mendidik anaknya. Pintar membuat mereka rukun satu sama lain.


Seneng rasanya bisa membuntuti mereka sampai puas. Menikmati kegiatan mereka berempat yang sedang asyik bareng jalan-jalan, membeli makanan, beselfi bareng, dll.


Ingin rasanya Gisel saat pulang kampung nanti melakukan seperti itu bersama kedua orang tua dan adik-adik. Pasti seru dan menyenangkan. Semoga bisa terwujud.




Komentar

Banjir Embun mengatakan…
Terima kasih Kak sudah membaca