Masyarakat Indonesia Mudah Melupakan "Pelajaran" Bencana di Masa Lalu

Bangsa Indonesia memang terkenal memiliki jiwa yang besar. Salah satunya mudah memaafkan dan melupakan peristiwa buruk yang dilakukan pihak lain di masa lalu. Termasuk begitu gampang melupakan bencana besar yang telah meluluhlantakan daerah yang dihuninya. Entah itu karena faktor kultur atau faktor ekonomi perbuatan seperti itu tetap salah.

 
(sumber gambar)



Pernyataan di atas didukung oleh Berton Panjaitan, Kasubdit Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB. Sebagaimana dikutip dari Viva, Berton menyatakan masyarakat Indonesia memiliki mental pelupa dalam masalah kesiapsiagaan bencana. Lupa bahwa wilayah yang ditinggali pernah kehilangan ribuan manusia karena bencana.




Bukti nyatanya ialah meski sudah menjadi korban bencana masih banyak masyarakat yang kembali ke area rawan bencana. Mereka membangun rumah dan peradaban kehidupan di tempat di mana ia kehilangan sanak saudara, teman, dan tetangga. Bisa dikatakan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap potensi bencana masih kurang.

Mereka mengundi nasib diri dan keluarganya di tengah ancaman bencana. Tidak peduli terhadap "jejak" bencana di masa lalu yang seharusnya menjadi tanda peringatan. Misalnya saat bencana sunami usai seharusnya mereka meninggalkan secara permanen lokasi bibir pantai yang landai. Mereka harus memilih tempat yang jauh lebih tinggi yang sekiranya terjangan sunami tak dapat menjangkau.


Berbeda dengan di Indonesia. Di Jepang masyarakatnya sangat disiplin dalam mengantisipasi bencana alam. Negeri yang pantas di sebut sebagai "Negeri Bencana Alam" ini berhasil mendidik masyarakatnya. Mereka sudah terlatih dan dalam jiwanya sudah melekat kewaspadaan terhadap potensi bencana. Dengan begitu nyawa dan peradaban mereka tetap terjaga.


Masyarakat Jepang bukanlah masyarakat pelupa terhadap peristiwa bencana di masa lalu. Sebagaimana dikutip dari Tribun, bangsa Jepang senantiasa menjadikan bencana di masa lalu sebagai pelajaran. Dengan begitu, ketahanan masyarakat terhadap bencana alam semakin meningkat. Selanjutnya, mereka mewariskan "nilai luhur" itu kepada generasi selanjutnya.


Proses pewarisan sejarah bencana pada generasi penerus sangat penting. Sebab bila suatu bangsa mudah melupakan bencana di masa lalu maka itu akan menjadi musibah bagi keturunan berikutnya. Harapannya, supaya generasi selanjutnya lebih tangguh dalam menghadapi bencana alam. Senantiasa siap lahir dan batin ketika bencana tiba-tiba melanda.


Sungguh pantas bila ada ucapan "bencana yang sesungguhnya akan datang ketika masyarakat sudah melupakan bencana yang telah lalu". Logika itu sangat masuk akal. Sebab seberapa besar pun "bencana" terjadi bila masyarakat sudah mengantisipasi maka itu tidak akan menjadi sebuah "bencana" yang memakan banyak korban.





Tidak hanya untuk mengurangi korban jiwa. Membangun masyarakat tahan bencana juga bisa untuk menyelamatkan seluruh elemen kehidupan. Agar semua kembali normal dengan cepat setelah bencana menerpa. Bisa dikatakan tanggap bencana saja tidak cukup. Bangsa Jepang memiliki ketangguhan dalam menghadapi bencana.








Komentar