Pada 15 November 2022 Populasi Manusia di Bumi Tembus 8 Miliar, Berikut Peluang dan Tantangannya

Banjirembun.com - Bertambahnya populasi manusia di bumi menjadi bencana atau anugerah? Lebih besar peluang atau tantangannya tatkala terus tambah? Itulah dua di antara banyak pertanyaan dari sejumlah ahli serta segelintir insan di dunia yang peduli pada kesejahteraan kehidupan seluruh makhluk.


Sayangnya, alih-alih menyadari tentang adanya hubungan erat antara jumlah penduduk bumi dengan ancaman yang menyertainya, justru nyatanya masih banyak yang belum tahu berapa jumlah penghuni dunia ini. Silakan tanyakan pada teman atau siapapun, kemungkinan besar jawabannya salah.


Diprediksi pada 15 November 2022 di beberapa hari ke depan populasi manusia tembus 8 miliar jiwa. Nominal itu 3 kali lipat lebih dibandingkan tahun 1950 yang "hanya" 2,5 miliar orang. Nahasnya, masih menurut Divisi Populasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) juga memperkirakan angka kelahiran manusia di dunia ini bakal menerus tumbuh.


Kabar enaknya adalah walau secara umum angka pertumbuhan penduduk dunia makin tambah, nyatanya lajunya dikalkulasikan melambat. Artinya, secara presentase maupun angka kelipatannya tak semembeludak tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, tren penurunan angka kelahiran makin terlihat jelas dan angka kematian juga tetap ada.


Salah satu alasan utamanya, ada yang mengaitkan dengan maraknya digitalisasi serta pesatnya teknologi informasi dan komunikasi. Sebut saja seperti game online dan media sosial. Intinya, koneksi internet yang murah sekaligus mudah membuat manusia semakin individualis. Ujungnya, menjadi abai terhadap keinginan "memperbanyak" keturunan.


Kendati demikian, dilarang senang dulu mendengar kabar di atas. Alasannya, penurunan jumlah warga dunia terjadi tak merata. Terdapat kesenjangan di beberapa negara dalam beberapa puluh tahun ke depan. Hal semacam itu merupakan alarm bahaya yang patut diperhitungkan.


Bagaimanapun, pertumbuhan tahunan yang mengalami penurunan dari yang tertinggi 2,1% pada 1962-1965 menjadi di bawah 1% sejak 2020 sampai kini patut diwaspadai. Parahnya, angka tersebut bakal terus menurun kisaran 0,5% pada 2050 mendatang. 


Faktor dominan penyebab melandainya populasi manusia di bumi, selain karena kondisi psikologis manusia yang berubah juga disebabkan tingkat kesuburan organ reproduksi yang menurun. Sekali lagi, penyebab terkuatnya diduga penggunaan teknologi tanpa kontrol sehingga berlebihan.


Diketahui, saat 2021 kemarin rata-rata tingkat kelahiran pada wanita ialah 2,3 bayi selama hidupnya. Rasio perbandingan tersebut diduga makin turun di tahun 2050. Yakni, menjadi 2,1 kelahiran bayi selama seumur hidup wanita. Selisihnya tampak kecil, tetapi ketika dibandingkan dengan angka miliaran manusia bakal menghasilkan nilai gede.


Baca juga: Skenario Depopulasi Umat Manusia Secara Alami Maupun dari Hasil Rekayasa


Orientasi, cara pandang, arah hidup, hingga prinsip hidup kebanyakan orang mungkin ke depannya berhaluan "bebas". Salah satu indikatornya menjalani hidup tanpa mau memperoleh gangguan anak. Dicurigai paham, aliran, atau golongan pihak yang anti anak tersebut merupakan hasil propaganda/kampanye tentang childfree. Yakni, upaya merubah mental dan jiwa individu agar enggan punya anak.

Permukaan bumi (sumber gambar)


Entah lantaran disengaja atau bukan, diproyeksikan jumlah populasi manusia bumi di masa depan tidak melampaui 10 milliar. Sedangkan, menurut pendapat lain lebih rendah lagi yaitu tak melebihi 9 miliar cacah jiwa. Dalam artian, secara alami maupun desain dari "pemerintah dunia" penduduk bumi tak mungkin terus bertambah. Ada titik baliknya.


Kesenjangan Populasi Global

Pencetus alias pendorong berkembangnya angka populasi global salah satunya yaitu angka kematian yang menurun. Penentunya tidak lain peluang atau harapan hidup rata-rata manusia terus meningkat. Di mana, sejak tahun 2019 lalu angka rata-tata harapan hidup manusia 72,8 tahun. Lantas, PBB memprediksi tahun 2050 bertambah jadi 77,2 tahun.


Bertambahnya peluang hidup individu manusia diakibatkan oleh semakin paham dan sadarnya manusia tentang dunia kesehatan. Ditambah pula asupan nutrisi dan gizi yang terjamin, ikut andil dalam menjaga kesehatan serta produktivitas manusia. Serta, pemahaman tentang keselamatan kerja dan cegah kecelakaan dalam transportasi.


Info di atas sekilas jadi hal menggembirakan. Akan tetapi, di balik itu terdapat tantangan tersendiri bagi masyarakat internasional. Salah dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia mampu membawa risiko pada menetapnya mata rantai atau lingkaran setan generasi sandwich.


Baca juga: Upaya Memutus Mata Rantai Generasi Sandwich, Agar Hidup Jadi Lebih Bahagia


Jumlah manusia lanjut usia yang membludak berdampak pada menurunnya produktivitas, tanggungan anggaran pensiun negara, hingga perawatan (perlu tenaga, waktu, biaya, dan kejiwaan) orang sepuh yang ringkih atau sakit-sakitan. Baik itu dirawat di panti jompo, pusat kesehatan, maupun di rumah sendiri oleh keluarga sama-sama menjadi "pukulan" mematikan.


Kesenjangan antara potensi populasi yang menggiurkan berupa "bonus demografi" dengan populasi manusia lanjut usia makin menganga lebar di belahan dunia. Kala ini benua Eropa didominasi oleh individu berusia rata-rata 41,7 tahun. Berbanding terbalik dengan Afrika (terutama bagian utara) yang sekarang usia rata-rata 17,6 tahun.


Benua biru yang dihuni oleh mayoritas orang bule berkulit putih itu dalam beberapa tahun depan dibebani oleh manula, lansia, atau manusia umur tua. Kesenjangan global tersebut bukan cuma berpeulang dan menimbulkan tantangan bidang politik dan ekonomi. Lebih dari itu kehidupan sosial pada umumnya seperti agama dan budaya juga berpotensi geser timpang.


Kesimpulannya, di satu belahan bumi lain mampu memanfaatkan dan memanen kondisi demografinya. Di sudut bumi lain, ternyata mengalami akibat negatif yang patut diperhitungkan. Selengkapnya baca Ancaman di Balik Kebanggaan Bonus Demografi Indonesia yang Wajib Diwaspadai.


Perkiraan lain terkait dampak bertambahnya populasi manusia di bumi yang patut diketahui yaitu tentang posisi china sebagai negara berpenduduk terbesar dunia direbut oleh india. Disusul urutan ketiga tetap dikuasai amerika. Kemudian, di tahun 2050 nomor empat negara terpadat di bumi disabet oleh Nigeria. 


Semua prediksi di atas cukup menarik dan patut diperhatikan. Lebih baik, menyadari dari sekarang ketimbang menyesal lantaran mengabaikannya begitu saja.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia