Gejala-gejala Penyakit Rabies pada Manusia yang Tingkat Kematiannya 99% Lebih

Banjirembun.com - Rabies merupakan sebuah penyakit yang kerap dijadikan bahan olok-olok anak kecil tatkala jengkel pada temannya. Berkata penuh enteng "Kamu kena rabies!". Seolah rabies sekadar dikaitkan dengan penyakit anjing gila. Serta, dikira tidak menular pada sesama binatang tertentu.


Penggunaan istilah rabies tersebut selain hendak mengaitkan dengan kata gila, juga dihubungkan dengan hewan anjing yang identik najis. Kombinasi keduanya menjadi serangan brutal, melalui langkah memberikan stigma negatif pada kenalannya.


Baca juga: Ancaman Nyata Mikroba "Super" yang Resistan Antibiotik dan Obat-obatan


Dalam pandangan masyarakat luas memang hewan yang terkena rabies harus dijauhi. Tanpa tergugah sedikit pun, lantaran mungkin tak tahu, untuk mengatasinya dengan menjauhinya "saja". Nyatanya, memberikan vaksin rabies pada hewan inang sangatlah penting.


Sejumlah binatang yang rentan terinveksi virus rabies meliputi anjing, kucing, monyet, kelelawar, dan rubah. Di mana, virus rabies baru bisa menjangkiti manusia di kala air liur hewan perantara yang sudah tertular rabies tersebut masuk ke dalam darah. Terutama melalui gigitannya.


Salah satu ciri binatang terkena rabies yang berpotensi jadi pembawa penyakit mematikan itu yaitu mulutnya penuh busa. Setelah seseorang digigit, memang tidak langsung bereaksi dengan gejala spesifik. Kecuali, rasa sakit akibat gigitan lalu muncul infeksi "biasa" pada umumnya.

Ilustrasi anjing terkena rabies ditandai mulut penuh busa (sumber gambar)

Rata-rata masa inkubasi rabies (awal saat masuknya virus ke dalam tubuh manusia maupun hewan hingga muncul gejala penyakitnya) yaitu 2 - 18 pekan pada manusia dan untuk hewan antara 3 - 8 pekan. Bahkan, terkadang dalam kasus tertentu pada manusia butuh durasi 10 hari sampai 2 tahun.


Sesudah gigitan terjadi oleh hewan berpenyakit rabies, individu barangkali tampak baik-baik saja. Padahal, virus rabies butuh waktu tertentu supaya bisa menyerang otak yang menjadi pusat dari sistem saraf. Inilah, yang menjadikan korban lengah lantaran gejala tak muncul selama berbulan-bulan.


Perlu diketahui bahwa masa inkubasi bervariasi jangka lamanya. Tergantung pada daerah mana masuknya virus ke dalam badan. Kemudian, seberapa banyak dan tipe virus seperti apa yang menyerang. Apapun itu, sebaiknya jauhi hewan-hewan yang nampak aneh bergejala rabies.


Gigitan hewan rabies yang dekat otak ditambah sistem kekebalan tubuh korban yang tengah melemah, berdampak pada masa inkubasi yang lebih pendek. Intinya, sekali lagi ditegaskan lebih baik jangan mengundi nasib seolah mempermainkan nyawa sendiri tanpa berobat.


Berkontak erat dengan hewan terindikasi rabies, apalagi tergigit, segeralah menuju pusat kesehatan. Hindari menunda-nunda menunggu gejala pertama muncul. Pengobatan dan penanganan sedini mungkin, walau gejala belum muncul, oleh pakar medis dapat mencegah dampak kematian.


Virus rabies ketika tidak ditangani tenaga medis ahli, secara perlahan tapi pasti berisiko menimbulkan gangguan sistem saraf pusat yang fatal. Oleh sebab itu sebelum terlambat, pahami dan sadari tentang gejala dan ciri-ciri penyakit rabies di atas.


Gejala Rabies pada Manusia

Sekitar 90% kasus rabeis yang pernah dialami manusia berasal dari gigitan hewan peliharaan. Untuk itu, ketika mendapat gigitan hewan yang disebutkan di atas bijaknya langsung waspada. Lantas, disusul dengan berkunjung ke tenaga kesehatan yang memadai di bidangnya.


Bukan melulu lewat gigitan. Cukup dengan cakaran maupun bersentuhan dengan air liur binatang yang terpapar alias terinfeksi virus rabies, sudah berpeluang bagi manusia ikut tertular. Utamanya liur menyentuh luka terbuka, masuk mulut, dan terkena mata.


Mirisnya, fakta menunjukkan bahwa kematian akibat rabies 95% ada di Afrika dan Asia. Lokasi di mana mayoritas negara di sana masih belum mapan segala aspeknya alias berstatus negara berkembang. Terutama dialami oleh anak-anak usia 5-15 tahun di daerah pelosok yang jauh dari layanan kesehatan.


Anjing merupakan penyebab dominan penularan penyakit rabies ke manusia. Hal itu termasuk juga terjadi di Indonesia. Anjing menjadi momok tersendiri. Tak hanya itu, gigitan kelelawar turut andil pada kematian terbesar di belahan bumi sisi benua Australia maupun Eropa.


Dalam lingkup global, tercatat paling enggak 70 ribu jiwa meninggal tiap tahun akibat rabies. Gigitan anjing menjadi peringkat pertama yaitu 98% penyebab terjadinya kasus rabies. Adapun kera dan kucing faktanya jumlahnya 2% dari semua kejadian penularan rabies. 


Gejala awal rabies berupa suhu tubuh demam 38⁰C atau malah lebih, batuk, cemas, mati rasa (baal) di luka gigitan, merasa tubuh mengalami penurunan kesehatan, mual yang kadang disertai muntah, sakit kepala, batuk, dan kehilangan nafsu makan. Ditambah rasa nyeri, terbakar, dan gatal di daerah luka.


Gejala di atas yang diabaikan begitu saja, lambat laun seiring waktu peradangan terjadi makin parah. Infeksi yang terus berlanjut dan berkembang tanpa penanganan mumpuni mengakibatkan gejala stadium lanjut. Di sini, virus sudah menyerang area sistem saraf. Terjadilah gangguan dan kelainan.


Baca juga: Masih Ada Harapan, Obat Baru Pasien Kanker Stadium Lanjut Ditemukan


Di fase ini, gejala terlihat berat dan mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, perilaku ekstrim yang tak menentu sering dialami penderita. Sebut saja mulai dari berhalusinasi, gelisah, hiperaktif, bingung, agresif, bermimpi buruk, kejang otot, insomnia, takut dengan air, sampai kelumpuhan.


Selanjutnya yaitu terjadi ereksi permanen untuk lelaki, gangguan pernapasan berbentuk kesulitan bernapas maupun bernapas cepat, kesulitan menelan (termasuk air minum), produksi air liur atau ludah sangat banyak, serta takut pada cahaya atau sinar terang.


Gejala yang diabaikan sehingga berkelanjutan mengakibatkan korban mengalami koma. Nahasnya, koma tersebut tidak berlangsung lama layaknya di film atau sinetron. Cukup hitungan jam masa koma, tanpa adanya ventilator (alat bantu pernapasan), penyandang rabies langsung bisa meninggal. Itupun kematian tetap terjadi dalam hitungan hari.


Kabar buruknya, tingkat kematian (case fatality rate) penyakit rabies mendekati 100%. Seandainya, dikatakan tingkat kematiannya 99% lebih pun bukan suatu hal yang mengada-ada. Boleh disimpulkan bahwa penyakit ini berbahaya sekali. Kendati seperti itu, vaksinasi rabies pada manusia maupun hewan sangat berperan 100% untuk pencegahan.


Semenjak tahun 1970 (52 tahun lalu) cuma 29 orang yang selamat dari kontaminasi rabies. Para penyintas rabies tersebut sejatinya mengalami keberuntungan yang ajaib. Artinya, meski cara-cara perawatan dan penanganan rabies diterapkan sama persis dengan mereka belum tentu membuahkan hasil yang sama pada orang lain yaitu bertahan hidup lama.


Rabies merupakan penyakit yang tak ada obatnya. Tentulah, itu terjadi karena gejala sudah terlanjur parah. Misalnya mengalami kesulitan menelan yang amat menyakitkan sudah dipastikan bakal mengalami kematian. Alhasil, korban hanya menunggu datang kematiannya.


Akan tetapi, kembali lagi ditekankan jika gejala-gejala yang timbul belum serius maka siapapun masih ada kesempatan. Oleh sebab itu, di hari mendapatkan gigitan seketika itu langsung datangi dokter. Sebelum virus mencapai otak, ahli medis tersebut akan memberi vaksin. Peluang selamat makin besar.


Komentar