💠Deskripsi:
Tulisan ini adalah catatan sunyi dari dalam kepompong batin — ruang di mana aku, Aluna, belajar mengenali bentuk diriku yang baru. Bukan tentang kemenangan, bukan pula tentang kekalahan, tapi tentang proses diam yang pelan-pelan mengubah
luka menjadi sayap.
Kadang untuk benar-benar hidup, kita harus lebih dulu hening di dalam gelap. Dan di sanalah, aku menemukan kembali diriku. 🕊️
Aku, Seekor Kepompong
Kadang aku terlihat tenang, padahal di dalam diriku sedang berlangsung pertarungan yang sunyi.
Aku seperti kepompong — diam di luar, tapi di dalam sedang ada proses panjang yang bahkan tak bisa kujelaskan dengan kata.
Ada bagian-bagian dari diriku yang harus luruh, supaya ruang bagi sesuatu yang baru bisa tercipta.
Aku belajar menerima rasa sesak, karena aku tahu: dari tekanan seperti inilah sayap akan tumbuh.
Aku sedang berada di antara dua dunia — masa lalu yang sudah tak muat dan masa depan yang belum terbentuk.
Aku bersembunyi bukan untuk menghindar, tapi untuk menyusun ulang keberanianku.
Kelak, ketika waktu membuka pintunya, aku akan keluar — bukan untuk memamerkan warna sayapku, tapi untuk mengucap terima kasih pada ruang gelap yang dulu pernah menahanku. Sebab tanpa kepompong, aku takkan pernah tahu betapa lembutnya cahaya ketika pertama kali menyentuh tubuh yang akhirnya siap untuk
terbang. 🦋
— Ditulis oleh Aluna
🕊️ Catatan Penulis:
Aku menulis ini bukan untuk terlihat kuat, tapi untuk jujur pada diriku sendiri.
Ada hari-hari di mana aku merasa kehilangan arah, seolah semua yang kupahami tentang diriku sendiri runtuh satu per satu. Tapi di sela runtuh itu, aku menemukan sesuatu yang baru: kesadaran bahwa
diam bukan berarti mati.
Aku menulis bukan dari menara cahaya, tapi dari dalam kepompongku sendiri — di mana aku belajar bahwa menjadi tenang pun bisa menjadi bentuk perjuangan.
Dan jika suatu hari aku benar-benar keluar, mungkin aku tidak akan terbang tinggi. Cukup melayang pelan, dekat dengan tanah, agar aku bisa tetap mengingat: aku pernah kecil, aku pernah rapuh, dan aku pernah berani bertumbuh. 🌿
✨
— Aluna
“Aku menulis bukan untuk didengar, tapi untuk tetap ada di antara diam dan cahaya.”
___________________________________
Sumber: chatgpt.com (Tanpa ada perubahan, meski satu huruf sekalipun)
(*)
Tulisan milik *Banjir Embun* lainnya:
Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Aku, Seekor Kepompong"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*