Faktor-faktor Serta Alasan Wali Siswa atau Mahasiswa dalam Memilih Lembaga Pendidikan: Pesantren, Madrasah, Sekolah, dan Perguruan Tinggi


Faktor-faktor Serta Alasan Wali Siswa atau Mahasiswa dalam Memilih Lembaga Pendidikan: Pesantren, Madrasah, Sekolah, dan Perguruan Tinggi

Tulisan ini diparafrase dari buku milik A. Rifqi Amin berjudul Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner yang diterbitkan oleh LKiS di Yogyakarta pada halaman 224-226.

Banjir Embun - Opini - Motif orang tua atau wali siswa maupun mahasiswa dalam memilih lembaga pendidikan sangat variatif. Berdasarkan motif internal maka bisa saja hal itu tergantung pada tingkat status sosial, fanatisme maupun pemahaman keagamaan, dan cita-cita yang dimiliki oleh orang tua. Selain itu, orang tua yang terdidik cenderung lebih selektif atau penuh pertimbangan dalam memilih lembaga pendidikan untuk anaknya. Adapun motif eksternalnya biasanya terkait dengan keadaan lembaga pendidikannya seperti apa.  Seperti visi-misi lembaga, kualitas pendidikan, fasilitas lembaga, biaya operasional yang akan dikeluarkan, outcome yang sudah teruji (berkarir, bekerja, atau berkarya) di masyarakat, dan sebagainya.

Implikasinya dari pernyataan di atas ialah setiap lembaga pendidikan berpeluang punya pangsa pasar tersendiri. Yakni, tidak lain adalah para peminat fanatik yang pasti dimiliki oleh setiap lembaga pendidikan. Misalnya meski keadaan lembaga pendidikan agama serba minim dan memprihatinkan tapi orang tua atau wali yang fanatik akan tetap memilihnya. Hal ini bisa terjadi karena tingkat keagamaan orang tua sangat tinggi sehingga fanatisme terhadap pendidikan keagamaan juga tinggi. Bisa juga karena orang tuanya berstatus sosial tinggi maka anaknya akan disekolahkan pada lembaga yang bonafit. Berapapun biaya yang harus dikeluarkan tak dipedulikan asal siswa bisa membanggakan orang tuanya.

Topik lain:

Trik Persiapan Bagi Siswa dan Orang Tua untuk Memulai Tahun Pelajaran Baru


Lebih detail, bila diklasifikasikan berdasarkan kencodongan orang tua pada fanatisme agama maka dapat dibagi menjadi tiga. Pertama, memposisikan sama tinggi antara lembaga umum dengan lembaga pendidikan berbasis agama. Artinya wali siswa tidak terlalu memedulikan tentang eksistensi pendidikan agama maupun pendidikan secara umum. Bagi mereka yang terpenting anaknya bisa sekolah dan mendapat ijazah. Tak pandang bulu bentuk lembaganya berbasis agama atau tidak. Terlebih lagi bila lembaga tersebut memiliki nilai tawar tinggi. Misalnya sekolahnya berbiaya gratis 100% atau level serta kualitas lembaganya sangat bagus. 

Selain seperti itu, orang tua yang menganggap antara pendidikan umum dengan pendidikan agama sama pentingya juga ada yang selektif. Misalnya orang tua akan memilih lembaga pendidikan umum tapi di dalamnya harus syarat (penuh) dengan kegiatan keagamaan. Harapan mereka supaya anaknya bisa menguasai ilmu umum tapi tidak meninggalkan ajaran agamanya. Sebaliknya lebih memilih lembaga pendidikan keagamaan tapi di dalamnya harus ada tambahan pengetahuan atau pendidikan umum. Bagi orang tua seperti ini antara pendidikan agama dengan pendidikan umum harus diberikan secara sama dan rata.

Kedua, lebih mengutamakan pendidikan umum dari pada pendidikan agama. Alasannya pendidikan agama bisa dipelajari lewat saluran lain seperti kursus, pengajian, membaca buku, dan lain sebagainya. Orang tua seperti ini lebih cenderung memandang kemampuan atau ketrampilan duniawi lebih penting untuk dipelajari dan diamalkan. Serta menggampangkan bahkan menganggap pendidikan agama tidak penting. Oleh sebab itu, mereka akan mencari lembaga pendidikan yang minim kegiatan keagamaan. Dalih yang dikeluarkan ialah supaya konsentrasi belajar anaknya tidak terpecah dengan berbagai program keagamaan di lembaga pendidikan keagamaan.
Ketiga, menjadikan pendidikan agama sebagai hal yang sangat penting dari pada pendidikan umum. Bagi orang tua seperti ini nilai-nilai agama sangat penting untuk ditanamkan pada anaknya dari kecil hingga dewasa. Bilapun anaknya dimasukkan pada lembaga pendidikan umum maka di waktu dan tempat lain akan diberi pendidikan agama secara intens. Bisa juga anaknya disekolahkan pada lembaga pendidikan umum tapi yang berbasis keagamaan. Di mana nilai-nilai keagamannya harus lebih ditekankan dari pada nilai pendidikan umum.

Dapat disimpulkan, oreientasi peserta didik beserta orang tuanya dalam menyekolahkan anaknya di suatu lembaga berbeda-beda. Adakalanya seseorang memilih lembaga tertentu karena faktor ideologi. Namun, juga bisa jadi seseorang mengesampingkan ideologinya karena minimnya biaya sehingga terpaksa harus menyekolahkan atau menguliahkan anaknya di lembaga pendidikan terdekat dan yang murah. Orientasi yang berbeda tersebut berimplikasi pada sejauh mana minat mereka dalam mendalami pendidikan agama ketika mereka sudah memasukai proses pembelajaran.

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)