Kritik Terhadap Doktrin Rajin Pangkal Pandai


Rajin Pangkal Pandai (Sumber gambar Akbar)
Kritik Terhadap Doktrin Rajin Pangkal Pandai

Saat di sekolah dasar dulu kita pernah didoktrin "rajin pangkal pandai malas pangkal bodoh". Meski belum tahu maksudnya secara pasti, anak SD kala itu sangat fasih mengucapkan. Termasuk saya salah satu korban doktrin itu. Ketika itu di benak saya belum bisa menghubungkan variabel antara rajin dengan kepandaian maupun bodoh dengan kemalasan. Meski belum bisa mendiskripsikan secara pas. Saya yang masih kecil sudah bertanya-tanya. Rajin dalam bidang apa? Pandai dalam bidang apa? Malas dalam bidang apa? Bodoh dalam bidang apa? 

Pertanyaan di atas sangat penting untuk dijawab. Mengingat bila doktrin tersebut dimaknai dangkal maka timbul kesan adanya penyeragaman terhadap peserta didik. Terutama dalam bidang pola pikir, kemampuan, dan prestasi. Bahkan akan ada penyeregaman tentang apa itu yang dimaksud dengan kepandaian dan apa itu bodoh. Begitu pula dengan kemalasan dan kerajinan. Seakan kalau orang rajin dijamin sukses dan orang malas dijamin tidak sukses. Kesalahan ini berakibat fatal bagi perkembangan psikologis anak-anak.




Bisa jadi anak sebagai peserta didik memaknai rajin harus bekerja atau belajar terus-menerus tanpa mengetahui bagaimana cara bekerja atau belajar yang efektif dan efesien. Kalau sampai begitu apa bedanya manusia dengan robot. Terlebih lagi robot bisa jauh lebih rajin dari pada manusia. Cara pandang seperti ini akan mematikan kreativitas manusia. Bahkan cenderung pada dehumanisasi. Manusia tidak akan menjadi manusia kalau dia tidak rajin. Kerajinan yang berasal dari perintah bukan berasal dari kesadaran diri.


Bagi saya orang pandai tidaklah ditentukan dari tingkat kerajinan. Begitu pula orang yang malas menurut saya belum tentu bodoh. Kasus seperti itu banyak kita temui di kenyataan masyarakat. Misalnya si Tono dikuliahkan orang tuanya di jurusan pertanian. Dalam perkukiahan ia rajin belajar. Setelah lulus ia rajin ke sawah dan rajin belajar menggarap sawah. Namun karena si Tono tidak serius di bidang persawahan serta karena pilihan jurusan atau prodi perkuliahan adalah hasil paksaan orang tua akhirnya ia tidak pandai menggarap sawah. Awalnya ia secara kognitif menguasai namun karena ia tidak menikmati pekerjaan itu akhirnya ilmu yang ia dapat mudah lenyap.




Ada lagi si Tini dia kelihatan malas belajar tentang persawahan. Namun, ada bakat pertanian dalam dirinya, sehingga saat diajari sedikit saja oleh tetangga atau sesama petani ia mudah paham. Menikmati aktivitasnya bahkan dari ketekunan tersebut ia bisa mengembangkan teori-teori baru tentang persawahan. Ia tak pernah ikut perkuliahan pertanian seperti halnya Tono. Meski demikian Tini bisa larut atau menyatukan diri dengan dunia pertanian. Bisa dikatakan, Tini tak perlu rajin belajar untuk menguasai ilmu pertanian. Bertani adalah bakat bawaannya. Dia melakukan tanpa paksaan. Ia sadar bahwa itu adalah bidang kemampuannya.


Baca juga:
Temukan Bakatmu Agar Nikmat Hidupmu


Dari pemaparan di atas sudah jelas bukti bahwa kesuksesan seseorang bukan ditentukan oleh kerajinan semata. Tekat, ketekunan, menikmati pekerjaan, kreativitas, dan do'a yang bisa mencapai kesuksesan. Yakni, sukses lahir batin. Bukan semata sukses lahirnya. Sungguh kasihan bila ada orang yang secara fisik tampak sukses tapi hatinya tersiksa. Disebabkan karena ia terjun pada dunia yang tidak seduai bakatnya. Hidupnya akan seperti zombi. Bisa bergerak tapi tak ada jiwanya. Mengerikan.

Semoga generasi selanjutnya kita tak menjadi zombi-zombi selanjutnya....



Topik lain:

Trik Persiapan Bagi Siswa dan Orang Tua untuk Memulai Tahun Pelajaran Baru




Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)