Ketika Suasana Hati (Mood) Menjadi Penyebab Sulit Menulis



 Ketika Suasana Hati (Mood) Menjadi Penyebab Sulit Menulis



Saat ini di hari Jumat 29 Juni 2018 saya sedang mengalami serangan penyakit. Bukan penyakit biologis tapi penyakit psikis. Yakni, rasa "malas" untuk menulis. Padahal mulai tanggal lima juni kemarin saya punya komitmen bahwa setiap hari akan berusaha mengeposkan (posting) tulisan di situs Banjir Embun ini. Tentu bukan sembarang tulisan yang asal jadi. 


Tulisan tersebut rencananya tiap hari diketik langsung secara online (daring atau dalam jaringan) di akun website kesayangan. Tulisan yang diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat. Tulisan yang harus orisinil tanpa menjiplak. Tulisan yang dibuat sendiri tanpa ada unsur copy-paste (salin-tempel) meski sedikit saja. 



Harapan tinggal harapan. Kenyataan yang ada ambisi itu sungguh teramat sulit diwujudkan. Ternyata mood (suasana hati) untuk merangkai kata sedang mengalami gangguan. Banyak godaan yang menjadi penyebab konsentrasi dan motivasi menulis terjadi penurunan. Tidak turun semata. Bahkan bisa dikatakan buntu serta kosong (blank) pikirannya. 


Akibatnya, untuk memenuhi target posting tulisan yang tiap hari harus satu posting-an. Saya berinisiatif me-copy-paste tulisan milik sendiri yang sudah lama tersimpan rapat-rapat. Tulisan berupa bagian dari salah satu buku karya saya yang diendapkan di laptop kesayangan. Pikir saya mungkin sudah saatnya tulisan tersebut harus beredar bebas di masyarakat.


Topik lain:


Dengan cara copy-paste karya sendiri memang sangat membantu untuk memenuhi target ambisional tersebut. Namun, dari lubuk hati terdalam saya merasa kurang puas. Masih terasa ada sesuatu yang kurang lengkap. Bahkan bisa dikatakan bila sekedar copy-paste ada rasa kejanggalan. Meskipun itu karya sendiri bukan jiplakan. 


Ego pun bergemuruh tetap ingin menulis dan merangkai kata. Demi semaraknya laman Banjir Embun yang jadi kesayangan. Meski berusaha memaksa diri kenyataannya mood dan konsentrasi sedang tidak mau kerjasama. Dilema pun muncul, tetap harus mengetik untuk membuat sebuah tulisan baru atau me-copy-paste tulisan sendiri yang tersimpan aman?


Tanpa pikir panjang saya akhirnya menyalintempelkan (copy-paste) tulisan karya sendiri ke situs atau laman. Pembelaan diri adalah menulis (merangkai kata) setiap hari sementara ini belum level saya. Apalagi dengan kriteria minimal 500 hingga 1000 kata per tulisan.  Sungguh masih memberatkan.


Mungkin level saya masih pada tahapan mampu menulis empat kali dalam satu pekan. Bahkan satu pekan satu atau dua kali saja. Itupun tulisan yang masih sulit dipahami secara cepat oleh pembaca. Belum lagi ada pertanyaan dari diri sebagai wujud kesadaran.  Yakni, bila memaksakan menulis tiap hari apakah tulisan tersebut akan bisa memunculkan keberkahan?




Topik lain:

Tips Menentukan Judul Tesis: Modalitas Mahasiswa Semester Awal Program Pascasarjana (S2)



Sebenarnya dalam menghadapi masalah itu saya tidak pasrah begitu saja. Upaya  perumusan ide atau tema bahkan rancangan judul untuk ditulis sudah dilakukan. Namun untuk mengisi atau meneruskan rancangan judul tersebut supaya bisa menjadi sebuah tulisan masih terasa berat. 


Bukan itu saja. Saya juga telah membuat sub tema atau pokok pikiran apa saja yang akan saya jelaskan dalam setiap rancangan tulisan. Namun itu semua belum membantu untuk bergerak membuat tulisan. Semua masih nampak kosong dan jaripun terasa berat untuk digerakan. 


Mungkinkah tema atau rancangan judul yang dibuat malah membebani. Terbebani karena ide yang diangkat bukan berasal dari hati tapi dari ego dan ambisi saya. Tidak lain untuk memunculkan diri melalui media tulisan setiap harinya.


Meski masih merasa kesulitan. Dalam benak tak ada sedikit pun keinginan untuk mencuri tulisan. Prinsip saya adalah tidak boleh mencuri maupun memanipulasi karya tulisan. Perbuatan plagiasi  seperti ituitu merupa kejahatan luar biasa. Saya lebih menghargai sebuah tulisan yang jelek tak karuan (masih bisa dibaca tapi sulit dipahami dengan cepat). Dari pada tulisan bagus luar biasa tapi hasil pencurian.


Oleh sebab itu, tidak perlu takut menulis meski sebenarnya tulisan yang dibuat termasuk kategori masih sulit memahamkan. Asal bukan tulisan yang bisa menimbulkan kontroversi yang dibuat.  Bila seperti itu, maka saya akan tetap terus berani menulis sekalipun mendapat cercaan.



Topik lain:



Perasaan kecewa dan menyesal dalam diri sendiri muncul. Hati pun bergejolak sambil bertanya-tanya "kenapa orang lain mampu menulis setiap hari tapi saya belum bisa?". Sungguh saya ingin menjadi penulis seperti mereka yaitu penulis yang bermanfaat bagi masyarakat. Penulis yang menginspirasi dan memotivasi masyarakat untuk berpuat positif. 


Meski pada akhirnya titik temu telah terpampang jelas. Tidak lain adalah dengan memadukan antara "paksaan kepada diri" dengan "keinginan hati". Memaksakan diri untuk menulis namun isinya yang sesuai dengan keinginan hati. Bukan tulisan yang menyiksa saya yaitu yang temanya dan isinya sesuai keinginan pembaca.


Alhamdulillah. Akhirnya karena kesadaran hati tersebut maka terwujudlah tulisan ini yang berjudul " Ketika Suasana Hati (Mood) Menjadi Penyebab Sulit Menulis". Tulisan yang berasal dari hati tanpa paksaan. Tanpa ambisi yang membabi buta. Ambisi ingin dibaca banyak orang


Menurut saya menulis itu tidak hanya untuk pembaca tapi juga untuk penulis itu sendiri. Namun demikian, saya tetap berharap tulisan ini bisa menginspirasi orang lain. Semoga mereka termotivasi untuk tetap semangat menulis meski suasana hati lagi tidak karuan. 



Sekian tulisan dari saya semoga bermanfaat.  Mohon maaf atas kekurangan. Terima kasih telah membaca.



Ilustrasi Bad mood (sumber gambar vebma)

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)