Clickbait: Pengeklik Link Diposisikan Sebagai Orang Bodoh

Candu yang Berbahaya
Clickbait adalah candu. Ia bisa menimbulkan efek ketagihan terutama pada pembuat "jebakan" itu. Pelaku akan merasakan nikmatnya menggunakan cara licik itu. Sebab banyak keuntungan yang diterima dengan menggunakan trik semacam itu. Candu yang tidak hanya membahayakan bagi pelakunya sendiri tapi juga merugikan orang lain. Candu semacam ini lebih berbahaya dari pada candu apapun juga.


Baca juga:
Clickbait: Arti, Cara Kerja, dan Contohnya


Clicbait: Penipuan Gaya Baru dan Cara Menghukumnya


Melawan Kemalasan Menulis


Anehnya, meski manusia merupakan makhluk berfikir dan pembelajar, masih saja terjatuh pada lubang sama. Mereka tetap saja tergiur mengeklik link yang nyata-nyata terindikasi clickbait. Entah itu karena saking lugunya atau saking polosnya tetap saja mau menge-klik linknya. Tanpa sadar bahwa ia nanti tak dapat manfaat apa-apa dari isi link tersebut. Selain hanya mendapat hiburan yang tanpa manfaat. Itupun, ternyata isi tak sesuai dengan judulnya.




Di sisi lain, jelas ada pihak yang diuntungkan. Siapa lagi kalau bukan pembuat clickbait sekaligus penyebar linknya. Mereka mendapat penghasilan tersendiri dari setiap kunjungan link yang ia tebarkan. Apalagi bila pengunjung mau mengeklik iklan yang ada di dalamnya. Jadi bertambah double untungnya. Hal ini yang jadi penyemangat pelaku untuk terus membuat link clickbait. Bahkan bila perlu kadar cilckbatinya lebih parah dari sebelumnya.


Mudharatnya Lebih Banyak dari Manfaatnya

Clickbait banyak sisi negatifnya. Terutama bila disebarkan di group media sosial. Dapat menimbulkan perdebatan. Sedang bagi pelaku clickbait sekaligus menjadi publisher atau creator potensi diblacklist nitizen terbuka lebar. Belum lagi ancaman di-banned penyedia jasa periklanan. Semisal Google Adsense. Terlebih bila dalam kondisi tertentu unsur clickbait-nya sangat keterlaluan.


Dalam jangka pendek memang clickbait sangat menguntungkan pelaku. Tulisan, video, atau apapun itu miliknya creator/publisher akan banyak pengunjungnya. Dengan bertambah pengunjung potensi meningkatnya klik iklan semakin besar. Makin banyak diklik makin banyak pemasukan mereka. Siapa yang tak mau mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari sebelumnya.



Di sisi lain, seharusnya yang menjadi korban akan merasa dirugikan. Sebab terus-menerus dibodohi. Merasa tertipu. Setelah mengklik link ternyata hanya "ZONK" yang didapat. Hasil yang diterima setelah mengklik link clickbait sudah barang tentu kekecewaan. Meski sebagian pengunjung ada yang sedikit terobati dengan sedikit hiburan di isinya.








Bisa dikatakan, mengklik link yang mengandung clickbait itu perbuatan mubazir. Membuang waktu dan kuota secara sia-sia. Lebih dari itu bisa menyebabkan kekesalan bahkan memengaruhi emosi. Bikin hilang mood, hilang semangat, dan menganggu konsentrasi. Ironisnya, masih saja ada yang tetap fanatik mau mengunjunginya situs atau chanelnya lagi. Tentu yang namanya fanatik akan sulit untuk merubahnya. Logika sudah tak lagi digunakan.


Bila perilaku clickbait dilakukan hanya untuk selingan, bisa saja akan mendatangkan pengunjung baru yang setia. Namun, bila perbuatan clickbait dilakukan terus menerus tanpa jeda maka dalam jangka panjang akan berpengaruh buruk pada brand image situs pelakunya. Bukan mustahil akan di-blacklist oleh pengguna internet. Akibatnya pelaku akan mengalami penurunan pengunjung yang cukup signifikan.


Bayangkan saja. Hanya dengan bermodal judul maupun cuplikan gambar (thumbnail image) yang heboh dan aneh mereka bisa meningkatkan penghasilan yang luar biasa. Pelaku tak peduli muatan clickbait-nya sudah parah. Mengandung unsur provokasi, fitnah, hoax, sensitif, berbau SARA, dan semacamnya. Tak peduli dampak buruknya bagi kehidupan bermasyarakat sesama anak bangsa.


Penyebab Suburnya Clickbait

Parahnya, fenomena clickbait bisa berhasil karena ditunjang dengan kemalasan masyarakat Indonesia dalam membaca. Dengan malas membaca itu mereka jadi kurang wawasan. Akibatnya, apa itu clickbait tidak ada yang tahu. Mereka menjadi tidak sadar telah menjadi korban. Mereka menganggap perilaku semacam itu wajar. Lumrah untuk cari pengunjung. Entahlah, mungkin saking fanatiknya.

Ketipu clickbait pertama atau paling tidak kedua kali bisa dimaklumi. Namun, ketipu clickbait untuk ketiga kali dan seterusnya itu sungguh memprihatinkan. Seharusnya memang begitu. Kenyataannya masyarakat kita masih mudah terpedaya. Inilah yang menjadi sasaran empuk bagi para pelaku. Mencari orang yang minim wawasan tapi butuh hiburan maka pelakunya pun akan memberikan. Tentu supaya calon pengunjung makin semangat mengklik link dibuatlah judul yang berbau clickbait.




Logikanya, bila sudah ketipu tidak akan mau berkunjung lagi ke akun milik pelakunya. Baik itu website/blog maupun YouTube. Nyatanya, sebagian masih mau berkunjung lagi. Seperti dunia ini tak luas. Tak ada lagi hiburan atau informasi lain yang semacamnya. Kenyataannya hiburan lain lebih banyak. Jauh lebih bermanfaat dari pada isi atau content bahasan pelaku clickbait. Sebab pelaku clickbait tak memedulikan lagi apakah content-nya akan bermanfaat atau tidak. Moral mereka sudah terdegradasi oleh sifat mata duitan.



Korban Diposisikan Sebagai Orang Bodoh

Logika yang digunakan oleh pelaku clickbait ialah memosisikan pembaca sebagai orang bodoh, orang tak tahu, dan orang kurang pergaulan luas. Korban dianggap orang yang butuh hiburan, bacaan, atau tontonan tapi tak memiliki ilmu bagaimana cara mencarinya. Korban hanya dijadikan sapi perah. Dikasih makan rumput (berupa hiburan) tapi susunya telah diambil tanpa disadarinya. Korban tampak diperlakukan sebagai tuan. Padahal sesungguhnya hanya dijadikan objek eksploitasi belaka.


Demikian tulisan dari kami. Semoga bermanfaat. Mohon maaf atas segala kekurangan.




Penyebab Anda disebut Bodoh (gambar dimodifikasi dari sinilah)


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)