Sinopsis Film The Kid Who Would Be King: Film Sihir Diperankan Generasi Z

Perlu kami jelaskan dulu yang dimaksud generasi Z adalah individu-individu yang masa kelahirannya dalam kurun tahun 1995 hingga 2014. Ada pula tokoh sosiolog yang membatasi hanya pada tahun 1994 hingga 2010. Usianya sekarang ini antara 5 hingga 24 tahun. Generasi Z merupakan generasi pasca Generasi Y.


Di mana generasi Y rentang kelahirannya antara tahun 1981 hingga 1994. Sebagian dari Generasi Z merupakan keturunan dari Generasi Y. Namun demikian, pemisahan antara generasi satu dengan yang lain sebenarnya bukan pada tahun lahirnya melainkan kondisi sosial saat generasi itu dilahirkan.








Meski latar cerita terjadi pada kehidupan Inggris modern sekarang ini, film ini bukan masuk kategori film sci-fic (fiksi ilmiah). Sebab di dalamnya tidak ada penjelasan rasional atau yang berbau ilmiah terkait peristiwa aneh yang terjadi. Yups, film ini lebih tepat disebut film "ketahayulan" alias mistis. Yakni, di bidang sihir menyihir. Unsur-unsur sihir di dalamnya sangat kental. 


Seperti ada penyihir (disertai ramuan, mantra, baju khas sihir, dan yang berbau sihir lainnya), ada iblis musuh penyihir, ada burung hantu yang menjadi hewan khas di film tentang sihir, ada mayat hidup yang seluruh tubuhnya diliputi api membara, peri danau, dan makhluk mistis lainnya. 

 
Meski film bergenre tahayul, di dalamnya tidak menyuguhkan aksi horror yang keterlaluan. Tingkat "kehorrorannya" masih kalah dengan film Escape Room. Horronya film ini hanya karena muka dan bentuk beberapa iblisnya yang menakutkan. Kehororan bukan disebabkan aksi yang dilakukan antagonis. 


Menurut kami peristiwa horror yang sesungguhnya ialah saat perilaku super nakal dua siswa sekolah yang menjaili siswa lainnya. Sungguh keterlaluan dan sangat memuakkan. Bahkan tindakan yang mereka lakukan tergolong sangat berbahaya. Beresiko cidera hingga menyebabkan kematian. Sayangnya peristiwa "horror" itu disuguhkan saat awal film sampai pertengahan. Pada saat-saat itulah emosi penonton diaduk-aduk.


Tidak seperti halnya film How to Train Your Dragon: The Hidden Word, film berjenis fantasi ini minim unsur komedi. Ada sih unsur komedinya. Akan tetapi tidak bisa membuat penonton pecah terbahak-bahak. Alih-alih bikin tertawa, malah banyak suguhan konflik batinnya. Baik konflik anak dengan orang tua maupun dengan teman-temannya. 







Selain itu, layaknya film anak-anak, dalam film ini alurnya menyuguhkan imajenasi tinggi tinggi. Bahkan bisa dikatakan khayalan. Salah satu contohnya saat anak-anak naik kuda. Masing-masing mengendarai kuda saat dikejar para iblis. Mana mungkin anak bisa langsung bisa naik kuda bahkan dengan kecepatan tinggi tanpa latihan dulu.


Sayangnya Rebecca Ferguson artis cewek idola kami dalam film Mission Imposible didapuk jadi penyihir jahat. Secara subjektif, bukannya kami takut pada wajahnya. Malah yang ada terkesima melihat wajah cantik penyihir itu. Bisa dikatakan, peran Rebecca sebagai penyihir sangat "mahir". 


Terbukti kami bisa tersihir saat menatap wajah cantiknya. Kami terpana dengan kecantiknya. Meskipun wajahnya sudah diberi warna hijau biar jelek, nyatanya aura keindahannya tetap ada. he he he. Menurut kami seharusnya ia berberan sebagai ibu si tokoh utama. Paling tidak sebagai kepala sekolah yang bertanggungjawab terhadap proses pendidikan generasi Z di film itu.


Film ini dipenuhi oleh nilai-nilai moral. Banyak nilai moral baik yang perlu dicontoh oleh orang tua  maupun anak-anak. Baik moral dalam berpolitik, berkeluarga, persahabatan, dan lainnya. Nilai karakter yang ditonjolkan ialah peduli sosial, rela berkorban, kesetiaan, cinta damai, persatuan, saling percaya, kejujuran, dan yang semacamnya. 


Nilai positif lainnya bagi anak ialah mereka bisa diajak lebih membiasakan membaca buku dari pada bermain gadget. Bisa dikatakan film ini adalah film keluarga. Film yang sangat mudah dipahami oleh seluruh anggota keluarga yang berbeda generasi dan usianya. Menonton bersama keluarga di akhir pekan merupakan hal yang tepat dilakukan.







Patut disayangkan, lagi-lagi kami harus disuguhkan hapy ending yang kurang panjang. Antara peristiwa menangnya tokoh utama dengan akhir film jaraknya sangat pendek. Akibatnya, nasib ibu, nasib orang tua, nasib guru, dan nasib teman-teman lainnya tidak diulik secara mendalam. Masih menyisakan beberapa kemisteriusan. Apakah ini memang sengaja sebab film ini  akan ada kelanjutnya?


Demikian, pembahasan dari kami. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga bermanfaat.
 

The Kid Who Would Be King (sumber gambar)

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)