Vaksin Covid-19 Model Inhaler Muncul, Semoga Kabar ini Tidak PHP lagi

Banyak sekali media massa online yang sering PHP (Pemberi Harapan Palsu) terkait Covid-19. Bagaimana tidak, judul yang dibuat seakan memberi aroma wangi dari surga tapi isinya "kosong". Hanya jebakan klik (clickbait) untuk pancingan.



Sebut saja seperti bergaungnya kabar terkait akan adanya vaksin baru yang ditemukan. Tinggal menunggu masa rilisnya. Namun, setelah dibaca habis vaksin itu masih tahap uji coba. Artinya, keandalannya belum diakui negara mana pun.


Vaksin COVID-19 di masa sekarang ini adalah barang berharga dan paling dicari. Sekali saja muncul dan terbukti ampuh, maka itu akan menghebohkan dunia. Sejarah umat manusia akan berubah total. Tatanan dunia baru akan lahir.


Tak heran bila banyak ilmuwan bidang kesehatan saling berlomba dalam kebaikan untuk menciptakan vaksin tersebut. Saking semangatnya, ketika ada sedikit perkembangan saja, media massa langsung me-blow up.


Begitu pula pada perkembangan vaksin terbaru kali ini. Berbeda dengan vaksin lainnya yang umumnya disuntikkan. Sekarang, vaksin dimasukkan ke tubuh dengan cara dihirup lewat mulut/hidung. Yups, memakai alat bernama inhaler.


Nah, yang membuat bingung adalah inhaler khusus COVID-19 itu disebut obat atau vaksin. Di mana, vaksin itu bertugas untuk memberi kekebalan. Adapun obat bertujuan menyembuhkan. Bahan dan prosedur membuatnya juga beda.


Inhaler Covid-19 itu diciptakan oleh para pakar kesehatan Oxford University bekerja sama dengan perusahaan obat  Astra Zeneca. Profesor Andrian Hill dari Universitas Oxford memberi pernyataan bahwa obat Covid-19 segera tersedia.

[Universitas Oxford, Inggris]




Sebagaimana kami kutip dari media online terkenal Inggris, Mirror dengan judul tulisan "Coronavirus breakthrough as vaccine ‘using inhaler could be ready by August'" menyatakan obat/vaksin itu telah diuji coba sejak April.


Baca: Alasan Butuh Waktu Lama untuk Membuat Vaksin, Setidaknya Perlu 4 Tahapan


Setidaknya 10.260 manusia dewasa berusia di atas 55 tahun dan anak-anak telah menjalani uji coba penggunaan vaksin itu. Mulai dari itu, Astra Zeneca sebagai perusahaan farmasi bersedia memasok 100 juta dosis obat potensial tersebut ke Inggris.


Para ilmuwan di Universitas Oxford sangat yakin vaksin yang mereka kembangkan bakal manjur. Terlebih lagi bagi kaum muda dan remaja. Setelah mendapat izin dari sejumlah pihak berwenang, 2 Miliar dosis siap diproduksi oleh Astra Zeneca.



Ilustrasi vaksin COVID-19 (sumber gambar)


Alih-alih pasang chip untuk mematai, Bill Gates justru memberi dana besar dalam penelitian dan pengembangan obat di atas. Namun, sekali lagi diingatkan itu bukan jaminan bahwa vaksin/obat tersebut bakal lolos uji coba lembaga lain.


Inhaler Covid-19 masih perlu melakukan uji coba lainnya. Salah satunya di Jenner Institute, yaitu sebuah institut khusus penelitian. Mereka bekerja sama dengan Oxford Vaccine Group pada proyek prestisius seperti di atas.


Kabar di atas adalah secercah harapan bagi semua. Kadang manusia memang butuh harapan. Walau mereka tahu harapan itu hanya palsu, atau paling tidak sulit untuk terwujud. Dengan harapan itulah manusia tetap semangat hidup.




Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)